Gedung BPPT (terbaru 21 Juni 2021)

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi adalah lembaga pemerintah yang khusus meneliti dan mengkaji rekayasa teknologi. Dibentuk dari sisa Divisi Teknologi Tingkat Lanjut (Advance Teknologi) Pertamina di tahun 1978, BPPT berkantor di bekas gedung Menara Pertamina yang kini menjadi kantor dari instansi bawahan Kementerian Dikbudristek (Pendidikan, Kebudayaan, Riset & Teknologi) beserta gedung perluasannya di seberang Kali Cideng seluas 1,7 hektar.

Nomenklatur subnama dari gedung tersebut mengacu pada keputusan penggantian nama gedung yang diresmikan Kemenristek/BPPT di bulan Maret 2020.

Gedung Soedjono Djoened Poesponegoro (ex Pertamina Tower)

Gedung BPPT 1
Foto DBG, Creative Commons License

Dekade 1970an awal, Pertamina dibawah kendali Ibnu Sutowo, berkat kerjasamanya dengan perusahaan-perusahaan minyak, mulai merambah dunia real estate dan membangun beberapa bangunan seperti Oil Centre, Pertamina Tower dan kantor pusat Pertamina.

Pada tahun 1972, Pertamina Tower adalah salah satu dari empat proyek yang diadakan Pertamina. Tetapi, awalnya gedung ini akan difungsikan sebagai apartemen bagi para kontraktor minyak, peran yang selanjutnya justru terealisasikan di Jalan Gatot Subroto sebagai Pertamina Oil Tower, yang selanjutnya menjadi gedung perkantoran bernama Patra Jasa Office Building. Pertamina Tower, sama seperti Oil Centre, awalnya difungsikan sebagai kantor-kantor kontraktor minyak Pertamina.

Postur gedung BPPT saat pertama dibangun.
Foto: Majalah Konstruksi, Oktober 1976

Sekitar 1973, ketika film Ambisi sedang disyuting, Pertamina Tower baru memasuki tahap lantai 8. Konstruksi Menara Patra, nama baru Pertamina Tower, selesai di akhir tahun 1975 atau awal 1976, dan mulai digunakan sejak Maret 1976 dengan Bank Pacific, bank milik keluarga Ibnu Sutowo, membuka kantornya di tiga lantai terbawah gedung ini dan memasang papan namanya di kanopi masuk Menara Patra. Karena ketiadaan data konstruksi lengkap, SGPC mencatat 1972 - 1976 sebagai durasi pembangunan Menara Patra/Gedung BPPT.

Baru sejak didirikan pada tahun 1978, gedung dengan luas lantai mencapai 24 ribu meter persegi itu mulai digunakan oleh Badan Pengkajian & Penerapan Teknologi. Sekitar 1980an nama Menara Patra dipensiunkan dan berganti nama menjadi Gedung BPPT. Sejak 2014, Gedung Poesponegoro menjadi kantor dari Kementerian Koordinasi Kemaritiman & Investasi.

Gedung Poesponegoro pra-renovasi dirancang oleh arsitek dari Singapura yaitu Timothy Seow dan Richard Byrnes dari Seow Lee Heah, dengan Ang Thian Soo & Associates sebagai perancang strukturnya.

Detail kaca podium. Foto: Majalah Konstruksi, Oktober 1976

Gedung berlantai 22 dan memiliki tinggi struktur 90 meter ini awalnya dirancang dengan gaya arsitektur modern dengan lapis kaca gelap dengan jendela podium yang cembung, dimaksudkan agar bisa menyerap sinar matahari dan memberi variasi pada bentuk gedung dan bagian sudutnya yang lebih "melengkung" agar tidak terlihat seperti kotak korek api, stereotipe bangunan tinggi era 1970an. Sisi utara dan selatannya dilapisi aluminium dan keramik. Renovasi memberi kesan high-tech melalui penggunaan lapis aluminium sandwich berwarna abu-abu perak dan kaca berwarna biru.

Data dan fakta

  • Nama lama: Gedung BPPT 1, Pertamina Tower, Menara Patra
  • Alamat: Jalan M.H. Thamrin No. 8 Jakarta
  • Arsitek:
    • Timothy Seow dan Richard Byrnes (Seow Lee Heah)
  • Pemborong:
    • Jaya Konstruksi
  • Lama pembangunan: 1972 - 1976
  • Jumlah lantai: 22
  • Tinggi gedung: 90 meter
  • Signifikasi: Tidak ada

Gedung B.J. Habibie

Gedung BPPT II
Foto DBG, Creative Commons License

Seperti halnya departemen dan instansi lain, peningkatan jumlah pegawai yang menyebabkan overkapasitas di gedung Poesponegoro, sekaligus penambahan fasilitas mandiri BPPT di aset mereka di Thamrin, menjadi argumen utama pembangunan Gedung BJ Habibie. Pada tahun 1986, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi telah merencanakan membangun gedung perluasannya berupa gedung perkantoran berlantai 25, auditorium, gedung parkir, rumah genset dan kantin. Gedung lamanya terhubung dengan gedung baru melalui sebuah jembatan.

Pembangunan berlangsung sejak tahun anggaran 1986/1987, tetapi konstruksi sejatinya berlangsung dari tahun anggaran 1988/1989 hingga sekitar tahun anggaran 1993/1994, menghabiskan biaya negara sebanyak Rp. 150 milyar selama 7 tahun. Pembangunan dilakukan oleh Wijaya Kusuma Contractors dan perancangan desain gedungnya dilakukan oleh Atelier 6.

Data dan fakta

  • Nama lama: Gedung BPPT 2
  • Alamat: Jalan M.H. Thamrin No. 8 Jakarta
  • Arsitek:
    • Atelier 6
  • Pemborong:
    • Wijaya Kusuma Contractors
  • Lama pembangunan: 1986/1987 - 1993/1994 (tahun anggaran)
  • Jumlah lantai: 25
  • Biaya pembangunan: Rp. 150 milyar (1993, setara Rp. 1,5 triliun nilai 2021)
  • Signifikasi: Tidak ada

Referensi

  1. PT Mitra Pembangunan Jaya (2018). "PT Pembangunan Ibukota Jakarta Raya: Perkembangan Perkotaan dan Arsitektur Jakarta." Jakarta: PT Mitra Pembangunan Jaya. Halaman 38
  2. dr (1972). "Empat Gedung Megah Sedang Dibangun di Jakarta". KOMPAS, 27 Oktober 1972, hal. 3
  3. "10 Tahun BPP Teknologi 1978-1988". Jakarta: Biro Hukum & Humas Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. Halaman 31-32
  4. Halaman resmi BPPT, diakses 10 April 2021 (arsip)
  5. Vera Trisnawati (1990). "Proyek Perluasan Gedung BPP-Teknologi: Dibangun dengan dana APBN". Majalah Konstruksi No. 148, Agustus 1990, hal. 56-57
  6. fan; sal (1993). "Gedung Baru BPPT Untuk Para Peneliti Selesai Tahun Ini". KOMPAS, 10 Juni 1993, hal. 8
  7. rea (2020). "Gedung BJ Habibie Sebagai Simbol Lompatan Teknologi BPPT". CNN Indonesia, 12 Maret 2020. Diakses 10 April 2021 (arsip)
  8. "Menara kaca yang megah di pusat kegiatan Jakarta." Majalah Konstruksi, Oktober 1976, hal. 39-45

Lokasi

Perubahan

  • Pertama ditulis 4 Juni 2021
  • 21 Juni 2021: Detail tambahan buat Gedung BPPT 1. Rasa penasaran anda telah terjawab

Comments