Glodok Plaza (1987)

Glodok Plaza, seperti yang anda dengar, lebih identik dengan pusat perdagangan elektronik dan tekstil yang berlokasi di dalam kawasan Pecinan terbesar di Indonesia bernama Glodok. Gedung tersebut memiliki 8 lantai dengan 1 basement, dikembangkan oleh PT Multi Plaza Properties sejak 1977 dan kini dikelola oleh TCP Internusa. Tetapi, sejarah Glodok Plaza yang beredar saat ini, bisa dikatakan masih terbatas pada lembaran kertas dan belum sampai dibahas di dunia maya.

Tulisan kedua mengenai Glodok Plaza ini adalah yang sekarang berdiri dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jakarta.

Sejarah

Glodok Plaza
Penampilan awal Glodok Plaza sebelum kerusuhan 1998.
Foto oleh majalah Konstruksi, edisi Oktober 1988.

Multi Plaza Properties sebelumnya membangun generasi pertama dari Glodok Plaza, yang sudah dibangun sejak tahun 1977. Memiliki 6 lantai seluas 41 ribu meter persegi, Glodok Plaza lama memiliki atrium yang bisa digunakan untuk beberapa acara. Sayangnya, masa bertahan gedung ini sangat pendek, 6 tahun, setelah kebakaran hebat pada fajar 12 April 1983.

Dua minggu pasca kebakaran, pihak pengelola berencana untuk memanfaatkan kembali Glodok Plaza dengan memotong satu lantai blok A yang rusak berat oleh kebakaran, dan merenovasi sisanya. Sayangnya, diketahui bahwa gedung lama Glodok Plaza sudah rusak parah sehingga harus dibongkar total.

Pembongkaran Glodok Plaza lama dimulai pada bulan Desember 1984 hingga sekitar awal 1985, dan puingnya dijadikan material untuk reklamasi Pantai Ancol; sementara pembangunannya sendiri, dilaksanakan oleh PT Sumicon Utama, menghabiskan waktu 40 bulan dari bulan Juni 1985 hingga rampung keseluruhan kurang lebih di bulan Oktober 1987. 25 milyar rupiah digelontorkan untuk membangun kembali pusat perbelanjaan Glodok Plaza, termasuk 4,3 milyar rupiah uang asuransi yang disanggupi oleh pihak penjamin.

Glodok Plaza pada tahun 1993.
Foto: Yul Adriansyah. Majalah SWA No. 12/VII, Maret 1993

Glodok Plaza mulai digunakan per April 1987 melalui acara Glodok Plaza Fair yang diadakan pada akhir April hingga awal Mei dan diresmikan oleh pejabat teras DKI Jakarta pada tanggal 1 Mei 1987. Di masa awal gedung tersebut digunakan pada tahun 1980an, Glodok Plaza sempat diisi oleh department store lokal Kumbo, namun hanya bertahan dua tahun karena mendadak bubar pada 1989 oleh over ekspansi; dan rumah makan dan hiburan malam gaya Hong Kong bernama Dynasty di lantai 8. Menurut halaman web TCP Internusa, sebelum dibakar perusuh, Glodok Plaza identik dengan pusat perbelanjaan elektronik.

Burung Phoenix dari Glodok, Lahir Tiga Kali

Walau Glodok Plaza baru sangat diharapkan agar tidak lagi hangus terbakar seperti yang terjadi di tahun 1983, ternyata kerusuhan 1998 memberi nasib sial kedua untuk pusat perbelanjaan ini. Pada tanggal 14 Mei 1998, Glodok Plaza ditimpuk batu, dibakar dan dijarah massa. Orang Tionghoa Indonesia sepertinya tahu caranya memperingatkan peristiwa memilukan yang tak hanya membinasakan pecinan dan komunitasnya, namun juga nafkah dan hidupnya di Glodok Plaza, yaitu dengan menjadikan gedung tersebut tempat peringatan, diadakan hanya sekali pada tahun 1999.

Glodok Plaza
Pasca-renovasi. Foto DBG, Creative Commons License

Tetapi kebakaran itu justru membangkitkan lagi Glodok Plaza ibarat burung Phoenix yang mati dua kali. Mulai tahun 2000, Glodok Plaza direnovasi kembali, dengan konsep membawa masa depan yang lebih cerah dengan booming industri teknologi informasi. Dirancang oleh tim arsitek dari Airmas Asri dan strukturnya oleh Davy Sukamta & Associates, Glodok Plaza baru didesain dengan mempertahankan struktur utamanya. Pembangunan dimulai Maret 2000 hingga baru digunakan kembali sejak sekitar Juli 2001, menghabiskan Rp 150 milyar, termasuk 115 milyar rupiah dari asuransi.

Ditengah renovasi Glodok Plaza, Multi Plaza Properties, sejak Oktober 2000, melebur dengan TCP Internusa yang mengelola Graha Surya Internusa. Multi Plaza sendiri juga dimiliki oleh kelompok Grup Internusa sejak gedung lamanya sudah berdiri. Sejak Desember 2010, Grup Internusa membuka sebuah hotel murah dengan 91 kamar bernama The Plaza Hotel Glodok, tepat di dalam Glodok Plaza.

Arsitektur dan struktur

Glodok Plaza baru memiliki lahan yang lebih kecil tetapi dengan luas lantai lebih besar, 66 ribu meter persegi melawan 41 ribu meter persegi luas lantai gedung lama. Pusat perbelanjaan tersebut dirancang dengan mengutamakan keselamatan kebakaran yang menjadi sumber trauma tragedi April 1983, semisal penyebaran instalasi sprinkler dan hidran, dan pelatihan awak tenant maupun petugas pengelola untuk menanggulangi kebakaran.

Desain awal Glodok Plaza dirancang oleh Dacrea, biro arsitek yang sama dengan Glodok Plaza generasi pertama. Tidak seperti pusat perbelanjaan lain, bahkan dengan gedung lamanya, generasi kedua Glodok Plaza memiliki lebih banyak lantai (8 + 1 basement) dan parkirannya berada di lantai teratas (lantai 6-8), sehingga menampung lebih banyak kendaraan. Akses parkirnya dicapai melalui ramp spiral dengan ketebalan lingkar 7 meter. Menurut pihak Multi Plaza Properties, penempatan parkir di lantai teratas lebih ke alasan praktis, sulit menambah lantai di basement. Selain itu, karena dianggap tidak menguntungkan dan justru memberi ilusi tidak semua tempat usaha (toko/kantor) buka, perkantoran disingkirkan dari proyek Glodok Plaza; sehingga total luas lantai yang mencapai 66 ribu meter persegi bisa dimanfaatkan sepenuhnya untuk ritel.

Pasca-kerusuhan 1998 yang menghanguskan pusat perbelanjaan ini, Glodok Plaza berubah penampilan dari cat tekstur dan lapis kaca hitam, dan mewah dengan kolom atrium dan eskalator berlapiskan cermin, menjadi "lebih ceria" dengan banyak penggunaan warna dan interiornya lebih sederhana, dengan konsep teknologi informasi, meneruskan citra Glodok Plaza sebagai pusatnya elektronik. Abidin Kusno mengritik habis-habisan konsep renovasi Glodok Plaza yang dianggapnya "tidak memberi tempat untuk memperingati kerusuhan Mei" yang menghanguskan gedung berlantai 8 itu, dan mengatakan bahwa "Glodok Plaza memang untuk era elektronik masa depan, bukan untuk dipenjara di masa lalu," dengan konteks Kerusuhan Mei 1998. Sayangnya, komentar Kusno mengabaikan Glodok Plaza era pra-kerusuhan yang kebetulan juga pusat elektronik Jakarta.

Glodok Plaza dibangun dengan struktur beton bertulang. Saat renovasi dilaksanakan, Davy Sukamta mengadakan tes struktur Glodok Plaza yang terbakar, strategi yang sama yang diterapkan di Hotel Grand Bali Beach pada 1993. Walau terdapat pengurangan kekuatan struktur beton dan besi, Davy Sukamta memastikan Glodok Plaza 1987 selamat, dan bisa diperkuat strukturnya.

Data dan fakta

  • Alamat: Jalan Pinangsia Raya No. 1 Jakarta
  • Arsitek:
    • Dacrea (desain awal, arsitektur dan struktur)
    • Airmas Asri (renovasi, arsitektur)
    • Davy Sukamta & Rekan (renovasi, struktur)
  • Pemborong: Sumicon Utama (1987)
  • Lama pembangunan: Juni 1985 - Oktober 1987
  • Jumlah lantai: 8 + 1 basement
  • Biaya pembangunan:
    • Rp 25 milyar (1987, setara Rp 397 milyar nilai 2021) (pembangunan awal)
    • Rp 150 milyar (2000, setara Rp 549,8 milyar nilai 2021) (renovasi)
  • Signifikasi: Sejarah (kerusuhan 1998)

Referensi

  1. "Pusat Pertokoan Glodok Plaza: Dibangun dengan konsep desain baru." Majalah Konstruksi No. 111, Juli 1987, hal 35-45
  2. pr (1984). "Pertokoan Glodok Plaza yang Baru Berlantai 7". KOMPAS, 22 Desember 1984, hal. 3
  3. gst (1986). "Klaim Asuransi Glodok Plaza". KOMPAS, 18 Agustus 1986, hal. 3
  4. "Renovasi Glodok Plaza Menerapkan Konsep IT-Mall". Majalah Indo Construction, Vol. 1 No. 3, Desember 2000. Diakses via Mega Konstruksi, diarsip 12 Agustus 2001
  5. Abidin Kusno (2010). "Ruang publik, identitas, dan memori kolektif: Jakarta pasca-Soeharto". Yogyakarta: Ombak. Halaman 74-77
  6. Arsip website PT TCP Internusa, 13 Januari 2005 (gedung komersil)
  7. Arsip halaman PT TCP Internusa, 13 Januari 2005 (sejarah)
  8. Budi Kusumah; Moebanoe Moera; Tri Budianto Soekarno (1989). "Keajaiban di Department Store". TEMPO, 16 September 1989
  9. Arsip laman resmi Dacrea, diarsip 13 Juli 2002
  10. Annual Report Surya Semesta Internusa 2010, diarsip dan diakses 20 Maret 2021
  11. jsk (2000). "SSI hopes for better revenue with Glodok Plaza" (SSI proyeksikan omzet besar dari Glodok Plaza). The Jakarta Post, 28 April 2000. Diakses via halaman resmi Surya Semesta Internusa, diarsip 13 Desember 2004
  12. jaw (2000). "Glodok Plaza to reopen in July 2001" (Glodok Plaza buka kembali Juli 2001). The Jakarta Post, 6 Oktober 2000. Diakses via halaman resmi Surya Semesta Internusa, diarsip 1 Januari 2005
  13. Press release (2000). "Marketing Launch Glodok Plaza". Halaman resmi Surya Semesta Internusa, diarsip 1 Januari 2005
  14. kni (1987). "Pameran Produksi Dalam Negeri di Glodok Plaza Diresmikan". Berita Buana, 2 Mei 1987, hal. 6
  15. "Aroma Hongkong di Glodok Plaza." Majalah SWA No. 1/V, April 1989, hal. 96-97

Lokasi

Comments