Citra Niaga Samarinda

Selama 2 tahun berkiprah di dalam dunia blogging sejarah bangunan Indonesia (bukan arsitektur belaka ya), SGPC telah mendata sekitar 300 bangunan lebih. Tetapi mayoritas gedungnya adalah bangunan niaga, pemerintah dan swasta, yang mungkin, menurut banyak orang, tidak menyentuh kalangan bawah.

Tetapi di tulisan kali ini, karena pembahasannya banyak tetapi sejarahnya kurang banyak dibahas di media-media massa tingkat nasional, selain media lokal (Kaltimkece.id), penulis putuskan mengangkat artikel ini, dengan tambahan informasi dari tiga media non-daring di tahun 1980an dan 90an - Konstruksi, Warta Ekonomi dan SWAsembada. Selamat membaca.

Iklan Citra Niaga
Majalah Konstruksi No. 114, Oktober 1987

Citra Niaga adalah sebuah kompleks perdagangan yang berlokasi di pusat kota Samarinda, ibukota dari provinsi Kalimantan Timur, yang diapit oleh Jalan Panglima Batur, Jalan Niaga Selatan, Jalan Niaga Timur dan Jalan Niaga Barat (sebagian lahan diantaranya bukan bagian Citra Niaga). Kompleks ini dibangun pada dekade 1980an oleh Pemerintah Kota Samarinda sebagai bagian dari revitalisasi kawasan Taman Hiburan Gelora yang bertransformasi menjadi pemukiman kumuh.

Sejarah

Taman Hiburan Gelora dan revitalisasi

Di tahun 1958-1968, Pemerintah Kota Samarinda membangun Taman Hiburan Gelora (THG), sebuah pusat perdagangan yang juga difungsikan sebagai pusat hiburan masyarakat. Awalnya dibangun untuk merevitalisasi Samarinda yang hangus dilalap api pada tanggal 4 April 1958, THG menjadi primadona masyarakat saat demam kayu melanda Kaltim di dekade 1970an-1980an. Sayangnya, booming perekonomian dan penduduk di Samarinda, justru menjadikan THG sarang kejahatan hingga masyarakat sungkan untuk melewati daerah THG, jangankan berbelanja. Tingginya angka kejahatan dan hiburan malam di sana membuat masyarakat Samarinda menjuluki THG sebagai "Texas Samarinda". Saat puncak masa kegelapan THG, penduduk Samarinda per 1980 mencapai 264 ribu jiwa, dua kali populasi 1970 sebanyak 137 ribu jiwa (BPS).

Kondisi THG yang kumuh dan rawan kejahatan menjadi keprihatinan tersendiri bagi Gubernur Kalimantan Timur H. Soewandi Roestam. Gubernur kemudian mencanangkan revitalisasi kawasan tersebut, tetapi terbentur sentimen masyarakat pada Pemerintah dan keterbatasan pendanaan dari APBD, sehingga harus melibatkan pihak swasta untuk membangun kawasan pengganti THG.

Saat itulah Didiek Soewandi, anak Gubernur Kaltim saat itu dan jebolan Northeastern University di Boston, mengambil kesempatan setelah ayahnya menjelaskan keinginannya soal revitalisasi eks taman hiburan itu. Ia memanggil Antonio Ismael Risianto, Pinoy kelahiran Belanda jebolan UC Berkeley dan Massachusetts Institute of Technology. Antonio dan Didiek, yang berteman sejak kuliah di negara bagian Amerika Serikat yang sama, kemudian membentuk PT Pandurata Indah sebagai pengembang Citra Niaga dan PT Triaco Widya Cipta untuk perancangannya.

Karena Gubernur mensyaratkan agar revitalisasi THG tidak boleh menggusur pedagang kaki lima, pada tahun 1983 pengembang dan Pemerintah Kota Samarinda memutuskan merekrut lembaga swadaya masyarakat. Adalah Lembaga Studi Pembangunan (LSP) pimpinan Adi Sasono yang ditunjuk membantu pengembangan proyek Citra Niaga. LSP selanjutnya membantu pedagang membentuk koperasi pedagang dan koperasi tersebut menegosiasi  lapak usaha dan sistem pembayarannya dengan pemerintah daerah dan pengembang. Lewat LSP, perusahaan Triaco dan Pandurata Indah mensosialisasikan konsep desain Citra Niaga kepada pemerintah dan masyarakat.

Kebetulan saja LSM yang dipimpin oleh kelak Menteri Koperasi era BJ Habibie itu sedang di Samarinda. Butuh waktu hingga tahun 1985 bagi LSP, pedagang dan Pemerintah Kota Samarinda untuk mendapat titik sepakat, salah satunya memberikan 1/3 lahan dari 27 ribu meter persegi lahan Citra Niaga untuk PKL, sebagai bagian dari tahap II. Ketika kesepakatan tersebut dibuat, tahap pertama Citra Niaga, berupa ruko/rukan, sudah selesai dibangun.

Sayangnya, terdapat ganjalan kedua setelah rujuknya pihak-pihak yang berkepentingan. Di masa Orde Baru, semua proyek harus mendapat persetujuan pusat. Untungnya proyek ini disetujui pihak Kementerian Dalam Negeri, dan di sinilah tahap yang paling membentuk citra Citra Niaga, Tahap II, mulai digarap pada tahun 1986.

Pembangunan keseluruhan Citra Niaga dilakukan oleh pemborong-pemborong lokal yang diarahkan oleh PT Triaco Widya Cipta. Proyek Citra Niaga tahap II selesai pada bulan Agustus 1987, dan diresmikan pada tanggal 27 Agustus 1987 oleh Menteri Ketenagakerjaan Soedomo dan Gubernur Kalimantan Timur H. Soewandi Roestam.

Pasca-peresmian

Kantor Pengelola Citra Niaga, terbakar di tahun 2006
Majalah Konstruksi No. 114, Oktober 1987

Tetapi pembangunan Citra Niaga sebenarnya tidak berhenti di situ saja. Sebulan usai peresmian tahap II, Citra Niaga membangun proyek tahap III yang sudah selesai dibangun pada tahun 1989, dengan biaya total Rp 7,5 milyar (nilai 1992, setara Rp. 80,5 milyar nilai 2021). Tahun itu juga merupakan masa jaya Citra Niaga, meraih penghargaan Aga Khan Awards for Architecture 1989 dan penghargaan IAI untuk perencanaan kawasan komersil terbaik 1991. Hasan Poerbo, yang menominasi Citra Niaga dalam penghargaan Aga Khan 1989, menilai perancangan dan penataan Citra Niaga sangat demokratis dan partisipatif. Untuk menghargai raihan tersebut, salah satu nama jalan di Citra Niaga diberi nama Jalan Aga Khan Award.

Masa-masa jaya tersebut juga dialami para pedagang. Dari informasi yang didapat Kaltimkece, masyarakat mulai datang ke kawasan Citra Niaga dan daerah sekitarnya termasuk bioskop Kaltim Theater juga mendapat dampak positifnya. Efek positif lainnya adalah meningkatnya jumlah keanggotaan dan keuangan koperasi pengelola Citra Niaga. Catatan majalah SWA pada bulan Juni 1992, menyebutkan bahwa beberapa pedagang menikmati keuntungan tinggi dari efek positif proyek tersebut. Dengan tersedianya lapangan terbuka di Citra Niaga, masyarakat Samarinda bisa mengadakan pertunjukan lokal di sana, semakin memperkokoh nama Citra Niaga sebagai pusat aktivitas. Bahkan PT Pandurata Indah selaku developer Citra Niaga dapat untung sampai 35 persen dari modal.

Tetapi akhir tahun 1990an dan awal 2000an, serbuan pusat perbelanjaan mengakhiri pamor Citra Niaga. Ironisnya, beberapa mall tersebut berhasil memikat tenant dari Citra Niaga. Pada tahun 2006, salah satu gedungnya habis terbakar dan akhirnya dibangun kembali dengan bentuk dan material yang jauh berubah.

Pemprov Kaltim dan Pemkot Samarinda seperti kurang berupaya mendongkrak kembali citra Citra Niaga yang mulai menghadapi deja vu tragedi Taman Hiburan Gelora, mulai dari menjamurnya kaki lima liar, tawuran, peredaran narkotika hingga menjadi tempat mangkal transgender. Efek dari tutupnya tambang batubara sebagai imbas resesi sektor tambang ikut berkontribusi dalam merosotnya Citra Niaga. Sejak tahun 2017, PKL ilegal Citra Niaga sudah dipindah ke Stadion Segiri.

Butuh tahun 2020 untuk membangkitkan kembali pamor Citra Niaga, yaitu gentrifikasi yang dilancarkan para pengusaha kuliner muda, menjadikan kawasan berusia 30 tahun lebih itu kembali ke marwahnya, sebagai tempat berkumpul masyarakat dan simbol revitalisasi. Tetapi, revitalisasi tersebut ternoda penutupan selama seminggu dibulan September 2020, akibat dari keputusan pemda memperlambat pandemi COVID-19.

Saat ini Citra Niaga merupakan obyek wisata belanja, yang didominasi penjualan pernak-pernik khas Dayak dan juga tempat makan yang "zaman" dan khas Kalimantan. Ketika Setiap Gedung Punya Cerita menerbitkan artikel mengenai Citra Niaga, Pemerintah Kota Samarinda berancang-ancang merevitalisasi pusat niaga itu dengan tajuk Citra Niaga Mark II - salah satunya dengan mendatangi perancangnya, Antonio Ismael Risianto, di Bali.

Arsitektur

Tidak seperti bangunan lainnya yang dibangun di akhir dekade 1980an, Citra Niaga lebih banyak memikirkan segi sosial dibanding desain. Desainnya sendiri rata-rata sangat sederhana, kecuali menara kayu yang menjadi simbol dari kawasan tersebut, yang pucuknya berbentuk burung Enggang, menyimbolisasikan perdamaian menurut suku Dayak Kaltim. Gedung tersebut merupakan kantor pengelola yang sempat terbakar dan telah direnovasi.

Antonio Ismael saja bahkan mengatakan sendiri ke Majalah Konstruksi bahwa arsitektur yang ia terapkan tepat guna bagi keadaan Samarinda. Mayoritas material yang digunakan adalah kayu untuk kawasan PKL dan menara kayu tersebut; sementara sisanya memanfaatkan pembangunan modern, dengan harapan agar kayu tidak dianggap kelas rendah oleh masyarakat.

Ruko tahap II. Majalah Konstruksi No. 114, Oktober 1987

Kawasan perdagangan Citra Niaga terbagi ke tiga tahap; tahap pertama adalah rukan/ruko berlantai dua sebanyak 58 unit yang dibangun 1984-1985; tahap kedua adalah 27 ruko, 25 kios dan 224 petak untuk pedagang kaki lima. Tahap ini menyediakan juga lapangan terbuka untuk acara-acara umum, menjadikan tahap ini bagian penentu dari proyek Citra Niaga, yang dibangun mulai 1986 hingga Agustus 1987.

Los kaki lima yang terbuat dari kayu.
Majalah Konstruksi No. 114, Oktober 1987

Sementara tahap terakhir, yang dirancang oleh Antonio Ismael sebagai "plaza kios", alias mall kios, mulai dibangun pada bulan September 1987, hingga selesai dibangun pada tahun 1989. "Plaza kios" tersebut menyediakan 56 ruko dan 54 kios. Keseluruhan ruko memiliki luas bervariasi dari 60, 70 hingga 80 meter persegi, kios berukuran 13,5 meter persegi dan pondok PKL berukuran 3 x 3 meter.

Sistem pembayaran

Hal yang sangat dilupakan dari sukses Citra Niaga adalah sistem silang subsidi. SGPC telah menyinggung ketiadaan penggunaan APBD dalam pembangunan Citra Niaga. Ruko bisa dibeli oleh masyarakat dengan harga Rp 30-90 juta (1987), yang keuntungannya digunakan menyubsidi pembangunan los PKL. PKL saat itu hanya mendapat pungutan keamanan.

Data dan fakta

  • Alamat: Jalan Panglima Batur, Samarinda, Kalimantan Timur
  • Arsitek:
    • Antonio Ismael Risianto (PT Triaco Widya Cipta)
  • Pemborong:
    • Perseorangan
  • Lama pembangunan:
    • Tahap I: 1984-1985
    • Tahap II: 1985-1987
    • Tahap III: 1987-1989
  • Jumlah unit ruko:
    • Tahap I: 58
    • Tahap II: 27 + 25 kios + 227 PKL
    • Tahap III: 56 + 54 kios
    • Total: 141 + 79 kios + 227 PKL
  • Biaya pembangunan: Rp. 7,5 milyar (1992, setara Rp. 80,5 milyar nilai 2021)
  • Signifikasi:
    • Arsitektur (pemenang Aga Khan Award 1989)
    • Sospol (Contoh langka penataan kawasan yang partisipatif)

Referensi

  1. Muchamad Zaki (1987). "Cerminan hasil kerja sama terpadu dalam pembangunan kota". Majalah Konstruksi No. 114, Oktober 1987, hal. 30-39
  2. Muchamad Zaki (1987). "Subsidi partisipasi perlu". Majalah Konstruksi No. 114, Oktober 1987, hal. 35
  3. Harmanto Edy Djatmiko; Danang Kemayan Jati; Radityo DM Ibrahim (1992). "Bagaimana Membangun Pusat Belanja 'Ideal'." Majalah SWAsembada No. 4/VIII, Juli 1992, hal 44-46
  4. Nasir Tamara (1989). "Hadiah Aga Khan untuk Samarinda". Warta Ekonomi, 6 November 1989, hal. 32-34
  5. Fachrizal Muliawan (2020). "Citra Niaga, Citra Kota yang Puluhan Tahun Terlupa hingga Berhasil Dibangunkan Kembali oleh Kaum Muda". Kaltim Kece, 22 September 2020. Diakses 22 Maret 2021 (arsip)
  6. rm-1/nin (2016). "Pengunjung Sepi, Malam Tempat Mangkal Waria". Prokal Samarinda, 13 Januari 2016. Diakses 22 Maret 2021 (arsip)
  7. Rahmad Taufiq (2020). "Fakta dan Sejarah Kawasan Citra Niaga, Sempat Tenar Sampai ke Asia, Kini Kondisinya Meredup". Tribun Kaltim, 6 Juli 2020. Diakses 22 Maret 2021 (arsip)
  8. Muhammad Riduan (2021). "Andi Harun akan Bikin Reinkarnasi Citra Niaga Part II, Komisi III DPRD Samarinda Angkat Bicara". Tribun Kaltim, 12 April 2021. Diakses 30 April 2021 (arsip 1/arsip 2)

Lokasi

Comments