Pencakar Langit Era 2000an dan 2010an: Sebuah Perkenalan dari SGPC

Setiap Gedung Punya Cerita kini memperluas sejarah gedungnya. Setelah sekitar 1960an sampai 1990an, penulis SGPC berencana memperluas lingkup sejarahnya ke gedung-gedung yang lebih baru dan modern.

Dekade 2000an dan 2010an merupakan dekade yang bisa dibilang, sangat menarik. Ini adalah masa-masa teknologi berkembang pesat dan kehidupan sosial mulai bergeser. Semasa itu orang-orang masih mendengarkan lagu dari kaset tape, berinternet masih dengan dial-up dan didominasi Friendster, siaran televisi masih waras, SMS masih berjaya, dan masih banyak lagi. Penulis sebagai anak kampung di ufuk timur pulau Bali hanya merasakan sebagian dari keceriaan era 2000an.

Tetapi, di dunia per-gedung-an, alias industri real estate, masa jayanya justru terlihat di era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Di era inilah, ditambah dengan boom komoditas dan ekonomi yang lebih prospektif, lahir beberapa gedung-gedung perkantoran dan apartemen baru bagi orang-orang kaya baru. Dengan usia gedung tersebut, di dekade ini, akan mencapai usia 20 tahun, barangkali menjadi sebuah hal yang bagus bagi penulis blog Setiap Gedung Punya Cerita menjelajah lebih banyak mengenai gedung iGeneration ini.

Semakin minimalis.......... semakin membosankan

Green Bay Pluit
Pluit Bay, datar, besar, dominan balkon dengan jendela kecil. Apartemen lainnya di kota-kota besar Indonesia memiliki desain yang mirip. Foto DBG, Creative Commons License

Mayoritas bangunan tinggi di Indonesia di dekade tersebut didominasi apartemen dan hotel dengan rancang desain yang sangat kaku, bahkan bisa dikatakan tidak banyak memberi kontribusi ke sejarah rancang bangun Indonesia atau secara daerah. Hal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi penulis blog SGPC, karena tidak semua gedung-gedung tersebut layak siar. Kalaupun dipaksakan, penulis hanya akan memberi sedikit info singkat, karena pada dasarnya, gedung tersebut tidak memiliki informasi arsitektur atau sejarah yang menarik.

Tren apartemen dengan jumlah unit masif dan desain arsitektur datar tersebut sebenarnya sudah muncul pada akhir tahun 1990an, lebih spesifiknya menjelang krisis moneter 1997-98, disaat perekonomian Indonesia lagi senang-senangnya membangun. Tetapi bangunan tinggi era 2000an terkesan menyeragamkan diri, satunya mengutamakan jendela yang lebih lapang untuk kalangan atas, dan satunya mengutamakan banyak unit apartemen bagi kalangan kelas menengah.

Menara Tokopedia
Sementara bangunan perkantoran di Indonesia mulai didominasi konsep hijau, menjulang dan banyak menggunakan lapisan kaca. Foto DBG, Creative Commons License

Perkantoran pun setali tiga uang, muncul penyeragaman desain arsitektur dan konsep. Dekade 2000an masih didominasi oleh bangunan pascamodern; tetapi sekitar 2010an, bangunan berlapis kaca tanpa detail dan menjulang jadi favorit para pengembang, arsitek dan bahkan para urbanis Indonesia yang seakan iri dengan tingginya pencakar langit negara tetangga. Selain bangunan berlapis kaca, gedung Roman Revival juga memperlihatkan kejayaannya, walau eksekusinya terlihat sangat murahan.

Tetapi tidak semua gedung yang membosankan itu, tidak memiliki sejarah yang menarik. Semisal Kalibata City, sebuah apartemen kelas menengah yang sangat membosankan di Jakarta, memiliki sejarah sosial yang sangat menarik. Itu adalah contoh pertama. Contoh lainnya adalah The Energy dan The City Tower, yang pernah direncanakan sejak 1990an tetapi baru terealisasi pembangunannya di dekade 2000an.

Lebih sulit mencari info gedung di dunia maya, dan nyata

Untuk gedung 2000an, peran majalah masih bisa diandalkan, tetapi per 2010an, jangan berharap banyak dengan media cetak. SGPC bisa mengatakan sumber daring tidak bisa dipercaya lagi, tetapi dengan pergeseran media, sulit untuk menghindari kebutuhan sumber daring.

Perbedaan lain dari bangunan era 2000an/2010an dengan bangunan era 1970an-1990an adalah catatan sejarahnya yang, ironisnya, jauh lebih sulit dicari.

Secara teoritis, dekade tersebut akan lebih mudah dicari informasinya karena sudah masuk ranah digital. Realitas yang terjadi berdasarkan pengalaman penulis blog, pencarian tersebut sangat sulit dilakukan. Rata-rata media-media massa Indonesia menghapus konten-konten lama yang dirilis setelah mengubah tampilan web mereka. Tidak melakukan migrasi konten terlebih dahulu. Dihapusnya konten tersebut, langsung atau tidak langsung, mempersulit pencarian data, bahkan menghilangkan bukti bahwa kejadian itu pernah terjadi.

Selain itu, penulis SGPC harus membangun arsip lagi untuk gedung tahun 2000an dari beberapa sumber yang tidak biasa, mengingat sebelumnya SGPC tidak menjadikan bangunan tahun 2000an sebuah prioritas. Kesulitan tambahan lainnya adalah semakin menurunnya minat pembaca membeli majalah dan keenganan media cetak meliput peresmian atau proyek real estat, sehingga akan lebih sulit untuk mencari informasi sejarah bangunan melalui sumber fisik. Kecuali mereka lebih suka mengulang sejarah gedung era Belanda dan Soekarno........

Bangunan baru di SGPC

Saat SGPC mengeluarkan ide ini, penulis biasanya mengeluarkan tulisan baru setiap Selasa dan Jumat. Agar tulisan-tulisan tersebut tersedia untuk dibaca sebagai artikel baru selama sehari, SGPC memutuskan merilis tulisan mengenai gedung baru di hari Rabu dan Kamis. Terkadang, gedung tahun 2000an bisa muncul di hari reguler Selasa dan Jumat.

Tetapi, penulis sendiri tidak akan mengumumkan gedung-gedung tersebut ke media sosial, mengingat waktu pembuatan templatnya agak lama. Harap maklum, penulis SGPC tidak paham banyak bisnis membuat konten di Instagram yang menitikberatkan konten berupa grafis, yang bukan keterampilan terbaik penulis blog. Karena realita bahwa penulis blog sibuk saat tulisan era 2000an disiapkan, beberapa minggu alokasi gedung baru pun dikosongkan.

Di peta direktori, gedung-gedung dekade 2010an yang memiliki entri di SGPC berwarna kuning, tapi yang dekade 2000an masih menggunakan warna yang sama dengan bangunan dekade 1960an-90an.

Jadi, kenapa tidak kita menulis sejarah gedung yang lebih baru untuk anak cucu kita?

Setiap Gedung Punya Cerita

Comments