Hotel Aryaduta Menteng

Hotel Aryaduta Menteng, atau sebelumnya bernama Hotel Hyatt Aryaduta dan nama tentatifnya Ambassador Aryaduta, adalah hotel berbintang lima yang berlokasi di Jalan KKO Usman & Harun (eks Prapatan) di Menteng, Jakarta Pusat, dimiliki dan dioperasikan secara mandiri oleh Grup Lippo selaku pemilik merk Aryaduta. Hotel dengan 302 kamar ini dibangun dalam dua tahap mulai tahun 1970 hingga selesai keseluruhan pada akhir tahun 1987.

Hotel Aryaduta Jakarta
Foto DBG, Creative Commons License

Lahan Hotel Aryaduta Jakarta saat ini sebelumnya merupakan rumah orang tua Herawati Diah, istri dari wartawan pemilik harian Indonesia Observer dan Merdeka, pengusaha dan tokoh kemerdekaan Indonesia, B.M. Diah. Rumah orang tua Herawati sudah dibongkar untuk membangun hotel berlantai 17 tersebut yang akhirnya mulai dipancang pada tanggal 12 Agustus 1970. Dimotivasi oleh kebijakan liberalisasi ekonomi oleh Presiden Soeharto dan keinginan Ali Sadikin memodernisasi Jakarta, keluarga Diah bisa mewujudkan pemanfaatan bekas rumah orang tua Herawati Diah untuk membangun hotel yang saat rencana awal bernama Ambassador.

Pembangunan tahap pertama Hotel Aryaduta Jakarta dilaksanakan oleh Waskita Karya mulai Agustus 1970 hingga hotel ini selesai dibangun pada tahun 1974; pada 12 Juni 1974, dua bulan pasca-konferensi PATA, Hotel Ambassador Aryaduta baru dibuka untuk umum. (Wing asli) Hotel bintang lima tersebut dirancang oleh arsitek Thailand, Wirachai Wongpanit, yang merancang hotel-hotel di Thailand, dan juga teman dekat anak Herawati Diah. 3,5 milyar rupiah (1974) dihabiskan untuk membangun hotel mewah ini.

Dua tahun awal operasional Hotel Ambassador Aryaduta dimanajeri oleh maskapai penerbangan Perancis UTA melalui Union Touristique Hotelier (UTH). Namun, mulai 18 Desember 1975, kesepakatan kontrak manajemen antara Hotel Prapatan dan Hyatt International, diteken, sehingga pengelolaan hotel berpindah ke Hyatt mulai 1 Januari 1976 dan berganti nama menjadi Hotel Aryaduta Hyatt. Kontrak tersebut tetap berjalan sampai 31 Oktober 2008.

Saat pertama dibuka pada 1974, Hotel Aryaduta memiliki 270 kamar, kedai kopi Arafura, rumah makan Andrawina, dan beberapa balai rapat dan sidang. Seorang wartawan KOMPAS memuji interior Hotel Aryaduta yang dianggapnya telah berhasil memanfaatkan bahan dalam negeri. Suasana interiornya didukung oleh rancangan apik dari Herawati Diah dan seorang perancang interior Thailand lainnya.

Renovasi

Puas dengan kinerja Aryaduta Hyatt, pada tahun 1985, kontrak manajemen Hyatt dan Hotel Prapatan untuk mengelola Aryaduta Jakarta diperpanjang lagi. Dalam waktu yang sangat bersamaan, hotel berlantai 17 dengan ketinggian 64 meter ini mulai menjalani renovasi pada bulan Agustus 1985. Tidak lagi dirancang orang Thailand dan dibangun orang Indonesia, perancangan ekspansi dan renovasi Aryaduta dilakukan oleh konsorsium bernama SWACCON - Shimizu Corporation, Wiratman & Associates dan Chhada Siembieda & Associates, dan dibangun oleh konsorsium Shimizu Dextam dan Itochu.

Perluasan Hotel Aryaduta Hyatt, bernama Ambassador Wing, dengan biaya pembangunan mencapai 33 milyar rupiah (1987, 20 juta USD 1987) ini menambah luas lantai kotor menjadi 35 ribu meter persegi, dan jumlah kamar dari 270 menjadi 341 buah. Penampilan perluasan yang terlihat terpisah dan dihubung jembatan berlapis kaca, tersebut memiliki pertimbangan struktur, terutama pertimbangan keselamatan mengenai penurunan tanah gedung dan faktor gempa, menurut penuturan Wiratman di Majalah Konstruksi ed. November 1987.

Perluasan tersebut, selain memberi tambahan 108 kamar, juga menambah ruang untuk tenis, sasana kebugaran, rumah makan dan kolam renang.

Pembangunan memakan waktu 22 bulan, selesai dibangun per Juni 1987 dan sudah operasional sejak Oktober 1987. Perluasan dan renovasi Aryaduta Hyatt ini diresmikan ibu negara Tien Soeharto, bersama dengan Menparpostel Achmad Tahir dan Herawati Diah pada 7 Desember 1987. Dua tahun kemudian, dua hari menjelang gegap gempita tahun Dilan (30 Desember 1989), Hotel Aryaduta Hyatt resmi mendapat klasifikasi hotel bintang lima dari Depparpostel. Per awal 1991, Aryaduta Hyatt adalah rival sengit Hilton Jakarta milik keluarga Sutowo.

Hotel Hyatt tanpa embel-embel Hyatt...... dan kejadian terakhir

Dengan dibukanya Grand Hyatt di atas Plaza Indonesia pada 5 April 1991, muncul dua hotel rival dalam satu atap manajemen Hyatt International. Manajemen di Thamrin meminta Hotel Prapatan membuang nama Hyatt di materi promo dan hotel mereka karena dianggap merusak strategi pasar hotel yang gedungnya dirancang Hellmuth, Obata & Kassabaum itu. Walau Hyatt International tidaklah berkeberatan, saat renovasi, Hyatt membuat klausa perjanjian dengan Hotel Prapatan yang akan memberitahukan pihak Hotel Prapatan bila Hyatt berkehendak menurunkan nama Hyatt dari hotel tersebut.

Hal diatas yang menyebabkan Hotel Prapatan menurunkan nama Hyatt dari gedung hotelnya sejak awal September 1991, namun Hyatt International masih memanajemen hotel tersebut. Argumennya cukup pragmatis: alasan pemasaran dan pemangkasan biaya manajemen yang harus disetor ke Hyatt.

Pada tahun 1997, Hotel Prapatan dan merk Aryaduta diambil alih Grup Lippo. Sekitar 2004-05 Lippo merenovasi kembali Hotel Aryaduta sebagai bagian dari pemenuhan perpanjangan kontrak manajemen dengan Hyatt. Ditenggat kontrak berakhir pada 2015, pada 31 Oktober 2008, Hyatt dan Lippo pecah kongsi, melahirkan panji merk hotel independen Aryaduta.

Informasi hotel

Hotel Aryaduta Jakarta
Foto DBG, Creative Commons License

Hotel berlantai 17 saat ini memiliki 302 kamar yang terbagi ke dalam 9 kategori kamar. Secara eksterior, sebelum renovasi Hotel Aryaduta memiliki aksen cokelat mirip dengan hotel berlanggam brutalist dan sedikit elemen pola, kontras dengan hotel karya Wirachai Wongpanit lainnya, Hotel Royal Cliff di Pattaya, Thailand. Penampilan hotel pasca-renovasi pada 1987 dan saat ini hampir bisa dikatakan hampir sama (sebelumnya sempat dicat pastel), dengan podium lobi sudah direnovasi untuk memenuhi tuntutan pelayanan hotel yang lebih baik.

Di era Lippo, ciri khas internasional semakin menonjol di rumah makan. Rumah makan di Hotel Aryaduta terdiri dari JP Bistro (lokal dan internasional), Ambiente (Italia), Shima (Jepang), Pool Cafe dan Lounge. Sementara untuk ruang rapat, Hotel Aryaduta memiliki 21 buah yang terbagi ke dalam 10 jenis: Grand Ballroom, Mezzanine Ballroom, Monas I-VI, Ambassador Lounge dan Boardroom. Untuk fasilitas lainnya, terdapat kolam renang, sasana kebugaran dan spa.

Data dan fakta

  • Nama lama: Hotel Ambassador Aryaduta, Hotel Aryaduta Hyatt
  • Nama lain: Hotel Aryaduta Jakarta
  • Alamat: Jalan KKO Usman-Harun No. 44-48 Jakarta
  • Arsitek:
    • Wirachai Wongpanit (blok awal)
    • Konsorsium SWACCON (Ambassador Wing), terdiri dari:
      • Shimizu Corporation
      • Wiratman & Associates
      • Chhada Siembieda & Associates
  • Pemborong:
    • Waskita Karya (blok awal)
    • Shimizu Dextam - Itochu J.O. (Ambassador Wing)
  • Lama pembangunan:
    • Agustus 1970 - awal 1974 (blok awal)
    • Agustus 1985 - Juni 1987 (Ambassador Wing)
  • Dibuka:
    • 12 Juni 1974 (blok awal)
    • Desember 1987 (Ambassador Wing)
  • Jumlah lantai: 17
  • Tinggi gedung: 64,4 meter
  • Jumlah kamar: 302
  • Biaya pembangunan:
    • Rp. 3,5 milyar (blok awal, setara Rp. 276 milyar nilai 2020)
    • Rp. 33 milyar (Ambassador Wing, setara Rp. 515 milyar nilai 2020)
  • Signifikasi: Pariwisata

Referensi

  1. Laman resmi Hotel Aryaduta Menteng, diakses 5 November 2020 (arsip)
  2. pam (1970). "Hotel 'The Ambasador' Mulai Digarap". KOMPAS, 12 Agustus 1970, hal. 2
  3. "Satu Hotel Baru Akan Berdiri". Merdeka, 12 Agustus 1970, hal. 1
  4. "Sebuah Hotel Akan Didirikan". Merdeka, 13 Agustus 1970, hal. 2
  5. Thn (1974). "Hotel Ambasador Mulai Beroperasi". KOMPAS, 13 Juni 1974, hal. 2
  6. "Manajemen Hotel Aryaduta Oleh Hyatt". Merdeka, 20 Desember 1975, hal. 2
  7. Urip Yustono (1987). "Perluasan Hotel Hyatt Aryaduta: Konsep jembatan menghubungkan bangunan lama dan baru". Majalah Konstruksi No. 115, November 1987, hal. 32-37
  8. "Ibu Tien Peresmian Hotel Aryaduta Hyatt DKI". ANTARA, 7 Desember 1987. Diakses via Soeharto.co (arsip)
  9. Rosita Yahya (1990). "Apa, Siapa?: Hyatt." KOMPAS, 7 Januari 1990, hal. 11
  10. "Nama dan Logo Baru Aryaduta". Warta Ekonomi, 9 September 1991, hal. 57
  11. "Satu Kota Satu Hyatt". Tempo, 21 September 1991
  12. Teguh P. & Irma Nurhayati (1992). "Masih Diperingkat Ketiga." Majalah Prospek, 18 April 1992, hal. 79-80
  13. Annual Report Lippo Karawaci Tbk.: 2005, 2008 (arsip: 2005, 2008)
  14. "Lippo Merambah Pelbagai Lini". GATRA, 15 Agustus 2012.
  15. Imelda Akmal (2012). "Wiratman: Momentum & Innovation 1960-2010". Jakarta: Imajibooks.

Lokasi

Comments