Rangkuman SGPC 2018-2020: Bagian 1 - 1950an sampai 1970an

Ketimbang menulis gedung untuk menutup 2020 yang sangat menyedihkan ini, penulis memutuskan menulis gambaran besar dari gedung-gedung yang penulis catat sejak blog ini muncul pada tahun 2018. Per 31 Desember 2020, 307+ bangunan dan kompleks yang dibangun di Indonesia sudah terdokumentasi oleh Setiap Gedung Punya Cerita, dan rangkumannya bisa dibaca disini. Karena bahasannya sangat luas, rangkuman ini dipecah ke tiga bagian.

Catatan penulis: dokumen ini bisa ditulis ulang selama tim penulis SGPC mendapatkan lebih banyak data baru dan gedung baru. Tulisan ini tidak merepresentasikan perjalanan arsitektur Indonesia secara garis besarnya "versi komunitas arsitektur". SGPC berjalan melihat yang terjadi di permukaan.

1950an-1960an: Dikala Pemerintah Doyan Bangun Bangunan Mewah.......

Era Demokrasi Terpimpin ala Soekarno memang era yang sangat tidak bersahabat untuk bisnis, dan barangkali demi narsisme diri bangsa Indonesia di panggung dunia dengan keterbatasannya, dengan mengabaikan infrastruktur di pelosok-pelosok (jangankan kota besar lain), kita membangun sangat banyak bangunan besar dan mewah di beberapa lokasi di Indonesia, mulai dari hotel berlantai banyak hingga stadion temu gelang dengan 100 ribu tempat duduk kayu.

Tapi jangan lupakan bahwa ini adalah era dimana mayoritas pemborong dan arsitek adalah anonim dan tidak menonjol, kecuali anda punya nama di mata Presiden Soekarno. 100 persen gedung-gedung era 60an yang dibahas oleh blog ini, bergaya modernisme pertengahan. Firma arsitektur sangat sedikit: di dekade ini, baru ada Arkonin dan Perentjana Djaja yang terlihat berkiprah.

Gedung CTC
Gedung CTC, gedung tertua yang dibahas blog ini. Foto DBG, Creative Commons License

Lupakan rumah dan bangunan jengki, obsesi Indonesia pada bangunan tersebut dapat dukungan media. SGPC tidak akan ke sana, sebaliknya penulis membahas Gedung CTC - gedung tertua yang dibahas blog ini, diresmikan oleh Presiden Soekarno pada 1 Agustus 1958. Berlantai 5, gedung dengan gross floorplate 15 ribu meter persegi ini merupakan kantor banyak perusahaan milik PPI dan beberapa perusahaan swasta dari era 1960an sampai awal 1990an. Menjamurnya perkantoran di kawasan strategis menjadi penyebab turunnya pamor CTC, dan kini menjadi tempat uji nyali para penjelajah urban dan anak-anak pecinta dunia astral.

Di tahun yang sama, Indonesia mendapat jackpot dari Jepang: pencairan dana pampasan ratusan juta dolar AS dan mandat Asian Games 1962. Alih-alih membangun infrastruktur antarkota dan merenovasi stadion IKADA yang sudah representatif, pemerintah memilih membangun stadion megah di Senayan dan hotel-hotel mewah.

Iklan Hotel Hasta. Foto: Pola, Juli 1976

Stadion GBK memang sudah sering dibahas, sehingga penulis memutuskan mencari hal-hal kecil dari proyek Asian Games '62. Keduanya sudah pernah menjadi hotel dan dihancurkan untuk proyek besar. Keduanya merupakan Press Centre dan Wisma Atlet Putri Asian Games. Press Centre, sesuai namanya, digunakan untuk menginap wartawan dan menyalurkan informasi Asian Games kepada dunia; sementara Wisma Atlet Putri sudah sesuai namanya, memiliki 18 unit untuk menampung 350 atlet putri dan ruang makan untuk 100 orang. Pasca Asian Games, keduanya menjadi hotel. Press Centre berganti nama menjadi Wisma Warta dan ditinggikan pada tahun 1968, dan kembali berubah nama pada 1969 sebagai Hotel Asoka.

Hotel Asoka dibongkar pada tahun 1985 dan sekarang menjadi Plaza Indonesia. Wisma Atlet Putri, pasca-Asian Games, berganti nama menjadi Hotel Hasta, dan sempat mengemban kembali peran wisma atletnya pada PON 1977. Hotel Hasta tumbang di tangan sepasukan excavator pada tahun 1990, dan sekarang menjadi clubhouse Lapangan Golf Senayan.

Selain di Jakarta (Hotel Indonesia), Soekarno membangun tiga hotel mewah lain di Pelabuhan Ratu, Yogyakarta dan Sanur. SGPC membahas hotel di Sanur, rancangan Rusji Hatamarrasjid. Pembangunan berlangsung mulai 1962 hingga 1966, dan dibuka oleh Wapres Sri Sultan Hamengkubuwono pada November 1966. Mayoritas elemen desain hotel berlantai 10 ini hancur akibat kebakaran pada Januari 1993; yang anda lihat sekarang adalah buah karya orang-orang dari Team 4 dan interior dari Atelier 6.

Gedung BDN pra-renovasi. Arsitek: Perentjana Djaja
Foto: Majalah Konstruksi, Jan-Feb 1981

Sangat banyak proyek-proyek ambisius yang Soekarno bangun saat itu, tetapi krisis keuangan karena pengelolaan ekonomi yang payah dan kisruh politik yang hebat membuat banyak proyek yang mandeg. Mayoritas perhotelan baru selesai dibangun 1966, dan beberapa perkantoran tidak selesai dibangun sampai tahun-tahun awal pemerintah Orde Baru.

Dua gedung yang penulis SGPC bongkar tahun pembangunannya untuk awal era Orde Baru adalah Gedung Bank Dagang Negara (Wisma Mandiri I) dan Gedung Perbekalan Dalam Negeri Pertamina. Gedung BDN mulai dibangun pada tahun 1964, dan selesai dibangun 1969 hanya dengan 11 lantai dari rencana awal 18 lantai, sementara Gedung PDN Pertamina selesai dibangun pada tahun 1968.

1970an: Dari Minyak hingga PATA

Secara subyektif, era 1970an adalah masa jaya arsitektur di Indonesia, masa dimana desain arsitekturnya lebih banyak mengutamakan estetika dan keindahan tata ruang interior yang banyak mengadopsi nuansa dalam negeri. Hal ini didukung kuat oleh kebijakan ekonomi Orde Baru yang liberal.

Baik arsitek lokal dan asing menjajal dunia rancang bangun Indonesia, baik lewat kerjasama atau proyek sendiri-sendiri. Firma lokal pun mulai berjamuran, kebanyakan diantara mereka dibentuk oleh alumni proyek agung CONEFO yang sekarang Gedung DPR-RI, seperti Atelier 6, PRW Architects dan Gubah Laras. Firma besar lain yang juga berkiprah di era ini adalah Encona Engineering, Accasia hingga Gumarna.

Sementara firma arsitek asing era 1970an yang punya kiprah merancang bangunan tinggi di Indonesia terdiri dari Skidmore Owings & Merrill (SOM), Ed Killingsworth, Alfred A. Yee & Associates, Palmer & Turner (P&T Group), Wimberly Whisenand Allison Tong & Goo (WATG) hingga Meiji Watanabe. Di luar Palmer & Turner dan Meiji Watanabe, rata-rata firma yang disebut hanya menyumbang satu karyanya di Indonesia.

Duta Merlin, sebelum mural urban menyelimuti wajah gedungnya.
Sinar Harapan, 25 Agustus 1976.

Tidak seperti gedung era 1960an yang berorientasi pada ideologi dan narsisme semata, gedung di masa ini mulai bergeser menjadi fungsional, estetis dan lebih bernilai secara komersil. Dibangun untuk mengantisipasi acara-acara besar, boom minyak akibat krisis minyak 1973-1974 dan, spesifik di Jakarta, kebijakan Ali Sadikin yang melarang perusahaan berkantor di rumah tinggal, terdapat puluhan hotel dan lusinan perkantoran yang dibangun di kota-kota di Indonesia. Di era ini juga mulai muncul pertokoan-pertokoan swasta seperti Duta Merlin, Aldiron Plaza dan Hayam Wuruk Plaza, namun mayoritas pusat pertokoan masih berupa kios dan supermarket.

Hotel merupakan sorotan utama awal 1970an, terutama karena adanya rapat PATA 1974. Cukup banyak penanam modal swasta nasional maupun asing yang memanfaatkan penuh momen ini - semisal dimulai kembalinya konstruksi Hotel Borobudur pada Januari 1970, dilanjutkan dengan Hotel Sahid Jaya pada Juli 1970. Kedua hotel tersebut akhirnya rampung dan bisa digunakan untuk menampung tamu PATA '74 pada Maret 1974.

Mengenai tujuan utama adanya perkantoran di tahun 1970an, memang cukup nasionalistis. Pertamina membangun cukup banyak proyek properti untuk kontraktor minyak, salah satunya Oil Centre Building, sekarang milik Dana Pensiun Pertamina, pada tahun 1971. Oil Centre dilengkapi oleh telepon dan layanan teleks yang langsung terhubung ke pasar internasional, setidaknya berhasil merayu pengebor minyak untuk berkantor di Indonesia.

Hotel Bumi Surabaya
Hotel Bumi Surabaya, wing 1979 rancangan Bruce Graham. Foto DBG, Creative Commons License

Di luar Jakarta, Indonesia setidaknya sudah memiliki beberapa hotel berketinggian sedang alias mid-rise. Kejutan terbesarnya adalah Hotel Hyatt Surabaya (1979), sekarang Hotel Bumi Surabaya, yang dirancang oleh Bruce Graham dari Skidmore, Owings & Merrill. Di dunia arsitektur Graham lebih ngetop sebagai arsitek gedung tertinggi di dunia di zamannya, Sears Tower, di Chicago, Amerika Serikat. Di Balikpapan, arsitek Malaysia merancang Hotel Benakutai, tetapi dengan satu catatan, muncul versi lain yang menyebut Benakutai adalah rancangan lokal.

Class of '76

Wisma Hayam Wuruk
Wisma Hayam Wuruk rancangan Alfred A. Yee & Associates (1976). Foto DBG, Creative Commons License

Tahun 1976 adalah tahun yang paling banyak diwakilkan di blog ini dari dekade 1970an. Cukup banyak bangunan komersil maupun hotel yang selesai dibangun di tahun ini, yaitu 9 - 4 gedung perkantoran komersil, 2 hotel, Balai Kota DKI, Duta Merlin dan Kedutaan Soviet, dengan desain arsitektur yang sangat berwarna dan didominasi asing, mulai dari desain brutalist Wisma Hayam Wuruk (Alfred A. Yee & Associates) hingga lapis kaca Wisma Kosgoro (Jasa Ferrie/Raysoeli Moeloek). Menariknya, Wisma Kosgoro adalah rancangan lokal.

Tahun 1976 juga memunculkan dua hotel yang sampai sekarang menjadi pilihan utama para pelancong: Hotel Sultan dan Sari Pacific - keduanya (masing-masing oleh Edward Killingsworth dan Wimberly Whisenand Allison Tong & Goo) adalah rancangan arsitek Amerika dan bagi Killingsworth dan WATG, hotel tersebut masing-masing merupakan debutnya di Indonesia. Keduanya sudah dibangun sejak 1972. Walau sebagai hotel, Hilton dan Sari Pacific tidak dipersiapkan untuk PATA 1974.

Balai Kota DKI adalah tolok ukur karya teknik Indonesia era 1970an dan juga menjadi patok batas tinggi gedung di ibukota Indonesia zaman itu; tetapi ada perbedaan pandangan dimana arsitek lokal secara kontemporer tidak pernah diakui.

Gedung-gedung pemerintahan

GKN Denpasar
Gedung Keuangan Negara Denpasar, rancangan Encona Engineering. Foto DBG, Creative Commons License

Peningkatan ekonomi dan penduduk di masa Orde Baru juga memunculkan persoalan baru lain yaitu meningkatnya kebutuhan PNS dan konsolidasi organisasi lembaga negara. Sebelumnya, lokasi ditjen tercecer di seantero ibukota, menimbulkan inefisiensi dalam menjalankan tugas negara. Pelaksanaan pembangunan proyek-proyek perkantoran negara baik dari pusat maupun pelosok, didominasi arsitek dalam negeri dan BUMN pemborong. Proyek yang lebih kecil biasanya digarap pemborong lokal.

Di era 1970an, kantor pemerintah pertama yang terealisasi adalah Gedung Kemenkominfo. Gedung tersebut sudah dilaksanakan pembangunannya sejak 1963 dan akan menggunakan banyak kavling di Medan Merdeka Barat, tetapi karena krisis ekonomi 1960an, proyek Deppen tersebut mangkrak, dan hanya satu blok di Medan Merdeka Barat No. 9 yang rampung dibangun pada Agustus 1970. Butuh beberapa tahun untuk kementerian dan lembaga lain menyusul membangun gedung tingginya, mulai dari Kementerian Luar Negeri (Januari 1971), Kementerian Dalam Negeri (Januari 1973) hingga Badan Pemeriksa Keuangan (selesai 1979) dan Gedung BKKBN di Jalan MT Haryono (1977-1980).

Secara regional, penulis baru hanya meliput gedung di DKI dan Bali. Semisal kantor Gubernur DKI yang disebut sebelumnya, Dinas Pendidikan DKI (1979, dib. 2016), kantor Bank Indonesia (1972-73) dan Gedung Keuangan Negara di Denpasar (1973-1977). Kesulitan mencari sumber bisa dikatakan sangat berpengaruh dalam pembuatan profil gedung pemerintahan daerah.

Epilog

Era 1960an dan 1970an merupakan dekade yang keras dan penuh gejolak baik dari segi politik maupun segi ekonomi, tetapi era tersebut merupakan awal dari pembangunan gedung berlantai banyak di Indonesia, baik untuk tingkat pemerintah, niaga hingga perhotelan. Secara arsitektural, gedung di era tersebut sangat berani bereksperimen, dan menjadi awal dari lahirnya banyak firma arsitektur lokal dan kedatangan arsitek-arsitek asing berkiprah merancang karya-karya terbaiknya di bumi nusantara.

Comments