Gedung Guru Indonesia

Gedung Guru Indonesia adalah gedung perkantoran dan tempat pertemuan yang merupakan kantor sekretariat dari Persatuan Guru Republik Indonesia sejak 1950an setelah pindah dari kota Surakarta ke Jakarta.

Foto oleh Google Street View

Namun gedungnya sendiri, yang akan dibahas oleh SGPC, adalah gedung berlantai 5 yang dirancang oleh Ir. Arie Angreni dari Arkonin. Gedung Guru Indonesia dibangun oleh Wijaya Karya mulai 20 Maret 1986 hingga selesai dibangun dan diserahterimakan ke PGRI pada tanggal 19 Maret 1987.

Sejarah

Persatuan Guru Republik Indonesia dibentuk pada 25 November 1945 sebagai alat perjuangan kemerdekaan dan organisasi profesi untuk keguruan di Indonesia. Awalnya berpusat di kota Surakarta, sejak 1952 PGRI berpusat secara penuh di ibukota Jakarta.

H. Basyuni Suriamiharja, ketua PGRI 1970-1998, membeberkan fakta bahwa sejak pindah ke Jakarta, PGRI berencana untuk membangun gedung sendiri, tetapi karena krisis ekonomi dan politik yang diiringi inflasi tidak terkendali, proyek tersebut tidak terlaksana, sampai pada saat kongres PGRI XIV pada 1979, dan kongres PGRI XV 1984, ikrar memiliki gedung baru pun diungkit lagi.

Dua tahun sebelumnya, Mendikbud Daoed Joesoef dan Suriamihardja bertemu Presiden Soeharto untuk mempresentasikan rencana pembangunan Gedung PGRI. Rencana tersebut mendapat lampu hijau Soeharto, dan PGRI pun membangun gedung baru tersebut di Jalan Tanah Abang III, di lokasi kantor lama PGRI.

Pada tahun 1985, PGRI mengadakan sayembara perancangan Gedung Guru Indonesia, mencari tim arsitek yang perancangannya sesuai dengan syarat desain Gedung Guru: monumental dan fungsional sebagai kantor PGRI, penginapan dan konferensi. Arkonin ditunjuk sebagai pemenang sayembara.

Konstruksi Gedung Guru Indonesia dimulai pada 20 Maret 1986. Seperti yang dibahas sebelumnya, pembangunan gedung ini dilakukan oleh Wijaya Karya dari struktur, finishing hingga instalasi listrik. Dikala pembangunan berlangsung, Suriamihardja, pada September 1986, diam-diam ke Garut untuk mencari sebuah batu alam dari Gunung Batara Guru. Batu tersebut ditatah tulisan peresmian oleh seorang guru seni rupa dari Temanggung, Jawa Tengah. Batu tersebut dibawa ke Jakarta pada 15 September 1986 (detil ornamen lainnya ada di bagian arsitektur).

Pembangunan selesai dilakukan pada 19 Maret 1987, tepat saat Wijaya Karya menyerahkan gedung tersebut kepada Persatuan Guru Republik Indonesia. Gedung yang menghabiskan biaya Rp. 2,3 milyar (1987) ini akhirnya diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 21 April 1987.

Rehabilitasi

Pada tahun 2011, seorang masyarakat umum menulis ke Majalah Suluh mengenai keadaan Gedung Guru Indonesia yang menurutnya "sesederhana guru Sekolah Dasar", "tidak dirawat secara profesional" dan "mirip losmen". Label ini menjadi refleksi dari kurangnya popularitas bangunan pemerintah era Orde Baru, dan menjadi salah satu faktor pendorong dari renovasi Gedung Guru Indonesia pada 2017, yang dirancang oleh MZ Abidin dari kelompok Pavilion95 atas seizin Arkonin.

Renovasi Gedung Guru Indonesia tersebut mendapat dukungan dana dari Wakil Presiden 2014-19 Jusuf Kalla.

Arsitektur dan struktur

Gedung berlantai 5 ini dirancang dengan banyak seni monumental dan tradisionalisme Indonesia. Secara eksterior, Gedung Guru Indonesia pra-renovasi dirancang simetris, dengan shaft ganda dan atap miring dengan aksen merah-putih untuk menciptakan penampilan monumentalnya, dan menjadi simbol dari perjuangan guru-guru Indonesia. Desain eksterior yang sangat sederhana dan sarat geometri ini secara tidak langsung menjadi bahan kritikan.

Di bagian luar gedung terdapat beberapa karya seni tradisional. Facebook resmi PGRI menyebutkan ada batu peresmian yang diambil dari Gunung Bhatara Guru (dengan alasan simbolis) dari Garut, Jawa Barat, yang ditandatangani Presiden Soeharto dan menyebutkan nama Gedung Perjuangan PGRI; dua arca Gopala dari Muntilan, Jawa Tengah yang menyimbolkan penjagaan bangunan dan patung kayu hitam dari Luwu, Sulawesi Tengah.

Gedung Guru Indonesia memiliki tiga fungsi; kantor PGRI (2, 3 dan 4), asrama 18 kamar di lantai 5 dan balai konferensi bernama Ruang Indonesia. Untuk alasan praktis, ruang konferensi berkapasitas 200 orang tersebut ada di lantai terbawah (lantai 1).

Namun, semenjak Pavilion95 merancang renovasinya, perubahan pada gedung tersebut menemui masalah. P95 ingin menghormati rancangan Arie Angreni, tetapi PGRI ingin penampilan yang lebih hip dan semenarik wajah plastik personil EXO dibanding penampilan dari zaman Chicha Koeswoyo. Akibatnya, aksen merah putih hilang dan pola mosaik dan aluminium sandwich diterapkan di sisi depan gedung. Sisanya masih mempertahankan jendela hitam dan lapis tegel. Renovasi lebih banyak dilakukan pada penyegaran interior, ruang konferensi dan kelistrikan.

Struktur gedung tidak banyak dibahas. Pondasi menggunakan frankipile dengan kedalaman rata-rata 14 meter, dan struktur atas beton bertulang terbuka dengan kolom penopang.

Untuk gedung lima lantai, informasi yang tersedia sudah gamblang. Selamat Hari Guru Nasional (walau telat!)

Data dan fakta

  • Alamat: Jalan Tanah Abang III No. 24 Jakarta
  • Arsitek:
    • Ir. Arie Angreni (Arkonin, desain awal)
    • Ir. M.Z. Abidin (Pavilion95, renovasi)
  • Pemborong:
    • Wijaya Karya (desain awal)
  • Lama pembangunan: Maret 1986 - Maret 1987
  • Diresmikan: 21 April 1987
  • Jumlah lantai: 5 + 1 basement
  • Tinggi gedung: ~25 meter (estimasi), 22,4 meter (atap)
  • Biaya pembangunan: Rp. 2,3 milyar (1987, setara Rp 36 milyar nilai 2020)
  • Signifikasi: Tidak ada

Referensi

  1. "Gedung Guru Indonesia: memiliki fasilitas Wisma." Majalah Konstruksi No. 111, Juli 1987, hal. 17-23. Juga lihat "H. Basyuni Suriamiharja: Kesederhanaan itu indah dan bermakna". Majalah Konstruksi No. 111, Juli 1987, hal. 21-22
  2. "Presiden Soeharto Resmikan Gedung Guru PGRI". ANTARA, 21 April 1987, diakses via Soeharto.co pada 28 November 2020. (arsip)
  3. Profil Renovasi Gedung PGRI. Iluniars (Ikatan Alumni Arsitektur UI), diakses 28 November 2020 (arsip)
  4. Agus Warsono (2011). "Gedung Guru Perlu Renovasi". Ayo ke Sekolah, 20 Maret 2011. Diakses 28 November 2020 (arsip)
  5. Dimasmul Prajekan (2017). "Arah Baru PGRI Dibawah Sang Srikandi". Laman resmi Persatuan Guru RI, 1 Februari 2017. Diakses 28 November 2020 (arsip)

Tulisan Facebook Pengurus Besar PGRI

Lokasi

Comments