Gedung BRI II

Gedung BRI II adalah gedung tinggi berlantai 32, dengan tinggi 143 meter (versi CTBUH) yang dibangun di kawasan Semanggi, Jakarta Pusat. Gedung dengan kelir kaca ini dirancang oleh tim arsitek Architects Pacific, dan dibangun oleh Jaya Konstruksi. Pembangunan gedung ini selesai dilaksanakan pada tahun 1991, sayangnya tidak ada data pasti mengenai lama konstruksi gedung ini, dan status gedung ini sebagai bangunan tertinggi di Indonesia mengingat gedung ini sudah mengalahkan ketinggian Kantor Pusat BNI (136 meter).

Gedung BRI II
Foto DBG, Creative Commons License

Sebelum dibangun, lokasi yang sekarang menjadi Gedung BRI II direncanakan menjadi kembaran Wisma Sudirman rancangan Perentjana Djaja untuk Jakarta Land; sayangnya dengan dibelinya gedung Wisma Sudirman oleh Bank Rakyat Indonesia (BRI), rencana itu diganti dengan mengadakan BOT antara BRI dengan Dana Pensiun BRI pada tahun 1990. Dua tahun kemudian Dana Pensiun BRI mengalihkan pengelolaan gedung tersebut ke Grup Mulia. Tetapi pengambilalihan pengelolaan ke Grup Mulia ini menjadi bibit kontroversi.

Secara arsitektural, gedung BRI II sulit dijelaskan secara detil; bergaya pascamodern, berlapis kaca dengan sedikit sentuhan granit di lantai bawah dan beratap baja. Gedung ini memiliki luas lantai total 80 ribu meter persegi, dengan 70 ribu diantaranya merupakan lantai yang bisa disewakan ke perusahaan.

Pengambilalihan dan sejarah kontemporer

Mulai 1992 sampai 2014, Gedung BRI II dikelola oleh Mulia Persada Pacific, anak perusahaan Grup Mulia milik Djoko Tjandra. Keberadaan Grup Mulia kala itu sarat dengan polemik di mata kalangan pebisnis.

Majalah Prospek menjadi majalah pertama yang membongkar masalah di Gedung BRI II saat awal dibangun, 18 tahun sebelum BRI maju ke palagan meja hijau melawan Mulia. Di tahun-tahun awal operasional bangunan, seorang pengamat properti yang diwawancara Prospek memberi cap "kampungan" dan "mengecewakan" pada BRI II setelah diketauhi hasil finishingnya di bawah standar gedung-gedung milik Grup Mulia lainnya. Sumber lain menyebutkan kerjasama BRI-Mulia diwarnai strategi kotor taipan properti yang kelak menghuni Rutan Salemba ini. Sayangnya, kedua sumber yang didapat majalah Prospek tersebut adalah anonim, sehingga kebenaran klaim ini sulit dipastikan.

Pembangunan Gedung BRI II, Jakarta 1990an
Konstruksi Gedung BRI, 1990.
Foto: Majalah Prospek
Pada tahun 2010, Bank Rakyat Indonesia menggugat Mulia Persada Pacific karena wanprestasi. Kontrak BRI dan Mulia Persada Pacific pada 1992 mewajibkan Mulia membangun Gedung BRI III, fasilitas umum seperti lapangan upacara dan senam, dan shower di parkiran sebagai syarat BOT BRI dan Mulia. Mulia justru tidak melakukan hal tersebut, menyebabkan pihak BRI mensomasi Mulia dan menyeretnya ke meja hijau pada tahun 2010.

Gugatan tersebut dimenangkan oleh BRI pada tahun 2013, memerintahkan Grup Mulia menyerahkan Gedung BRI II senilai 3 triliun rupiah dan semua hak pengelolaan ke Dana Pensiun BRI, termasuk ganti rugi sewa gedung BRI III senilai 347 milyar rupiah (2010). Setahun kemudian, pada 8 Juli 2014, Dana Pensiun BRI akhirnya mengambilalih gedung tersebut. Frederich Yunadi, seperti pelatih yang menyalahkan wasit karena timnya kalah pertandingan, menuduh eksekusi diadakan menjelang Pemilihan Presiden 2014 untuk kepentingan politik. Pasca eksekusi, Gedung BRI II dikelola oleh Bringin Karya Sejahtera.

Sebuah lift di Gedung BRI II jatuh pada 20 Januari 2017, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.

Selain menjadi kantor dari Bank Rakyat Indonesia, gedung ini juga disewakan dengan salah satu tenant utamanya yaitu Huawei.

Data dan fakta

  • Alamat: Jalan Jenderal Sudirman Kav. 44-46 Jakarta
  • Arsitek:
    • Architect Pacific (arsitektur)
  • Pemborong:
    • Jaya Konstruksi
  • Lama pembangunan: Selesai dibangun 1991
  • Jumlah lantai: 32
  • Tinggi gedung: 143 meter
  • Signifikasi: Pariwisata (landmark Semanggi)

Referensi

  1. Laman resmi Architects Pacific, diarsip 25 Februari 2019
  2. Laman resmi Mulialand, diarsip 3 Agustus 2008
  3. M. Taufiqurohman & Fuji Kaniasari (1993). "Ayo Membangun tak Jemu-jemu". Majalah Prospek, 13 November 1993, hal. 34-35.
  4. Laman resmi Manajemen Gedung BRI II, diakses 7 September 2020. (arsip)
  5. Tri Adi (2010). "BRI Menggugat Mulai Persada soal Gedung BRI 2 dan 3". KONTAN, 31 Mei 2010. Diakses 7 September 2020 (arsip)
  6. mei/ndr (2014). "Sempat Ricuh, Eksekusi Gedung BRI II Dikawal Ratusan Polisi Bersenjata Api". Detikcom, 8 Juli 2014. Diakses 7 September 2020. (arsip)
  7. Dea Chadiza Syafina/Erlangga Djumena (2014). "Gedung BRI II Sudah Diambil Alih, Pendapatan BRI Bertambah". KOMPAScom, 11 Juli 2014. Diakses 7 September 2020. (arsip)
  8. Rizka Dwiputra (2014). "Eksekusi Paksa Gedung BRI II Dinilai Sarat Kepentingan Politik". Okezone, 8 Juli 2014. Diakses 7 September 2020. (arsip)
  9. fdn/tor (2017). "Lift di Gedung BRI II Jatuh dari Lantai 3". Detikcom, 20 Januari 2017. Diakses 7 September 2020. (arsip)
  10. Web resmi Huawei Enterprise
  11. Tim Redaksi Prospek (1992). "Raja Properti dari Pontianak". Majalah Prospek, 2 Mei 1992, hal. 74-77
  12. Agung Firmansyah; Robinson Pangaribuan (1992). "Menjulang dengan Cercaan". Majalah Prospek, 2 Mei 1992, hal. 78
  13. Danke Dradjat; Irma Nurhayati; Robinson Pangaribuan et al (1992). "Ruang-ruang Mewah yang Dijajakan". Majalah Prospek, 2 Mei 1992, hal. 79-81

Lokasi

Comments