Gedung Landmark Centre (terbaru 6 Oktober 2020)

Gedung berwarna hitam, mengotak dan bergaya internasional, dengan tampilan sangat elegan ini bukanlah bangunan baru. Bernama "Landmark", gedung ini pernah ditempati banyak perusahaan top dunia sebelum menjamurnya bangunan lapis kaca pada dekade 2010an, dan pemiliknya satu grup dengan pemilik Ratu Plaza yang berjaya di tahun 80an - Ratu Sayang Internasional. 

Landmark Yang Kehilangan Simbolnya
Dilihat dari Hotel Alia Cikini. Foto DBG, Creative Commons License

Gedung yang berlokasi di ujung timur Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta ini dibangun dalam dua tahap, tahap pertama dibangun oleh pemborong Kadi Internasional (yang kemungkinan melibatkan Kumagai Gumi) mulai Juli 1983 dan selesai dibangun paling cepat menurut rencana yang dikabarkan adalah September 1985; sementara tahap kedua dibangun oleh Kumagai Gumi (yang kemungkinan juga melibatkan Kadi Internasional), yang selesai pembangunannya pada 1991. Pada tanggal 22 Januari 1985, dengan dihadiri Wakil Gubernur DKI Bun Yamin Ramto, gedung pertama Landmark Centre tutup atap. Dengan pembangunan Landmark Centre II, gedung ini menjadi gedung kembar kedua di Indonesia setelah apartemen Sultan

Kedua gedung tersebut dirancang oleh Nihon Architects & Engineers (atau bernama Nihon Sekkei, yang sedekade kemudian merancang Gedung Ibnu Sutowo di Rasuna Said), yang awalnya akan menyertakan dua kondominium 18 lantai dan hotel 20 lantai berkapasitas 626 kamar. Rencana pembangunan kondo dan hotel tidak dilaksanakan. Desain perkantorannya terilhami oleh Shinjuku Mitsui Building di Tokyo, yang juga rancangan Nihon Sekkei, konon, karena saran penjabat PT Landmark yang pernah ke Tokyo, menyarankan kepada Nihon Sekkei untuk merancang gedung yang mirip dengan Shinjuku Mitsui untuk Landmark.

Pembangunan gedung tersebut menghabiskan investasi 60 juta dolar AS (atau 58,2 milyar rupiah nilai Juni 1983) dari pinjaman Citibank, Mitsubishi Bank dan Scotiabank. Ketika dibangun, gedung ini diklaim adalah yang tertinggi di Indonesia dengan tinggi 120 meter dan memiliki 33 lantai plus 2 basement. Namun versi resmi di tahun 1985 ini ditantang nilainya oleh CTBUH (133 meter), sementara status tertingginya pada faktanya sudah dipegang Plaza BBD (132m) dua tahun sebelumnya.

Di masa jayanya, Landmark Centre menjadi kantor dari beberapa perusahaan-perusahaan kelas dunia seperti IBM, Citibank (pindah dari Oil Centre pada 1986 - dan memberi dana kepada pengembang), Atlantic Richfield Company, Rabobank. Belakangan, Adira Finance dan BNI Life. Gedung Landmark Centre pernah menjadi pusat perhatian media massa pada akhir November 1992 saat salah satu tenant Bank Summa, milik Grup Astra, rontok karena dibekukan pemerintah. Sepuluh tahun kemudian, Landmark Centre, seperti halnya bangunan di sekitar Kali Ciliwung, mengalami kebanjiran di basementnya. Basement Landmark kembali banjir pada tahun 2015.

Gedung Landmark - Majalah Eksekutif, Juli 1989
Landmark pada malam hari di masa jayanya. Sumber: Philips Lighting, Majalah Eksekutif, Juli 1989

Saat penulis membuat tulisan ini, Landmark Centre sedang mengalami masa-masa terberatnya, terutama gedung kembarannya yang dibangun pada tahun 1991 yang diduga nyaris kosong melompong.

Data dan fakta

  • Alamat: Jalan Jenderal Sudirman Kav. 1 Jakarta
  • Arsitek:
    • Nihon Sekkei
  • Pemborong:
    • Kadi Internasional - Kumagai Gumi J.O. (asumsi sementara)
  • Lama pembangunan:
    • Juli 1983 - September 1985 (blok 1)
    • selesai dibangun 1991 (blok 2)
  • Jumlah lantai: 33 + 2 basement (blok 1 dan 2)
  • Tinggi gedung: Diperselisihkan
    • 120 meter (KOMPAS)
    • 133 meter (CTBUH)
  • Biaya pembangunan: Rp 58,2 milyar (1983, setara Rp 1,3 triliun nilai 2020)
  • Signifikasi:
    • Pop culture (isu mistis)

Referensi

  1. ak (1985). "Bangunan tertinggi di Indonesia". KOMPAS, 23 Januari 1985, hal. 3
  2. ak (1985). "Gedung tertinggi di Jakarta". KOMPAS, 15 Juli 1983, hal. 3
  3. Arsip web resmi Kumagai Gumi, diarsip 21 Mei 2010
  4. Arsip web resmi Kadi Internasional, diarsip 3 Oktober 2010
  5. Nihon Sekkei (1988). "Creation of tomorrow environment". Process Architecture No. 76, 1988. Tokyo: Process Architecture Publishing Co. (snippet)
  6. Susanti Jo dan Agung Nugroho (2002). "Karyawan Gedung Landmark Diliburkan". Liputan 6 SCTV, 5 Februari 2002. Diakses 7 Juni 2020 (arsip)
  7. pr (1986). "Rabobank Buka Kantor Perwakilan di Jakarta". KOMPAS, 20 Juni 1986, hal. 2
  8. Annual Report Citibank 2018 (arsip)
  9. Sejarah Nihon Sekkei, 21 Agustus 2017, diakses 15 September 2020. (arsip)
  10. "Loan to finance centre in Jakarta". Business Times (Singapura), 25 Juni 1983, hal. 2 (via NLB Singapura)
  11. Caroline Damanik (2015). "Jakarta Diguyur Hujan, Banjir Rendam Jalan di Kolong Landmark". KOMPAS.com, 7 November 2015. Diakses dan diarsip 6 Oktober 2020.

Lokasi

Perubahan

  • Pertama ditulis 4 September 2020
  • 15 September 2020: Arsitek terverifikasi via laman resmi. Tambahan data dari Business Times Singapura.
  • 6 Oktober 2020: Penulis menambah informasi mengenai banjir kedua. Terima kasih kepada salah satu pembaca yang memberitahu.

Comments