Apa Penyebab Bangunan (Modern) di Indonesia Jarang Terdokumentasi?

Cakrawala Surabaya
Sebelum blog ini eksis, apakah anda tahu sejarah beberapa bangunan tinggi di foto ini? Foto DBG, Creative Commons License

Selama hampir dua tahun Setiap Gedung Punya Cerita eksis, blog ini telah berupaya keras mengangkat sejarah dan profil rancang bangun bangunan-bangunan tinggi, bangunan mid-rise (menengah) maupun bangunan berketinggian rendah (low-rise) yang dibangun di masa pemerintahan Orde Lama, Orde Baru hingga awal reformasi. Dua tahun sudah penulis mengumpulkan sumber mengenai bangunan dari berbagai surat kabar, ulasan di majalah hingga situs-situs internet terkait yang telah menghasilkan lebih dari 200 lebih artikel mengenai bangunan dan beberapa tulisan mengenai, sayangnya, arsitektur.

Di luar SGPC, arsitek-arsitek Indonesia mengeluhkan kurangnya dokumentasi arsitektur di negara sendiri, tetapi di permukaan, keluhan tersebut adalah omong kosong ala pemalas. Hal ini memaksa penulis untuk menghianati gelar S.Kom penulis untuk membangun blog yang mazhabnya adalah arsitektur dan struktur bangunan rumah tinggal dan niaga, bukan arsitektur dan struktur pemrograman komputer demi menggarap blog ini. Dokumentasi bangunan di Indonesia seringkali terasa setengah-setengah atau bahkan terkesan terbengkalai. Penulis menemukan bahwa mereka hanya mengejar informasi arsitektural bangunan saja, tidak ada informasi latar belakang sejarah dan data pembangunan gedung yang lebih akurat. Lebih parahnya, sudah muncul indikasi cherry-picking dengan hanya mengutamakan bangunan karya beberapa tokoh tertentu, atau era tertentu.

Penulis merasa terlalu munafik membicarakan masalah tersebut, karena beberapa artikel SGPC yang dimuat hanya menyisipkan info arsitektural dan strukturnya. Dan itu terjadi karena mendapatkan informasi atau berita yang lebih pas mengenai pembangunan beberapa gedung di Indonesia melalui surat kabar dan majalah belaka cukup sulit dan menyita banyak waktu.

Melandasi permasalahan-permasalahan di atas, penulis blog Setiap Gedung Punya Cerita, berdasarkan opini pribadi penulis, mengajukan beberapa teori penyebab arsitektur modern di Indonesia jarang terdokumentasi dengan baik.

Tidak menarik?

Gedung Ventura
Gedung Ventura. Desain bangunannya tidak bernilai untuk dibukukan.
Foto DBG, Creative Commons License

Dugaan penulis pertama adalah bahwa dokumentasi bangunan di Indonesia sangat kurang karena bangunannya terkesan tidak menarik. Tidak ada uniknya, kecuali kalau bangunan tersebut terlalu menonjol, atau berlapiskan kaca yang sangat menjulang; semisal Intiland Tower ex Dharmala; atau bangunan yang dibangun pada tahun 2010an di bilangan Jenderal Sudirman yang tingginya bisa sampai lima kali bangunan lama di sebelahnya, atau bangunannya adalah bangunan era kolonial Belanda. Padahal, setiap bangunan dirancang semenarik mungkin, apakah orang di luar arsitektur paham mengenai trias Vitruvian? Kokoh, indah dipandang dan bisa ditempati.

Kalaupun gedung itu mengalami musibah, media massa Indonesia terkesan terburu-buru mewartakan sejarahnya, dan ternyata informasinya tidak disampaikan lengkap. Tidak ada penyelidikan mendalam mengenai sejarah bangunan tersebut, bahkan banyak detil bangunan tinggi Indonesia di masa lalu yang terlewatkan. Ini yang menimpa Wisma Kosgoro.

Tetapi teori pertama ini punya kelemahan sendiri. Sebelum penulis membuat artikel mengenai Hotel Melia Jakarta, gedung rancangan Emilio Nadal de Olives ini tidak dibahas di media massa maupun buku arsitektur maupun non-arsitektur manapun, selain disinggung di harian The Jakarta Post pada tahun 1997, walau desain arsitekturnya benar-benar dikemas secara kreatif.

Tidak viral?

Render Central Klender Plaza, 1990
Insiden penjarahan dan pembakaran Central Klender Plaza pada Mei 1998, menjadikan gedung ini selamanya dibahas di medsos untuk bumbu horornya.
Majalah Konstruksi, Agustus 1990

Realitas suram dari dunia maya Indonesia adalah kebutuhan konten viral. Konten viral dirancang agar semenarik mungkin untuk bisa dibagi-bagikan di media sosial dan menarik banyak pembaca, dan iklan. Sayangnya, konten viral kadang kala tidak berbobot.

Mengenai keviralan bangunan modern di Indonesia yang merupakan skup blog SGPC, baru Gedung Sapta Pesona, City Plaza Klender dan Menara Saidah yang memiliki reputasi viral. Selebihnya tidak. Mengapa? Kalangan pop culture, yang kebetulan jumlahnya banyak di dunia maya ini, tertarik pada hal-hal tertentu yang panas, supranatural atau heboh.

Gedung Sapta Pesona misalnya, desain arsitekturnya sarat dengan teori yang masih dipercaya bahwa Joop Ave yang mempunyai ide rancangan arsitektur berbentuk alat kelamin. Hal ini penulis pertanyakan penuh karena rancang desain Sapta Pesona sudah dibuat ketika Soesilo Soedarman, seorang jenderal ABRI, masih duduk di kursi Depparpostel; Joop Ave masih menjadi Kadirjen Pariwisata Depparpostel RI dan baru mulai menjabat saat Gedung Sapta Pesona sudah dalam tahap pembangunan.

Sementara City Plaza Klender (CPK) viral karena sejarah dan isu berhantunya. Hal senada dialami Menara Saidah, yang diyakini berhantu dan miring. Soal sejarah CPK, sangat memilukan; namun penulis perpanjang lini waktu sejarah pusat perbelanjaan tersebut dari awal pembangunannya agar lebih jelas asal usul mal tersebut. Artikel Menara Saidah di SGPC berubah menjadi tempat mematahkan narasi media lokal dan klaim bahwa gedung tersebut miring, walaupun sayangnya, upaya penulis ini terasa sia-sia karena para netizen masih memutar-mutar narasi yang sama. Masih banyak bangunan di Indonesia lain yang viral karena faktor-faktor yang menjual di mata penggemar media sosial; hanya saja, penulis masih mencari-cari sumber yang akurat untuk profil dan sejarah gedung tersebut.

Memilih topik viral dan heboh tersebut, bagi para pembuat konten, bisa mengejar untung dan trafik pengunjung dengan cepat. Tapi, kompetisi yang ketat di topik-topik tersebut membuat konten tersebut bisa kehilangan esensinya, atau lebih buruk lagi, sampah. Kalau tujuan SGPC hanya menyentuh bangunan-bangunan viral tersebut, blog ini tidak mungkin bakal berkembang. Blog ini harus berbeda dari web yang sudah ada.

Kelemahan teori ini adalah mengabaikan bangunan yang populer bukan karena viralnya melainkan karena kecerdikan perancangan arsitektur atau kuatnya faktor sejarah dalam pembangunan gedung tersebut; seperti Intiland Tower tadi maupun Hotel Indonesia.

Kekurangan primary source?

Potongan Memanjang Menara Multimedia.
Sumber: CIPTA No. 67, 1986

Di komunitas arsitektur, terutama Pusat Dokumentasi Arsitektur Indonesia, mereka lebih memilih mengincar sumber primer ketimbang mengutip dari sumber majalah maupun buku lain, dan kerap kali hanya mengincar data arsitek tertentu.

Dan acapkali, as built design, sketsa perspektif bangunan suka lenyap dari arsip. Teori ini kemungkinan menjadi penyebab lain dokumentasi bangunan di Indonesia tidak terdata, dan ini masuk akal juga bila memandang faktor-faktor lain seperti politik, keterkenalan maupun preferensi sejarawan arsitek profesional (penulis menganggap dirinya sebagai amatir).

Atau mungkin netizen Indonesia sangat malas mengisi kekosongan konten di dunia maya?

Teori terakhir ini sepertinya merupakan teori yang paling masuk akal.

Penulis SGPC menemukan bangunan yang dibahas selama ini di dunia maya tergolong berulang-ulang. Netizen dan pembuat konten hanya mengulang formulasi yang sudah dilakukan ke daring selama bertahun-tahun, menulis apa saja yang sudah ada di internet dan tidak secara kreatif mencari sumber-sumber baru yang bisa dibaca di luar dunia maya. Dalam bahasa lainnya, kita terjebak dalam adagum yang salah bahwa di Internet, informasi apapun pasti ada.

Warenhuis de vries
Gedung ini dibahas terus-terusan oleh netizen Indonesia, sampai Kwek dan Webby menikah dan punya anak. Foto DBG, Creative Commons License

Walaupun hal tersebut akhirnya berimbas pada biaya yang tidak sedikit seperti yang dilakukan oleh blog ini, terdiri dari membeli host dan membeli bereksemplar-eksemplar majalah dan artikel surat kabar untuk menggali data-data yang dibutuhkan untuk menulis sejarah bangunan di Indonesia melalui blog, mengisi kekosongan konten ini perlu dibutuhkan, terutama soal sejarah bangunan di negeri ini. Setidaknya kita akan mengetahui bagaimana rekam perjalanan rancang bangun di Indonesia, dan menghargai karya-karya mereka

Faktor lain

Faktor-faktor tambahan lain yang penulis ajukan terkait kurangnya dokumentasi bangunan dan arsitektur di Indonesia adalah sentimen sosio-politik dan sejarah.

Menurut penulis, kedua isu ini cukup lemah dianggap menjadi faktor utama kurangnya dokumentasi bangunan di Indonesia, tetapi berkontribusi dalam kurangnya eksploitasi khazanah arsitektur Indonesia era modern.

Untuk sentimen sosio-politik, hal yang paling mudah tergambar adalah sentimen pemodal vs. masyarakat dan faktor-faktor yang lahir akibat dari kebijakan ekonomi dan maraknya kebijakan spasial-arsitektural berbau nepotisme di masa pemerintahan Orde Baru. Hal ini yang menyebabkan orang enggan melihat sejarah bangunan tersebut.

Faktor lain adalah nasionalisme. Faktor ini sangat kompleks dan ada kaitannya dengan sosio-politik tadi. Banyak yang menganggap bangunan yang dirancang tidak dengan kaidah keindonesiaan, dan dirancang oleh arsitek asing tidak ditanggapi; padahal bangunan tersebut juga sudah memenuhi kaidah keindonesiaan yang dimaksud, itu contoh pertama. Selain itu, faktor nasionalisme di arsitektur Indonesia juga memengaruhi semantik "arsitektur Indonesia" dan "arsitektur di Indonesia", kedua arti tersebut, sayangnya digiring ke satu pemahaman chauvinistik bahwa bangunan yang dibangun di Indonesia harus "memenuhi kaidah arsitektur vernakular Indonesia".

Plaza Kuningan
Teruskan memperdebatkan apakah gedung ini merupakan bagian dari arsitektur Indonesia sampai lebaran kuda. Foto DBG, Creative Commons License

Tetapi sentimen tersebut cukup lemah menurut penulis. Kembali ke kasus Intiland Tower, gedung tersebut dirancang seorang Amerika tetapi rutin menjadi bahan pembicaraan karena arsitekturnya dicap memenuhi kaidah arsitektur Indonesia, dan bila dianggap produk Orde Baru, mungkin saja seluruh bangunan yang dibangun di era itu tidak akan dibahas. Selain itu, banyak bangunan rancangan lokal yang diabaikan sejarahnya maupun dokumentasi arsitekturalnya karena diangga bangunan modern.

Faktor sejarah juga berperan penting: Hotel Indonesia dan Gelora Bung Karno misalnya memiliki prestise kebanggaan nasional yang tiada tanding. Semua media sudah mendokumentasikan sejarah kedua gedung tersebut masing-masing. Khusus Hotel Indonesia, buku yang menjelaskan sejarah tersebut sudah ditulis dalam bentuk buku oleh Arifin Pasaribu. Bila itu yang menjadi alasan, mungkin bangunan tinggi di Indonesia akan tersisihkan dari catatan. Sebaliknya, Sarinah sebagai bangunan bersejarah dari era 1960an, kurang tercatat secara kronologis, kecuali dari tulisan si Modar Jaya Abadi yang ditulis sebelumnya di blog ini. Jadi faktor sejarah bisa dibilang kurang tepat.

Penutup

Banyak orang penasaran mengenai sejarah sebuah lokasi dan bangunan, yang sayangnya justru tidak dimanfaatkan dengan baik oleh pemangku kepentingan. Apakah karena ketiadaan niat, dana, atau karena bangunan itu dianggap tidak ada nilainya di mata masyarakat, hal tersebut membuat sejarah bangunan tidak dianggap penting bagi masyarakat Indonesia. Padahal, bangunan juga merepresentasikan era, sama dengan mobil dengan desain yang berbeda berdasarkan masanya; ataupun budaya pop dengan tata rias, busana dan gaya musik yang berbeda.

Masalah lain yang dihadapi adalah ketiadaan insentif kepada netizen, komunitas arsitektur maupun profesional Indonesia untuk memecahkan masalah tersebut. Mulai dari klaim keterbatasan pendanaan dan sumber, tingginya keengganan masyarakat Indonesia membuat konten yang memiliki nilai informasi tinggi tetapi tidak memiliki potensi viral, hingga sentimen politik dan nasionalisme menjadi batu ganjalan dokumentasi sejarah dan fitur bangunan, atau arsitektur di Indonesia.

Sekian opini SGPC mengenai dokumentasi bangunan di Indonesia. Penulis bisa saja melewatkan faktor lain dari masalah kurangnya dokumentasi, atau argumen penulis terasa tidak tepat, anda bisa luruskan melalui kolom komentar, karena bagi penulis, umpan balik sangat mulia.

Setiap Gedung Punya Cerita

Comments