Sejarah Pusat Perbelanjaan Jakarta - Bab III: Internasionalisasi

Salam kenal, saya Modar Jaya Abadi, salah satu forumer di SkyscraperCity Indonesia. Saya diberi kesempatan untuk menjadi Guest Blogger di SGPC, untuk post intermezzo mengenai pusat perbelanjaan di Indonesia, terutama Jakarta.

Pada kesempatan ini, izinkan saya untuk merangkum dan menulis ulang seri postingan saya di thread Shopping Malls in Indonesia, mengenai pusat perbelanjaan yang menurut saya telah berdampak besar ke dunia ritel Jakarta. Ini adalah post ketiga Sejarah Pusat Perbelanjaan Jakarta, mengenai gapura masuknya toserba dan merek internasional, Plaza Indonesia, Pondok Indah Mall, dan Plaza Atrium.
“Harus membuat suatu shopping mall yang berbeda dari yang lain.. Yang ini bisa merepresentasi standar internasional.." - Boyke Gozali
Sogo. Metro. Yaohan. Tiga merek internasional, tiga toserba mancanegara. Sogo, toserba Jepang yang telah ekspansi duluan di Taiwan, Hong Kong, dan Singapura sejak 80an. Metro, toserba Singapura dengan pendiri WNI yang awalnya buka di Surabaya namun tutup dan minggat ke Negeri Singa. Yaohan, toserba asal Negeri Matahari yang telah berkembang pesat dan buka di negara tetangga Singapura, Malaysia, Hong Kong, Macau, dan negara-negara barat memasuki era 90an. Ketiga toserba ini membuka outlet pertamanya di Indonesia pada tiga tahun pembuka era Dilan, 1990-1992. Dan ketiga pusat perbelanjaan yang menjadi rumah bagi ketiga toserba tersebut, akan menjadi fokus dari bab ketiga seri SPPJ: Plaza Indonesia, Pondok Indah Mall, dan Plaza Atrium.

Catatan dari DBG: untuk standarisasi, judul dan sebagian teks dialihbahasakan ke bahasa Indonesia. Beberapa foto dibawah diganti untuk menjaga kualitas. Tulisan ini merupakan hasil pencarian sendiri oleh ModarJayaAbadi dan bukan merupakan karya penuh dari SGPC maupun DBG selaku penulis awal blog. Sebagian material artikel ini diambil dari artikel yang ditulis SGPC.

Tulisan SPPJ lainnya: Pionir - Lintas Melawai

Plaza Indonesia Shopping Center

Bambang Trihatmodjo, Peter Sondakh, Ferry Teguh Santosa, Eka Tjipta Widjaja. Bimantara, Danaswara, Ometraco, Sinarmas. Empat serangkai pendiri Plaza Indonesia.
"The question is, why is Indonesia always a 'me-too' product? There is no new, out-of-the-box product." - Peter Sondakh
Mengapa produk yang dijajakan di Indonesia selalu "itu-itu" saja? Tidak ada produk yang baru dan mendobrak - Peter Sondakh (terjemahan - DBG)

Pada 1983, PT. Bimantara Eka Santosa didirikan, sebagai bentuk dari visi-misi keempat pendiri tersebut, dengan beberapa tokoh seperti Rosano Barack, Mochammad Tachril Sapi'ie, dan Boyke Gozali.
"Kita mempunyai cita-cita ingin investasi di suatu bidang, memang gak boleh biasa. Harus yang luar biasa. Pada waktu itu tidak ada investor asing yang melirik ke Jakarta.." - Mochammad Tachril Sapi'ie
Mereka memiliki visi yang sederhana. Memberi akomodasi terbaik untuk para pelancong bisnis turis Indonesia yang menginginkan kemewahan, serta sebuah pusat perbelanjaan mewah yang dapat menjadi fashion showcase, bertenan merek-merek internasional terbaik. 
"Indonesia need.. For the people, to really have something that they are really proud of as Indonesian." - Franky Oesman Widjaja (anak Eka Tjipta Widjaja)
Indonesia butuh sesuatu yang benar-benar membuat mereka bangga menjadi orang Indonesia. - Franky Oesman Widjaja (terjemahan - DBG)

Lalu, setelah dipikir-pikir, para pendiri sadar bahwa lokasi terbaik untuk mendirikan proyek seelit itu adalah di Bundaran HI, Thamrin - di tanah Hotel Asoka. Akhirnya, pada 1983-1984, dengan market price mahal pada zamannya, yaitu USD 1000 per meter persegi, konsorsium PT Bimantara Eka Santosa membeli lahan hotel peninggalan Asian Games 1962 tersebut. Pada 1984, bangunan hotel dirobohkan, dan setelah mengambil pinjaman dari Bank Dagang Negara (sekarang Bank Mandiri), Pak Bambang Trihatmodjo dkk memulai proses merancang dan membangun fase pertama dari superblok yang akan dikenal sebagai "Plaza Indonesia." Pada 15 November 1986, PT. Bimantara Eka Santosa memulai kompleks pusat perbelanjaan dan hotel mewah ini.

Peletakan batu pertama Plaza Indonesia, 15 November 1986 - Photo: Arsip Plaza Indonesia (video YouTube "Plaza Indonesia 25th Anniversary")

Peletakan batu pertama Plaza Indonesia, 15 November 1986 - Photo: Arsip Plaza Indonesia (video YouTube "Plaza Indonesia 25th Anniversary")

Maket rancangan superblok Plaza Indonesia (tahap 1), didesain oleh Hellmuth, Obata, Kassabaum - Photo: Arsip Plaza Indonesia (video YouTube "Plaza Indonesia 25th Anniversary")
Superblok Plaza Indonesia pada masa pembangunan tahap 1, 1989 - Photo: Tempo

Dan akhirnya, impian para konglomerat negeri ini berbuah manis. Pada 1 Maret 1990, Plaza Indonesia Shopping Centre diresmikan oleh Menteri Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi RI pada waktu itu, Joop Ave. Peresmiannya juga diramaikan oleh pembukaan tenan utamanya, Sogo Department Store pertama di Indonesia.

Bambang Trihatmodjo bersama Sjamsul Nursalim pada pembukaan Plaza Indonesia (mall) dan Sogo, 1990 - Photo: Tempo

Bambang Trihatmodjo, Eka Tjipta Wijaya, dan para pendiri pada pembukaan Plaza Indonesia (mall) dan Sogo, 1990 - Photo: Tempo

Bambang Trihatmodjo bersama Menteri Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi, Joop Ave pada pembukaan Plaza Indonesia (mall) dan Sogo, 1990 - Photo: Tempo

Sesuai dengan visi para pendiri Plaza Indonesia, mal ini diisi oleh tenan-tenan utama mewah pada zamannya seperti Sogo Dept Store yang mengisi L1-L2 (PT. Panen Lestari Internusa, sekarang tergabung dalam kelompok usaha Mitra Adiperkasa), Sogo Supermarket yang mengisi LG (sekarang menjadi The FoodHall), serta butik-butik mewah seperti Louis Vuitton kedua di Indonesia (sekarang menjadi yang tertua walaupun sudah relokasi unit).

Sisi belakang Plaza Indonesia (sekarang sudah dipugar menjadi Plaza Indonesia Extension, The Plaza, dan Keraton The Plaza, 1990 - Photo: Tempo

Main Atrium Plaza Indonesia Shopping Center, 1992 - Photo: Tempo
Salah satu sisi dari Plaza Indonesia, 1990 - Photo: Tempo

Selain itu juga ada kantor cabang KLM, Guardian pertama di Indonesia, Hoya (toko mainan legendaris 80an), dan Kinokuniya pertama di Indonesia (dulu menyambung dengan Sogo). Hiburan di Plaza Indonesia tidak kalah menarik dan menjadi magnet mejeng: Plaza Indonesia dilengkapi oleh Cira Food Court (salah satu pujasera pertama di Indonesia) dan SS Dunia Main Sega (pahlawan revolusioner dingdong Indonesia) di L3. Superblok ini pun "selesai" dengan dibukanya Grand Hyatt Jakarta, hotel 5 bintang terelit pada masanya, pada 1991.

Fasade depan Plaza Indonesia, 1992 - Photo: Tempo

Trivia yang lumayan unik dari mal yang disebut PI ini adalah sempat disambangi oleh Patrick Vuitton, penerus generasi ke-5 dari keluarga Vuitton yang mendirikan salah satu merek mewah ikonik dunia, Louis Vuitton. Peristiwa ini terjadi pada 1992, walaupun saya penulis tidak tahu apakah ini dalam rangka pembukaan butik LV kedua di Indonesia atau hanya sekedar kunjungan.

Patrick Vuitton didepan etalase butik Louis Vuitton Plaza Indonesia, 1992 - Photo: Tempo

Patrick Vuitton didepan etalase butik Louis Vuitton Plaza Indonesia, 1992 - Photo: Tempo

Butik Louis Vuitton Plaza Indonesia, 1992 - Photo: Tempo
Toko berlian di Plaza Indonesia, 1991 - Photo: Tempo

Sebagai toserba internasional pertama yang masuk ke Indonesia, Sogo mempunyai status yang sangat tinggi dan brand recognition tinggi dimata orang Indonesia, apalagi orang Jakarta. Dahulu, Plaza Indonesia tidak dikenal dengan nama Plaza Indonesia. Beberapa orang mengenal Plaza Indonesia sebagai "Sogo," bahkan kadang ditemukan pengendara angkutan umum yang tidak mengenal nama "Plaza Indonesia," hanya "Sogo."

Masuknya department store ini (bahasa kerennya toserba) membawa pujian dan kritikan. Sogo dipuji karena mampu menunjukkan ritel dan fesyen kelas dunia kepada para orang Indonesia (karena saat pertama kali buka, Sogo adalah toserba termewah), dengan membawa banyak merek dari Barat, serta berdampak luas ke lanskap ritel Indonesia, dengan membawa pengalaman ritel di Jepan yang sudah mendahului. Namun, Sogo juga dikritik karena dapat "menjajah" pasar ritel Indonesia dan merugikan para pemain lokal, dan sentimen ini juga semakin luas setelah masuknya Metro dan Yaohan, sampai sempat menjadi berita di Harian Kompas (akan dibahas lebih lanjut di bagian Plaza Atrium).

Memasuki pertengahan 90an sampai pertengahan 2000an, juga terdapat Sogo Jongkok di Jalan Fachrudin, klaster ratusan pedagang yang menjual barang kualitas Sogo dengan harga kaki lima, dan juga lumayan dekat dari Plaza Indonesia.

Sjamsul Nursalim dengan istrinya pada pembukaan Sogo Plaza Indonesia didepan pintu masuk lobby Sogo, 1990 - Photo: Tempo

Sjamsul Nursalim dengan Peter Sondakh didepan pintu masuk interior Sogo, 1990 - Photo: Tempo

Mamiek Soeharto dengan istri pada pembukaan Sogo Plaza Indonesia, 1990 - Photo: Tempo

Sedikit sekali dokumentasi mengenai Sogo pada 90an, namun berdasarkan beberapa pengalaman dan foto, selain skematik denah lantai yang sama dengan Sogo jaman sekarang: Basement (1L) berisi Sogo Supermarket, Lantai 1 (2L) berisi kosmetik dan kebutuhan sandang wanita - Lantai 2 (3L) berisi kebutuhan sandang pria dan berisi peralatan masak dan rumah, dulu Sogo mempunyai kids' department yang unik dan didesain ciamik, dengan dekor rel kereta api yang tertempel terbalik di plafonnya (ini kemungkinan di 3L) - dan tentunya beberapa merek mewah yang dulu menyambangi Sogo (lebih mewah dari nama-nama yang dapat ditemukan dalam Sogo sekarang ini, seperti Royal Elastics dan Boy London).

Memasuki abad ke-21, Plaza Indonesia membuka lantai ketiganya (keempat bila menghitung Sogo Supermarket) di lantai 3 mall (bekas Cira Food Court). Di lantai ini ada beberapa department yang direlokasi, seperti furnitur, pernak-pernik, pakaian pria, Sports Station, dan Kinokuniya - serta Chatterbox yang baru. Di Sogo Supermarket sekarang ada Spicegarden, semacam pendahulu The Foodhall Kitchen.

Trek Tamiya di Sogo Plaza Indonesia, 1991 - Photo: Tempo

Selain itu, juga terdapat Kinokuniya pertama di Indonesia yang buka pada 1990 dan Chatterbox Restaurant (dari Singapura) pertama di Indonesia yang buka pada akhir 90an - awal 2000an, keduanya terletak di lantai 3. Tentu tidak melupakan Sogo Supermarket pertama di Indonesia, yang sekarang telah berganti wajah menjadi The FoodHall Gourmet.

Petugas satpam berjaga didalam Sogo Plaza Indonesia, 1992 - Photo: Tempo
Rasanya Plaza Indonesia tidak lengkap tanpa labirin etalase mewah yang tiada henti.
"If you look at Plaza Indonesia Shopping Centre, there is no dead end." -Peter Sondakh 
Tidak ada habisnya melihat Plaza Indonesia. - Peter Sondakh (terjemahan - DBG)

Dari awal, para pendiri Plaza Indonesia sudah mempunyai visi untuk memboyong nama-nama dan merek internasional dari seluruh dunia ke Indonesia. Dari 1990 sampai 2020, Plaza Indonesia telah membawa ratusan merek mewah ke Indonesia, dan sampai sekarang mempunyai salah satu waiting list penyewaan kios terpanjang di Jakarta.

Pada 1996, visi ini diperkuat dengan dibukanya Galeria Grand Hyatt, sebuah shopping arcade di lantai 3 Grand Hyatt Jakarta, kumpulan sekitar 5-10 kios yang diisi oleh merek mewah. Galeria Grand Hyatt juga sekaligus menjadi akses langsung dari Plaza Indonesia ke hotel. Bila sekarang arcade ini dikenal dengan butik Hermes, Iwan Tirta, restoran Benihana, dan toko mewah lain - pada 1997-1998, Galeria Grand Hyatt sempat mempunyai 10 toko eksklusif, yang menjual beragam tipe barang mewah seperti berlian, aksesoris, sepatu, pakaian, dan barang-barang kulit. Daftarnya sebagai berikut:

Foto Galeria Grand Hyatt, 1997-1998 - Photo: Arsip situs resmi Plaza Indonesia
  • Manolo Blahnik - #L3-H1
  • Tiffany & Co. - #L3-H2A&B
  • Bvlgari - #L3-H3&4
  • Cerruti 1981 (Ladies) - #L3-H5
  • La Prairie - #L3-H6&7
  • Oscar de la Renta - #L3-H10
  • Dolce & Gabbana - #L3-H11&12
  • Emanuel Ungaro - sepertinya sudah tutup sebelum Mei 1998
  • Gianfranco Ferre - sepertinya sudah tutup sebelum Mei 1998
  • Thierry Mugler - sepertinya sudah tutup sebelum Mei 1998
Selain para tenan di Galeria Grand Hyatt, tentunya ada tenan eksklusif lain yang berada di Plaza Indonesia Shopping Centre - kebanyakan berada di Lantai 1. Menurut situs resmi Plaza Indonesia saat itu, memasuki Mei 1998 ada merek-merek seperti ini di mall yang seringkali disebut PI ini:

Leather Goods:
  • A. Testoni L1 # 75, 76
  • Aigner L1 # 2, 3, 4, 5
  • Bally L1 # 58 
  • Beltrami L1 # 80, 81
  • Bruno Magli L1 # 59, 60
  • Charles Jourdan L1 # 6, 7, 8
  • Freelance L1 # 140
  • Keds & Sperry L1 # 120-121
  • Lancel L1 # 50
  • Loewe Madrid 1846 L1 # 169
  • Louis Vuitton Malletier a Paris L1 # 165-168
  • Masari L1 # 82, 83
  • MCM L1 # 131, 132
  • Prada L1 # 78 
  • Profile L1 # 111, 112
  • Trussardi L1 # 22, 24
  • Valentino L1 # 133, 157, 158
  • Mont Blanc L1 # 79 
Cosmetics:
  • Aveda L1 # 74
  • Centra Beauty Pro L1 # 32, 33
  • Guerlain L1 # 49
  • Make Up Forever L1 # 142
  • Red Earth L1 # 153
  • Shu Uemura L1 # 108
Apparel:
  • Calvin Klein L1 # 102
  • Chevignon L1 # 147, 148
  • DKNY L1 # 95-101, 103-104
  • DH 621 L1 # 37, 38
  • ELLE L1 # 151, 152
  • Esprit L1 # 84, 85, 86, 87
  • Kenzo Homme L1 # 106, 107
  • Krizia L1 # 15
  • Lee Cooper L1 # 154, 155
  • Levi's L1 # 156
  • Nail L1 # 113
  • Scala L1 # 88
  • Frette L1 # 39, 41
Designer Clothing:
  • Alberta Ferreti L1 # 30
  • Alfred Dunhill L1 # 134, 135
  • Anna Molinari Blumarine L1 # 29
  • Byblos L1 # 21
  • Christian Dior L1 # 71, 72, 73
  • Christian Lacroix L1 # 67, 68
  • Claude Montana L1 # 65, 66
  • Ermenegildo Zegna L1 # 12
  • Escada margaretha ley/Laurel L1 # 9, 10
  • Ferre Jeans L1 # 12A
  • G. Gigli L1 # 26
  • Genny L1 # 14
  • Gianni Versace L1 # 52, 53, 54, 55, 57
  • Gucci L1 # 46, 47
  • Hugo Boss L1 # 11
  • HOM L1 # 160, 161
  • Iceberg L1 # 29A
  • Kenzo Paris / Bazaar L1 # 105
  • Lafayette L1 # 31
  • Lanvin L1 # 44, 45
  • Marithe Francois Girbaud L1 # 29B
  • Marzotto L1 # 149, 150
  • Paul Smith L1 # 17
  • Romeo Gigli L1 # 18
  • Sergio Rossie L1 # 16
  • Spazio Design L1 # 126
  • Studio 0001 by Ferre L1 # 138
  • Style L1 # 25
  • ST. John L1 # 124-125
  • ST. Dupont L1 # 27, 28
  • Sonia Bogner L1 # 121A
  • Versus L1 # 61, 62A, 62B, 63, 64
Jewelry and Watches
  • Christian Diamond and Korloff L1 # 163, 164
  • Cartier L1 # 139
  • Swatch L1 # 146
  • The Hour Glass L1 # 42 
  • Watch Boutique L1 # 48, 77
Bila dihitung, ada 73 merek mewah di Plaza Indonesia pada saat itu. Dan sekarang, sekitar 50% sudah keluar dari pasar Indonesia, walau sudah tergantikan oleh merek-merek baru yang masuk.

Selain tenan ekslusif seperti diatas, ada juga beberapa tenan "legend," seperti Oshkosh B'Gosh, Hoya Istana Mainan, Guardian pertama di Indonesia, Jockey, Optik Seis, Optik Tunggal, dll.

Kalo soal makanan, Plaza Indonesia juga lengkap. Selain punya Maxi's Cucina Italiana yang mewah di L1, KFC-Swensens, McD, dan Dunkin Donuts di Basement, Sari Ratu yang tetap bertahan tak lekang waktu, dan Excelso + Yogen Fruz pertama di Indonesia (sekarang keduanya sudah tutup), PI juga mempunyai Cira Food Court, yang berisi 13 counter makanan internasional-lokal, dengan lantunan musik serta SS Mega Dunia Sega - tempat main ding-dong paling beken kala itu.

Counter-counter yang tersedia adalah:
Cira Food Court, 90an - Photo: Arsip situs resmi Plaza Indonesia

  • American Wendy's Burger
  • Baskin and Robbins
  • Beef Bowl
  • Chinese Panda Express (sepertinya ini Panda Express KW)
  • Fredos Greek Food
  • Pizza Hut
  • Pudgies Chicken
  • Sapo Sapo
  • Rasa Singapura
  • Thai Maulee's Restaurant
  • Waroeng Express
  • Mimosa Barbegue
  • Yogen Fruz
Lobby Grand Hyatt Jakarta, 1997-1998 - Photo: Arsip situs resmi Plaza Indonesia

Berkaitan dengan Galeria Grand Hyatt, tentu ada Grand Hyatt Jakarta. Hotel 5 bintang termodern pada 90an awal, hotel dibawah manajemen Hyatt Hotels ini memiliki 450 kamar, dan sebuah gedung yang telah menjadi ikon Jakarta dengan Bundaran HI. Hotel ini dibuka pada Maret 1991, setahun setelah Shopping Centre dibuka - dengan begitu menyelesaikan tahap pertama superblok Plaza Indonesia.

Pada 1995, bertepatan dengan HUT ke-5 Plaza Indonesia, manajemen memutuskan untuk melakukan renovasi sebagai bentuk peremajaan bangunan, agar dapat menyaingi mal-mal baru yang bermunculan di Jakarta.
Desain Plaza Indonesia pasca-renovasi 1996 - Photo: Arsip situs resmi Plaza Indonesia
Dengan renovasi yang selesai pada 1996 ini, interior Plaza Indonesia juga mengalami perubahan. Jam Seiko dan air mancur di Main Atrium menghilang, diganti oleh Lamoda Cafe, sebuah konsep kafe mewah yang dimanage oleh Grand Hyatt Jakarta. Lamoda Cafe ini dulu mempunyai fashion show setiap minggu, dimana model-model akan berjalan di runway, yaitu grand staircase Lamoda yang terinspirasi dari hotel Hyatt sendiri dan ditengah para pelanggan yang menyantap makanan khas Hyatt. Sekarang, kafe ini masih buka di tempat yang sama, walau sekarang dibawah manajemen hotel Keraton The Plaza - A Luxury Collection.

Foto La Moda Cafe yang baru buka pasca-renovasi 1996 dan bertempat di ex-Main Atrium Plaza Indonesia, 1996-1998 - Photo: Arsip situs resmi Plaza Indonesia

Lalu, setelah PT. Plaza Indonesia Realty (nama baru Bimantara Eka Santosa setelah 1990) melakukan penawaran saham perdana di Bursa Efek Jakarta dan Surabaya, pada 1996 mereka mengakuisisi lahan di belakang Plaza Indonesia, bekas Kedutaan Besar Uni Soviet yang telah dihancurkan pada 1991 (lahan inilah yang nantinya menjadi eX Plaza). Dengan kesuksesan apa yang sekarang dikenal sebagai Plaza Indonesia tahap 1, PT PIR menyatakan rencana untuk mengalihfungsikan sisi belakang lahan pertama mereka yang diakusisi dari Hotel Asoka, dari lapangan parkir outdoor menjadi Plaza Indonesia Tahap 2, dengan tambahan 35.000 m2 area ritel untuk Plaza Indonesia Shopping Centre yang akan terdiri dari enam lantai (sekarang ini dikenal sebagai Plaza Indonesia Extension yang mempunyai Louis Vuitton Global Store, Miniapolis, dan XXI) - sebuah gedung perkantoran (sekarang dikenal sebagai The Plaza Office Tower) - serta gedung hotel dan residensial (sekarang dikenal sebagai Keraton The Plaza). Proyek extension ini dimulai pada 1997.

Desain awal Superblock Plaza Indonesia dengan The Plaza Office Tower (gedung yang berwarna hitam) dan Keraton The Plaza (gedung berwarna abu-abu dan krem), 1997 - Photo: Arsip situs resmi Plaza Indonesia


>Desain awal Plaza Indonesia Extension, 1997 - Photo: Arsip situs resmi Plaza Indonesia
Desain awal lobby Keraton The Plaza, 1997 - Photo: Arsip situs resmi Plaza Indonesia


Desain awal lobby The Plaza Office Tower, 1997 - Photo: Arsip situs resmi Plaza Indonesia

Namun, segala keberuntungan yang sedang dinikmati Plaza Indonesia ini, akan cepat berubah karena krisis moneter 1997 dan kerusuhan 1998.

Memang sangat mengejutkan, bahwa Plaza Indonesia mampu bertahan di tengah susahnya keadaan ekonomi dan keamanan Indonesia, apalagi setelah krisis moneter pada 1997 dan beberapa peristiwa kerusuhan pada 1998.  Bahkan, Plaza Indonesia mampu meraup untung di sisi operasional, berkat beberapa strategi yang dilakukannya - seperti masuknya 27 tenan baru pada 1998, meningkatkan okupansi Plaza Indonesia menjadi 91,3%. Pada Mei 1998, Plaza Indonesia sempat membuat seminar "Road to Survival" yang berlangsung selama dua hari, sebagai bentuk bantuan dan penyuluhan kepada para tenan penyewa.

Namun, dengan berbagai langkah yang diambil Plaza Indonesia untuk "selamat" dari krisis moneter, salah satunya adalah menghentikan sementara proyek Plaza Indonesia Extension, sampai waktu yang tidak ditentukan.

Pada tahun 1998, 39.7% dari Plaza Indonesia diisi oleh Sogo, sedangkan 36.2% oleh specialty store. F&B mengisi 4.4%, ditambah Food Court yang mengisi 3.6%. Dengan Galeria Grand Hyatt yang mengisi 1.8% dan fasilitas lain seperti hiburan, perkantoran, dan bank, persentase kios kosong Plaza Indonesia hanya sebesar 8.7%.

Telepon umum di Plaza Indonesia, 2002- Photo: Tempo

Launching produk di Lamoda, Plaza Indonesia, 2002- Photo: Tempo

Kegiatan di Lamoda, Plaza Indonesia, 2002 - Photo: Tempo

Seminar di Plaza Indonesia, 2002 - Photo: Tempo

Memasuki 2001, Plaza Indonesia mulai melakukan penyegaran. Mulai dari launching website yang baru, slogan baru (dari "Staying Ahead" menjadi "It's Where I Want To Be"), dan penyegaran interior. Salah satunya adalah ditutupnya Cira Food Court di lantai 3, diganti oleh Red Pepper Food Court di lantai 1.

Selain pengalaman food court baru dengan Red Pepper, juga ada banyak restoran dan cafe baru. Seperti Dome Cafe (yang mengambil kios Burger King dahulu pada 90an), Segafredo Zanetti (inkarnasi pertama yang buka di Indonesia pada 2000-pertengahan 2000an), California Pizza Kitchen (inkarnasi pertama di Indonesia yang buka pada awal 2000an), dan Starbucks pertama di Indonesia yang buka pada 2002 di dalam Sogo (sekarang sudah menjadi Starbucks Reserve).

Selain itu, juga ada beberapa butik baru - menambah jumlah butik terkenal menjadi 39 (sudah berkurang karena efek krisis dan rezoning kios Plaza Indonesia menjadi lebih luas):

Foto beberapa butik yang terdapat di Plaza Indonesia, 2001 - Photo: Arsip situs resmi Plaza Indonesia
  • Apriori
  • Bally
  • Bruno Magli
  • Bvlgari
  • Cartier
  • Etienne Aigner
  • Emporio Armani
  • Ermenegildo Zegna
  • Escada
  • Esprit
  • Farrutx
  • Florsheim
  • G2000
  • GG<5
  • GianFranco Ferre Jeans
  • Giordano
  • Gucci
  • Hugo Boss
  • ICEBERG
  • Jack Nicklaus
  • Jeffrey - West
  • Laurel
  • Lee Cooper
  • Levi's
  • Linea Pelle
  • Louis Vuitton
  • M)phosis
  • Mango
  • Marks & Spencer
  • Mont Blanc
  • Nautica
  • Nine West
  • Prada
  • projectshopBLOODbros
  • Rodo
  • U2
  • Versace
  • Versus
Fashion show Lanvin di Lamoda Cafe, 2003 - Photo: Tempo

Pada 2002, Christine Hakim diangkat menjadi duta Plaza Indonesia. Lalu, beberapa tenan baru keluar masuk, seperti Hermes (yang dari dulu hingga sekarang tetap di Galeria Grand Hyatt), Tods, dan Benetton. Pada tahun berikutnya (tepatnya 5 Juni), patung ikonik ukiran Nyoman Nuarta diresmikan di depan lobby utama Plaza Indonesia, Racana Rupa. Lalu, Metro TV juga menyiarkan langsung sebuah acara televisi mingguan dari Lamoda Cafe, yang bernama The Plaza.

Nyoman Nuarta pada peresmian Racana Rupa, 5 Juni 2003 - Photo: Tempo

Butik Tods di Plaza Indonesia, 2003 - Photo: Tempo

Sale Marks & Spencer, 2003 - Photo: Tempo

Pengecekan yang lebih ketat setelah teror Bom Bali dan JW Marriott, 2003 - Photo: Tempo

Pada tahun 2002, Plaza Indonesia Realty juga tersadar akan sebuah kesempatan. Mereka masih mempunyai tanah yang belum tersentuh, tanah bekas Kedutaan Besar Uni Soviet. Lalu mereka juga menyadari bahwa dalam 3-4 tahun, pasar ritel akan kembali berkembang. Namun pada saat itu, Plaza Indonesia malah kalah saing sebagai mal termewah Indonesia dan Jakarta, dari segi tenan, traffic, dan konsep (dibandingkan dengan Plaza Senayan yang baru dibuka pada 1996). Ini semakin diperparah oleh rezonasi yang dilakukan manajemen Plaza Indonesia pada tahun yang sama.

Maka dari itu, Boyke Gozali dkk. mendirikan mall dengan konsep baru: family entertainment. Mall tersebut dikenal sebagai eX Plaza. Mall yang secara struktural memang hanya didesain sebagai bangunan sementara, untuk dipakai dari 2004-2012. Namun, eX ini dilengkapi dengan beberapa tenan ikonik, yang tetap legendaris sampai saat ini. Spincity Bowling yang telah pindah ke The Breeze BSD. Hard Rock Cafe Jakarta pindahan dari Sarinah Podium yang sekarang pindah ke Pacific Place. Fashionbar yang didirikan oleh Fashion TV, dan Celebrity Fitness yang tidak direncanakan. And last but not least.. Studio XXI. 

Bioskop XXI pertama di Indonesia, jawaban Grup 21 Cineplex kepada MPX Grande, bioskop besutan Raam Punjabi di Pasaraya Grande. Bioskop yang didesain semewah mungkin, lengkap dengan interior baru dan mewah terinspirasi arsitektur Romawi, kursi sofa empuk, sound system Dolby yang terbaik pada zamannya, The Premiere kedua di Indonesia, dan *katanya* bioskop terbesar di Asia Tenggara pada saat itu.

Dan pada Januari 2004, Plaza Indonesia Entertainment x'Enter - lebih dikenal sebagai eX, dibuka untuk umum, dan langsung menarik para pemuda-pemudi dengan berbagai tenannya - dilengkapi dengan Fish & Co kedua di Indonesia, A&W, The Little Things She Needs, Adorama, dan tenan lifestyle lain. Pembukaan eX juga disertai oleh iklan TVC yang.. unik.


Studio XXI, sekitar 2010-2014 - Photo: McClarious, Skyscrapercity

Studio XXI, sekitar 2010-2014 - Photo: McClarious, Skyscrapercity

Studio XXI, sekitar 2010-2014 - Photo: McClarious, Skyscrapercity
Studio XXI, 2004 - Photo: Tempo

Hard Rock Cafe Jakarta, 2004 (pada tahun ini belum dibangun tangga akses baru ke HRC Jakarta lewat jalan akses eX Plaza) - Photo: Beat's Hard Rock Cafes

Hard Rock Cafe Jakarta, 2009 - Photo: Jakarta 100 Bars


Citywalk Atrium, eX Plaza, 2010 - Photo: Tempo

Spincity Bowling, 2004 - Photo: Tempo

Spincity Bowling, 2004 - Photo: Tempo

Interior eX Plaza, 2010 - Photo: Tempo

Namun, walaupun eX sudah sangat terkenal di kalangan Dilanowcy Jakarta, memasuki dekade 2010an, waktu eX habis. Setelah perpanjangan waktu 2 tahun untuk buka (dari yang mestinya tutup 2012 menjadi 2014), mulai ditutupnya tenan eX (Hard Rock Cafe tutup duluan dan sempat diganti menjadi Immigrant untuk "menyasar kelas premium Plaza Indonesia," lalu Spincity yang sempat vakum sampai akhirnya buka kembali di kawasan BSD, dan Celebrity Fitness yang sudah bersiap pindah ke Plaza Indonesia). Sampai akhirnya, pada 14 Februari 2014, eX Plaza dan Studio XXI mengucapkan selamat tinggal, dan menutup pintunya untuk terakhir kalinya. 

Ternyata, pada 2010 Plaza Indonesia Realty telah melepaskan aset mereka, yaitu tanah eX. Jadi, ketika sudah sampai ke 2014, eX langsung dibongkar - dan sudah tidak menjadi property Plaza Indonesia lagi, walaupun tadinya sempat dirumorkan akan menjadi perluasan kedua Plaza Indonesia. 

Sekarang, di tanah bekas eX sedang dibangun Indonesia1, sebuah kompleks mixed-use yang sudah diluar manajemen dan kepemilikan Plaza Indonesia Realty.

Selain bukanya eX pada awal tahun, pada Oktober 2004 Plaza Indonesia juga menerima kedatangan Debenhams pertama di Indonesia, sebuah department store asal Inggris yang dibawa oleh MAP, dengan fokus membawa merek ritel khas Inggris, yang mengambil sebagian dari lantai keempat Sogo (lantai 3 mall). Dengan kedua penyewa tersebut, Sogo yang sebesar 14.268 m2 - terdiri dari empat lantai dan memiliki supermarket, Spicegarden, Chatterbox, Kinokuniya; dan Debenhams yang sebesar 3.982 m2 di lantai 3, Plaza Indonesia pada 2005 mengumumkan tingkat hunian sebesar 98.1%.

Debenhams Plaza Indonesia - Photo: Arsip situs resmi Plaza Indonesia

Sogo Plaza Indonesia, 2004 - Photo: Arsip situs resmi Plaza Indonesia

Dengan kesuksesan eX dan rezoning Plaza Indonesia, salah satu mal termewah Jakarta ini dapat menikmati ulang tahun ke-25 yang gembira pada 2005. Namun, Plaza Indonesia tidak tinggal diam. Pada tahun-tahun berikutnya, Plaza Indonesia melakukan beberapa gebrakan. 
Pertama, Plaza Indonesia akhirnya melakukan renovasi besar-besaran yang kali ini akan merubah koridor Plaza Indonesia, dari yang tadinya mengunakan kombinasi marmer - keramik granit dengan full marmer timeless yang tetap dipakai sampai sekarang. Selain koridor, fasad depan, toilet, pintu masuk, dan fasilitas penunjang lain ikut kena. Renovasi ini dimulai dari 2006 sampai 2008.
Interior Plaza Indonesia, 2006 - Photo: IndonesiaPics

Interior Plaza Indonesia, 2006 - Photo: IndonesiaPics

Eksterior Plaza Indonesia, 2006 - Photo: IndonesiaPics

Lalu, selain perubahan interior eksterior, Plaza Indonesia juga melakukan salah satu keputusan bisnis "tergila" pada zamannya, yaitu pengeluaran Sogo dan Debenhams dari PI. Walaupun tidak sekaligus (Sogo pada Februari 2007, Debenhams pada Juli 2008) - keputusan Plaza Indonesia untuk menendang penyewa utama / toserba dan menjadi "specialty mall" yang berisi butik-butik.

Sebenarnya, keluarnya Sogo pertama di Indonesia ini tidak tanpa negosiasi antara manajemen PIR dengan Sogo dahulu. Disaat manajemen PIR ingin menaikkan kelas Plaza Indonesia menjadi lebih tinggi dan mewah, dan menyasar konsumen kelas premium. Namun, Sogo sudah agak turun kelas memasuki pertengahan 2000an, ditambah munculnya Seibu yang baru di mal sebelah. Walaupun Sogo membawa traffic konsumen (yang padahal bukan target market Plaza Indonesia), adanya Sogo yang sudah menua ini tidak memberikan income yang diharapkan dari Plaza Indonesia. Manajemen PIR sempat meminta Sogo untuk merenovasi toko mereka di PI menjadi versi flagship yang mewah. Namun, Sogo tidak mau.

Akhirnya, pada 28 Februari 2007 - setelah 17 tahun, Sogo Plaza Indonesia - Sogo pertama di Indonesia, tutup, dengan keresahan 362 karyawan Sogo Plaza Indonesia yang waktu itu belum menerima kepastian. Beberapa area bekas Sogo tidak diambil-alih oleh Plaza Indonesia untuk dijadikan space tambahan butik-butik: antara lain Sogo Supermarket (yang akhirnya berevolusi menjadi The Foodhall Gourmet), Marks&Spencer (walau sekarang sudah stand-alone store), dan Kinokuniya-Chatterbox (sekarang digabung dengan Debenhams).

Namun, pada Juli 2008, Debenhams Plaza Indonesia malah ikut tutup, salah satu bekas dari Sogo, kakaknya yang sudah tutup duluan setahun silam. Akhirnya, dengan tutupnya Debenhams, Kinokuniya dan Chatterbox ikut tutup.


Mengambil tempat ex-Sogo dan Debenhams adalah Zara (yang kebetulan sama-sama dari grup MAP) dan space untuk butik-butik baru sebesar 26.000 m2. Akhirnya, menurut Boyke Gozali, ini adalah keputusan yang berhasil, dan bahkan meningkatkan level Plaza Indonesia sesuai visi-misi para pendiri.

Setelah sempat mengalami perubahan facade dua kali (pertama pada 1995-1996 saat renovasi pertama, dimana granit papan nama Plaza Indonesia dari arah Jl. Kebon Kacang Raya ditambahkan motif batik ditengah - lalu kedua pada 2005-2006 saat renovasi ketiga, dimana granit papan nama Plaza Indonesia dikembalikan ke keadaan semula pada 1990-1995), dengan selesainya renovasi keempat yang dimulai pada 2006 itu, fasad Plaza Indonesia kembali berubah. Kebanyakan marmer di fasad depan Plaza Indonesia di Jl. Kebon Kacang Raya dihilangkan, dan papan nama Plaza Indonesia diubah dari berbahan marmer menjadi berbahan kaca. Perubahan ini selesai pada 2010.

Plaza Indonesia sebelum renovasi, 2002-2007 - Photo: PAGI.co.id

Grand Hyatt Plaza Indonesia          Foto DBG, Creative Commons License

Selain itu, pada 2006, Plaza Indonesia Realty juga melanjutkan pembangunan Plaza Indonesia Phase 2, yang terdiri dari The Plaza Office Tower dan Keraton The Plaza - setelah sempat terhenti karena krisis.

Render final Plaza Indonesia Phase 2 (The Plaza Office Tower & Keraton The Plaza) - Photo: SeeJakarta

Setelah penantian lama, pada 2009, Plaza Indonesia Phase 2 dibuka untuk umum, bersama The Plaza Office Tower. Tiga tahun berselang, akhirnya Keraton The Plaza juga dibuka, dengan Serviced Residence dan hotel 5-bintang yang dimanage oleh The Luxury Collection.
Plaza Indonesia Phase 2 yang terdiri dari 6 lantai memiliki banyak hal unik, yaitu zona-zona baru. Ada lantai 4-6, yang didesain sedemikian rupa untuk menggantikan posisi eX ketika tutup, dengan ambience yang mirip, serta tenan yang lebih difokuskan ke lifestyle dan F&B (dulu). Di lantai 5 terdapat food court baru, yaitu Urban Kitchen - food court yang menggunakan sistem kartu. Di lantai 5-6 juga terdapat Amazing World, sebuah tempat hiburan ding-dong + ride ala-Dufan.

Lalu, di lantai 3, ada Miniapolis, semacam indoor theme park yang didesain untuk anak berusia 3-12 tahun. Ada dua zona playground utama, yaitu Noah's Park (untuk anak berusia 3-6 tahun) - sekarang sudah diganti oleh Crick's Corner dan Zoo & Lola's Hideout (untuk anak berusia 6-12 tahun). Lalu juga ada ride karusel (Carlo's Carousel), kereta (Mr. Crick's Express, sekarang Crick's Station), wall climbing (Digiwall) dan pertokoan yang difokuskan untuk anak dan keluarga seperti Animaland, Kids Station, dan Famous Amos. Selain itu pada tahun-tahun yang mendatang juga dibuka beberapa specialty needs store, seperti Doodle (tempat arts & craft), playgroup Smile!, dan gym anak-anak bernama I Like Gym! (gym ini berevolusi menjadi cabang pertama Rockstar Gym, walaupun sekarang (2020) sudah tidak berada di unit aslinya karena rezoning PI). Proyek besutan Amelia Gozali (anak Boyke Gozali) ini sukses dan akhirnya membuka cabang di mal-mal lain di Indonesia.

Miniapolis, 2009 - Photo: LITAC Consultant

Miniapolis, 2009 - Photo: LITAC Consultant

Selain tenan-tenan family-oriented baru di daerah Miniapolis (seperti Pazia Experience Center, Soup Restaurant, Dintaifung) dan tenan lifestyle di daerah Plaza Indonesia L4-6 (seperti Pancious, Canteen, dan Honeymoon Dessert), tentu tidak lengkap bila tanpa tenan mewah.
Louis Vuitton menutup gerainya di Plaza Indonesia. Mengapa? Karena LVMH memutuskan untuk membuka Louis Vuitton Global Store di Plaza Indonesia Phase 2, di East Lobby yang menghadap Jl. MH Thamrin.

the Plaza
The Plaza dengan lapis luar Louis Vuitton - Foto DBG, Creative Commons License

Louis Vuitton Global Store Plaza Indonesia, 2010 - Photo: Female Daily / Louis Vuitton Indonesia

Dengan begitu, Plaza Indonesia dapat merayakan ulang tahun ke-20 nya pada 2010 dengan cukup bangga. Renovasi dan perluasan yang sukses (meningkatkan total luas ritel menjadi 105.072 m2), mampu membuat Plaza Indonesia melompati semua kompetisi, lama ataupun baru (dari Plaza Senayan sampai Grand Indonesia). Walaupun rencana Plaza Indonesia yang sudah terbuka atas dibangunnya jembatan penyebrangan dari PI ke GI batal karena tidak terjadi pertemuan antara kedua-belah pihak, PI mampu menjadi the one. Mal termewah di Jakarta, dan Indonesia.

Ketika eX tutup pada 2014, sempat ada rencana bahwa Plaza Indonesia akan membangun fase 3 superblok di tanahnya. Namun, ternyata tidak jadi, dan aset tersebut dijual ke Media Group.

Desain awal Plaza Indonesia Phase 3 (batal) - Photo: A Cidade Branca

Namun, bahkan tanpa perluasan lebih lanjut, Plaza Indonesia sudah sangat sukses pada sekarang ini. Setelah beberapa renovasi dan rekonsep yang dilakukan pada 2015 dan 2018 (renovasi Miniapolis dan rezoning L3 pada 2015 dan 2018, renovasi dan rezoning Plaza Indonesia EX (pengganti eX Plaza) menjadi Plaza Indonesia Extension pada 2015 dan 2018). Setelah Urban Kitchen keluar, pada 2015 Eat&Eat sempat menjadi penggantinya, walau hanya bertahan beberapa bulan. Setelah tutupnya Eat&Eat, Plaza Indonesia melakukan renovasi dan rezoning, untuk menaikkan kelas Plaza Indonesia Extension. Ambience remang-remang ala-eX dihilangkan, tergantikan oleh fixture lebih terang agar sama dengan ketiga lantai bawah Plaza Indonesia yang lebih mewah.

Plaza Indonesia Extension inkarnasi pertama, 2009 - Photo: Ariani Mandala

Plaza Indonesia Extension inkarnasi pertama, 2009 - Photo: Ariani Mandala

Plaza Indonesia Extension inkarnasi pertama, 2009 - Photo: Ariani Mandala

Setelah renovasi, Plaza Indonesia Extension menjadi lebih segar. Tenan lifestyle baru seperti Adidas Originals masuk. Terutama adalah "tenan utama" baru PI di lantai 5 bekas Eat&Eat, LUMINE Jakarta, cabang Jakarta dari LUMINE - sebuah specialty store asal Jepang yang menjual fesyen dan aksesoris (mirip dengan Batik Keris, namun dengan barang Jepang).

Storefront LUMINE Jakarta, 2019 - Photo: Situs resmi Lumine

Interior LUMINE Jakarta, 2018 - Photo: Manual Jakarta

Tentu tidak melupakan dua tenan original pindahan dari eX, XXI dan Celebrity Fitness, yang juga telah menemukan rumah barunya di Plaza Indonesia Extension.

Interior baru Plaza Indonesia Extension, 2020 - Photo: ModarJayaAbadi

Interior baru Plaza Indonesia Extension, 2020 - Photo: ModarJayaAbadi

And, here we stand today. Plaza Indonesia Shopping Center, mal dengan slogan It's Where I Want to Be (digunakan kembali sejak 2015 dengan sedikit perubahan di typeface logo dan branding) - sekarang merayakan HUT ke-30 nya, dengan Nicholas Saputra sebagai dutanya. Sekarang, Plaza Indonesia berkomitmen menyelenggarakan berbagai event sesuai dengan visi misinya, seperti Plaza Indonesia Film Festival, Plaza Indonesia Men's Fashion Week, Plaza Indonesia Kids' Fashion Week, dll.

Plaza Indonesia juga bukan apa-apa tanpa tenan barunya yang unik. Sesuai dengan hype Dilanowcy sekarang ini, dengan merek-merek sepatu, apparel, dan sport yang "high-street," Plaza Indonesia dapat mendatangkan beberapa merek ikonik. Pada 2019, Plaza Indonesia mampu mendatangi Off-white, merek luxury high-street yang membuka butik pertamanya di Indonesia di lantai 1 Plaza Indonesia. Lalu, pada 2020, Plaza Indonesia juga mendatangi Atmos (sebuah toko multi-brand sepatu sport dari Jepang) dan butik Onitsuka Tiger - di lantai 2 Plaza Indonesia. 

Selanjutnya, untuk tahun 2020, sudah ada rencana dibukanya BAPE Store pertama di Indonesia di Plaza Indonesia Lantai 1. Dan untuk melengkapi katalog merek mewah di PI yang sudah diisi oleh merek seperti DIOR dan flagship store Gucci di Indonesia.. Ada beberapa rumor bahwa Jimmy Choo, sebuah merek yang tadinya sempat membuka butik di Indonesia - akan kembali buka. Ini juga ditambah dengan kebijakan manajemen Plaza Indonesia, yang mewajibkan para tenannya untuk merenovasi outletnya 5 tahun sekali.

Sekarang, Plaza Indonesia juga sedang menyelesaikan pemugaran seluruh fasad depan superblok fase 1 Plaza Indonesia, yang sudah dilakukan sejak 2015 di sisi Main Lobby Jl. Kebon Kacang Raya.

Pondok Indah Mall / Mal Pondok Indah

Pada 1972, ada seorang developer muda - yang ingin menyulap kebun karet dan sawah - menjadi kawasan perumahan saat kelak Jakarta akan menjadi kota padat penduduk. Developer muda itu adalah "Sang Pelopor," (alm) Ir. Ciputra. Lewat perusahaan yang dia dirikan, PT. Metropolitan Kentjana, ia menyulap kawasan Pondok Pinang menjadi Pondok Indah - sebuah kawasan perumahan elit penuh dengan konglomerat, artis, dan expat. Perusahaan yang juga milik pasangan Siti Hartati Murdaya dan Murdaya Poo ini melihat sebuah kesempatan. Dalam membangun Pondok Indah, para developer ingin membangun sebuah mal agar menjadi daya tarik untuk kompleks Pondok Indah nya sendiri. Maka dari itu, family mall pertama di Indonesia didirikan. Mal yang sekarang terkenal dengan parkirannya yang ramai ini memiliki sejarah yang panjang.

Pondok Indah Mall, 1991 - Photo: DDG USA (arsitek PIM)

Didesain oleh DI Design + Development Consultants, Ltd. (sekarang dikenal sebagai Development Design Group / DDG), Pondok Indah Mall 1 (dulu dikenal dengan Pondok Indah Mall / Mal Pondok Indah) dibuka untuk umum pada 26 Oktober 1991. Sebagai pusat perbelanjaan yang berkonsep sebagai family mall, PIM bukan sekedar mal/plaza biasa seperti pada zamannya. PIM juga didirikan dengan konsep one-stop shopping, menyediakan berbagai kebutuhan dan keperluan (penting untuk sebuah mal di kompleks elit) - dan menjadi tempat berbelanja dan rekreasi.

Pondok Indah Mall, 1992 - Photo: Tempo
Pondok Indah Mall, 1992 - Photo: Tempo

Pondok Indah Mall, 1992 - Photo: Tempo
Untuk merealisasikan konsep tersebut, Pondok Indah Mall mendatangkan berbagai tenan, tenan utama maupun tenan di kios-kios yang mengelilingi "single-corridor" PIM yang terdiri dari tiga lantai, salah satu keunggulannya yang memudahkan para pengunjung.
Dahulu (saat awal 90an), PIM1 memiliki berbagai tenan utama/specialty yang memenuhi segala kebutuhan warga Jaksel: Hero Supermarket (masih ada), bioskop 6-studio Pondok Indah 21 (sekarang Pondok Indah Mall 1 XXI), Gramedia (masih ada), Toko Gunung Agung (sudah tutup), Masutama (tempat ding-dong mirip SS Mega Dunia Sega di Plaza Indonesia, sudah tutup), Toys City (toko mainan, masih ada), Agis Electronic Superstore (sudah tutup), dan food court legendaris pada zamannya, Dermaga (sudah tutup, sekarang diambil oleh Ace Hardware).
Pondok Indah Mall, 1992 - Photo: Tempo

Selain itu, ada tenan utama yang signifikan dari PIM - Metro Department Store. Toserba yang didirikan oleh Ong Tjoe Kim ini berawal dari sebuah toko di Surabaya pada 1953, walaupun kemudian tutup dan pindah ke Singapura. Selang beberapa dekade, Metro sebagai toserba mewah sukses di kancah internasional - dengan outlet-outlet yang tersebar di Singapura (negara pusatnya) dan bahkan sempat membuka toko di Hong Kong.

Pada 1991, Metro Holdings memutuskan untuk kembali ke pasar Indonesia, lewat usaha patungan dengan Rajawali Group (sempat berubah menjadi usaha patungan dengan Trans Corpora, sekarang sudah 100% milik Trans Corpora). Outlet pertamanya berada di Jakarta, di Pondok Indah Mall.

Maka dari itu, Metro menjadi salah satu "ikon" PIM tersendiri, bahkan nama jalan Arteri Pondok Indah yang seharusnnya Jl. Sultan Iskandar Muda menjadi Jl. Metro Pondok Indah (mungkin itu hanya efek nama developer Pondok Indah sih hahaha).

Metro Department Store, 1995 - Photo: Tempo

Metro Department Store, 1995 - Photo: Tempo

Metro Department Store, 1995 - Photo: Tempo

Metro Department Store, 2001 - Photo: Tempo

Selain itu, konsep pendiri PIM tidak akan lengkap tanpa hiburan. And PIM nailed it.
Pada April 1994, PIM membuka Pondok Indah Waterpark, sebuah sarana rekreasi air yang memiliki daya tarik kolam renang Olympic, lazy river, perosotan, dan berbagai fitur lain (waktu itu Waterpark ini lebih luas dari sekarang), yang mampu menarik pengunjung  rata-rata  21.000 orang/bulan. Sekarang atraksi ini pun masih bertahan dengan nama baru The Wave Pondok Indah Waterpark, setelah renovasi dan dibuka kembali pada 2014.

Pondok Indah Waterpark, akhir 90an - awal 2000an - Photo: Arsip situs resmi Pondok Indah Mall

Pada 1995, kartun mengenai trivia dan hal-hal unik yang ditemukan di segala pelosok dunia dapat ditemukan dalam koran Suara Pembaruan. Kartun ini bernama Ripley's Believe It or Not, bagian dari sebuah waralaba internasional yang terdiri dari kartun, acara televisi, dan museum di mancanegara. To make things even better, PIM membawa Ripleys Believe It or Not ke Jakarta, dalam bentuk museum. Ripley's Believe It or Not Fun Odditorium dibuka pada 28 September 1995, sebuah usaha patungan dari Melvin Salim (saudara Sudono Salim) dengan Kurnaidi Aman. Odditorium terbesar di dunia dengan luas 2000 meter persegi ini terletak dalam kompleks Pondok Indah Mall, persisnya sebuah gedung satelit yang mengambil sebagian dari lapangan parkir outdoor di depan Pondok Indah Mall 1.

Bila minggir sedikit dari Pondok Indah Mall 1, juga ada toko ritel internasional terkemuka. Adalah Toys r' Us, toko mainan yang berasal dari AS. Dengan kerjasama waralaba dengan sebuah perusahaan yang terkait dengan Lippo Group waktu itu, salah satu toko pertama mereka di Indonesia dibuka pada 1995, di Toys r' Us Plaza (sekarang dikenal sebagai Plaza Pondok Indah). Outlet Toys r' Us yang tertua di Indonesia ini bertahan cukup lama, sekitar 10 tahun lebih, sebelum tutup pada 2005/2008. Selengkapnya dapat dibaca disini.

17 Mei 2020: DBG menarik video sinetron Pondok Indah setelah mengetahui kualitas video yang disajikan tidak memenuhi standar SGPC.

Selain para tenan utama yang sudah disebut diatas, Pondok Indah Mall juga tidak kalah dengan butik-butik mewah dan merek internasional pada saat itu. Memasuki tahun 2001 (HUT ke-10 PIM), "family mall" ini mempunyai Aigner, Emporio Jeans, Gianni Versace, Florsheim, dan Hugo Boss sebagai butik barang mewah di lantai dasar. Sedangkan merek internasional yang buka di PIM waktu itu ialah U2, G2000, Lee Cooper, Levis, Shu Uemura, Adidas, Nike, dan peritel sepatu asal Amerika Serikat, The Athlete's Foot. Selain itu mereka juga mempunyai salah satu Guardian pertama di Indonesia, Times Bookstore generasi lama, dan tidak melupakan Marks&Spencer pertama di Indonesia (tutup memasuki abad ke-21)

Salah satu apotik di PIM1, 1992 - Photo: Tempo

Salah satu apotik di PIM1, 1992 - Photo: Tempo

Salah satu apotik di PIM1, 1992 - Photo: Tempo

Guardian PIM1, 1992 - Photo: Tempo
Guardian PIM1 sebelum direnovasi, 2000 - Photo: Tempo

Marks&Spencer PIM1, 1999 - Photo: Tempo

Nike Store PIM1, 1999 - Photo: Tempo

Nike Store PIM1, 1999 - Photo: Tempo

Levi's Store PIM1, 1999 - Photo: Tempo


Century PIM1, 2001 - Photo: Tempo

Berikut ini adalah foto-foto interior dari Pondok Indah Mall pada 2001, dimana juga dapat terlihat Hero, Guardian pasca-renovasi, dan Times Bookstore generasi awal.

Pameran mobil di PIM1, 2001 - Photo: Tempo

Pameran mobil di PIM1, 2001 - Photo: Tempo

Ini adalah suasana beberapa tenan dari PIM1 pada 2001, yaitu Toko Gunung Agung (yang buka agak terlambat dibandingkan para tenan utama lain di PIM1, pada 1992), Pondok Indah 21 (yang masih menggunakan style interior 21 generasi Blok M Plaza dan Studio 21 Thamrin), dan Alma (sebuah toko peralatan bayi dan anak).

Interior Toko Gunung Agung PIM1, 2001 - Photo: Tempo

Interior Toko Gunung Agung PIM1, 2001 - Photo: Tempo

Interior Pondok Indah 21 saat rilis film Jelangkung, 2001 - Photo: Tempo

Interior Pondok Indah 21 saat rilis film Jelangkung, 2001 - Photo: Tempo

Interior Alma PIM1, 2001 - Photo: Tempo
Lalu, pada Juni 2003, diselenggarakan Pesta Diskon Jakarta (Jakarta Great Sale) 2003, yang diresmikan oleh Sutiyoso di Pondok Indah Mall 1.
Sutiyoso meresmikan Jakarta Great Sale 2003, 18 Juni 2003 - Photo: Tempo
Sutiyoso dan istri melihat-lihat koleksi Metro pada Jakarta Great Sale 2003, 18 Juni 2003 - Photo: Tempo
Alm. Ir. Ciputra pada Jakarta Great Sale 2003, 18 Juni 2003 - Photo: Tempo

PIM1 juga bukan apa-apa tanpa restoran dan kafe didalamnya. Beberapa nama restoran internasional yang sekarang sudah lenyap dari Indonesia pernah membuka cabang disini, antara lain Subway, Yogen Fruz, The Spaghetti House, Sizzler (masih memakai nama American Grill namun sudah menutup cabang PIM), Kenny Rogers Roasters (inkarnasi awal sebelum menjadi milik Berhad Group Malaysia), Yoshinoya (inkarnasi awal pada 90an, dulu di Dermaga Food Court), Arby's (dulu di Dermaga Food Court), dan Jack in the Box (chain fast food Australia yang dulu berada dalam gedung Ripley's Fun Odditorium pada akhir 90an). Di PIM1 ini pula ada Wendy's paling bertahan lama di Indonesia yang dibuka pada 1992 saat inkarnasi awal dibawa oleh Sierad Produce (Wendy's pertama di Indonesia sebenarnya di Cira Food Court Plaza Indonesia, namun tutup pada akhir 90an / tutupnya Cira Food Court pada 2000) - dan fast-food internasional nan lokal seperti KFC (masih ada), Hokben (masih ada), McDonald's (baru buka kembali setelah tutup 10-15 tahun), Dipitdeep (tutup), dan Pizza Hut (sudah pindah ke PIM2 dan menjadi The Kitchen by Pizza Hut). PIM1 dulu juga dilengkapi kafe ikonik, seperti Oh La La dan Kafe Regal. Di PIM1 juga ada beberapa restoran yang sudah ada sejak hari pertama, yaitu Bakmi GM, Sari Ratu, dan Pronto (kalo ini sayangnya baru tutup beberapa bulan yang lalu)

Dengan PIM1, arsitek mall ini mampu meraih beberapa penghargaan. Pada 1993, Development Design Group (DDG) meraih Merit Award: Best Commercial Project, Regional/Power Retail dalam 1993 Pacific Coast Builders Conference Gold Nugget Award dan Certificate of Merit: Innovative Design of a New Project pada 1993 ICSC International Design + Development Awards - dengan nama lamanya DI Architecture.

Pintu Utama Mal Pondok Indah (nama PIM setelah pelokalan dari akhir 90an sampai 2005), 2003 - Photo: Tempo
Eksterior Mal Pondok Indah (nama PIM setelah pelokalan dari akhir 90an sampai 2005), 2003 - Photo: Tempo

Fasad Metro Dept Store PIM1, 2005 - Photo: Tempo
Celebrity Fitness PIM1, 2005 - Photo: Tempo
Celebrity Fitness PIM1, 2005 - Photo: Tempo
Bazaar Metro pada Jakarta Great Sale, 2003 - Photo: Tempo
Toys City PIM1, 2003 - Photo: Tempo
Wall-climbing Mal Pondok Indah, 2003 - Photo: Tempo
Bangunan Kidz Station Pondok Indah Mall, 2005

Dengan kesuksesan dan keramaian PIM, bukan rahasia lagi MKPI punya banyak rencana. Dengan bantuan DDG - arsitek PIM1, mereka membuat masterplan Pondok Indah, dan melanjutkan proyek Pondok Indah Mall. Dan pada masa inilah PIM2 muncul di permukaan.

Pembangunan Skybridge PIM1-PIM2, 2005 - Photo: Tempo

Pada tahun 2000, PT. Mitra Adiperkasa (MAP Group) mendirikan sebuah toko untuk anak-anak. Bukan sekedar toko mainan, melainkan sebuah toko yang memenuhi segala keperluan keluarga.
Semua ada, semua suka.
Boneka lucu kesayanganku.
Ada permen ada mainan.
Buku cerita kegemaranku.
Aku senang di Kidz Station.
Semua ada semua suka.
Adalah Kidz Station, semacam department store untuk anak-anak. Walau sekarang Kidz Station dapat dikatakan hanyalah sekedar toko mainan, Kidz Station yang dulu itu beda. Apalagi Kidz Station PIM.

Mengambil-alih gedung bekas Ripley's Believe It or Not Fun Odditorium Jakarta, MAP mengubah gedung tersebut menjadi children's specialty retail and family entertainment store. Kidz Station Pondok Indah Mall dibuka pada tahun 2000, sebagai flagship store sekaligus outlet pertama Kidz Station. Kidz Station yang seluas 2500 meter persegi ini merupakan destinasi anak-anak yang terkeren pada zamannya. Di dalam Kidz Station, terdapat beberapa department yang nantinya dapat ditemukan dalam Kidz Station lain, antara lain Doll House (boneka mainan), Adoption Tree (semacam tempat membeli peragawati dan boneka bayi besar), Party & Gift (balon dan keperluan pesta), Hobby Craft (kit semacam Tamiya dan peralatan craft semacam Feltkids), Kidz Home (perabotan rumah), dan Collectibles (mobil die-cast dan mainan action-figure).

Bagian Collectibles - Photo: Arsip situs resmi Kidz Station

Bagian Doll House - Photo: Arsip situs resmi Kidz Station

Bagian Hobby and Craft - Photo: Arsip situs resmi Kidz Station

Bagian Kidz Home- Photo: Arsip situs resmi Kidz Station

Bagian Party and Gift - Photo: Arsip situs resmi Kidz Station

Namun, Kidz Station PIM juga memiliki keistimewaan tersendiri. Flagship ini memiliki bagian First Steps (produk bayi), Barbie Boutique (produk Barbie), Kids' Sports (keperluan dan pakaian olahraga anak-anak), dan Action Figures Corner (produk mainan action-figure). Selain itu, didalam Kidz Station PIM juga ada shop-in-shop (semacam butik didalam department store) Disney, Peter Rabbit, Paddington Bear, Sesame Street, dll. Gedung Kidz Station tersebut juga dilengkapi oleh Chatterbox (restoran keluarga yang juga ditemukan dalam PI dan PS saat itu) dan Sweets from Heaven (waralaba toko permen internasional), keduanya diboyong oleh MAP.

Karyawan-karyawati Kidz Station berpose dengan latar interior gedung Kidz Station PIM, 2006-2008 - Photo: Flickr
Karyawati Kidz Station berpose dengan latar interior Kidz Station PIM, 2006-2008 - Photo: Flickr

Interior Kidz Station PIM, 2006-2008 - Photo: Flickr

Karyawan Kidz Station berpose dengan latar interior Kidz Station PIM, 2006-2008 - Photo: Flickr

Interior Kidz Station PIM, 2006-2008 - Photo: Flickr

Nasib tak bisa dihindari. Dengan memperhitungkan banyak faktor - lahan gedung yang sebentar lagi mau dipakai MKPI untuk Street Gallery PIM1, lalu lintas pengunjung yang berkurang, dan beberapa hal lain - pada 2008, setelah merelokasikan para karyawan-karyawatinya ke Kidz Station lain di Jakarta, Kidz Station PIM tutup, dengan segala isinya - untuk relokasi ke "kios biasa" di PIM2. Dari sini KIdz Station generasi baru mulai bermunculan, yang lebih kecil dan fokus sebagai toko mainan.

Dan selang beberapa tahun, gedung tersebut akhirnya dibongkar, untuk menjadi Street Gallery PIM1.

Pada awal 2004, PT. Metropolitan Kentjana (pemilik PIM) kembali mengajak Development Design Group (arsitek yang sama dengan arsitek PIM1) untuk mendesain perluasan Pondok Indah Mall, yang sekarang kita kenal sebagai Pondok Indah Mall 2.

Pada Agustus 2005, Pondok Indah Mall 2 dibuka untuk umum.
Pondok Indah Mall, 2005-2006 - Photo: DDG

Dengan dua JPO indoor (nama kerennya skywalk), PIM2 menjadi daya tarik baru untuk PIM1 yang sudah menua namun tetap ramai. Hasilnya? Lebih rame lagi dong.. Pondok Indah Mall terkenal sebagai salah-satu mal terramai di Jakarta, dan juga parkirannya yang gila padetnya.

Pintu 5 PIM2, 2005-2006 - Photo: DDG

Konsep para arsitek (DDG) dalam mendesain PIM2 ini adalah terinspirasi dari Dunia Lama, yang bila diperhatikan berdampak ke pemilihan warna eksterior, dekor di interior, dan food court.

Sogo PIM2, 2005-2006 - Photo: DDG

Di PIM2 ini juga dibuka Sogo konsep baru (pada saat itu) yang terdiri dari 3 lantai, dengan The FoodHall dan Kinokuniya (sudah tutup) di level basement.

Pintu 5 PIM2, 2005-2006 - Photo: DDG

Lantai dasar PIM2, 2005-2006 - Photo: DDG

Awalnya, PIM2 (seperti PIM1 pada 10 tahun pertama) membawa butik-butik kelas atas karena menyasar upper-class dan upper-mid class. Seperti yang dapat dilihat dalam gambar-gambar diatas, dulu ada lumayan banyak butik yang muncul di PIM2, antara lain Hugo Boss, Aigner, Furla, Loewe, Versace, Longchamp, Lacoste, INTime, dll. Selain itu masih ada beberapa tenan internasional lain seperti Zara, Next, Sisley, French Connection, Marks&Spencer, Bossini, Lee Cooper dan Levi's.

Interior PIM2, 2005-2006 - Photo: DDG

Interior PIM2, 2005-2006 - Photo: DDG

Interior PIM2, 2005-2006 - Photo: DDG

Interior PIM2, 2005-2006 - Photo: DDG

Food court PIM2, 2005-2006 - Photo: DDG

Ditambah ada food court PIM2 yang saat itu berperan sebagai pengganti Dermaga Food Court yang legendaris di PIM1.

Selain itu, juga ada restoran-restoran keren yang bermunculan di PIM2. Kembalinya Kenny Rogers Roasters (kali ini dibawah waralaba Asia), Red Tomato (restoran favorit saya hahaha), Fish&Co (dengan tutupnya Fish&Co di Plaza Semanggi dan eX, dapat dikatakan inilah Fish&Co tertua di Indonesia), kafe Starbucks Coffee dan banyak restoran lain yang dapat ditemukan dalam Restaurant Row (sekarang lebih dikenal sebagai Restaurants Rest-of-the-World, singkatnya Rest RoW)

Rest RoW, 2018 - Photo: Situs resmi Pondok Indah Mall

Rest RoW, 2019 - Photo: Satya W. (Foursquare)

Kenny Rogers Roasters, 2008 - Photo: detikHot

Pasta de Waraku, 2012 - Photo: Urukyu (blog)

Selain Sogo dan The FoodHall, salah satu tenan utama PIM2 adalah bioskop. Bukan sekedar bioskop, yaitu Pondok Indah XXI - XXI ketiga di Indonesia dan versi "lite" dari desain mewah Studio XXI di eX Plaza. Namun, bioskop 7-teater ini sudah direnovasi, sehingga kelihatan "standar" dengan XXI mewah lainnya.

Pondok Indah XXI, 2012 - Pratama F. (Fourspace)

Pondok Indah XXI, 2012 - Lucky Y. (Fourspace)

Pondok Indah XXI, 2014 - rafidanis99 (SSCI)

Pondok Indah XXI, 2014 - rafidanis99 (SSCI)

Pondok Indah XXI, 2012 - M. Rafi A. (Fourspace)

Dengan segala kelengkapan yang dipenuhi PIM1 dan PIM2, memang pantas tempat haha-hihi anak Jaksel ini mendapatkan penghargaan 2006 FIABCI Prix d’Excellence, sebagai pemenang dalam kategori Retail Properties. Selain itu, PIM juga memenuhi standar sertifikat ISO 9001:2000 dari Lloyd’s Register Quality Assurance.

Memasuki dekade 2010an, tidak dapat dipungkiri bahwa usia PIM1 sudah tua. Karena itu, Setelah PIM2 selesai dibangun, perencanaan langsung dimulai untuk renovasi PIM1, dan menambahkan dua area baru: Area 51 dan Street Gallery.


Area 51 adalah food court baru Pondok Indah Mall 1, salah satu hal baru yang muncul di PIM1 setelah sekian lama. Dibuka pada 2011, food court Area 51 ini sebenarnya terletak dalam gedung "baru" yang ditambahkan ke dalam daerah PIM1, tepatnya mengambil sebagian lahan dari Pondok Indah Waterpark (pembangunan Area 51 juga bertepatan dengan ditutupnya dan renovasi Waterpark).

Area 51, 2011 - Photo: Dunia Icip-icip

Bangunan tambahan Area 51 terdiri dari dua lantai, yang bila dicocokkan ke dalam floorplan PIM1 merupakan lantai 1F dan 2F. Melengkapi food court Area 51 yang terletak di 1F adalah beberapa restoran di 2F, seperti Fatburger (sudah tutup) dan Hanamasa (pindahan).

Area 51, 2011 - Photo: PTI Architects

Tentu, karena perbedaan 20 tahun, food court Area 51 sangat berbeda bila dibandingkan dengan PIM1 sendiri. Bagian dari PIM yang didesain oleh PTI Architects ini memiliki bentuk modern, dengan tembok kaca yang juga memberi pemandangan The Wave Pondok Indah Waterpark (dibawah gedung Area 51 ini sebenarnya merupakan fasilitas Waterpark).
Area 51 ini juga sangat lengkap dengan tenan-tenannya, dilengkapi Yoshinoya (dulu Yoshinoya pertama masuk ke Indonesia lewat Dermaga PIM1 20 tahun silam, sekarang kembali masuk ke PIM1 lewat Area 51 - full circle), Starbucks, Quickly (sekarang tutup, tapi ini juga dulunya teh favorit saya hahaha), dan puluhan counter makanan lokal-internasional lainnya, yang membuat Area 51 ini menjadi salah satu daya tarik ke PIM dan terutama PIM1.

Area 51, 2011 - Photo: Dunia Icip-icip

Selain Area 51, untuk melengkapi koleksi F&B PIM1, DDG kembali untuk mendesain perluasan PIM1 yang orang-orang sering salah kaprah dan menyebutnya sebagai PIM3 - Street Gallery.

Desain Street Gallery PIM1 - Photo: DDG

Desain Street Gallery PIM1 - Photo: DDG

Dibuka pada 2013, Street Gallery ini merupakan gedung tambahan yang terdiri dari 90% restoran dan kafe, dan dibuka hingga tengah malam sebagai tempat hangout yang menarik. Bangunan Street Gallery ini berdiri di lahan bekas alm. Ripley's Believe It or Not Fun Odditorium dan Kidz Station Pondok Indah Mall.

Progress Pembangunan dan Render Street Gallery, 2012 - Photo: DDG
Eksterior Street Gallery, 2013 - Photo: DDG
Street Gallery, 2013 - Photo: DDG
Street Gallery, 2013 - Photo: DDG

Banyak orang yang salah kaprah dalam menyebut tempat ini dengan "PIM 3", Street Gallery yang didirikan sejak 2013 ini berada tepat sejajar dengan PIM 1 dan bersebrangan dengan PIM 2.

Konsep yang ditawarkan oleh street gallery adalah sebuah mall yang hingga 90% berisikan Food & Beverages dan juga tempat hangout yang menarik.

Terdapat Live music yang siap menghibur anda dari selasa hingga minggu, dan Street Gallery beroperasi hingga pukul 24.00 pada hari Minggu-Kamis, bahkan hingga pukul 02.00 pada hari Jumat & Sabtu.

Tidak usah bingung jika Anda ingin hangout hingga malam hari. Anda bisa segera mengunjungi Street Gallery Pondok Indah Mall.

Dengan arsitektur modern yang unik (namun sayangnya tidak terlalu menyambung dengan arsitektur awal PIM1), Street Gallery dilengkapi dengan restoran seperti Bogor Cafe, Johnny Rockets (sudah tutup) dan kafe seperti O'Coffee Club. Karena itu, bangunan tiga-lantai ini langsung menjadi hits, dan sukses menambah ramainya PIM.

Selain menambah zona F&B baru di PIM1, MKPI membaoyong tenan-tenan baru ke PIM1, terutama fast-fashon.

Pembukaan H&M PIM, 2013 - Photo: Tempo
Pembukaan H&M PIM, 2013 - Photo: Tempo

Pada 9 Oktober 2013, H&M membuka gerai keduanya di Indonesia di Pondok Indah Mall 1 - disambut dengan ramainya warga Jakarta yang ingin mencicipi ketenaran toko pakaian asal Swedia ini. Semakin banyak tujuan untuk pergi ke PIM, sesuai dengan slogan PIM, "Meet me at the mall.."

Pembukaan gerai Max Fashions, 2018 - Photo: Kumparan
Pembukaan gerai Max Fashions, 2018 - Photo: Kumparan

Lalu, pada 7 September 2018, Max Fashions (toko pakaian yang berasal dari UAE) membuka dua gerai pertamanya di Indonesia, salah satunya di Pondok Indah Mall, tepatnya PIM1. Pembukaan ini juga diramaikan oleh Chelsea Olivia dan Ayu Gani, artis dan model Indonesia.

Ice Skating PIM, 12 Des 2010 - Photo: Tempo
Ice Skating PIM, 12 Des 2010 - Photo: Tempo
Flying Trapeze PIM, 2017 - Photo: Koran Jakarta

Di PIM2, manajemen mal mulai menyelenggarakan acara khas setiap tahun. Setiap musim Natal (sekitar November-Januari), Main Atrium PIM2 akan disulap menjadi arena ice skating, dilengkapi dengan berbagai aktivitas untuk anak-anak dan keluarga.

Lalu, mulai dari 2013 - setiap Juni-Juli, The Nikolaevs akan datang ke Jakarta untuk melakukan kegiatan trapeze di PIM2, dimana Main Atrium disulap menjadi tiga-empat level akrobatik, dan para pengunjung dapat menyaksikan para penghibur dari Rusia ini lompat dari ketinggian 30 meter.

The Goods Dept, 2013 - Photo:

Common Grounds, 2018 - Photo: Urukyu


707 - Photo: Manual

Lalu, walaupun PIM2 kehilangan beberapa dari butik mewah yang dulu mereka punyai (seperti Versace), mereka mampu mendapat beberapa merek internasional baru: seperti Tumi dan Timberland.

Selain itu, PIM2 juga kedatangan toko-toko multi-brand retailer yang menjual pakaian kaum Dilanowcy, seperti 707 yang mempunyai merek seperti Stussy dan flagship store The Goods Dept. Mereka juga kedatangan kafe kece seperti Common Grounds.

Pada 7 Januari 2019, InterContinental kembali ke Jakarta dan membuka InterContinental Jakarta Pondok Indah, hotel bintang 5 yang berisi 311 kamar dan restoran mewah Sugar & Spice. Hotel ini akhirnya menyelesaikan rencana awal dari PIM2, yang memang pada awal perencanaannya sudah dirancang untuk mempunyai dua menara hotel di bagian yang tadinya merupakan lahan parkir outdoor.

But PIM tidak pernah sepi dari sejarah. PIM sedang bersiap untuk menciptakan sejarah baru untuk dirinya. Pada 2021 (diundur dari yang tadinya Q3 2020 karena badai COVID), Pondok Indah Mall 3 akan dibuka untuk umum.

Desain awal PIM3, 2015 (desain sudah direvisi) - Photo: DDG
Desain awal PIM3, 2015 (desain sudah direvisi) - Photo: DDG
Desain PIM3, 2019 (kemungkinan desain final) - Photo: Adriansyah Yasin Sulaiman, Twitter

PIM3 (yang juga didesain oleh DDG) akan memiliki konsep yang agak berbeda dibandingkan dua kakaknya. MKPI akan menjadikan PIM3 sebagai lifestyle mall yang lebih menekankan F&B nya. Walau begitu, PIM3 akan menjadi mall yang paling tinggi kelasnya dibandingkan PIM1 dan PIM2.

Kalau tidak batal, PIM3 akan diisi oleh Tory Burch, Coach, Kate Spade, Bally, Longchamp, Michael Kors, Calvin Klein, Diesel, dan berbagai tenan mewah lainnya. Mal seluas 55.000 meter persegi ini (bila digabung dengan Pondok Indah Office Tower menjadi 212.787 meter persegi) akan mempunyai fasad depan yang unik, Cloud Plaza - sebuah pedestrian promenade dua-lantai yang menghadap ke Jl. Metro Pondok Indah, menjadi ikon PIM3. Promenade ini akan ditutupi oleh Sky Ceiling, sebuah kanopi yang (rencananya) akan dilengkapi dengan LED projection.

Denah PIM3 (dapat berubah) - Photo: DDG
Denah PIM3 (dapat berubah) - Photo: DDG
Denah PIM3 (dapat berubah) - Photo: DDG
Denah PIM3 (dapat berubah) - Photo: DDG
Pondok CityWalk - Photo: DDG

Selain PIM3, rencananya PIM juga akan dilengkapi oleh CityWalk, semacam pedestrian shopping arcade yang kemungkinan akan dilengkapi oleh lebih banyak tenan F&B.

Denah PIM masa depan (dapat berubah) - Photo: DDG

Masih ada rencana dari MKPI untuk menyelesaikan superblok ini dengan Pondok Indah Mall 4, yang akan berdiri di tanah Ranch Market / Plaza Pondok Indah sekarang.

"Shopping - Dining - Entertainment"
Masterplan Pondok Indah Mall - Photo: DDG

Plaza Atrium/The Atrium Shopping Center 

Kalo denger nama Plaza Atrium, yang kepikiran apa ya?
Mungkin bagi beberapa, inilah malnya spare part otomotif.
Namun, anak 90an pasti punya cerita lain tentang Atrium. Apalagi para warga Senen dan Jakarta.
Mall Plaza Atrium Senen
Foto DBG, Creative Commons License

Atrium Senen
Foto DBG, Creative Commons License

Setelah beberapa tahun menjadi proyek on-hold sejak 80an dengan perpindahan tangan pengembang (dari yang mestinya Sarana Jaya), PT. Indokisar Djaya lewat PT. Segitiga Atrium Bidang mendirikan sebuah superblok berisi perkantoran, hotel, ruko, dan mal - Segitiga Senen.
Dan setelah menjalani pembangunan dari 1991, pada 21 Agustus 1992, Kaharudin Ongko sekeluarga (Grup Ongko, 60%) dengan Sofjan Wanandi sekeluarga (Grup Gemala, 40%) membuka buah tangan mereka, mal yang menyasar ke kelas-atas - The Atrium Shopping Center. 

The Atrium Shopping Center, 1992 - Photo: Tempo
The Atrium Shopping Center, 1992 - Photo: Tempo

Tentu, sebagai pusat perbelanjaan kelas atas, The Atrium harus mampu menyamai mal kelas atas yang duluan ada, seperti Plaza Indonesia dan Pondok Indah Mall, dua mal yang sudah dibahas diatas.

Saat awal diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta Wiyogo Atmodarminto, The Atrium memiliki toko-toko internasional macam Marks&Spencer, Lee Jeans, dan beberapa butik mewah juga meramaikan suasana mal yang terkenal dengan atrium panjangnya ini (150 meter).

Tidak hanya itu, restoran yang masuk ke The Atrium waktu itu tidak kalah menarik. Kentucky Fried Chicken, McDonald's, California Fried Chicken, Church's Texas Fried Chicken, Wendy's, American Hamburger, dan berbagai restoran lain memberi opsi makan yang beragam untuk para konsumen kelas-atas yang ingin dikejar oleh The Atrium.

Untuk hiburan, Plaza Atrium juga dapat dikatakan salah satu pelopor pada masanya. Alfa Zona, semacam softplay untuk anak-anak (seperti Lollipop's saat ini) membuka outlet pertamanya di Jakarta disini. Lalu, Plaza Atrium juga mempunyai Atrium 21, bioskop yang bahkan dilengkapi dengan THX (sekarang sudah menjadi Atrium XXI).

Dan, Yaohan, nama terbesar yang pernah menghuni Atrium. Chain department store / supermarket yang berasal dari Jepang dan berkantor-pusat di Hongkong ini membuka toko pertamanya di The Atrium.

Yaohan Department Store, The Atrium Shopping Center, 1992 - Photo: Tempo

Pada 1992, Yaohan International Company Ltd meneken kontrak dengan PT. Suryaraya Mantaputama, sebuah usaha gabungan dari tokoh-tokoh sama yang memboyong Makro ke Indonesia: Theodore Permadi Rachmat - sang direktur utama (mantan presiden direktur PT Astra International - pendiri Triputra Group), Djoko Sudjatmiko - sang komisaris utama (mantan anggota FKP DPR), Suhartoyo (mantan ketua BKPM), dan Ali Santoso. Kontrak yang berlaku selama (tadinya) 10 tahun ini berlaku dimana PT. Suryaraya Mantaputama diberikan 100% saham dan kendali atas Yaohan Indonesia, dan Yaohan pusat hanya memberikan lisensi serta distribusi barang yang dijual dan bantuan 5 technical assistant yang akan melatih 500 tenaga kerja lokal yang PT. SRM (Yaohan Indonesia) miliki selama awal operasi. Yaohan International pun memberikan investasi sebesar 10 juta USD pada saat itu, dengan manajemen SRM yang optimis dapat meraih penjualan 50 miliar IDR pada tahun pertama dan dapat mengembalikan modal setelah dua-tiga tahun.

Akhirnya, toko pertama Yaohan Indonesia dibuka di The Atrium Shopping Center, sebuah toko 3 lantai yang secara kelas menyamai Sogo dan Metro. Dengan interior yang modern dan menggunakan perpaduan kayu, sebenarnya Yaohan (menurut beberapa orang) memiliki atmosfer dan interior yang paling berkesan dari ketiganya, dengan produk-produk yang dipajang seperti halnya sebuah galeri seni. Tadinya, Yaohan juga akan membuka cabang kedua di Indonesia di Kelapa Gading Mall 2.

Yaohan Department Store, The Atrium Shopping Center, 1992 - Photo: Tempo

Namun, Yaohan sempat menjadi biang kontroversi. Seperti Sogo dua tahun silam, AP3I (Asosiasi Pusat Pertokoan dan Perbelanjaan Indonesia) menuding bahwa Yaohan adalah pemakaian ekspatriat asal Jepang, yang waktu itu dikirim sebagai technical assistant. Lalu, beberapa juga memprotes bahwa masuknya Yaohan ada kemungkinan terkait dengan lobby dari Astra International, perusahaan yang dikepalai oleh dirut SRM, Teddy P. Rachmat. Ada yang memprotes, namun juga ada beberapa tokoh yang tidak, seperti alm. Ir. Ciputra - dimana beliau mengatakan bahwa tidak salah bahwa toserba seperti Sogo dan Yaohan masuk dan mendapat beberapa WNA sebagai pelatih, seperti halnya jaringan fast-food. Menurutnya, yang dapat dilakukan oleh peritel lokal adalah mencari cara untuk mengalahkannya.

Sayangnya, masa jaya Yaohan tidaklah bertahan lama. Dimana tadinya ada target penjualan 50M rupiah pada tahun pertama, malah terus merugi. Akhirnya, hanya setelah 2.5 tahun - Yaohan Plaza Atrium (nama baru The Atrium setelah pelokalan) tutup pada awal 1995. Dan segala rencana ekspansi juga gagal, karena Yaohan International sendiri tidak lama bangkrut.

Kerugian Yaohan yang terus-menerus sampai tutup disebabkan oleh berbagai faktor. Pertama, yang terpikir oleh para analis ritel adalah lokasi. Lokasi Yaohan yang kurang prestisius (bukan di Jakarta Selatan seperti halnya Sogo di Plaza Indonesia dan Metro di Pondok Indah Mall) salah satu dampak terbesar, sehingga kelas atas yang ditargetkan Yaohan dan mal tidak dicapai. Lalu, juga ada Hari Darmawan, yang mengubah Matahari di Plaza Blok M nya (lumayan dekat ke Plaza Atrium) menjadi Galleria, Matahari kelas-atas. Oleh sebab itu pengunjung yang dapat masuk ke Yaohan dan Plaza Atrium malah lari ke Galeria dan Plaza Blok M.

Pameran Idul Fitri, Plaza Atrium, 1999 - Photo: Tempo
Pameran Idul Fitri, Plaza Atrium, 1999 - Photo: Tempo

Yang kita ketahui, Plaza Atrium mulai turun kelas setelah keluarnya Yaohan, dan mulai menjadi mal kelas menengah, dengan beberapa pertokoan onderdil dan sekarang teknologi. Tenan seperti Marks & Spencer dan Wendy's keluar.

Plaza Atrium saat diserang dengan kerusuhan pasca Tragedi Semanggi, November 1998 - Photo: Tempo
Plaza Atrium saat diserang dengan kerusuhan pasca Tragedi Semanggi, November 1998 - Photo: Tempo

Lalu, Plaza Atrium juga sempet terdampak Tragedi Semanggi pada 11-13 November 1998, dimana warga sekitar mulai menjalankan demonstrasi untuk memperjuangkan para korban jiwa pada saat itu, dan Plaza Atrium sempat dijarah dan dirusak.

Polisi mengamankan Plaza Atrium pasca-bom, 1 Agustus 2001 - Photo: Tempo

Polisi menginvestigasi Plaza Atrium pasca-bom, 23 September 2001 - Photo: Tempo

Sayangnya, apes kerap melanda Plaza Atrium. Mal ini diserang bom tiga kali, sekali di ATM BCA pada 11 Desember 1998, dan dua kali pada 2001 - pertama di pintu masuk yang melukai 6 orang pada 1 Agustus 2001 - dan kedua di gedung parkir yang merusak 8 kendaraan pada 23 September 2001. Lalu, Plaza Atrium ini juga sering dianggap mal yang tidak aman, dengan berbagai peristiwa penjambretan, pencurian, modus penculikan, dll.

Plaza Atrium, 2003 - Photo: Tempo
Plaza Atrium, 2003 - Photo: Tempo
Plaza Atrium, 2003 - Photo: Tempo
Plaza Atrium, 2003 - Photo: Tempo
Plaza Atrium, 2003 - Photo: Tempo
Plaza Atrium, 2003 - Photo: Tempo
Plaza Atrium, 2003 - Photo: Tempo
Replika Ikan Paus Raksasa, Plaza Atrium, 2004 - Photo: Tempo

Pada Juli 2004, sebuah Replika Giant Orca dengan panjang 10 m yang ditempatkan pada atrium mal ini berhasil memecahkan rekor Museum Rekor Indonesia (Muri).

Sekarang ini, Plaza Atrium memang sudah jauh berbeda dari yang dulu. Dengan segmen kelas menengah, mal yang sejak 2000 dimiliki oleh Cowell Development ini (pada 2000 PT. Gama Nusapala membeli kepemilikan Perseroan dari PT. Indokisar Djaya, lalu pada tahun 2005 berubah nama menjadi PT. Karya Cipta Putra Indonesia, dan akhirnya pada 2007 berubah menjadi Cowell Development) telah mengalami perubahan manajemen beberapa kali, dan sekarang sudah mempunyai beberapa tenan baru. Matahari, Foodmart, Atrium XXI, dan Kidzilla menjadi tenan utama, sedangkan masuk beberapa tenan baru seperti Sukiya dan Levi's.

Sekian untuk hari ini. Walau sekarang Plaza Indonesia, Pondok Indah Mall, dan Plaza Atrium sudah agak berbeda dari saat pertama buka, tidak dapat dipungkiri bahwa mereka bertiga memberi dampak luas ke ritel Indonesia, dan membawanya ke kancah internasional.

END

Referensi

  1. Plaza Indonesia 25th Anniversary. YouTube. 31 Juli 2017.
  2. Website resmi Plaza Indonesia Realty, diakses 5 Mei 2020.
  3. Milestones Plaza Indonesia Realty, diakses 5 Mei 2020.
  4. Company Profile Plaza Indonesia Realty, diarsip 3 Mei 1998.
  5. Everything About Jakarta, diakses 7 Mei 2020.
  6. Directory Plaza Indonesia, diarsip 3 Mei 1998.
  7. Directory Galeria Grand Hyatt, diarsip 3 Mei 1998
  8. Marketing Plaza Indonesia, diarsip 3 Mei 1998
  9. Ariyo Ardi, Budi Sukmadianto. Yang Bermerek, yang Murah di Sogo Jongkok. 24 Okt 2004. Liputan 6. 
  10. Promotion Plaza Indonesia, diarsip 17 Juni 2000
  11. Food & Dining Plaza Indonesia, diarsip 21 Nov 2001 
  12. Kemal E. Gani, Rias Andriati dan Wisnu Tri Raharjo. Boyke Gozali: Beri Anak Keleluasaan Memilih Bisnis. 12 Agu 2010. SWA. (arsip)
  13. Hard Rock Café Jakarta (Inside EX, near Plaza Indonesia) - Jakarta100bars.com. April 2009.
  14. Arakeen's Site. Diakses 11 Mei 2020.
  15. Beat's Hard Rock Cafes. Diakses 11 Mei 2020.
  16. Hal. 1079 Bioskop di Indonesia - Part 6. Diakses 11 Mei 2020.
  17. Case Center Departemen Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. (2008). Cases in Management: Indonesia's Business Challenges. Jakarta: Penerbit Salemba.
  18. Debenhams - PT. Mitra Adiperkasa. Diarsip 15 Mar 2009. 
  19. Segmen Usaha Plaza Indonesia Realty. Diarsip 22 Mar 2007.
  20. IndonesianPics - Plaza Indonesia. Diakses 11 Mei 2020.
  21. Editorial. 무역∙투자 | 부동산 플라자 인도네시아 리얼티, 일본 한큐 한신과 협력 양해각서 체결 (Trade & Investment | Real Estate Plaza Indonesia Realty signs MOU with Hankyu Hanshin, Japan). 24 Des 2018. PAGI.co.id
  22. SeeJakarta - Plaza Indonesia Extension Phase 2. Diakses 11 Mei 2020.
  23. Everybody's a Winner at I Like Gym - Mommies Daily. Diakses 11 Mei 2020.
  24. Louis Vuitton Global Store: The Pictures. Diakses 11 Mei 2020.
  25. Now Open: Louis Vuitton Global Store @ Plaza Indonesia. Diakses 11 Mei 2020.
  26. A Cidade Branca. Diakses 11 Mei 2020.
  27. Ariani Mandala - Plaza Indonesia Extension Project. Diakses 11 Mei 2020.
  28. Widyawati Hermanto. BAB 3 OBJEK PENELITIAN. KAWASAN YANG MEMILIKI DAYA TARIK TERSENDIRI BAGI WARGA JAKARTA DAN SEKITARNYA. Diakses 13 Mei 2020. (link)
  29. "Governing director worked way up". The Straits Times. 20 Okt 1965.
  30. DIVESTMENT OF METRO HOLDINGS LTD’S INDIRECT INTEREST OF 50% EQUITYSTAKE IN PT METROPOLITAN RETAILMART. Metro Holdings. Diakses 13 Mei 2020.
  31. Jakarta Post. 'Believe It or Not Museum' to make its debut in Jakarta. Jawawa.id. Diakses 13 Mei 2020.
  32. Mal Pondok Indah's Shopping Directory. Diarsip 6 Apr 2001.
  33. Wendy's Restaurant - Burger Colombus di Mal Pondok Indah | Style Pilihan Rasa. Diarsip 2 Jul 2001.
  34. Selected Work - Pondok Indah. Diakses 13 Mei 2020.
  35. Situs resmi Kidz Station. Diarsip 1 Feb 2001.
  36. Development Design Group Incorporated. Design Group Revisited. Diakses 14 Mei 2020. (link)
  37. Fourspace - Pondok Indah 2 XXI. Diakses 14 Mei 2020.
  38. Pondok Indah Mall 2 XXI (Throwback January 2014). Diakses 14 Mei 2020.
  39. Urukyu. Food Tasting : Pasta De Waraku ~ Indonesian Feast With A Twist. 27 Nov 2012.
  40. detikHot. Kenny Rogers Kembali Hadir di Jakarta. 7 Jul 2008. Detikcom.
  41. Restaurant Row - Foursquare. Diakses 14 Mei 2020.
  42. Rest RoW. Diakses 14 Mei 2020.
  43. Area 51 - Dunia Icip-icip. Diakses 14 Mei 2020.
  44. PTI Architects - Retail - Area 51 Food Court Pondok Indah Mall. Diakses 14 Mei 2020.
  45. STREET GALLERY @ PONDOK INDAH MALL – CONSTRUCTION UPDATE. Diakses 14 Mei 2020.
  46. DDG - Pondok Indah | Selected Works. Diakses 14 Mei 2020.
  47. DDG - Pondok Indah | Project Description. Diakses 14 Mei 2020.
  48. Max Fashion Resmi Membuka 2 Gerai Pertamanya di Indonesia!. 13 Sept 2018. Kumparan.
  49. Flying Trapeze Hadir di Pondok Indah Mall. 23 Jun 2017. Koran Jakarta.
  50. Grisselda. The Goods Dept Flagship Store Now Opens. 8 Feb 2013. Female Daily.
  51. 707 (Pondok Indah Mall). Manual. 
  52. Common Grounds Pondok Indah Mall. 2 Nov 2016. Urukyu.
  53. H&M Buka Toko Ke-2 Di Pondok Indah Mall. 9 Okt 2013. Investor Daily.
  54. Hilda B. Alexander. Seri Ketiga Pondok Indah Mall Dibuka Tahun 2020. 20 Sept 2019.
  55. Adriansyah Yasin Sulaiman - Twitter
  56. YOEDHA, DHIA PREKASHA. Bisnis Eceran (1). Riuh Mengais Kocek dan Gengsi Konsumen. 18 September 1992. Kompas.
  57. TOM. Yaohan Hadir Di Jakarta. 21 Agustus 1992. Kompas
  58. AS/GST/DPY. Mennaker Cosmas Batubara: Akan Ditindak, Jika Ekspatriat di Yaohan tidak Sesuai Aturan. 26 Agu 1992. Kompas
  59. YOEDHA, DHIA PREKASHA. Polemik Sektor Bisnis Eceran. Kelemahan Aparat atau Kelihaian Pengusaha. 24 Agu 1992. Kompas.
  60. DMU. Jangan Takut pada Ritel Asing. 16 Jan 2000. Kompas.
  61. NIC, DRM. Plaza Atrium Senen yang Merana. 24 Sep 2001. Kompas
  62. Bachtiar Abdullah, Muchsin Lubis. Semarak, Pak Gub. 20 Jan 2000. Tempo.
  63. Tinggal Tulang-Belulang. 13 Apr 2003. Tempo.
  64. Kompasdata
  65. Datatempo

Comments