Posts

Showing posts from May, 2020

Hotel Grand Tropic Suites

Image
Foto DBG,  Apartemen dan Hotel Grand Tropic Suites, awalnya adalah Apartemen Tropik dan Grand Mercure Suites, berlokasi di Jalan Letjend. S. Parman, sepetak dengan Universitas Katolik Krida Wacana (UKRIDA) dan dekat dengan Podomoro City, Universitas Tarumanagara dan Universitas Trisakti. Apartemen dua tower dengan masing-masing memiliki 24 lantai ini dikembangkan oleh Grup Ometraco, sekarang bernama PT Indonesia Prima Property, dirancang oleh Rice Daubney dari Australia melalui sayap lokalnya Rice Daubney Cipta bersama dengan Nusa Raya Cipta, yang juga memborong konstruksi apartemen dan hotel ini mulai Juli 1994 dan selesai dibangun pada Juni 1996  (1) (2) . Sebelumnya nama hotel ini bernama Mercure Hotel & Residence Slipi dan sebagai bagian dari untaian hotel Perancis, Accor, mulai Desember 1994 sampai awal Januari 2006  (3) (5) . Apartemen dan Hotel Grand Tropic Suites memiliki dua tower untuk fungsi yang berbeda, tower pertama untuk apartemen dan tower kedua untuk hote

Apartemen dan Hotel Redtop

Image
2011. Foto DBG,  Kawasan Redtop, atau diindonesiakan sebagai Atap Merah, adalah kompleks apartemen yang berada di kawasan Jalan Pecenongan, Jakarta. Kawasan ini dikembangkan oleh Indokisar Djaya, pimpinan Ongko Group, yang juga mengembangkan kawasan Segitiga Senen, dengan perancangan arsitekturnya dilakukan oleh firma Australia McKerrell Lynch dan struktur oleh Wiratman & Associates. Ongko Group mengeluarkan biaya investasi total 400 milyar rupiah (setara Rp. 3,9 triliun nilai 2019) untuk pembangunan kawasan Atap Merah. Hotel Redtop Gedung pertama yang dibangun di kawasan ini adalah Hotel Redtop. Awalnya bernama Hotel Radisson Redtop, konstruksi gedung ini sudah dimulai sejak 10 Desember 1993, tutup atap 14 Desember 1994 dan selesai dibangun sejak pertengahan tahun 1995, dibangun oleh Tata Mulia Nusantara. Pada 19 Juli 1995, ditengah ramainya Indonesianisasi nama-nama gedung, Hotel Radisson Redtop ganti nama menjadi Hotel Radisson Jakarta, dan resmi dibuka pada 8 Agust

Hotel Shangri-La Surabaya

Image
2017. Foto DBG,  Hotel berlantai 16 dengan satu basement ini merupakan hotel Shangri-La ketiga di Indonesia setelah di Jakarta dan di Bali saat dibangun, dan sekarang adalah satu dari dua Hotel Shangri-La yang masih beroperasi di Indonesia (Shangri-La Bali telah pindah tempat ke Nusa Dua, akan dibuka tahun 2020). Hotel dengan 380 kamar ini dibangun oleh Duta Graha sekiranya dimulai akhir 1992 (estimasi, per Mei 1993 sudah mencapai lantai 6  (3) ) dan selesai dibangun pada akhir tahun 1994. Hotel Shangri-La Surabaya resmi dibuka pada 18 Januari 1995  (2) (4) . Pembangunan dan investasi hotel, dilakukan oleh konsorsium properti Surabaya Sinar Galaxy dan pabrik terigu Bogasari ini menghabiskan Rp 140 milyar rupiah pada tahun 1993  (4) (3) . Arsitektur hotel dengan luas lantai total 47.751 meter persegi ini dirancang oleh arsitek Jepang Kanko Kikaku Sekkeisha  (5) , yang kebetulan juga merancang Hotel Shangri-La di Jakarta dengan gaya arsitektur modern yang elegan dan luwes, tet

India Spesial I: Bandara Indira Gandhi dan Noida

Image
Bagian pertama dari ulasan SGPC mengenai bangunan di India Pada tanggal 5 Februari 2020 yang lalu penulis, diajak oleh keluarga besar, menyempatkan diri berwisata di India. Negeri Bollywood yang dikenal dengan budaya yang kental dan kuat dengan nuansa spiritual dan keagamaan, terutama Hindu, dan lanskapnya yang tidak kalah indahnya. Perjalanan selama 7 hari tersebut memang lebih banyak dicurahkan ke hal-hal spiritual, tetapi penulis melihat obyek arsitektur yang mungkin sayang kalau dilewatkan, mulai dari mandir (sejenis tempat ibadah agama Hindu di India), patung, gedung bersejarah hingga gedung berarsitektur modern, terutama di Delhi dan Noida. Dalam artikel ini, penulis memusatkan diri pada gedung-gedung di kota Noida, dan tidak lupa, bandara Indira Gandhi. Keseluruhan foto ada di bawah lisensi  . Dilarang menggandakan foto yang ada dalam tulisan ini tanpa mematuhi isi lisens

Ariobimo Sentral

Image
Foto DBG,  Gedung Ariobimo Sentral adalah sebuah gedung berlantai 15 dengan 2 basement di Jalan H.R. Rasuna Said, Jakarta  (1) (2) . Memiliki luas lantai kasar 28.724 meter persegi  (1) (2) , gedung bergaya modern akhir ini dibangun oleh pemborong swasta Tata Mulia Nusantara mulai 16 Juni 1991 sampai selesai dibangun dan diresmikan oleh Menteri Perumahan Rakyat Siswono pada 16 Desember 1992, menghabiskan waktu 18 bulan  (1) (4) . Properti Indonesia menyebutkan bahwa arsitek gedung dan strukturnya dilakukan oleh arsitek Amerika, Fox & Fowle, bersama Teddy Boen & Rekan dalam sebuah liputan mengenai interior lobi  (3) . Gedung Ariobimo Sentral pada awalnya merupakan kerjasama modal Grup Ariobimo dan Grup Salim, menghabiskan biaya 50 juta dolar AS  (1) , atau 100 milyar rupiah pada tahun 1992, setara Rp 1 triliun rupiah nilai 2020. Pasca-pembukaan, gedung ini menjadi markas perusahaan makanan terkemuka Indofood, kebetulan merupakan bagian dari Grup Salim. Sementara Grup Ari

Sejarah Pusat Perbelanjaan Jakarta - Bab III: Internasionalisasi

Image
Salam kenal, saya Modar Jaya Abadi, salah satu forumer di SkyscraperCity Indonesia. Saya diberi kesempatan untuk menjadi Guest Blogger di SGPC, untuk post intermezzo mengenai pusat perbelanjaan di Indonesia, terutama Jakarta. Pada kesempatan ini, izinkan saya untuk merangkum dan menulis ulang seri postingan saya di thread Shopping Malls in Indonesia, mengenai pusat perbelanjaan yang menurut saya telah berdampak besar ke dunia ritel Jakarta. Ini adalah post ketiga Sejarah Pusat Perbelanjaan Jakarta, mengenai gapura masuknya toserba dan merek internasional, Plaza Indonesia, Pondok Indah Mall, dan Plaza Atrium. “Harus membuat suatu shopping mall yang berbeda dari yang lain.. Yang ini bisa merepresentasi standar internasional.." - Boyke Gozali Sogo. Metro. Yaohan. Tiga merek internasional, tiga toserba mancanegara. Sogo, toserba Jepang yang telah ekspansi duluan di Taiwan, Hong Kong, dan Singapura sejak 80an. Metro, toserba Singapura dengan pendiri WNI yang awa