Sejarah Pusat Perbelanjaan Jakarta - Bab II: Lintas Melawai

Salam kenal, saya Modar Jaya Abadi, salah satu forumer di SkyscraperCity Indonesia. Saya diberi kesempatan untuk menjadi Guest Blogger di SGPC, untuk post intermezzo mengenai pusat perbelanjaan di Indonesia, terutama Jakarta.

Pada kesempatan ini, izinkan saya untuk merangkum dan menulis ulang seri postingan saya di thread Shopping Malls in Indonesia, mengenai pusat perbelanjaan yang menurut saya telah berdampak besar ke dunia ritel Jakarta. Ini adalah post kedua Sejarah Pusat Perbelanjaan Jakarta, mengenai para ikon mejeng Lintas Melawai, Pasaraya Blok M, Aldiron Plaza, dan Blok M Plaza.
Jalan sore, kita berjalan-jalan sore-sore
Mencuci mata sambil berngeceng ria
Biarkan, biarlah..
Mumpung kita-kita masih muda
Blok M dan Melawai. Suatu daerah di Jakarta Selatan yang sekarang mulai dikenal kembali karena M Bloc Space besutan alm. Glenn Fredly. Namun, sebelum itu, Blok M tentunya mempunyai masa kejayaan. Masa-masa dimana dapat disandingkan dengan Orchard Road yang waktu itu belum meledak. Blok M lah, tempat dimana banyak muda-mudi 80an dan awal 90an berkumpul, nunjukin mobil-mobil hasil modifnya, sound system sekeras mungkin. Lewat Melawai, banyak restoran barat muncul, seperti KFC dan A&W (buka pada 1979 dan 1985 di Melawai Plaza), Dairy Queen, Swensens, serta makanan barat nan lokal seperti AH dan Gandy. Namun, disini sejarah Melawai akan terfokuskan dengan 3 pusat perbelanjaan penting yang membuat Blok M kala itu shopping district-nya Jakarta: Pasaraya-nya Abdul Latief, Aldiron yang sudah diratakan, serta Plaza Blok M-nya Pakuwon Group.

Catatan dari DBG: untuk standarisasi, judul dan sebagian teks dialihbahasakan ke bahasa Indonesia. Beberapa foto dibawah diganti untuk menjaga kualitas. Tulisan di bawah merupakan hasil pencarian sendiri oleh ModarJayaAbadi dan bukan merupakan karya penuh dari SGPC maupun DBG selaku penulis awal blog.
Terbaru: ada terjemahan yang tertinggal......, dan catatan DBG diturunkan ke bawah untuk memperbaiki kualitas teknis blog -- DBG

PASARAYA Blok M (Pasaraya Sarinah Jaya / Pasaraya Big & Beautiful / Mega Pasaraya + Jakarta Seibu / Pasaraya Grande / Pasaraya The Pride of Indonesia)

Pasaraya, mall sekaligus department store sekaligus superblock - karya besutan mantan Menteri Ketenagakerjaan, Abdul Latief. Kompleks ini sebenarnya berawal dari sebuah kios di Sarinah, department store pertama Indonesia.

Mereka pertama buka dengan nama Sarinah Jaya pada 27 Maret 1974 (berarti sudah hampir 50 tahun ya usianya).

Lalu, setelah fokus awal mereka sebagai pusat kerajinan menjadi terkemuka, Abdul Latief memindahkan Sarinah Jaya ke Jalan Iskandarsyah 2 pada 1980, yang sampai sekarang telah menjadi rumahnya selama 40 tahun.

Untuk ekspansi, yang tadinya hanya gedung dengan GLA sebesar 7000 m2, diperluas menjadi gedung yang sekarang dikenal sebagai West Building pada 1983. Inilah awal dari nama “Pasaraya” dengan slogan “Pusat Belanja Masa Mendatang.”
Kebakaran pertama yang dialami kompleks Pasaraya Blok M, pada 1984 - dengan sedikit gambaran Pasaraya pada 80an. - Photo: Tempo

Kebakaran pertama yang dialami kompleks Pasaraya Blok M, pada 1984 - dengan sedikit gambaran Pasaraya pada 80an. - Photo: Tempo

Memasuki era 90an, Pasaraya kembali berganti wajah menjadi “Pasaraya Big & Beautiful.” Di masa inilah Abdul Latief mulai berhasil mendatangkan merek-merek internasional mau yang fashion, apparel, aksesoris, dan kosmetik - seperti Levi’s dan kosmetik Christian Dior (sekarang Dior Beauty) dan Yves Saint Laurent (sekarang YSL Beaute).

Abdul Latief dengan background Pasaraya Big & Beautiful kala itu, 1992 (ini di daerah West Building) - Photo: Tempo

Abdul Latief dengan background Pasaraya Big & Beautiful kala itu, 1992 (ini di daerah West Building) - Photo: Tempo
Abdul Latief dengan background Pasaraya Big & Beautiful kala itu, 1992 (ini di daerah West Building) - Photo: Tempo
Kebakaran kedua yang dialami kompleks Pasaraya Blok M, pada 1993 - Photo: Tempo

Kebakaran kedua yang dialami kompleks Pasaraya Blok M, pada 1993 - Photo: Tempo
West Building kala itu, 1993 (dengan facade Levi’s) - Photo: Tempo
Walaupun Pasaraya saat itu sudah sangat berjaya, tidak hanya di kalangan Lintas Melawai, Jaksel, dan di mata turis internasional (dan bersama Plaza Blok M mampu mengubur Aldiron Plaza, more on that later) - Abdul Latief masih mempunyai visi jauh lebih besar. Pada 90an, PT. Pasaraya Nusakarya (yang saat itu bersiap untuk IPO pada 1996) dan sudah mempunyai cabang di Manggarai (Pasaraya Sultan Agung, sekarang Pasaraya Manggarai) menjalin waralaba dari tiga specialty store internasional. Pertama, electronic store The Best Connection (dari Yaohan-Best, sekarang lebih dikenal sebagai Best Denki). Kedua, bookstore Maruzen (dari Jepang). Ketiga dan terbesar, Seibu (dari Seiyu Holdings Jepang). Maka ada sembilan divisi usaha sekarang, antara lain Seibu, Maruzen, The Best Connection, General Merchandise Store (Sport & Household), Fashion, Food & Supermaket, Handicraft dan batik, serta Entertaiment.

Maka dari itu, pada 1995, Pasaraya kembali mengganti namanya menjadi Mega Pasaraya. Dengan itu juga kembali dilakukan ekspansi, dibangunlah gedung di sebelah barat Pasaraya Big & Beautiful. Gedung tersebut (yang sekarang dikenal sebagai East Building, kantor pusat Gojek) adalah Jakarta SEIBU, Seibu pertama di Indonesia yang lantai-lantai atasnya dilengkapi dengan The Best Connection (Best Denki pertama di Indonesia), Maruzen (Maruzen pertama di Indonesia selain di Pasaraya Sultan Agung dan Prince Centre), Space Adventure (divisi entertainment bertema luar angkasa Pasaraya di lantai 8 yang berisi Cyber Cafe, Laser Storm, Virtual Reality, dan rides ala-Dufan yang didesain oleh Amusement Retail Resources). Sangat inspiratif, mengingat Abdul Latief sendiri belajar dari Seibu di Jepang sebelum menbangun Sarinah Jaya yang telah berevolusi menjadi Pasaraya dan mampu mengambil waralaba untuk membuka Seibu diluar Jepang.

Jakarta SEIBU pun akhirnya buka pada Agustus 1995 agar siap dengan pasar Natal 1995, walaupun masih dikandrungi suara-suara renovasi dan konstruksi berlanjut. Mereka yang dulu terkenal sebagai department store paling mewah, terang, dan lapang pada zamannya dilengkapi dengan berbagai hal-hal unik sebagai berikut:
  • GF, terdiri dari: Butik - YSL, Versace, Aigner, A. Testoni, Escada, Trussardi, Episode, Anteprima, Alain Manoukian, Kenzo, dll. -- Kosmetik - Dior, Lancome, Kanebo, Shiseido, Estee Lauder, Clinique, dll.
  • 1F, terdiri dari: Women’s Fashion berisi Flayers, Arizona Em'phosis, Apriori, dll. -- Perfumery berisi Red Earth, dll.
  • 2F, terdiri dari: Men’s Fashion berisi Marlboro Classic, Fifth Avenue, Lacoste -- Kids and Babies Fashion berisi merek Eropa dan Amerika
  • 3F, terdiri dari: Furniture berisi Royal Doulton, Bernardaud, dll. -- Household berisi Rosenthal Classic, Wedgewood, dll. -- Stationery, Tea Accessories. Bath Boutique, Dome Cafe pertama di Indonesia dan Seibu Lounge
Di sisi lain, gedung Pasaraya (West Building) disebelahnya juga tak kalah saing. Dengan fokus yang agak diubah untuk melengkapi Jakarta SEIBU, Pasaraya tetap dilengkapi dengan Levi’s, The Body Shop, pusat kerajinan yang terkenal itu, dan pernak-pernik lain - tidak melupakan fast food seperti McD di GF, KFC, Pizza Hut, Baskin Robbins, dll di B1, food court (eyangnya Dapuraya) di B1, Hero Supermarket di B1, serta salah satu ACE Hardware tertua di Indonesia (setelah cabang Lippo Supermal) di B2.
Mega Pasaraya pada 1996. - Photo: Tempo

Namun, sayangnya Jakarta SEIBU masuk ke Indonesia dalam keadaan yang sangat menyusahkan. Department store yang sempat optimis ini langsung dihadapkan dengan krismon 1997, dimana katanya pada masa-masa itu mereka hanya ramai pada Jumat dan weekend karena diserbunya outlet diskon (masih lebih baik daripada JCPenney Collections di Mal Taman Anggrek yang tutup dengan clearance sale memasuki November-Desember 1997, selengkapnya tunggu edisi Taman Anggrek yaa). Lalu lokasi Blok M juga mulai ditinggalkan oleh para pemodal dan calon pembeli di tahun-tahun segitu, karena berbagai alasan.

Dan pada akhirnya, setelah 4 tahun di Indonesia, pada November-Desember 1999, Jakarta SEIBU tutup.

Mega Pasaraya setelah ditinggalkan Jakarta SEIBU dan sebelum berubah menjadi Pasaraya Grande, 2000 - Photo: Tempo

Mega Pasaraya setelah ditinggalkan Jakarta SEIBU dan sebelum berubah menjadi Pasaraya Grande, 2000 - Photo: Tempo

Setelah sekitar 1-2 tahun vakum, Pasaraya Blok M kembali! Pada 2001, mereka setelah repositioning dan rebranding menjadi Pasaraya Grande, sebuah department store / supercenter / shopping center mewah yang diekspektasi dapat bersaing dengan destinasi mewah lain seperti Plaza Senayan.

Di masa-masa awal Pasaraya Grande, mereka memang sukses, bahkan dapat menyamai Plaza Senayan, walaupun lokasinya kurang mendukung. Pasaraya Grande yang telah membangun gedung ketiganya didalam complex Blok M, Theatre Grande, diisi oleh anchor lifestyle baru seperti Superlane Bowling Alley dengan Billiard dan juga cafe - Grande Body Life Fitness & Spa, sebuah health club (sebanding dengan Fitness First Premium) yang punya fasilitas gym, spa, anti-aging, dan salon - serta MPX Grande Boutique Cinema yang sangat legendaris, milik Raam Punjabi (pendiri Multivision Plus) yang dilengkapi dengan enam theatre berisi sound system Dolby dan DTS tercanggih pada zamannya, sofa seat legendaris, suasana remang-remang yang sengaja dibikin semewah mungkin, kafe konsesi, Diamond Class yang menggunakan reclining sofas dan dulunya punya bar yang menjual champagne dan makanan resto, serta harga yang tidak kalah “mewah.” MPX Grande lah bioskop yang mendorong 21 Cineplex untuk membuka The Premiere pertama di Plaza Senayan pada 2003 untuk menyamai Diamond Class MPX, serta Studio XXI di eX Plaza (XXI pertama yang jauh lebih mewah dari XXI jaman sekarang) yang ditujukan untuk menyamai MPX Grande.

Bioskop Multiplex (MPX) Grande pada zamannya, 2002-2003. Dulu inilah bioskop langganan premiere film Indonesia, seperti Ayat Ayat Cinta 1. Bioskop ini letaknya di lantai 9 Theatre Grande. - Photo: Tempo

Diamond Class Bioskop Multiplex (MPX) Grande pada zamannya, 2002-2003. Dulu inilah bioskop langganan premiere film Indonesia, seperti Ayat Ayat Cinta 1. Bioskop ini letaknya di lantai 9 Theatre Grande. - Photo: Tempo

Bioskop Multiplex (MPX) Grande pada zamannya, 2002-2003. Dulu inilah bioskop langganan premiere film Indonesia, seperti Ayat Ayat Cinta 1. Bioskop ini letaknya di lantai 9 Theatre Grande. - Photo: Tempo

Lobby Bioskop Multiplex (MPX) Grande pada zamannya, 2002-2003. Dulu inilah bioskop langganan premiere film Indonesia, seperti Ayat Ayat Cinta 1. Bioskop ini letaknya di lantai 9 Theatre Grande. - Photo: Tempo

Superlane Bowling Alley, lantai 6 Theatre Grande. - Photo: Tempo (2003)

Grande Body Life, lantai 7 Theatre Grande. - Photo: Tempo (2003)
Berikut ini adalah susunan lantai Pasaraya Grande pada tahun pertamanya:
  • 9
  • 8 Children Wear & Accessories
  • 7 Electronics , Music , Book & Stationery , Computech , Cafe
  • 6 Sports , Hobbies , Household
  • 5 Statues & Painting , Toys & Character , Children Wear & Accessories , Cafe , Home Furnishing
  • 4 Branded Batik , Moslem , Design Label , Cafe
  • 3 International Brands , Mens Formal & Underwear , Men's Casual , Men's Accessories & Underwear , Men's Shoes
  • 2 Ladies Wear , Ladies Casual , Lingeries & Maternity , Ladies Shoes
  • 1 Cosmetics & Fragrance , Ladies Carrer , Indonesia Designer , Ladies Wear , Cafe
  • G Cosmetics & Fragrance , International Brands , Boutique & Formal Wear , Watch & Gold Jewellry , Bag, Lugagge & Accessories , Terrace Cafe
  • B1 Food Plaza , Supermarket
  • B2 Hardware , Handphone

Pasaraya Grande, 2001 - Photo: Tempo

Pasaraya Grande, 2001 - Photo: Tempo


Directory Pasaraya Grande pada tahun pertamanya berdasarkan arsip situs web Pasaraya Grande Online (2001):

  • Apparel: Invio - Guess - Ocean Pacific - Personal Style - Arrow - Rockport - Braun Buffel - Hush Puppies - Next - BClub - Jockey - Princess Shoe - Caterpillar - DR Martens - Bally - W.Brown - Guess Watch - Kickers
  • Accesories: Swatch - Perlinis Silver
  • Beauty & Fragrances: Revlon - Ferrari - Bodyshop (sudah ada dari zaman Mega Pasaraya) - Marks & Spencer - Lancome - Shiseido - Polo Parfume - Shu uemura - Chanel - Aigner - Elizabeth Arden - Guerlain - Yves Saint Laurent - Bvlgari - Red Earth - Givenchy - Hugo Boss Perfume - Cartier Perfume - Jaguar




  • Books & Stationeries: Maruzen 7F East Grande (sama seperti era Mega Pasaraya - Jakarta SEIBU)
  • Electronics: AGIS 7F East Grande (eks Best Denki) - Metrodata - Samsung B2 East Grande - PR Record
  • Ethnics: Kendedes - Danarhadi - Batik Harni - Batik Sunyaragi - Sida Mukti - Batik Rugza - Batik Semar - Raja Batik - Prajudi - Parang Kencana - Gunung Semeru
  • Entertainments: Cafe Wein - Toraja Cafe
  • Fashion: U2 - Kenzo - Oscar de la Renta - Balenciaga - Lee Jeans - Choya - Marlboro Classic - U2 Women - Pierre Bailman - Nino Cerutti - Van Laack - Nail - H & R - Jakerton - Hammer - Posh Boy - Andre Laurent - Basic Element - Point One - Mission 72 - Private - Contempo - Scala - Simplicity - Haggar - Van Heusen - Wrangler - Unionbay - Diesel - Lacoste - O'neill - G2000 - Levi's - Fiorelli - Poppy Dharsono - Sebastian Gunawan - LeeCooper - Denny Wirawan - Bucherry - Edwin Jeans - Exze International - Rodeo Miss
  • Food & Beverages: Cafe Mario  - Kentucky Fried Chicken - Pizza Hut - Dunkins Donut - Koryo - Baskin & Robins - Japanese Curry House - Sabor Brazil - Waroeng Kopi



  • Health: GNC
  • Handicrafts: Garuda Bali
  • Home Furnishing: Ace Hardware - Palembang Corner
  • Home Interior: Uchino
  • Services: Hero Supermarket B1 Food Plaza, sekarang Transmart Carrefour
  • Sports & Hobbies: Reebok - Adidas - Bata - Vans - Converse (saat ini masih bertahan) - Nike - Airwalk - K-Swiss - Asics - Loggo - Mizuno - Fila
  • Toys & Games: Kidz Station - Toys r’ Us (keduanya ada di 5F)
  • Underwear: Triumph
  • Children & Babies: Elle Kids - Osh Kosh B'gosh - Mickey & Co - Sesame Street - Hello Kitty - Cubitus
Lalu, pada 2002, Pasaraya Grande memutuskan untuk membuka enam in-store boutiques (milik mereka sendiri) yang punya specialty khusus, antara lain Paradise, Home Sweet Home, De Kitchen, Chantique Skaly, Blush! Lingerie dan De Shuz

Floor Arrangement Pasaraya Grande pada 2002 seterusnya. - Photo: arsip web Pasaraya Grande Online
Jadi, kalo digabungin semua, Pasaraya Grande pernah at one point punya puluhan merek-merek mewah didalamnya, seperti Kenzo, Oscar de la Renta, Nino Cerruti, Giuseppe Zanotti, Aigner, Chanel, CDG, Mont Blanc, Bvlgari, Hugo Boss, YSL, Cartier, dll (walaupun beberapa diantaranya hanya dalam bentuk fragrances) - bila dibandingkan Pasaraya Grande dulu itu mirip seperti TsUM Moscow kali ya. Bisa dikunjungi archive website 2002-nya disini kalo mau melihat seperti apa in-store boutique Pasaraya Grande di zaman-zaman masih dibandingkan sama PS.

Selain tenant tersebut, ada juga tenant upscale “biasa” lainnya, seperti Next, Marks & Spencer, Levi’s, Lee’s, Lacoste, dll. Juga ada tenant sports yang cukup lengkap waktu itu, seperti Nike, Adidas, Reebok, Vans, Converse, Mizuno, Fila, dll seperti yang sudah tertulis di directory diatas. Namun, Maruzen sudah exit dari market Indo pada 2001, jadi diganti oleh Grande Books (sepertinya ini buatan Pasaraya sendiri hahaha). Tapi tetap ada ACE, Hero, Toys r’ Us + Kidz Station yang masih gede waktu itu, Millenia netcafe, dan buanyak yang lain yang tidak dapat disebutkan satu-persatu.

Pasaraya Grande, 2002 - Photo: Tempo

Pasaraya Grande, 2002 - Photo: Tempo

Drop-off East Grande Pasaraya Grande (dengan street facade Next), 2002 - Photo: Tempo



Berikut ini adalah foto-foto Pasaraya Grande pada 2003, yang juga menampilkan Home Sweet Home, serta logo Food Plaza dan Batavia Food Court (pendahulu Dapuraya):
Home Sweet Home, Pasaraya Grande, 2003 - Photo: Tempo

Tangga menuju B1, Pasaraya Grande, 2003 - Photo: Tempo

Kios Martha Tilaar, Pasaraya Grande, 2003 - Photo: Tempo

Cafe di Pasaraya Grande, 2003 - Photo: Tempo

Lalu, ada bonus photo tahun 2006, Tamagotchi yang dijual di Pasaraya Grande (kemungkinan besar ini di Kidz Station namun ini bisa aja diambil di Toys R Us sebelum meninggalkan Indonesia), plus studio Lativi (sekarang TVOne) yang dulunya di lantai 6 Pasaraya Grande.
Tamagotchi, 2006 - Photo: Tempo
Studio Lativi, 2006 - Photo: Tempo
Memasuki 2006-2007, Pasaraya Grande yang cukup menikmati kesuksesan mulai memasuki jurang. Kompetisi baru seperti PIM 2, Pacific Place, dan Senayan City, mulai menyurutkan popularitas Pasaraya yang padahal sudah terbatas karena lokasinya. Tenant-tenant juga mulai tutup, seperti Toys r’ Us yang pamit dari Indonesia. Semakin sepi, Pasaraya mencoba untuk merubah beberapa tempat. Batavia Food Court direnovasi menjadi Wata Kitchen pada 2007, tetap berkonsep makanan Indonesia dari pelbagai pulaunya. MPX Grande yang tadinya satu tiket bisa seharga 100, 200rb, turun drastis menjadi sekitar 50rb.

Pasaraya Grande, 2007

Wata Kitchen, Pasaraya Grande, 2007
Pada 2008, Pasaraya juga sempat menuai kontroversi. Gedung Parkir Pasaraya yang dinilai tidak aman oleh Pemda disegel, setelah terjadi miskomunikasi antara pihak manajemen dan Pemda mengenai surat. Akhirnya, direnov juga.

Banner pemberitahuan renovasi Gedung Parkir Barat, 2008 - Photo: Tempo

West Building / Gedung B Pasaraya, 2008 - Photo: Tempo
Lalu, semakin sepi semakin sepi. Tidak ada yang dapat menyelamatkan Pasaraya Grande, para merek mewah pun pergi. Akhirnya, 2008 menjadi tahun terakhir Pasaraya Grande. Kematian yang sama pun dirasakan oleh MPX Grande (yang waktu itu sudah sangat murah, dan tutup pada Oktober 2009 dengan kondisi gedung Theatre Grande sudah ¾ mati), mengikuti Grande Bodylife dan Superlane yang tutup duluan.

McDonald's Pasaraya Blok M, 2009 - Photo: Tempo
Pasaraya akhirnya berganti konsep. Pasaraya - The Pride of Indonesia. Pasaraya sudah tidak lagi bermain di sektor luxury, dan lebih fokus ke kelas menengah dan handicraft departmentnya yang cukup terkenal. Logonya dan brandingnya berganti, menjadi logo Paragon KW yang sempat menjadi bahan lelucon.

Wulan Guritno di Pasaraya The Pride of Indonesia, 2013 - Photo: Tempo

Wulan Guritno di Pasaraya The Pride of Indonesia, 2013 - Photo: Tempo
Dibangunlah Pinisi Edutainment Park pada 2010, di lantai 8-10 di East Building / Gedung B (nama baru East Grande, West Grande pun sama).
Photo: Google Images
Lalu, pada 2015-2016, Pasaraya sempat mencoba “bermain di kelas atas lagi.” Melihat Dapuraya di Pasaraya Manggarai yang lumayan sukses, mereka membuka Dapuraya 2, menggantikan Wata Kitchen. Mereka mendatangkan Bali Deli yang pernah masuk ke pasar Jakarta di Sudirman Place pada 2013 menggantikan Hero yang lama meninggalkan Pasaraya, namun entah bagaimana namanya ganti jadi Bali Gourmet (mungkin isu lisensi) terus akhirnya 2017 tutup juga.

Pada 2017, Pasaraya juga sempat mendatangkan Matahari Department Store (double kontrak dengan Pasaraya Manggarai, seperti halnya Maruzen, Kenzo, dan beberapa tenant lain pada masa lalu). Hasilnya tidak begitu baik, pada 2018 Matahari menutup kedua cabang Pasaraya-nya, berbuntut sengketa di pengadilan sebelum mereka menyelesaikannya di luar pengadilan.
Matahari Pasaraya Blok M menjelang ajal, 2018 - Photo: Kompas
Matahari Pasaraya Blok M menjelang ajal, 2018 - Photo: Kompas
Jadi, pada 2018, mereka akhirnya memutar otak. Memasang strategi baru, yang menurut saya cukup for now. Dengan memberikan separuh dari East Building / Gedung B (lantai 1-10 tapi bukan semua) ke start-up tercerah Indonesia pada waktu itu, Gojek sebagai kantor pusat barunya. Dan strategi ini yang menurut Pasaraya akan dijalani mulai dari sekarang, 70% office 30% retail, menjadi digital hub (pembangunan Menara Sentraya yang sudah rampung kini bisa dijual/disewa). Strategi yang sama akan dilakukan di Pasaraya Manggarai.

Berikut merupakan kisah sejarah Pasaraya. Menurut mereka, seperti bisa dibaca dalam berita tersebut, Pasaraya ingin menjadi Creative Hub. 29.000 m2 dari East Building (lebih dari ⅛ seluruh GFA Pasaraya baik Gedung A maupun B) akan diserahkan ke Gojek (berarti masih ada 131.000 m2 dari seluruh Pasaraya yang akan dibagikan kepada digital companies sebagai kantor) - sedangkan 60.000 m2 akan tetap dipegang Pasaraya sebagai retail space (sebagai gambaran, luas retail Pasaraya bakal lebih kurang sebesar luas retail Plaza Indonesia sekarang). Kabar baiknya, Gedung A rencananya akan dibongkar lalu dibangun kembali - dan selesai dibangun 2024, bertepatan dengan HUT ke-50 Pasaraya, yang tadinya dimulai pada 1974 di Sarinah Thamrin.
Pasaraya Blok M
Foto DBG, Creative Commons License

Aldiron Plaza

Detil versi SGPC bisa dibuka disini.

1975. Pada 1975, Blok M hanyalah hamparan ruko-ruko luas peninggalan Jepang (maka dari itu Blok M punya banyak sekali expat dan restoran Jepang sampe sekarang) + Pasar Blok M. Lalu, disebelah Pasar Blok M. Dibangun sebuah pertokoan. “Shopping centre” pertama di Indonesia. Aldiron Plaza.

Dari wacana pertama pada 1975, Aldiron Plaza besutan Aldiron Hero (perusahaan Indonesia yang juga telah go-international dan membangun dua mall di Amerika yang sekarang sudah mati serta Pusat Emas Cikini) dengan sistem BoT 25 tahun (1976-2001) bersama Pemda DKI. Didesain oleh PRW Architecture, Aldiron Plaza dibuka pada Juli 1978.

Aldiron Plaza - Photo: PRW Architects/IAI

Aldiron Plaza bersama Pasaraya Sarinah Jaya yang datang dua tahun kemudian adalah tonggak Blok M menjadi kawasan shopping Jakarta terelit pada waktu itu, ditambah Melawai Plaza yang tidak dibahas disini.

Book Fair di lantai 5 Aldiron, 1979. - Photo: Tempo
Book Fair di lantai 5 Aldiron, 1979. - Photo: Tempo
Book Fair di lantai 5 Aldiron, 1979. - Photo: Tempo
Walaupun tidak seperti Ratu Plaza dan Gajah Mada Plaza pada waktu itu yang pada 1980-1981 buka dengan konsep plaza tanpa kios kecil lebih baru daripada Aldiron Plaza, Aldiron mempunyai kekhasan sendiri. Salah satu mall mewah pada zamannya, Aldiron menjual arloji seperti Omega, sportwear seperti Nike, perabotan, Kodak, dan tas aksesoris mewah pada 80an hingga 90an. Semuanya masuk lewat Aldiron (kecuali beberapa seperti Aigner dan LV).

Memasuki 80an, Aldiron lah bersama beberapa tempat Melawai yang lain menjadi ikon “tempat mejeng.” Club roller-skate Happy Day yang lebih family-friendly dan Lipstick yang berisi remaja sampai ABG zaman dan DJ Prambors Rasisona itu berumah di lantai 6 Aldiron Plaza, dan hanya bisa diakses lewat lift kapsul ikoniknya, salah satu yang pertama dengan Ratu Plaza. Lalu juga ada tempat sewa Betamax dan toko buku non-Gramedia, yang bertempat di lantai 4 dan 5. Walau sempat kebakaran pada 1980, siapa bisa mengalahkan Aldiron?

Aldiron Plaza saat kebakaran, 1980 - Photo: Tempo
Aldiron Plaza, 1980an - Photo: Situs resmi Aldiron Hero Group
Aldiron Plaza, 1985 - Photo: Tempo
Aldiron Plaza saat malam, dengan neon sign Lipstick dan Happy Day, 1987 - Photo: Tempo
Masuk ke awal 1990an, Aldiron Plaza mulai turun pamornya. Para remaja mejeng Blok M sudah mulai beranjak dewasa, dan Aldiron pun semakin melemah diantara kompetisi yang memiliki daya tarik lebih, seperti Plaza Blok M di seberang dan Pondok Indah Mall yang lumayan dekat. Pernah ada wacana penataan setelah kios dikosongkan dua kali dari 1991-1992. Lalu, pada 1994, Aldiron terbakar lagi. Setelah mulai ditinggalkan Happy Day dan Lipstick, lift dan eskalator Aldiron mulai bermasalah. Memasuki 2000, AC central mulai panas dan seringkali mati listrik. Sampai pada akhirnya, tepat pada selesainya 25 tahun BOT dengan Pemda, Aldiron Hero mengibarkan bendera putih, memutuskan tidak melanjutkan perawatan Aldiron karena merugi. Akhir dari masa.

Aldiron Plaza, 2000 - Photo: Tempo

Pada 2005, deathnote Aldiron sudah tertulis. Aldiron Plaza, beserta Bowling Centrenya disamping kanan + PD Pasar Jaya Blok M - Matahari yang sempat terbakar, akan dibongkar. 30 tahun setelah tiang pancang pertama didirikan, tiang pancang Aldiron mulai dirobohkan. Sekarang sudah dibangun Blok M Square berlantai 9.

Plaza Blok M

Detil versi SGPC bisa dibuka disini.

Pusat perbelanjaan Plaza Blok M telah berdiri sejak tahun 1990 di kawasan Blok M Kebayoran Baru (tepatnya di Jl. Bulungan No. 76) yang merupakan pusat bisnis di Jakarta Selatan. Pusat Perbelanjaan  yang diresmikan oleh mendiang Ibu Tien Soeharto pada 30 Mei 1991 ini terdiri dari 7 lantai area shopping dan 13 lantai area parkir yang mampu menampung sekitar 700 kendaraan roda empat dan 300 kendaraan roda dua.

Plaza Blok M kini sedang giat meningkatkan citranya sebagai pusat belanja favorit. Ini terbukti dari banyaknya toko, café dan restaurant baru yang menarik dari sekitar 350 toko yang ada. Renovasi-renovasi juga masih terus dilakukan di beberapa sudut gedung, misalnya saja lighting di seluruh atrium Plaza Blok M semakin indah dengan warna warni cahayanya, toilet yang semakin bersih dan akses jalan ke Plaza Blok M yang makin mudah.

Plaza Blok M juga akan menjadi satu-satunya Pusat Perbelanjaan yang terhubung atau terkoneksi langsung dengan Stasiun MRT Blok M. Penumpang MRT nanti akan semakin dimudahkan untuk masuk ke Plaza Blok M jika selesainya pembangunan koridor atau jembatan penghubung langsung dari Stasiun MRT Blok M. Koridor yang langsung terkoneksi di lantai 1  ini dibangun dengan panjang 9,7 meter, luas 145 m2 dan akan ditempati beberapa unit counter. Dengan demikian akan memudahkan akses penumpang MRT untuk berbelanja dan memberikan keuntungan untuk pedagang.

Plaza Blok M. Salah satu mall terunik Jakarta. Sekarang, inilah satu-satunya mall yang terhubung secara langsung dengan MRT. Ini juga salah satu dari dua mall di Jakarta yang punya spiral corridor, dimana akses dari lantai LG sampai lantai 6 tidak memerlukan eskalator dan lift. Tapi, Plaza Blok M mempunyai sebuah sejarah yang panjang..

Plaza Blok M ada pusat perbelanjaan milik PT. Pakuwon Jati, salah satu developer terbesar Indonesia yang sebelumnya telah memulai pembangunan dan membuka superblok Tunjungan City, diawali dengan Tunjungan Plaza 1 pada 1986. Didesain oleh Budiman Hendropurnomo sebagai salah satu portfolio pertamanya bersama Denton Corker Marshall Hongkong, sebelum DCM Jakarta didirikan dan secara resmi mendesain Atrium Senen (entah kenapa DCM tidak mengakui Blok M Plaza ini dalam portfolio mereka) - Plaza Blok M inilah yang mengambil “spotlight” dari Plaza Aldiron yang legendaris. Setelah soft opening pada 12 Desember 1991, Blok M Plaza diresmikan pada 30 Mei 1991 oleh Ibu Tien Soeharto.

Dengan 8 lantai + 1 mezzanine, mall seluas 52.800 m2 yang berdiri di eks. New Garden Hall Theatre ini memiliki beberapa daya tarik saat pertama kali buka, antara lain:
  • Anchor tenant yaitu Galleria Department Store yang megah pada zamannya (ini adalah persiapan Hari Darmawan dalam menghadapi Yaohan di Atrium Senen yang akan buka pada 1992 - sekarang Matahari), Dunia Anak (sekarang Amazone), ding dong (sekarang Timezone), food court, Hero Supermarket (sekarang Giant Ekspres), Toko Gunung Agung, dan Blok M 21 (bioskop legendaris yang memiliki status pemakai billboard poster film khas-21 terakhir pada 2014, dan bioskop pre-XXI terakhir yang dikonversi menjadi XXI pada 2020)
  • Tenant-tenant high street / upscale seperti Guess, Esprit, The Body Shop, dll. yang baru pada zamannya
  • Tenant makanan internasional pada zamannya seperti KFC, McD, Wendy’s, Church’s Texas Fried Chicken, California Fried Chicken, California Pizza (sepupunya CFC), Burger King era Gelael, dll.
  • Banyaknya toko arloji dan perhiasan yang tidak berubah sejak 1990
  • Fitur spiral corridor, semua lantai dari LG sampai 6 tercapai hanya dengan jalan kaki mengitari satu “atrium,” seperti Tunjungan Plaza 1, kakaknya di Surabaya
Lalu, Plaza Blok M waktu itu masih baru dan tidak memiliki banyak kompetisi (kecuali Plaza Indonesia dan Pondok Indah Mall yang memang jauh lebih tinggi kelasnya), dan bahkan mampu mengalahkan kompetisi baru seperti Plaza Atrium, sampai mendorongnya ke jurang downgrade (sampe sekarang masih belum keluar loh). Dengan Pasaraya yang waktu itu juga masih gitu-gitu aja (akhirnya terdorong untuk renovasi jadi Big & Beautiful karenanya), Plaza Blok M menjadi (dimasanya) juara kalo soal belanja di Blok M, dan Jakarta Selatan.

Blok M Plaza pada pembukaannya, 1991 - Photo: Tempo

Blok M Plaza pada pembukaannya, 1991 - Photo: Tempo

Blok M Plaza pada pembukaannya, 1991 - Photo: Tempo
Budi Hamidjaja didepan chain fast-food yang dia dirikan, California Fried Chicken cabang Blok M Plaza pada 1991 (trivia: CFC itu tadinya adalah waralaba internasional dari Pioneer Chicken dari AS, sebab itu nama awalnya California Pioneer Chicken, sebelum pada 90an diganti menjadi California Fried Chicken) - Photo: Tempo
Billboard poster film Blok M 21, bioskop Blok M Plaza yang pernah difeature dalam film Paramitha Rusady, Blok M (1992) - Photo: Tempo
Namun, mulai dari akhir 90an, masa suram bagi Blok M Plaza terjadi. Mall yang mulai menua ini (baru sekitar 10 tahun sih, gak ada apa-apa sama sekarang yang sudah kepala tiga) tidak terlalu diperbarui oleh Grup Pakuwon Jati saat itu. Lalu, Krismon 97 juga mengefek Blok M Plaza. Namun, Blok M Plaza tetap ramai di kalangan golongan menengah dan tentunya anak sekolah di sekitar Melawai pada zamannya.

Atrium dari Plaza Blok M, angle ke bawah, 2002 - Photo: Tempo

Disc Tarra Plaza Blok M, 2002 - Photo: Tempo

Quickly Plaza Blok M, 2002 - Photo: Tempo

Security check di Plaza Blok M setelah status keamanan dinaikkan ke siaga sebab dari terorisme Bom Bali dan Bom JW Marriott, 2003 - Photo: Tempo
Plaza Blok M interior shot, 2006 - Photo: Tempo

Plaza Blok M interior shot, 2006 - Photo: Tempo

Plaza Blok M interior shot, 2006 - Photo: Tempo

Toko sepatu di Plaza Blok M, 2009 - Photo: Tempo

Plaza Blok M interior shot, 2009 - Photo: Tempo

Plaza Blok M interior shot, 2009 - Photo: Tempo

Plaza Blok M interior shot, 2009 - Photo: Tempo
Memasuki dekade 2010 dari 2000an, keadaan semakin suram bagi Blok M. Masa jayanya telah lewat. Aldiron dibongkar untuk menjadi Blok M Square, “just another ITC.” Pasaraya Grande gagal di pasaran karena kalah dengan kompetitor, menjadi sepi sepi sekali. Plaza Blok M, walau lebih ramai dari Pasaraya, juga mulai melihat tanda-tandanya. Setelah kebakaran pada 2009 (tidak terkait), dengan membesarnya era digtal, Plaza Blok M mulai sepi dan ditinggal oleh target audiencenya sejak awal 2000an, kalangan menengah.

Kebakaran Plaza Blok M Basement, 2009 - Photo: Tempo

Kebakaran Plaza Blok M Basement, 2009 - Photo: Tempo
Toko kaset vintage di Plaza Blok M, 2010 - Photo: Tempo
Stroberi, toko aksesoris di Plaza Blok M, 2011 - Photo: Tempo

Stroberi, toko aksesoris di Plaza Blok M, 2011 - Photo: Tempo

Tahun 2017. Banyak berita mengenai kosongnya banyak mall di Indonesia. Ritel menunjukkan tanda-tanda kelam, tutupnya banyak Matahari, Ramayana, Giant, serta MAP yang menutup seluruh gerai Lotus dan tidak memperpanjang license Debenhams. Salah satu contoh yang diberitakan adalah Plaza Blok M. Foto-foto kosongnya koridor beredar di internet, sangat berbeda kalau dibandingkan dengan Plaza Blok M dahulu. Tokopedia, Shopee, Lazada, Jd.id menyerang. Mall-mall “harus beradaptasi,” katanya.

Namun, pada tahun itu juga, Pakuwon kejatuhan durian runtuh. Mereka tersadar bahwa stasiun MRT Blok M (sekarang dikenal Blok M BCA) tepat disebrang Plaza Blok M, tepatnya diatas Jalan Bulungan. Mereka tahu bahwa konstruksi MRT ini yang sangat menyusahkan Blok M Plaza selama 5 tahun ini, menutup jalan akses menuju mall, menghambat masuknya pengunjung. Namun, Pakuwon memiliki ide lebih cemerlang.

Selama ini, Plaza Blok M seperti kehilangan semua daya tariknya. Semua mall di Jakarta sekarang mirip dengan Plaza Blok M, gak ada bedanya. Namun, pada Lapkeu 2018 PT. Pakuwon Jati, Pakuwon mengumumkan bahwa proses renovasi Plaza Blok M akan dilakukan tahun itu juga, memperbaharui tembok, dekor, atrium, perlampuan, toilet, fasum, dll. Semua ini dilakukan untuk menyambut daya tarik baru Plaza Blok M yang hanya mereka punya. Akses langsung menuju dan dari stasiun MRT.

Plaza Blok M sebelum renovasi, 2011 - Photo: Situs resmi Blok M Plaza

Plaza Blok M sebelum renovasi, 2011 - Photo: Situs resmi Blok M Plaza

Plaza Blok M sebelum renovasi, 2011 - Photo: Situs resmi Blok M Plaza

Plaza Blok M sebelum renovasi, 2011 - Photo: Situs resmi Blok M Plaza

Plaza Blok M sebelum renovasi, 2011 - Photo: Situs resmi Blok M Plaza

Direct access entrance Plaza Blok M via Stasiun MRTJ Blok M BCA, 2019 - Photo: Google Images

Plaza Blok M setelah renovasi, 2019 - Photo: Google Images

Food Court Plaza Blok M setelah renovasi (sekarang bernama Food Society), 2019 - Photo: Google Images 
Blok M Plaza has changed, for the better. Mulai dari 1 Mei 2019, akses masuk Blok M Plaza melalui stasiun MRT Jakarta yang telah beroperasi dibuka, dan sekarang Blok M Plaza hampir berubah 180 derajat. Atmosfer baru, toilet baru, lighting lebih modern, interior direnovasi, LG yang telah diubah menjadi pusat restoran fast food seperti KFC ataupun FS seperti Sapo Oriental yang baru kembali, dibukanya restoran baru seperti Auntie Anne’s, Wendys, reopening Texas, reopening Burger King, Marugame Udon, Pepper Lunch, tiga Shihlin, segala restoran yang bisa ditemukan di mall-mall baru juga ada disni. Lalu ada store-store baru seperti Payless, Sports Station, dll., sedangkan tenant lama diminta untuk upgrade dan renovasi (seperti Polo). Blok M 21 setelah 30 tahun akhirnya diupgrade menjadi Blok M XXI pada 2020 setelah renovasi sejak 2019. Food Society dibuka, mengganti food court lama yang sudah tua.

Blok M Plaza sukses merubah segala wajah lamanya yang sudah tua. Sejak 1 Mei 2019, dibandingkan tahun sebelumnya, angka pengunjung setiap hari bertambah 100%, 150%. Mall ini diangkat menjadi bahan berita, sebuah mall yang diberkati oleh adanya akses langsung MRT.
"Kalau dulu hanya di angka 8.000 sampai 10.000. Sekarang di angka 20.000 sampai 25.000," (Presdir Pakuwon Jati, Stevanus Ridwan)
Namun, menurut saya mall ini tidak menjadi ramai kembali sekarang ini, bukan hanya karena MRT melewatinya. Mall ini sekarang dikunjungi orang pelbagai pelosok Jakarta bahkan Indonesia, para turis mancanegara yang masuk ke MRT Jakarta, bukan keberuntungan semata. Menbuat akses langsung dari stasiun MRT, bukan urusan gampang. Harus keluar duit, harus teken kontrak miliaran sama MRTJ, harus berani rugi. Dan Blok M Plaza, sudah merugi parah akibat kebisingan dan dampak dari konstruksi MRTJ di sampingnya. Pakuwon berani mengeluarkan duit lebih, berani rugi lagi, dan berani menerima risiko yang ada. Bisa aja kan, kalo akses langsung begini mubazir? Hanya Pakuwon dan Tuhan yang tahu.

Tapi Pakuwon, pemilik Blok M Plaza berani mengambil tantangan ini, berani mengeluarkan duit miliaran, dengan akses langsung sederhana, berupa jembatan berkanopi. Mereka tahu kalau masyarakat Indonesia kurang suka jalan panas-panasan. Realitas bahwa stasiun MRT di depannya adalah sebuah kesempatan yang diambil secara berani dengan menandatangani kontrak, dan membangun jembatan akses itu. Sekarang, ribuan pekerja yang kerjanya di kantor yang deket sama stasiun MRTJ rute Lebak Bulus - Bunderan HI, dapat masuk ke sebuah mall ber-AC nyaman yang memiliki Indomaret, ratusan restoran baru dan lama, serta beberapa pilihan pertokoan ritel termasuk Sun Department Store milik Lippo. Andaikata Pakuwon tidak mengambil peluang tersebut, Plaza Blok M sudah pasti mati suri. Atau mereka bisa ngelakuin apa yang kebanyakan bakal lakuin, bongkar terus bangun superblock baru.

Pada akhirnya, Pakuwon dengan Plaza Blok M nya menang dari antara ketiga mall Blok M yang saya bahas disini, mengapa? Karena mereka mengambil kesempatan yang ada.

Dan berakhirlah kisah dari Lintas Melawai. Sampai kini.

Klik link ini untuk bagian pertama dari seri Sejarah Pusat Perbelanjaan Jakarta.

Referensi

  1. Data Tempo, sumber gambar
  2. Ryana Aryadita Umasugi (2019). "Blok M Plaza Kini Menggeliat Lagi Setelah Ada MRT Jakarta". Kompas.com. Mei 2019.
  3. Bisnis (2019). "Ada Gojek, Pasaraya Blok M Targetkan Jadi New Creative Hub". Tempo.com. Mei 2019.
  4. Website resmi Blok M Plaza, diakses 29 April 2020.
  5. Website resmi Pasaraya, diakses 29 April 2020.
  6. Website resmi Aldiron Hero Group, diakses 29 April 2020.
  7. Website resmi Pasaraya Grande, diarsip 22 Agustus 2002 (arsip)
  8. Website resmi Pasaraya Grande, diarsip 22 Juli 2003 (arsip)
  9. Website resmi Pasaraya Grande, diarsip 12 Januari 2007 (arsip)
  10.  Advertorial (1996). Menyambut "Go Public" Pasaraya - Semakin Profesional dalam Bisnis "Retail". Kompas (Kompas Data). Juli 1996.
  11. Advertorial (1996). Jakarta Seibu, Pusat Belanja Bertaraf Internasional. Kompas (Kompas Data). Agustus 1996.
  12. Google Images

Komentar

Yang banyak dibaca seminggu terakhir

Sinarmas Land Plaza Surabaya (terbaru 25 November 2019)

Intiland Tower Jakarta (terbaru 20 Mei 2020)

Mal Ciputra Jakarta (terbaru 17 Maret 2020)

City Plaza Klender

Gedung Sapta Pesona (terbaru 19 September 2019)