Sejarah Pusat Perbelanjaan Jakarta - Bab I: Pionir

Salam kenal, saya Modar Jaya Abadi, salah satu forumer di SkyscraperCity Indonesia. Saya diberi kesempatan untuk menjadi Guest Blogger di SGPC, untuk post intermezzo mengenai pusat perbelanjaan di Indonesia, terutama Jakarta.

Pada kesempatan ini, izinkan saya untuk merangkum dan menulis ulang seri postingan saya di thread Shopping Malls in Indonesia, mengenai pusat perbelanjaan yang menurut saya telah berdampak besar ke dunia ritel Jakarta. Ini adalah post perdana Sejarah Pusat Perbelanjaan Jakarta, mengenai para pionir dari seribu mall Jakarta, Sarinah Thamrin, Ratu Plaza, dan Gajah Mada Plaza.

"Waktu itu, Jakarta belum memiliki tempat perbelanjaan yang memadai. Yang ada hanya kios-kios. Sudah pantas, Jakarta memiliki perkantoran, pertokoan, dan sekaligus tempat tinggal yang bagus lagi nyaman."
Henry Onggo, pendiri PT. Ratu Sayang Internasional (Ratu Plaza)

Catatan DBG: untuk standarisasi, judul dan sebagian teks dialihbahasakan ke bahasa Indonesia. Sebelumnya, seluruh tulisan dari "ModarJayaAbadi" menggunakan judul bahasa Inggris, dengan nama Jakarta: History of Shopping - The Pioneers. Beberapa foto diganti untuk menjaga kualitas. Tulisan di bawah merupakan hasil pencarian sendiri oleh ModarJayaAbadi dan bukan merupakan karya penuh dari SGPC maupun DBG selaku penulis awal blog. Perubahan 12 Mei 2020: "kutipan pernyataan Henry Onggo diturunkan ke bawah karena alasan teknis blog.

Sarinah Thamrin

Department store pertama sekaligus "pencakar langit" pertama Jakarta, bahkan Indonesia. Karya terakhir Soekarno dan Orde Lama yang tiang pancangnya didirikan pada 1963, lalu dibuka olehnya pada 1967, adalah sebuah kompleks berisi perkantoran 17 lantai dan sebuah podium yang berisi department store itu sendiri dan beberapa pertokoan serta restoran. Saat itu, sebagai sebuah inovasi baru dalam industri ritel yang membantu dikala lesunya ekonomi Indonesia pada waktu itu, Sarinah menjadi destinasi elit populer.

Sangat ekslusif pada waktu itu, perkantorannya pun dahulu sangat elit. Perusahaan seperti Bayer dan Bechtel (perusahaan kontraktor yang membantu pembangunan Semanggi pada 1962) dan banyak yang lain pernah menjadi tenant. Dan juga ada jembatan penyebrangan yang menyambungnya dengan Djakarta Theatre, yang saat itu juga eksklusif.

Sarinah pada tahun 1970an. Foto dari majalah CIPTA
Sarinah yang telah berumur itu juga dibangun dengan standar yang sangat berbeda zaman. Seiring waktu, Sarinah harus menelan pahit kebakaran yang terjadi 2x di dekade 80an. Pertama pada 1980, ketika podium 4 lantai dan JPO Djakarta Theatre ludes terbakar. Lalu kedua pada 1984, dimana gedung kantor Sarinah terbakar.

Kebakaran Sarinah, 1984 - Foto Tempo


Walau hal tersebut terjadi, Sarinah masih mampu bangkit kembali, bahkan menyamai kompetitornya waktu itu, yaitu Pasaraya (yang sebetulnya buka pertama di Sarinah Thamrin, makanya nama aslinya Sarinah Jaya).

Karyawan Sarinah bersiap untuk dibukanya kembali Sarinah setelah kebakaran, 1984 - Photo: Tempo


Karyawan Sarinah bersiap untuk dibukanya kembali Sarinah setelah kebakaran (dilatari Cosmetics Department Sarinah kala itu), 1984 - Photo: Tempo

Pameran Mobil Niaga berlatar Sarinah Bakery, 1987 - Photo: Tempo


Mulai memasuki 90an, boom ekonomi masuk ke Indonesia, yang ingin menjadi "macan Asia." Sangat ironis, Sarinah yang diprakarsai Soekarno yang pada akhir ordenya sangat anti-Barat, berubah menjadi gerbang utama masuknya merek barat ikonik, seperti Guess, Emporio Armani, Chili's, Hard Rock Cafe pertama di Jakarta yang telah pindah 2x bersama kantor radionya yang tetap di Sarinah, dan tentunya lokasi pertama McDonald's di Indonesia.

Eksterior Sarinah 90an dengan ACP dan signage Hard Rock dan Guess - Photo: Beat's Hard Rock Cafes

Interior Hard Rock Cafe Jakarta pertama, dengan glass art Elvis yang ikonis dahulu - Photo: Beat's Hard Rock Cafes


Bambang Rachmadi (master franchisee McDonald's Indonesia kala itu) dengan salah satu manager McDonald's Indonesia dan Ronald McDonald saat pembukaan McDonald's Indonesia pertama di Sarinah, 1991 - Photo: Reddit
Inilah dua iklan yang juga bisa ditemukan di 1997 Jakarta Shopping Mall Guide, yang menyebutkan Sarinah. (bayangkan, pada dekade 90an Emporio Armani, merek-merek Armani lain, dan merek-merek Club21 yang bisa ditemukan di negara ASEAN lain sempat dibawa mereka ke Indonesia sebelum krisis)

Iklan PT. Sarinah / Sarinah Department Store yang menampilkan eksterior/interior Sarinah Thamrin waktu itu, 1997 - Photo: ModarJayaAbadi - scan dari 1997 Jakarta Shopping Mall Guide


Iklan Emporio Armani Sarinah, 1997 - Photo: ModarJayaAbadi - scan dari 1997 Jakarta Shopping Mall Guide


Tapi, semakin kesini, Sarinah semakin jatuh. Guess dan Emporio tutup, Hard Rock Cafe pindah ke eX pada 2004, dan banyak tenant lain menghilang. Hanya McD yang sempat tutup karena ToniJacks dan Chili's mengingatkan kejayaan Sarinah. Namun, kadang masih ada sinar harapan. Caribou pertama di Indonesia buka disini. Dan rumor berkata bahwa Sarinah akan segera direnovasi menjadi kompleks multi gedung.

Purwarupa Sarinah Redevelopment, Photo: yudhit (Skyscrapercity)
Purwarupa Sarinah Redevelopment, Photo: yudhit (Skyscrapercity)
Semoga renovasi ini bisa terwujud, dan Sarinah bisa kembali menikmati kejayaan.

Ratu Plaza

Dan pada akhir 1980 terbentuklah apa yang diangan-angankannya: sebuah perkantoran dengan 32 lantai, pertokoan 4 lantai, serta apartemen 18 lantai.
Foto: Tatan Rustandi/Properti Indonesia

Ratu Plaza, pusat perbelanjaan pertama Jakarta, bahkan Indonesia. Lebih tepatnya pusat perbelanjaan non-kios (pada masa itu), tidak seperti Hayam Wuruk Plaza, melainkan pertokoan seperti Lucky Plaza dan Far East Shopping Centre di Singapura pada zaman itu. Memang, Ratu Plaza dibuat menggunakan inspirasi Henry Onggo sang pendiri saat pergi ke luar negeri. Namun, Ratu Plaza sekarang ini serupa dengan Plaza Indonesia. Diisi banyak toko dan barang mewah, namun kebanyakan hanya datang untuk rekreasi.

Masuk lewat pintu utama, ada sebuah atrium dengan pelataran tempat duduk berbentuk segitiga. Disebelahnya ada sebuah air mancur warna-warni, layaknya mall-mall di Amerika Serikat pada 1980an. Lalu juga ada dua buah lift kapsul kaca mirip lift Gajah Mada Plaza, Pondok Indah Mall, ataupun Plaza Senayan sekarang. Lift ini bisa mengantar dari lantai dasar sampai lantai 5 (6 lantai). Segala yang mahal tersedia, seperti kamera Canon, buku, alat listrik, dan alat mandi dari Italia. Juga terdapat bioskop di lantai 4, dan dingdong di atrium. Jauh sebelum Hero, Carrefour, dan Lottemart menjadi tenan di Ratu Plaza, Gelael sempat mengisi basement.

Atrium Ratu Plaza pada tahun 1980.
Foto: Toky/Majalah Konstruksi ed. Agustus 1980
Berikut merupakan layout Ratu Plaza pada masa itu:
Sumber: KOMPAS, 21 Januari 1981
Salah satu hal spesial dari Ratu Plaza, adalah merek-merek ekslusif Erope lewat sini. Etienne Aigner waktu itu membuka butik pertamanya disini, lewat PT Jay Gee Enterprises yang sekarang membawa Aldo ke Indonesia. Butik 45 m2 itu dibuka pada 80an, sebelum membuka toko di PI, PIM, TA, dan pastinya sebelum ditakeover Trans Fashion. Butik Louis Vuitton pertama juga dibuka disini sekitar Juni/Juli 1988, dan sempat buka bersama butik LV Plaza Indonesia yang saat itu dekat La Moda. Kedua merek sudah tutup menuju pertengahan 90an. LV ini juga mendapat opening celebration piece, berupa kolaborasi LV dengan Eko Nugroho dalam membuat scarf monogram.

Iklan Louis Vuitton. Sumber: Femina, 2 Juni 1988

Collaboration piece Louis Vuiton dengan seniman Indonesia Eko Nugroho pada 1989 - Photo: koleksi Time Capsule Exhibition Louis Vuitton di Senayan City, 2019

Pada 1984-1985, Ratu Plaza terkenal menaikkan harga sewa, tidak hanya di pertokoan, juga untuk kantor dan apartemennya, dengan alasan "belum balik modal" dan "merawat sistem keamanan yang sangat memadai untuk zamannya." Bahkan, sempat juga diungkit oleh Majalah Tempo.

Sampul Majalah Tempo No. 41 Thn. XV, 7 Desember 1985 - Photo: Tempo

Pada 90an, Ratu Plaza mulai jatuh. Tidak bisa melawan kompetisi yang semakin sengit, tiga sekawan pada awal 90an (Plaza Indonesia, Plaza Atrium, Pondok Indah Mall) mulai menyerang dengan bantuan masuknya department store asing, Sogo, Yaohan, dan Metro. 90an juga lah menjadi masa krusial Indonesia yang ingin menjadi macan Asia, meledaknya industri ritel dengan merek big-box internasional seperti Walmart dan PriceSmart.

Namun, leasable area Ratu Plaza yang "hanya" 16.000 m2 (bukan 100 ribu m. persegi - DBG) tidak cukup untuk itu semua. Oleh karena itu, pada 1996, PT Ratu Sayang Internasional meneken kontrak dengan department store asal Prancis. Bukan Galerie Lafayette, melainkan Printemps, yang sudah masuk ke Taipei dan Singapura pada saat itu. Printemps akan menggunakan seluruh area ritel Ratu Plaza (diperluas menjadi 23 ribu m2 - redaksi DBG) sebagai store dan base mereka di Indonesia. Store yang mestinya dibuka pada 1998 ini akan direnovasi eksterior dan interiornya, didesain oleh arsitek ternama New York pada zamannya, Tucci Segrete & Rosen Consultants Inc. Mereka lah yang mendesain Saks Fifth Avenue, Bloomingdales, dan banyak department store asal Amerika lainnya.
Berita mengenai renovasi Ratu Plaza, 1996 di Interiors and Contract Design - Google Books

Dan usut punya usut, berikut purwarupa desain mereka yang telah masuk di majalah Interiors dan Contract Design:
Design Printemps Jakarta (Ratu Plaza) oleh Tucci Segrete & Rosen

Persis seperti desain Ratu Plaza sekarang ini, namun dengan tambahan gedung diatas sayap kiri Ratu Plaza sekarang, pohon palem, lebih banyak perpaduan warna merah, dan pengunaan window display yang tersohor di Printemps Paris yang asli. Padahal, desain Ratu Plaza inilah yang menjadi perusak pemandangan (eyesore) di Sudirman sekarang ini.

Seperti yang kita ketahui, krismon 1997 dan amuk massa pada Mei 1998 terjadi. Dan rencana Printemps terakhir untuk buka di Asia, gagal. (Printemps gagal ke Indonesia karena ganti manajemen di tubuh Printemps sendiri. Properti Indonesia No. 47, Desember 1997, hal. 25 - DBG, 6 Juli 2020)

Sebenarnya, pada awal 2000an, dengan eksterior dan interior "baru" tersebut, Ratu Plaza masih mencoba untuk bangkit kembali sebagai mal mewah. Datangnya restoran dan kafe baru yang elit, seperti Cafe Dome pertama di Indonesia, restoran Prancis Le Shoeffle, dan tentunya yang sampai sekarang masih eksis, Outback Steakhouse.
Papan nama Dome Cafe Ratu Plaza, 2001

Lalu, merek Perancis lain berhasil masuk ke market Indonesia, Carrefour, membuka outlet di sini pada tahun 2001. Pada 2006-2007, kita juga melihat bagaimana sistem keamanan memadai edisi 80an yang berada di Ratu Plaza, malah berbuah fatal. Kebocoran pipa gas di basement Ratu Plaza (tempat Carrefour berada) menyebabkan beberapa orang masuk ke rumah sakit. Skandal ini yang membuat nama Ratu Plaza agak tercoreng. Penyegelan oleh Pemprov, sampai Polda pun turun tangan.
Eksterior Ratu Plaza dan Carrefour, 2001

Eksterior Ratu Plaza dan Carrefour, 2001

Namun, akhirnya PT RSI pun sadar mereka belum juga mampu membuat Ratu Plaza jaya dengan mewah dan megah. Akhirnya Ratu Plaza menjadi pusat alat komputer dan teknologi terkemuka Jakarta, dan juga sarang les Bahasa Inggris yang terkenal mahal itu (red. sekarang sudah pindah ke Gandaria City).

Adapun dengan title itu, Ratu Plaza semakin sepi. Toko-toko TIK mulai tutup, karena e-commerce yang semakin besar. Bahkan, sempat ada outlet berita yang memberitakan kosongnya Ratu Plaza, apalagi lantai 4 dan 5 nya.

Runtuh setelah berjaya. Tapi, tetap kita harus memuji Ratu Plaza. Tanpanya, industri ritel Indonesia tidak akan berevolusi, menjadi negeri ratusan mal (tergantung dilihat sisi positifnya atau negatifnya).

Gajah Mada Plaza

Inilah adik angkat dari Ratu Plaza. Sama-sama komplek perkantoran dan pertokoan. Sama-sama elit pada masanya. Sama-sama punya bioskop yang terkenal pada masanya. Sama-sama punya lift kapsul kembar. Sama-sama pakai "Plaza." Tapi, plaza inilah yang membawa konsep department store dalam mal, yaitu Rimo. Plaza ini juga terkenal punya nightclub dan kolam renang diatas. Inilah the former premier shopping destination of the west, jauh sebelum CL, TA, CP menyerang. Gajah Mada Plaza.

Foto DBG, Creative Commons License

Didirikan pada 1984, Gajah Mada Plaza dulu diisi toko perhiasan, arloji, dan aksesoris. Begitupun sekarang, makanya banyak orang kaya lama masih suka pergi ke plaza ini untuk melihat dan membeli perhiasan terbaru.

Interior Gajah Mada Plaza dengan lift kapsul dan air mancurnya, 1985 - Photo: Tempo


Pameran Toyota di Gajah Mada Plaza, 1988 - Photo: Tempo
Dulu, Gajah Mada Plaza juga terkenal akan ikan hiasnya dan aquarium yang dijual.

Gajah Mada Plaza juga memiliki dua bioskop kelas atas legendaris pada kala itu, setara dengan saudara dekatnya Topaz Theatre di Tomang Plaza, dan Djakarta Theatre, Kartika Chandra Theatre, Prince Theatre di Kyoei Sudirman serta Megaria pastinya. Adalah Century Theatre (sekarang Cinema 2 Cinemaxx GMP) dan Galaxy Theatre (sekarang Cinema 1 Cinemaxx GMP). Century Theatre adalah yang lebih sering memutar film Tionghoa, maka bernuansa merah. Lalu Galaxy yang memutar film Barat, maka bernuansa biru. Lalu, pada 90an, Galaxy mentakeover Century, sebelum Galaxy ditakeover penuh oleh jaringan 21 dan dijadikan GM 21. GM 21 ini bertahan lama, sampai 2015 ketika direnov menjadi GM XXI. Walau tidak bertahan lama, karena kontrak XXI habis dan tidak diperpanjang, dan menjadi Cinemaxx.

Gajah Mada Plaza pada akhir 90an sampai awal 2000an menjalani renovasi agar tetap up to date. Untungnya, fasade kaca hitam yang khas itu tidak diganti. Malah dibangun kanopi yang lebih megah, mirip dengan kanopi TA. Tentu ada juga McD pertama di Jakarta Barat. Logo baru pun diresmikan.

Bagaikan jamur di musim hujan, Jakarta dewasa ini semakin marak dengan pembangunan pusat-pusat perbelanjaan baik dengan konsep mall, plaza maupun trade center. Bila harus memilih mall atau plaza mana yang terbaik rasanya sulit diantara sekian banyak konsep one-stop-shopping yang ditawarkan, namun bila harus menunjuk pusat perbelanjaan yang mampu bertahan dengan ciri khas tersendiri dan membuat pengunjung merasa berada di 'community mall', rasanya tidak salah bila memilih Gajah Mada Plaza.

Berbeda dengan kebanyakan daerah-daerah di Jakarta lainnya, daerah sekitar Gajah Mada, Hayam Wuruk, atau lebih terkenal dengan sebutan 'kota' telah menjadi salah satu tempat tujuan masyarakat Jakarta untuk mencari makanan lezat. Produk-produk elektronik, tekstil, perhiasan dan juga beragama hiburan layaknya China Town di berbagai negara dunia Tak dapat disangkal daerah yang dipadati oleh Warga Negara Indonesia keturunan, yang notabene pandai berdagang ini, banyak menyediakan kebutuhan produk-produk berkualitas dengan harga yang bisa dikatakan 'miring'. Bagaimana bila semua kebutuhan tadi datang dalam kemasan suatu bangunan pusat perbelanjaan modern bertingkat 7, mempunyai fasilitas parkir yang memadai, dan juga akses ke jalan yang lancar? Sejak tahun 80-an, masyarakat Jakarta telah mengenal kawasan itu dengan nama Gajah Mada Plaza (GMP), satu-satunya tempat yang menawarkan kemasan mall di daerah kota dan juga favorit di mata masyarakat, khususnya warga Jakarta bagian Barat.

Usaha memperbaiki diri (dari web resmi Gajah Mada Plaza - DBG)

Setelah beroperasi selama kurang lebih 22 tahun, yang menjadi pertanyaan adalah apakah yang membuat GMP tetap menjadi favorit? Tampaknya jawaban paling tepat adalah usaha terus-menerus untuk memperbaharui diri sejak tahun 2000 lalu. GMP dengan manajemen baru yang dipegang oleh J.O Tahta, telah melakukan sejumlah renovasi dalam rangka meningkatkan citranya sebagai pusat perbelanjaan favorit di Jakarta. Renovasi GMP dilakukan secara menyeluruh melalui perbaikan fasilitas gedung, seperti mempercantik lobby utama dan membangun canopy yang megah pada bagian drop-off penumpang, memperluas area parkir, ATM center, telepon umum, lift kapsul, memperbaiki toilet dengan sistem sanitasi yang lebih baik, sampai pada sitem listrik, air dan AC. Selain renovasi fisik, GMP juga mereposisi target market dan memperbaharui jenis tenant-nya. Tujuan utama repositioning ini adalah menuju kepada 'comunity mall' yang menjadi bagian dari kegiatan warga kota sehari-hari, baik sebagai tempat bergaul, bermain, bekerja, bersantai, menjaga kebugaran tubuh, bahkan menambah ilmu

JEWELRY CENTER
Sejumlah keunikan dimilki oleh pusat perbelanjaan ini, namun yang terkini adalah posisinya sebagai jewelry center (pusat perhiasan) terlengkap di ibukota. Sampai saat ini, di GMP terdapat sekitar 40 toko perhiasan ternama yang hampir seluruhnya terpusat di lantai 1 dan 2. Nama-nama seperti Benteng Jewelry, Gold Mart, Dynasty, Alexander Jewelry dan masih banyak lagi adalah sebagai contoh dari nama-nama toko perhiasan yang membuka cabangnya di GMP

COMPUTRADE CENTER
Setelah kerusuhan bedar di Jakarta pada tahun 1998, GMP juga kemudian terkenal sebagai pusat perdagangan komputer dengan nama Computrade Center. Sebagian besar tenant yang mengisi ruang di lantai 3A GMP ini berasal dari toko-toko komputer yang tersebar di daerah kota yang terpaksa menutup tokonya akibat terkena kerusuhan tersebut. Salah satu alasan terkuat yang menjadi keunggulan GMP adalah keamanan, terbukti dengan jangkauan kerusuhan yang tidak mempengaruhi GMP dan juga kenyamanan dan akses yang lebih lancar dibandingkan pusat-pusat komputer lainnya.

AKHIR PEKAN DI GMP
Selain kedua hal tadi, GMP sebagai 'community mall' juga menghadirkan berbagai tenant yang tak kalah dipenuhi pengunjung. Contohnya adalah bioskop GM 21 yang baru salah mengalami renovasi interior, pet center, RIMO department sotre, Millenium International Executive Club berupa Lounge, restoran dan karaoke seluas 8000m2 yang menempati lantai 5, dan sejumlah restoran ternama

Untuk mendatang, GMP juga sedang mempersiapkan hypermarket yang akan menempati lantai semiground seluas 5000m2, bird nest gallery seluas 1000m2 yang menjual beragam produk sarang burung walet, dan juga food court yang tentunya akan menjadikan GMP menjadi tempat yang semakin menyenangkan untuk hang-out bersama orang-orang terdekat Anda.

Jadi, sampai ketemu di GMP!

-website GMP, 2000

Namun, dengan adanya Computrade Center ini, kelas GMP menurun. Tidak lagi mal kelas atas, karena persaingan semakin sengit.

Pada pertengahan 2000an, GMP diambil alih oleh Lippo Malls. Dan pada 2006, Rimo GMP tutup, diganti Matahari. McD tidak buka kembali setelah menjadi ToniJacks pada 2009. Millenium Exec. Club juga tutup pada 2015. Namun, GMP bisa terbilang tetap menikmati keramaian, sebagai mall yang melayani komunitas Gajah Mada.

Begitulah akhir dari cerita saya tentang Para Pionir. Semoga foto-foto dan info ini bisa membuka kembali kenangan indah. Berikut merupakan bagian berikutnya mengenai pusat perbelanjaan di kawasan sekitar Blok M.

Referensi

  1. Data Tempo, sumber gambar
  2. Majalah Properti Indonesia
  3. Majalah Interiors and Contract Design. 1996.
  4. Bisnis (2019). "Ada Gojek, Pasaraya Blok M Targetkan Jadi New Creative Hub". Tempofit (1996). "Dari Printemps sampai PriceSmart". KOMPAS, 29 November 1996.
  5. Website resmi Tucci Segrete & Rosen, diarsip 14 September 1999.
  6. Ahmed Soeriawidjaja; Rudy Novrianto (1985). "Impian dan Kerugian Onggo". Tempo, 7 Desember 1985.
  7. Eddy Herwanto; Biro Tempo (1985). "Jatuh Bangun Pengecer di Plaza-Plaza". Tempo, 7 Desember 1985.
  8. Aryo Adi; Andi Azril (2002). "Puluhan Karyawan Carrefour Ratu Plaza Keracunan". Liputan 6 SCTV, 7 November 2002. Diakses 23 September 2019. (arsip)
  9. Website resmi Sarinah, diakses 23 September 2019.
  10. Website resmi Gajah Mada Plaza, diarsip 25 Juli 2003.
  11. Google Images

Komentar

Yang banyak dibaca seminggu terakhir

Sinarmas Land Plaza Surabaya (terbaru 13 Juli 2020)

Mal Ciputra Jakarta (terbaru 17 Maret 2020)

Hotel Sari Pacific (terbaru 17 Oktober 2019)

Sejarah Pusat Perbelanjaan Jakarta - Bab II: Lintas Melawai

Ratu Plaza (terbaru 6 Juli 2020)