Posts

Showing posts from April, 2020

Sejarah Pusat Perbelanjaan Jakarta - Bab II: Lintas Melawai

Image
Salam kenal, saya Modar Jaya Abadi, salah satu forumer di SkyscraperCity Indonesia. Saya diberi kesempatan untuk menjadi Guest Blogger di SGPC, untuk post intermezzo mengenai pusat perbelanjaan di Indonesia, terutama Jakarta. Pada kesempatan ini, izinkan saya untuk merangkum dan menulis ulang seri postingan saya di thread Shopping Malls in Indonesia, mengenai pusat perbelanjaan yang menurut saya telah berdampak besar ke dunia ritel Jakarta. Ini adalah post kedua Sejarah Pusat Perbelanjaan Jakarta, mengenai para ikon mejeng Lintas Melawai, Pasaraya Blok M, Aldiron Plaza, dan Blok M Plaza. Jalan sore, kita berjalan-jalan sore-sore Mencuci mata sambil berngeceng ria Biarkan, biarlah.. Mumpung kita-kita masih muda Blok M dan Melawai. Suatu daerah di Jakarta Selatan yang sekarang mulai dikenal kembali karena M Bloc Space besutan alm. Glenn Fredly. Namun, sebelum itu, Blok M tentunya mempunyai masa kejayaan. Masa-masa dimana dapat disandingkan dengan Orchard Road yang waktu itu belu

Sejarah Pusat Perbelanjaan Jakarta - Bab I: Pionir

Image
Salam kenal, saya Modar Jaya Abadi, salah satu forumer di SkyscraperCity Indonesia. Saya diberi kesempatan untuk menjadi Guest Blogger di SGPC, untuk post intermezzo mengenai pusat perbelanjaan di Indonesia, terutama Jakarta. Pada kesempatan ini, izinkan saya untuk merangkum dan menulis ulang seri postingan saya di thread Shopping Malls in Indonesia, mengenai pusat perbelanjaan yang menurut saya telah berdampak besar ke dunia ritel Jakarta. Ini adalah post perdana Sejarah Pusat Perbelanjaan Jakarta, mengenai para pionir dari seribu mall Jakarta, Sarinah Thamrin, Ratu Plaza, dan Gajah Mada Plaza. "Waktu itu, Jakarta belum memiliki tempat perbelanjaan yang memadai. Yang ada hanya kios-kios. Sudah pantas, Jakarta memiliki perkantoran, pertokoan, dan sekaligus tempat tinggal yang bagus lagi nyaman." Henry Onggo, pendiri PT. Ratu Sayang Internasional (Ratu Plaza) Catatan DBG: untuk standarisasi, judul dan sebagian teks dialihbahasakan ke bahasa Indonesia. Sebelumny

Menara Batavia

Image
Menara Batavia, sebuah gedung perkantoran berlanggam pascamodern yang dirancang oleh Architects Pacific (Arcpac) bersama dengan Perentjana Djaja dan dibangun oleh J.O. Shimizu Corporation dengan Dextam mulai tahun 1994 dan selesai dibangun pada bulan Mei 1996 dan kemungkinan dibuka pada bulan Agustus 1996 (berdasarkan iklan di harian KOMPAS edisi 1 April 1996, estimasi ini bisa tidak akurat karena lama pembangunan bisa lebih cepat atau lebih lambat)  (1) (2) (4) .

Apartemen Mitra Sunter (terbaru 24 Oktober 2020)

Image
Salah satu bagian dari kawasan Mitra Sunter, selain Wisma SMR yang penulis sudah tuliskan sebelumnya dan rukan 3 lantai yang tidak menonjol, adalah Apartemen Mitra Sunter. Apartemen yang dikembangkan oleh PT Sumber Mitrarealtindo ini dirancang oleh tim arsitek Perentjana Djaja  (1) (2)  dan dibangun oleh pemborong swasta Multi Corporindo  (3)  mulai tanggal 12 Juli 1994 hingga selesai dibangun sekitar Desember 1995  (3) (5) , dan sudah dihuni sejak Maret 1996  (4) (5) . Gedung kembar ini tutup atap pada bulan Agustus 1995  (5) .

Menara Rajawali

Image
Gedung berlantai 27 dengan 1 basement ini merupakan satu dari beberapa bangunan komersial di kawasan Mega Kuningan, kompleks bisnis diantara Jalan Gatot Subroto, Jalan H.R. Rasuna Said dan Jalan Dr. Satrio, Jakarta. Dirancang oleh Timothy Seow dan Team 4 Architects, gedung yang sekarang masih dimiliki oleh Grup Rajawali ini dibangun oleh JO Samsung dan Duta Graha Indah, mulai bulan Desember 1995 dan selesai dibangun pada bulan Desember 1997. Biaya pembangunan Menara Rajawali mencapai 115 milyar rupiah nilai 1996, setara 50 juta dolar AS.

Kritik Arsitektur dari koran lama, dengan komentar dari sudut pandang orang biasa

Image
Penulis menemukan pelbagai tulisan kritis mengenai arsitektur Indonesia, mulai dari tahun 1980an sampai 2000an. Kritik pertama dilayangkan oleh Suharso Monoarfa di harian KOMPAS (20 Januari 1981), kedua merupakan kritik yang lebih keras dan cenderung chauvinist, terbit di harian Republika pada 17 Oktober 1993, dan yang ketiga mengenai pembangunan bangunan tinggi di Jakarta oleh Marco Kusumawijaya, di harian KOMPAS terbitan 19 Maret 2000. Ketiga tulisan arsitektur ini akan dibahas dan dikritik dari segi pandangan dari data-data yang dikumpul oleh SGPC.

Tunjungan Plaza

Image
Skyscrapers Galore. Gedung lebih barunya akan dijelaskan lain bagian. Foto DBG,  Tunjungan Plaza, atau sekarang bekennya bernama Tunjungan City, adalah kompleks perbelanjaan, hunian, dan bisnis di Surabaya milik pengembang putra daerah, PT Pakuwon Jati Tbk. Mall yang sangat familiar bagi  Dilanowcy  Suroboyoan karena konsep lifestyle dan "instagrammable" ini memiliki lebih dari 250 ribu meter persegi luas lantai total dan 103 ribu meter persegi luas lantai yang bisa disewakan, melingkupi lahan seluas 76 ribu meter persegi dan 6 tahap pembangunan. Sebelum 2014. Foto DBG,  Secara keseluruhan, masterplan Tunjungan Plaza dirancang masterplannya oleh Parama Loka Consultant bekerjasama dengan Peddle Thorp dari Australia, namun desain arsitektur kompleksnya dilakukan firma yang berbeda-beda per tahapannya dan pengembangannya telah berjalan selama lebih dari 30 tahun. Tulisan ini meliputi bagian Tunjungan Plaza yang dibangun dari 1986 sampai 2001. Untuk gedung terba

Tunjungan Plaza (bagian 2)

Image
Skyscrapers Galore. Artikel ini hanya membahas gedung di kanan. Foto DBG,  Tunjungan Plaza, atau sekarang bekennya bernama Tunjungan City, adalah kompleks perbelanjaan, hunian, dan bisnis di Surabaya milik pengembang putra daerah, PT Pakuwon Jati Tbk. Mall yang sangat familiar bagi  Dilanowcy  Suroboyoan karena konsep  lifestyle  dan "instagrammable" ini memiliki lebih dari 250 ribu meter persegi luas lantai total dan 103 ribu meter persegi luas lantai yang bisa disewakan, melingkupi lahan seluas 76 ribu meter persegi dan 6 tahap pembangunan. Bagian kedua ini membahas Tunjungan Plaza V dan Tunjungan Plaza VI lengkap dengan tower-towernya. Hotel Four Points yang seangkatan dengan TP V dan TP VI tidak ikut dijelaskan di bagian ini, melainkan bisa dilihat di bagian pertama bersama dengan bagian Tunjungan Plaza yang lama. Walau tulisan ini sebenarnya bukan ruang lingkup blog (Setiap Gedung Punya Cerita tetap berpedoman pada limit tahun terbaru 2002), karena penulis ing