Posts

Showing posts from March, 2020

Hotel Lumire Jakarta (terbaru 2 September 2020)

Image
Foto DBG,  Hotel Lumire Jakarta, dahulu bernama Hotel Dai-Ichi Jakarta (1993-1998) dan Aston Atrium Senen Hotel (1999-2009) (1)(3) , adalah hotel berlantai 16 dan 2 basement dengan 343 kamar yang tersedia saat ini, di kawasan Segitiga Senen . Hotel Lumire adalah gedung terakhir yang dibangun di kawasan Segitiga Senen dan dibangun oleh J.O. Wijaya Karya dengan pemborong dari Jepang Tekken Corporation, mulai Oktober 1991 hingga rampung pembangunannya pada bulan November 1993  (1) . Ongko Group yang sebelumnya memiliki proyek ini bersama Grup Gemala merogoh biaya Rp 130 milyar rupiah untuk mengembangkan proyek ini  (1) (4) . Hotel rancangan tim arsitek dari Atelier 6 ini masih melanjutkan ciri khas tetangganya sebagai bagian dari Segitiga Senen , yaitu dominasi bentuk kotak pada podium, tetapi berbeda dengan tetangga sebelahnya, yaitu Menara Cowell , desain towernya jauh lebih luwes dengan lengkungan dan fungsional agar bisa memaksimalkan ruang yang ada  (1) . Hotel Lumire Jakarta

Plaza Atrium (terbaru 30 September 2020)

Image
Foto DBG,  Plaza Atrium adalah sebuah pusat perbelanjaan berlantai 6 dengan 1 basement, dengan luas lantai mencapai 66 ribu meter persegi, kemungkinan diperluas, yang menjadi bagian dari revitalisasi kawasan Segitiga Senen sejak awal tahun 1990  (1) . Mal Plaza Atrium, sekarang milik Grup Cowell Development sejak November 2012  (2) , dirancang oleh sayap lokal Denton Corker Marshall, PT Duta Cermat Mandiri dan dibangun oleh pemborong swasta Duta Graha Indah mulai bulan Januari 1991 dan selesai dibangun pada bulan Juli 1992  (1) . Mal Plaza Atrium, sebelumnya bernama The Atrium, diresmikan oleh Wiyogo Atmodarminto pada tanggal 21 Agustus 1992  (3) , bersamaan dengan peresmian Gedung Perkantoran Atrium di sebelahnya. Dalam waktu yang bersamaan, beberapa tenant seperti Yaohan  (10) , bioskop Cineplex 21 Atrium, Church's Texas Fried Chicken, KFC dan

Cowell Tower

Image
Atau disebut juga dengan Menara Cowell, atau Graha Atrium, atau Bunas Center, atau Gedung Bunas. Foto DBG,  Gedung berlantai 16 dengan luas lantai 32 ribu meter persegi sudah termasuk parkiran ini dirancang oleh tim arsitek dari Atelier 6, dan strukturnya dirancang oleh Limaef (1) . Pembangunan Graha Atrium, dikembangkan oleh Indokisar Djaya milik Grup Ongko, dilakukan oleh pemborong swasta Total Bangun Persada mulai September 1990 hingga selesai dibangun pada akhir Agustus 1992, dan diresmikan bersamaan dengan peresmian Mall Plaza Atrium Senen pada tanggal 21 Agustus 1992  (1) (5) . Sebulan kemudian Bank Umum Nasional milik Grup Ongko, pindah ke gedung ini dan menjadi kantor pusat hingga krisis moneter 1998  (2) . Desain gedung perkantoran Menara Cowell sebelum direnovasi oleh pihak Cowell, memang dirancang lebih selaras dengan daerah sekitarnya, terutama podiumnya yang mengikuti dominasi bentuk segi empat pada gedung-gedung sekitarnya ( Plaza Atrium , Hotel Lumire dan

Segitiga Senen: Sejarah dan Selayang Pandang

Image
Suasana Segitiga Senen, 1987. (C) Tempo Segitiga Senen adalah sebuah kompleks bisnis yang memadukan pusat perbelanjaan, perkantoran dan hotel yang berada di dalam kawasan "Segitiga" di Senen, Jakarta Pusat, berlokasi di dekat Pasar Senen, segi empat Kalilio alias kawasan Mitra Oasis, dan Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat, atau RSPAD. Sejarah 1960an - Oktober 1988 Proyek peremajaan kawasan yang dulunya merupakan ruko-ruko kumuh dari era Belanda  (108) tersebut, bernama Vinckepasser, sudah dicanangkan dan direncanakan sejak 1962 (103) atau 1965  (201) , bergantung sumber, saat PT Pembangunan Jaya bekerjasama dengan Pemerintah DKI Jakarta ingin merombak kawasan Senen  (201) . Tidak ada informasi lebih lanjut mengenai bagaimana tata loka dari kawasan Senen di tahun 1960an yang dicanangkan Jaya dan Pemda DKI, terutama ditengah kondisi politik yang bergejolak. Baru pada tanggal 15 Juli 1974, Walikota Jakarta Pusat, Eddy Djadjang Djajaatmadja, sudah mencetuskan ide ters

Kedutaan Besar Uni Soviet

Image
Sumber: Sinar Harapan, 17 April 1976. Koleksi Perpustakaan Nasional RI Gedung Kedutaan Uni Soviet dibangun mulai 14 Mei 1974 dalam sebuah upacara penanaman kepala kerbau oleh Menteri Luar Negeri Indonesia Adam Malik dan Dubes Soviet untuk Indonesia Pavel Kuznetsov  (1) . Kedutaan Uni Soviet dibangun di area yang sama dengan Kedutaan Jepang, Australia dan Jerman Timur dan Hotel Asoka . Tahun 1976 gedung tersebut sudah selesai dibangun  (3)  dan diresmikan penggunaannya oleh Menlu Indonesia ad interim Mochtar Kusumaatmadja dan Dubes Soviet untuk Indonesia Ivan F. Shpedko pada tanggal 22 Desember 1977  (2) . Uniknya, rival Soviet di masa Perang Dingin, Perancis dan Inggris, dikabarkan oleh harian KOMPAS, hadir di hajatan peresmian kedutaan Soviet di Jakarta, dan seluruh pihak yang hadir hanya bisa melihat 2 lantai pertama gedung yang sejatinya berlantai 12 tersebut  (2) . Tidak diketahui siapakah arsitek asal Soviet yang merancang gedung ini bersama dengan Arkonin  (5) . Interio

Hotel Grand Preanger (terbaru 28 September 2020)

Image
Keindahan gedung lamanya menyihir mata banyak orang. Foto DBG,  Hotel Prama Grand Preanger adalah sebuah hotel bersejarah yang berlokasi di Jalan Asia Afrika, Bandung. Berlokasi di daerah strategis, Prama Grand Preanger kaya akan sejarah, dan gedung rancangan C.P. Wolff Schoemaker, guru arsitektur Presiden masa depan Indonesia Soekarno, inilah yang sering dibahas oleh bumi Internetsentris Indonesia dan Dilanowcy fanatik arsitektur era kolonial. Maka tulisan blog untuk bagian sejarah, karena menurut penulis dianggap merupakan  reinventing the wheel , akan penulis hindari dalam pembuatan blog ini. Bila anda ingin membacanya, bacalah referensi nomor  (1) (2) untuk informasi lengkap tentang gedung era kolonialnya (foto atas). Sejarah gedung ekspansi Grand Hotel Preanger ditutup pada 1 Juni 1987  (7) , dalam rangka ekspansi dan renovasi hotel. Gedung berlapis emas era Dilan. Foto DBG,  Pembangunan ekspansi vertikal Hotel Grand Preanger, bersama dengan renovasi gedung laman

Bandung Indah Plaza (terbaru 12 September 2020)

Image
Kawasan Bandung Indah Plaza saat ini. Foto DBG,  Bandung Indah Plaza (BIP), berlokasi di Jalan Merdeka Bandung, adalah pusat perbelanjaan besar, seluas 2,3 hektar yang dibangun di ibukota Jawa Barat. Memiliki 4 lantai dan 1 basement, ditambah hotel Aryaduta Bandung yang berlantai 15 (dijelaskan di bagian lain di tulisan ini), BIP dibangun di atas lahan dari beberapa instansi mulai dari Hotel Pakunegara "yang indah dan patut dilestarikan"  (A9) , DAMRI, Bank Jabar, Kimia Farma, PT Perkebunan hingga salah satu pemilik tanah swasta  (A2) . Pemilihan lokasi mall di eks Hotel Pakunegara kala itu, dianggap berani karena berlokasi di daerah yang jauh dari keramaian, walau pada akhirnya BIP ramai pengunjung saat pembukaan  (A11) . Salah satu blogger Kota Kembang menyebutkan di masanya BIP menjadi tempat berkumpul kalang

Apartemen Permata Senayan

Image
Foto DBG,  Dibangun di atas lahan seluas 4.720 meter persegi, Apartemen Permata Senayan adalah apartemen kelas menengah yang dikembangkan oleh Grup PSP (Putra Surya Perkasa) dan dibangun mulai Oktober 1996  (1)  dan selesai dibangun sekitar Juni 1998  (1) (2) (3) , belum menghitung potensi pembangunan yang lebih cepat rampung, atau terlambat dari jadwal. Pembangunannya sendiri sudah topping-off pada tanggal 25 September 1997  (3) . Tidak ada data soal siapakah arsitek dan pemborong gedung tersebut. Apartemen Permata Senayan yang memiliki 24 lantai ini hanya memiliki 1 tower dengan 180 unit  (1) (2) , terdiri dari 176 unit hunian dan empat penthouse, dan dipasarkan ke kalangan menengah Jakarta kala itu (2) (4) . Grup PSP menghabiskan 40 milyar rupiah (setara Rp 303 milyar nilai 2020) untuk membangun apartemen ini  (4) . Referensi ira (1996). "Info Jabotabek: Pembangunan Apartemen". KOMPAS, 26 Oktober 1996 win/br-1 (1996). "PSP Segera Pasarkan Permata Senayan

Wisma Bumiputera Bandung (terbaru 25 Mei 2020)

Image
Foto DBG,  Wisma Bumiputera Bandung, sebuah gedung bergaya modernisme akhir, dibangun mulai Februari 1991 hingga Maret 1992 dan diresmikan oleh Gubernur Jawa Barat Yogie Suardi Memet pada tanggal 1 September 1992. Wisma Bumiputera Bandung dirancang oleh Atelier 6 dan dibangun oleh Pembangunan Perumahan. Gedung ini merupakan gedung tinggi generasi pertama di Kota Kembang yang banyak dibangun di tahun 1980an dan 1990an. Asuransi Jiwa Bersama Bumiputera 1912 selaku pemilik gedung mengatakan bahwa mereka merogoh kocek 16,1 milyar rupiah untuk membangun gedung perkantoran lantai 11 ini. Sayangnya, penilaian kontemporer-internetsentris terhadap gedung ini sangat miring karena dibangun di atas Gedung Singer rancangan F.W. Brinkman "yang patut dilestarikan" dan dibongkar setelah pembangunan Wisma Bumiputera ini selesai. Data dan fakta Nama lama: Bandung Business Centre Alamat: Jalan Asia-Afrika No. 141-149 Bandung Arsitek: Atelier 6 Pemborong: Pembangunan Perumahan

Plasa Simpang Lima

Image
Besar dan modern di masanya. Foto DBG,  Plasa Simpang Lima (bukan Plaza, karena Plasa berarti Pelataran Serba Ada ) adalah mal pertama di kawasan Simpang Lima Semarang, dibangun dalam dua tahap, mulai 1988-1990 untuk tahap pertama, dan 1998-2002 untuk tahap kedua. Untuk tahap pertama Plasa Simpang Lima dirancang bersama oleh tim arsitek dari Pola Dwipa dan Tripanoto Sri Konsultan dan dibangun oleh Jaya Konstruksi dan Sarana Dwipa. Plasa Simpang Lima dibuka pada rentang Maret dan April 1990, diawali dengan pembukaan toko-toko lokal seperti Toko Sepatu Virgo dan Matahari Department Store yang pembukaannya diumumkan lewat harian Suara Merdeka. Saat ini, Plasa Simpang Lima memiliki beberapa tenant beragam seperti toko ponsel, kedai teh, toko komputer hingga rumah makan siap saji. Plasa Simpang Lima memiliki bangsal konvensi di lantai 6 bernama Yudhistira, dibangun sebagai pengganti Wisma Pancasila yang dibongkar sebelumnya (foto di bawah). Wisma Pancasila yang dibongkar untuk pr

Mal Ciputra Semarang

Image
Megah dan ikonik walau masih muda. HI-nya Simpang Lima Semarang. Foto DBG,  Pusat perbelanjaan dan hotel milik Grup Ciputra ini merupakan satu dari empat pusat perbelanjaan yang berlokasi di kawasan Simpang Lima. Mal Ciputra, yang lebih menonjol dengan Hotel Ciputranya, dibangun di atas lahan seluas 2 hektar yang sebelumnya merupakan lahan GOR Simpang Lima Semarang. Mal Ciputra dibangun dalam dua tahap; tahap pertama, yaitu pusat perbelanjaan, selesai dibangun pada bulan Desember 1993 dan dibuka pada tanggal 12 Desember 1993; dan tahap kedua, yaitu Hotel Ciputra yang berbintang lima, dibuka pada tanggal 10 Desember 1995. Awal rencananya muncul sejak Agustus 1989. Kala itu, PT Karya Andarila membeli GOR beserta tanahnya dari Pemprov Jawa Tengah dengan tebusan 11,8 milyar rupiah (senilai Rp 156 milyar nilai 2019), dengan maksud ingin membangun hotel dan pusat perbelanjaan (2)(3) . Penyebab penjualan pusat olahraga legendaris tersebut tidak jauh dari kondisi GOR Simpang Lima

Gedung Radio Republik Indonesia (terbaru 11 April 2020)

Image
Gedung RRI sekarang Foto oleh Eko Maryono di Flickr Gedung Radio Republik Indonesia dibangun sebagai perluasan kawasan RRI pusat di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, menggantikan gedung lamanya yang dibangun di era kolonial Belanda sebagai gedung NIROM (Nederlandsch-Indische Radio Omroep Maatschappij, Maskapai Siaran Radio Hindia Belanda), dan sempat direbut oleh Jepang dan Sekutu di era revolusi, dan kelompok G30S di era akhir Orde Lama. Tidak ada data berapa lama pemborong Telaga Agung Utama membangun gedung ini; Gedung RRI diresmikan pemakaiannya oleh Menteri Penerangan Mashuri pada tanggal 2 April 1977, dan dibangun dengan biaya 1,1 milyar rupiah nilai 1977. Gedung berlantai 8 ini bergaya modernis dan sudah mengalami renovasi dua kali; awalnya gedung ini memiliki polesan marmer buatan dalam negeri dan ornamen aluminium menyerupai jaring. Sayang kedua fitur ini sudah tiada dan diganti oleh jendela biasa dan cat. Renovasi pertamanya justru menghilangkan fitur ini, menyisak