Wisma 46

Tulisan ini merupakan seri ketiga dari tiga seri tulisan mengenai Kompleks Kota BNI. Selamat Tahun Baru 2020.

Wisma 46
Pena Indonesia. Foto pribadi, Creative Commons License

Wisma 46, gedung perkantoran bergaya pena ini dirancang oleh Zeidler Robert Partnership bersama DP Architects dan diborong pembangunannya secara kerja sama oleh BUMN Waskita Karya dan Société Auxiliaire d'Entreprises; ini adalah proyek kedua mereka setelah Hotel Shangri-La (1).

Dikembangkan oleh Swadharma Primautama, yang merupakan kerjasama Dana Pensiun BNI, Grup Salim, dan Grup Lyman, Wisma 46 adalah lanjutan dari proyek Kota BNI setelah Kantor Besar BNI dan Hotel Shangri-La (1).

Gedung berketinggian 262 meter dengan 51 lantai ini tercatat sebagai gedung tertinggi di Indonesia selama 19 tahun, mulai 1996 hingga 2015, tahun dimana tinggi gedung disalip oleh Menara Gama di kawasan Jalan H.R. Rasuna Said sejak 2016. Desain Wisma 46 yang cukup menarik untuk dilihat ini terinspirasi oleh kapal phinisi yang menjadi logo Bank Negara Indonesia 1946 saat itu (1988-2004) (1). Bukan kejutan lagi, dengan desainnya yang khas, Wisma 46 menjadi simbol dan ciri khas Kota Jakarta (3).

Kota BNI
Dilihat dari Hotel Alia Cikini.
Foto pribadi, Creative Commons License
Pembangunan Wisma 46 dimulai dari pemasangan pondasi tiang pancang bor pada bulan November 1992 dan selesai dibangun per November 1996 (1)(2). Finishing Wisma 46 memakai cetakan beton dan lapis kaca; untuk "kepala pena"nya menggunakan lapis kaca yang dirancang khusus agar kuat diterpa siklus angin di Jakarta. Wisma 46 dilengkapi dengan 24 unit lift, salah satunya memiliki kecepatan 360 meter/menit (3).

Saat ini tercatat beberapa bank, rumah makan, dan pertokoan menggelar gerainya di podium gedung yang memiliki luas lantai total 127.898 meter persegi ini (1), juga ruang perkantoran Jakarta Serviced Office yang menempati lima lantai teratas (8). Info lengkap bisa anda lihat di web resmi Wisma 46 (4).

Sejumlah perusahaan juga berkantor di gedung ini, seperti Nikon, Brother, Lenovo, Accenture, hingga Mandom yang berpindah dari kantor lamanya (5). Per tahun 2000, di masa jaya Wisma 46, 8 ribu orang bekerja di gedung ini (6).

Pada tanggal 7 Juni 2000, seorang pialang valas terjun dari lantai 37 Wisma 46, akibat menanggung kerugian besar dalam perdagangan valas yang diduga oleh polisi senilai setara dengan Rp 5 milyar nilai 2019 (7).

Hanya itu saja tulisannya mengenai gedung tertinggi di Indonesia di tahun 1990an dan 2000an? Ya, kenapa lagi?

Data dan fakta

  • Nama lama: BNI City Tower
  • Alamat: Jalan Jenderal Sudirman Kav. 1 Jakarta
  • Arsitek:
    • Zeidler Roberts Partnership (arsitek desain)
    • DP Architects (architect of record)
  • Pemborong:
    • Waskita Karya - Société Auxiliaire d'Entreprises J.O.
  • Lama pembangunan: November 1992 - November 1996
  • Jumlah lantai: 50 + 2 basement
  • Tinggi gedung: 262 meter
  • Biaya pembangunan: Rp 351 milyar/USD 150 juta (1996, setara Rp 2,7 triliun rupiah nilai 2020)
  • Signifikasi:
    • Arsitektur (bergaya pena dan tertinggi dua dekade)
    • Pariwisata (landmark kota Jakarta dan ikon Indonesia modern)

Referensi

  1. Umi Suswatiani (1996). "Wisma 46 - Kota BNI: Menambah nuansa sky line kota Jakarta". Majalah Konstruksi No. 239, November 1996.
  2. fan (1994). "BNI City Tower Dibangun Setinggi 46 Lantai". Republika, 8 Desember 1994.
  3. Rohani Tanasal (tanpa tanggal). "Gedung Berbentuk Pena itu Bernama Wisma BNI 46". Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, diakses 16 Oktober 2019. (arsip)
  4. Web resmi Wisma 46, diakses 16 Oktober 2019. (arsip)
  5. Web resmi: Nikon Indonesia (arsip), Brother Indonesia (arsip), Lenovo Indonesia (arsip), Accenture (arsip), Mandom Indonesia (arsip). Diakses 16 Oktober 2019
  6. LOK/p08 (2000). "One Stop Building: Kenyamanan Bagi Kaum Profesional". KOMPAS, 2 Juli 2000.
  7. drm (2000). "Diduga Rugi Besar dan Stres: Pialang Valuta Asing Terjun dari Lantai 37 Wisma 46". KOMPAS, 8 Juni 2000.
  8. Web resmi Jakarta Serviced Office, diakses 17 November 2019. (arsip)

Lokasi

Comments