Ratu Plaza (update 22 Februari 2020)

Ratu Plaza merupakan gedung pertama di Indonesia yang merupakan sebuah superblok, yaitu kompleks yang menggabungkan - dalam hal Ratu Plaza - pusat perbelanjaan, apartemen dan perkantoran. Dimiliki oleh perusahaan PT Ratu Sayang Internasional, superblok Ratu Plaza terdiri dari perkantoran, pusat perbelanjaan dan apartemen, yang dirancang oleh sayap arsitek dari pemborong Jepang Kajima Corporation, bersama dengan PT Indramaya sebagai partner lokal (1). Untuk strukturnya digarap oleh Institut Mekanika Struktur Muto (Muto Institute of Structural Mechanics, pimpinan Kiyoshi Muto, yang juga orang Kajima) (4) bersama dengan Wiratman Wangsadinata, dan Roosseno sebagai penasihat teknis struktur (1).

Ratu Plaza
Pionir dari superblok di Indonesia. Foto SGPC, Creative Commons License

Kompleks Ratu Plaza dibangun sebagai imbas dari perkembangan kota Jakarta yang semakin padat dan kompleks, dengan laporan adanya kemacetan yang menjadi masalah kronis di bilangan Jenderal Sudirman hingga kini, membuat Ratu Sayang Internasional mengembangkan ide menyatukan keseluruhan mall, perkantoran, rekreasi dan apartemen ke dalam sebuah kompleks (1), sebuah prototipe dari superblok yang kita kenal selama ini.

Konstruksi proyek Ratu Plaza mulai diadakan pada bulan April 1977 dengan penggarapan pondasi dan basement, dan keseluruhan pembangunan selesai mulai Februari 1980 untuk apartemen, April 1980 untuk pusat perbelanjaan dan Juli 1980 untuk gedung perkantoran (1). Adapun pemborong pembangunan Ratu Plaza adalah Waskita Kajima untuk struktur bangunan, dan tak kurang dari 80 perusahaan lain ikut menggarap dan menyalurkan materialnya untuk proyek terakbar di Indonesia di akhir dekade 1970an (1).
Iklan yang berisi bisnis yang menghuni Ratu Plaza, 1980 - dari koran Sinar Harapan 12 Desember 1980
Iklan Ratu Plaza yang mencantumkan nama
penghuni mall.
Sumber: Sinar Harapan, 12 Desember 1980
(koleksi Perpustakaan Nasional RI)

Pemasaran awal dari kompleks Ratu Plaza dimulai sejak sekitar Juni 1978 (7), untuk mengejar target awal pembukaan tahun 1979 untuk pertokoan. Tetapi proyek tersebut molor dari jadwal karena pada Januari 1979, Jakarta dilanda hujan deras (1). Keseluruhan, proyek Ratu Plaza diresmikan pada tanggal 12 Desember 1980 oleh Gubernur DKI Jakarta Tjokropranolo (8), dengan biaya pembangunan 47 juta dolar Amerika Serikat, setara dengan 29,4 milyar rupiah nilai 1980 (1), bila dihitung dengan inflasi, setara dengan 830 milyar rupiah nilai 2019.

Sepertinya, PT Ratu Sayang Internasional selaku pengelola terlalu percaya diri untuk mengembalikan modal sebesar hampir 30 milyar rupiah kala itu. Pengelola Ratu Plaza dilaporkan rugi gara-gara tingginya bunga pinjaman saat itu, dan pada September tahun 1985, Ratu Plaza menaikkan harga sewanya hingga dua kali lipat, memicu protes dari penghuni (15)(16).

Arsitektur, Struktur dan Fitur

Apartemen Ratu Plaza

Sepertinya komponen ini yang paling jarang dibahas di dunia maya bila membicarakan Ratu Plaza. Apartemen dengan 13 lantai (18 bila termasuk lantai ritel) ini menampung 44 unit apartemen yang terdiri dari 36 unit apartemen biasa dan 8 unit maisonette (1)(2) - unit apartemen berlantai 2. Total luas lantai kasar apartemen setinggi 59 meter* ini adalah 9.833 meter persegi (1)(2). Eksterior bangunan menggunakan lapis beton biasa (2).

Gedung Perkantoran Ratu Plaza/Ratu Plaza Office Tower

Ratu Plaza Office
Foto Ronniecoln, Creative Commons License
Sebenarnya gedung inilah yang paling menonjol diantara kompleks Ratu Plaza, dan yang paling terakhir dibangun, karena baru rampung dibangun pada bulan Juli 1980 (1). Gedung berlantai 32 lantai ini memiliki ketinggian 108 meter*, menjadikannya gedung tertinggi kedua di Jakarta saat itu setelah Balai Kota DKI Jakarta (1). Dengan luas lantai total 30.662 meter persegi, gedung yang pernah bernama AXA Centre suatu hari di dekade 2000an ini dibangun dengan sistem konstruksi tube-in-tube yang terdiri dari rangka frame luar dan core dalam (1). Eksterior gedung ini memanfaatkan precast panel dan lapis jendela (1). Tujuh buah lift Ratu Plaza Office Tower merupakan yang termaju di zamannya dengan komputerisasi dan kecepatan 210-310 meter per menit (1).

Tenant-tenant yang tercatat pernah berkantor di Ratu Plaza pada tahun 1980an terdiri dari Stanvac, Mobil (ExxonMobil), Mitsubishi Group, Union Oil (Unocal), hingga Marubeni Corporation (1). Di era modern, AXA (kini di Kuningan City), Hanwha Life (kini di WTC Jakarta), Wall Street English, dan stasiun radio di bawah naungan grup Masima juga pernah berkantor di gedung ini.

Hingga tulisan ini dimuat, tak banyak instansi yang berkantor di gedung ini, contohnya Indosterling dan KPP Pratama Jakarta Kebayoran Baru 4.

Mall Ratu Plaza

Ratu Plaza oleh Tatan Rustandi
Ratu Plaza, 1995,
dengan desain arsitektur podium pra-renovasi.
Foto: Tatan Rustandi/Properti Indonesia

Dan terakhir adalah Mall Ratu Plaza yang sangat populer dan berjaya di dekade 1980an (5). Mall ini memiliki luas lantai total 58.084 meter persegi dengan 5 lantai dan 2 basement, dihuni oleh nama-nama besar seperti Supermarket Gelael, Toko Gunung Agung, Batik Keris, Revlon, Lancome, Sepatu Bata, Rudy Hadisuwarno bahkan Etienne Aigner (1)(16). Mall ini juga memiliki lift kaca pertama di Indonesia; sayangnya lift tersebut sudah dicabut (1).

Interior Ratu Plaza sebelum renovasi. Foto Toky/Konstruksi, Aug 1980
Interior Ratu Plaza, 1980. Dengan lift kaca
yang sayangnya sudah dibongkar.
Sumber: Majalah Konstruksi, Agustus 1980

Tapi kejayaan tersebut tak bertahan lama. Dekade Dilan adalah masa surutnya Ratu Plaza. Laporan majalah Properti Indonesia edisi Juni 1995 menyebutkan bahwa department store Matahari (yang datang sedikit belakangan) juga pernah menempati Ratu Plaza, selain itu juga disebutkan Levi's pernah menempati ruang ritel mall yang saat itu baru berusia 15 tahun (3).

Laporan dari majalah Properti Indonesia menyebut luas lantai bersih yang relatif kecil terhadap mall-mall rival, sebesar 16 ribu meter persegi, dan dengan ketatnya persaingan mall-mall besar turut menjadi penyebab tumbangnya kejayaan Ratu Plaza di tahun 1990an (3). Pada tahun 1996, department store asal Perancis, Printemps, berencana menggelar tokonya di Indonesia, bahkan sampai membonceng firma arsitektur mall terkemuka Amerika, Tucci Segrete & Rosen, untuk merenovasi eksterior Ratu Plaza demi kehadiran Printemps (13)(14). Santer beredar kabar di kalangan kaum trendy bahwa Printemps gagal ke Indonesia akibat kerusuhan Mei 1998, tetapi renovasi Printemps menjadi bagian permanen gedung ini.

Tetapi, sejak sekitar tahun 2000, hypermarket asal Perancis, Carrefour mulai menempati lantai terbawah dari Ratu Plaza (9), hingga pada bulan Mei 2008 ditutup permanen sebagai buntut dari rentetan kasus keracunan gas karbon monoksida yang terjadi sejak 2002 hingga 2008 (10)(11)(12). Di dekade yang sama, citra Ratu Plaza berubah dari mall biasa menjadi pusat perbelanjaan gawai dan komputer. Baru sejak 7 Oktober 2010 (6), Lotte Mart menempati mall berusia 30 tahun tersebut, bersama dengan beberapa outlet makanan siap saji dan toko gawai yang mendominasi hunian Ratu Plaza.

* - Disclaimer mengenai tinggi gedung

Terdapat banyak versi mengenai tinggi gedung Ratu Plaza yang ironisnya berasal dari sumber yang sama. Penulis menggunakan Majalah Konstruksi edisi Agustus 1980 (selanjutnya tertulis Konstruksi) dan Cipta edisi No. 58/1981 (selanjutnya tertulis CIPTA) untuk pengutipan pada sumber yang digunakan pada pembuatan tulisan di blog ini. Berikut merupakan kutipan tinggi gedung, dan yang tercetak tebal adalah yang penulis gunakan sebagai patokan.

Apartemen Ratu Plaza

  1. 65,75 meter (CIPTA hal 32)
  2. 63,55 meter (Konstruksi hal 21)
  3. 58,75 meter (Konstruksi hal 16, CIPTA hal 35)

Ratu Plaza Office Tower

Bagan Struktur Ratu Plaza, Majalah Konstruksi, memperlihatkan sistem struktur tube-in-tube
Tube-in-tube dan tinggi gedung.
Sumber: Majalah Konstruksi, Agustus 1980
  1. 109,7 meter (Konstruksi hal 17 dan 21)
  2. 107,9 meter (Konstruksi hal 21, gambar)
  3. 107,0 meter (CIPTA hal 34)
  4. 106,4 meter (Konstruksi hal 16)

Data dan fakta

  • Alamat: Jalan Jenderal Sudirman Kav. 9 Jakarta
  • Arsitek:
    • Kajima Design (arsitektur desain)
    • PT Indramaya (architect of record)
    • Muto Institute of Structural Mechanics (struktur)
    • Wiratman & Associates (struktur)
    • Bent Severin & Associates (interior)
  • Pemborong:
    • Waskita Kajima
  • Lama pembangunan:
    • April 1977 - Februari 1980 (apartemen)
    • April 1977 - April 1980 (mall)
    • April 1977 - Juli 1980 (perkantoran)
  • Tinggi gedung:
    • 59 meter (apartemen)
    • 108 meter (kantor)
  • Jumlah lantai:
    • 18 + 2 basement (apartemen)
    • 32 + 2 basement (perkantoran)
  • Jumlah kamar: 44 (apartemen)
  • Biaya pembangunan: Rp. 29,4 milyar rupiah (1980, setara Rp. 830 milyar nilai 2019)
  • Signifikasi:
    • Arsitektur (superblok pertama di Indonesia)
    • Struktural (digarap oleh Wiratman dan Roosseno)

Referensi

  1. Ir. Komajaya et. al. (1980). "Ratu Plaza bagaikan "kota dalam kota". Majalah Konstruksi, Agustus 1980.
  2. NN (1980). "Apartement Ratu Plaza". Majalah Cipta No. 58, 1981.
  3. Joko Yuwono (1995). "Yang Tertahan dan Berjaya". Majalah Properti Indonesia, Juni 1995.
  4. Penzien, Joseph; Housner, George W. (1993). "Dr. Kiyoshi Muto". Memorial Tributes. Washington, DC: The National Academies Press, National Academy of Engineering. Sumber digital diakses 3 November 2019.
  5. P. Hasudungan Sirait (2016). "Akrobat Kehidupan Darwis Manalu: Tukang Minyak yang Jadi Pengusaha Nasional". Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
  6. KOMPAS, 7 Oktober 2010 (iklan).
  7. Gh (1978). "Ratu Plaza Siap Dipasarkan". KOMPAS, 8 Juni 1978.
  8. KOMPAS, 13 Desember 1980 (keterangan foto).
  9. LOK/p08 (2000). "One Stop Building: Kenyamanan Bagi Kaum Profesional". KOMPAS, 2 Juli 2000.
  10. Aryo Adi; Andi Azril (2002). "Puluhan Karyawan Carrefour Ratu Plaza Keracunan". Liputan 6 SCTV, 7 November 2002. Diakses 3 November 2019. (arsip)
  11. aan/sss (2007). "Carrefour Ratu Plaza Tutup". Detikcom, 11 Desember 2007. Diakses 3 November 2019. (arsip)
  12. NN (2008). "Carrefour Ratu Plaza Ditutup Sampai Waktu yang Tidak Ditentukan". Kompascom, 4 Mei 2008. Diakses 3 November 2019. (arsip)
  13. fit (1996). "Dari Printemps sampai PriceSmart". KOMPAS, 29 November 1996.
  14. Website resmi Tucci Segrete & Rosen, diarsip 14 September 1999.
  15. Ahmed Soeriawidjaja; Rudy Novrianto (1985). "Impian dan Kerugian Onggo". Tempo, 7 Desember 1985.
  16. Eddy Herwanto; Biro Tempo (1985). "Jatuh Bangun Pengecer di Plaza-Plaza". Tempo, 7 Desember 1985.

Lokasi


View Larger Map

Perubahan

  • Pertama ditulis 7 Januari 2020
  • 22 Februari 2020: Penambahan info mengenai Printemps dan tenant-tenant pada tahun 1985.

Komentar

Yang banyak dibaca seminggu terakhir

City Plaza Klender

Gedung Sekretariat ASEAN

Mal Ciputra Jakarta (update 17 Maret 2020)

Sinarmas Land Plaza Surabaya (update 25 November 2019)

Gedung Sapta Pesona (update 19 September 2019)