Kabut Sejarah Gedung Tinggi Indonesia - Alasan SGPC Tidak Membicarakan "Gedung Tertinggi" (terbaru 27 Desember 2019)

Menembus Kabut
Sebuah metafora tentang blog ini. India, 10 Februari 2020

Beberapa dekade belakangan, di kota-kota besar Indonesia, pencakar langit sudah menjamur bak cendawan di musim hujan, dibangun sebagai bagian dari investasi properti dan untuk mengatasi sempitnya lahan di kota-kota besar. Gedung tinggi tak hanya dianggap habis manis sepah dibuang seperti budaya pop lain, tetapi menjadi bagian dari perjalanan hidup sebuah kota.

Sayangnya, di Indonesia, data mengenai gedung tinggi masih kurang lengkap dan rawan dengan spekulasi-spekulasi liar. Per data Skyscrapercenter milik Council of Tall Buildings and Urban Habitat (Dewan Bangunan Tinggi dan Hunian Urban), hanya ada 101 gedung tinggi di Jakarta yang terdata dari segi tahun konstruksi antara 1950 sampai 2002; diantara itu hanya 43 yang tinggi gedungnya tercatat. Untuk Surabaya saja, di rentang yang sama, hanya ada 11 dan tidak ada yang punya tinggi gedung. Masalah kosongnya data tersebut dijadikan alasan dalam pembuatan blog ini.

Hal ini cukup mengecewakan karena bila dibandingkan dengan kota-kota di beberapa negara lain, setidaknya sekitar 50-60 persen gedung terdata dengan baik seperti tinggi gedung, tahun pembangunan dan jumlah lantai. Hal itu penting sebagai catatan sejarah perkembangan arsitektur gedung tinggi lokal. Parahnya, mayoritas gedung tinggi yang terdata sekarang dibangun pada dekade 2010an.

Internetsentrisme musababnya

Balai Kota DKI
Tinggi Balai Kota DKI Jakarta adalah 110 meter, pada tahun 1976.
Ini versi media cetak kala itu.

Penulis mencurigai Internetsentrisme dan kemalasan kita, sebagai orang Indonesia sebagai sebab musabab dari "kabut sejarah" gedung tinggi di Indonesia; media-media daring Indonesia sampai saat ini tidak pernah menyinggung evolusi gedung tinggi di Indonesia dengan mengadakan penelitian mendalam. Bahkan, kebanyakan website lebih mesra dengan keagungan gedung-gedung tinggi berlapis kaca di Jakarta yang memiliki tinggi lebih dari 200 meter.
Wisma Nusantara & Monumen Selamat Datang
Sementara versi Internet menyebutkan Wisma Nusantara selesai dibangun
1972 dengan tinggi 117 meter. Sayangnya tinggi versi internet ini tidak
diakui media-media cetak di tahun 1970an, dimana tinggi bervariasi dari
"tidak lebih dari 100 meter" sampai 103 meter.

Penulis pertama kali menemukan sebuah buku anak-anak terbitan 1981 di perpustakaan daerah mengenai pencakar langit; disebutkan "gedung tertinggi di Indonesia" adalah Balai Kota DKI Jakarta, setinggi 110,8 meter, sementara media internet di Indonesia mengklaim Wisma Nusantara setinggi 117 meter, seharusnya membantah tulisan-tulisan yang beredar di media-media massa Indonesia di era 1970an dan 1980an.

Tambahan 27 Desember 2019: Berita singkat dari harian KOMPAS edisi 28 Juni 1975 menyebut tinggi Wisma Nusantara hanya setinggi 103 meter. Artinya ada 14 meter selisih dari laporan media daring yang ironisnya dikutip wartawan Kompascom, kontradiktif dengan laporan pemberitaan induk perusahaannya sendiri. Sinar Harapan, lebih panas lagi, "tidak lebih dari 100 meter" dalam pemberitaan peresmian Balai Kota DKI tertanggal 27 April 1976.

Tinggi Balai Kota saat itu awalnya dijadikan pembatas legal gedung tinggi di Jakarta; itu yang menyebabkan tinggi Ratu Plaza hanya 107,9 meter. Baru saat Bank Bumi Daya membangun Plaza Bumi Daya pada 1983, dengan tinggi versi Majalah Konstruksi adalah 132 meter, Jakarta pecah telur dari kungkungan bayangan Balai Kota DKI, dan batas tinggi gedung berubah ke batas tinggi Monumen Nasional.

Tetapi penulis menyadari bahwa data gedung tinggi di Indonesia masih didominasi kabut tebal; masih jadi teka-teki gedung tertinggi di Indonesia pasca Gedung BRI II mengudeta posisi Grha BNI pada 1991, apakah sampai 1996 dengan munculnya Wisma 46, atau ada penantang yang tinggi gedungnya tidak terdata.

Bila merujuk ke versi Internet, disinilah plot twist terjadi. Plaza Bumi Daya bisa menjadi gedung tertinggi dari 1983 sampai 1991 dengan tinggi 143 meter, yang penulis pertanyakan karena dari Majalah Konstruksi sendirinya mengatakan Grha BNI sebagai gedung tertinggi di Jakarta.

Plaza Bumi Daya - Majalah Eksekutif, Januari 1989
Bila versi Internet benar, Plaza Bumi Daya tak lagi tertinggi di Indonesia mulai 1983 sampai 1989,
tetapi sampai 1991. Foto: Plaza Bumi Daya/Majalah Eksekutif, Januari 1989

Misteri lain adalah tinggi gedung Hotel Indonesia. Sebagai gedung tinggi pertama di Indonesia, Hotel Indonesia seharusnya memiliki besaran tinggi gedungnya. Malah, yang pertama memiliki tinggi gedung adalah Sarinah, 74 meter, selesai dibangun 1966. Tidak ada data mengenai tinggi gedung Hotel Indonesia Kempinski yang penulis temukan di pelbagai literatur dan internet mengenai bangunan modern paling bersejarah ini.

Skyscrapercenter untuk pengelola gedung dan konsultan perencana

Memang terdengar aneh dan tidak begitu penting, tetapi Skyscrapercenter, karena sering digunakan sebagai sentranya dokumentasi data sejarah arsitektur pencakar langit di dunia, harus dilengkapi dan menjadi rujukan untuk memberi setidaknya beberapa biodata mengenai gedung-gedung tinggi di Indonesia, memperluas cakrawala sejarah arsitektur yang menurut penulis sebagai orang rata-rata masih dibatasi ke kalangan tertentu dan belum terjamah orang kebanyakan.

Masyarakat tidak banyak yang tahu, beberapa edisi majalah Konstruksi yang penulis pegang sudah menampung data-data tersembunyi tersebut, sebut saja edisi Mei 1979, yang membahas Plaza Gajah Mada, akan dibahas belakangan, atau edisi Juni 1986, yang menjelaskan Gedung Kementerian BUMN. Kedua edisi yang penulis contohkan tersebut gamblang menyebutkan tinggi gedung, baik dari keberadaan sketsa, maupun dari isi artikel hingga ke detail-detailnya.

Penulis percaya konsultan perencana, pemborong dan pengelola gedung masih memegang cetak biru dari rancangan gedung tersebut, dan memberikannya kepada CTBUH untuk melengkapi data-data gedung tinggi di Indonesia; baik tinggi gedung, jumlah lantai, arsitek, pemborong dan material yang digunakan. Hal ini penting sebagai bentuk pendidikan sejarah arsitektur nasional - setidaknya ini tak lagi menyangkut kreativitas dan fanatisme pada bangunan tradisional, tetapi sebagai gambaran bahwa sejarah kehidupan di kawasan urban setidaknya perlu dipahami.

Setiap Gedung Punya Cerita
Selamat Hari Natal dan Tahun Baru 2020

Perubahan

  • Pertama ditulis 25 Desember 2019
  • 27 Desember 2019: menambahkan informasi dari harian KOMPAS

Komentar

Yang banyak dibaca seminggu terakhir

Sinarmas Land Plaza Surabaya (terbaru 13 Juli 2020)

Mal Ciputra Jakarta (terbaru 17 Maret 2020)

Hotel Sari Pacific (terbaru 17 Oktober 2019)

Sejarah Pusat Perbelanjaan Jakarta - Bab II: Lintas Melawai

Menara Imperium