Hotel Shangri-La Jakarta (terbaru 27 Agustus 2020)

Tulisan ini merupakan seri kedua dari tiga seri tulisan mengenai Kompleks Kota BNI.

Hotel Shangri-La Jakarta
Landmark kota Jakarta. Foto pribadi, Creative Commons License

Hotel Shangri-La Jakarta merupakan hotel Shangri-La pertama di Indonesia, dirancang bersama-sama oleh tim arsitek dari Jepang Kanko Kikaku Sekkeisha Yozo Shibata & Associates (1)(5) bersama dengan Architects & Town Planners Collaborative dari Singapura dan sebagai penyempurnanya dari Indonesia, dari Wiratman & Associates (1). Pembangunan Hotel Shangri-La Jakarta ini merupakan bagian dari kompleks Kota BNI.

Walau gedung ini ukurannya kolosal dan besar, menjadi landmark ibukota Indonesia dengan ketinggian cukup menonjol, 115 meter menurut data CTBUH, tidak jelas kenapa gedung ini hilang dari biografi resmi Wiratman karya Imelda Akmal, kasus yang sama menimpa beberapa gedung karya Wiratman & Associates lain yang memiliki jumlah lantai kecil.

Hotel Shangri-La dibangun bersama-sama oleh Waskita Karya dan Société Auxiliaire d'Entreprises mulai akhir September 1991, tutup atap pada akhir April 1993 (9) dan selesai dibangun sekitar Desember 1993. Hotel Shangri-La Jakarta dibuka secara resmi pada tanggal 22 Maret 1994 (1)(2).

Hotel ini sempat ditutup selama tiga bulan mulai 23 Desember 2000 (7) hingga 17 Maret 2001 (6), sebagai akibat dari konflik ketenagakerjaan (7).

Deskripsi hotel

Dengan 662 kamar yang terdiri dari 504 kamar deluxe, 118 kamar Horizon Club, 9 suite eksekutif, 29 kamar suite baik 1, 2 dan 3 kamar tidur, dan dua kamar presidensial, Hotel Shangri-La Jakarta berlokasi di daerah yang sangat strategis, selangkah jalan dengan Wisma 46 maupun gedung-gedung tinggi di bilangan Sudirman atau Thamrin, dan sangat dekat dengan stasiun Kota BNI yang melayani kereta api ke bandara Soekarno-Hatta Cengkareng (3)(4).

Hotel Shangri-La Jakarta, sebagai hotel kombinasi resort dan bisnis, menawarkan fungsi sebagaimana sebuah hotel resort, seperti kolam renang, lapangan tenis, spa dan sauna. Terdapat enam balai acara (Indonesia Room, Grand Ballroom, Ceria Room, Lotus Ballroom, Satoo Garden dan Poolside Garden), 9 ruang rapat, sebuah business centre, dan 6 rumah makan (JIA, Satoo, Rosso, Nishimura, B.A.T.S. dan lounge lobby) yang lebih menyajikan masakan berstandar dunia (4).

Arsitektur

Salah satu arsitek dari Wiratman & Associates, Tateng Djajasudarma, kepada pewarta Majalah Konstruksi, mengatakan bahwa desain Hotel Shangri-La lebih organik agar bisa bersatu dengan lingkungan sekitar yang luas - katanya "massa yang organik lebih bisa menyatu dengan lansekap yang luas". Puncaknya yang berundak seperti tangga memperkuat karakter gedung ibarat sebuah ukiran, dan menjadikan hotel ini landmark cakrawala Kota Jakarta (1).

Hotel Shangri-La Jakarta memiliki dua drop-off untuk hotel dan balai sidang secara terpisah. Argumen dari Tateng, untuk menjamin privasi tamu hotel (1). Tetapi Marco Kusumawijaya, dalam sebuah tulisannya di harian KOMPAS tertanggal 19 Maret 2000, berargumen bahwa dua drop-off tersebut mengganggu Jalan R.M. Margono Djojohadikoesoemo yang terletak di depan hotel tersebut, selain ketiadaan keterkaitan arsitektural dengan Wisma 46 dan Kantor Besar BNI (8).

Data dan fakta

  • Alamat: Jalan Jenderal Sudirman Kav. 1 Jakarta
  • Arsitek:
    • Kanko Kikaku Sekkeisha Yozo Shibata & Associates (arsitek desain)
    • Architects & Town Planners Collaborative (arsitek desain)
    • Wiratman & Associates (architect of record dan struktur)
  • Pemborong:
    • Waskita Karya - Société Auxiliaire d'Entreprises J.O.
  • Lama pembangunan:
    • September 1991 - Desember 1993
  • Dibuka: 22 Maret 1994
  • Jumlah lantai: 32 + 2 basement
  • Tinggi gedung: 115 meter (CTBUH)
  • Jumlah kamar: 662 kamar
  • Biaya pembangunan: Rp. 354 milyar (1994, setara Rp. 3,2 triliun nilai 2020)
  • Signifikasi: Pariwisata (landmark kota Jakarta bersama dengan Wisma 46)

Referensi

  1. Retnowati, Saptiwi Djati; Dwi Ratih (1994). "Hotel Shangri-La Jakarta: Berkarakter Dinamis di tengah Lansekap yang luas". Majalah Konstruksi No. 193, Mei 1994.
  2. fan (1994). "Shangri-La Hotel Tertinggi di Indonesia". Republika, 23 Maret 1994.
  3. Website resmi Hotel Shangri-La Jakarta, diakses 20 Oktober 2019. (arsip)
  4. Factsheet Hotel Shangri-La Jakarta, diakses 20 Oktober 2019.
  5. Website KKS Group, diakses 20 Oktober 2019. (arsip)
  6. ush (2001). "Info: Hotel Shangri-La Akan Dibuka Kembali". KOMPAS, 13 Maret 2001.
  7. mon (2000). "Hotel Shangri-La Jakarta Tutup Sementara". KOMPAS, 29 Desember 2000.
  8. Marco Kusumawijaya (2000). "Gedung Jangkung di Poros Jakarta". KOMPAS, 19 Maret 2000.
  9. Indah Nuritasari (1993). "Shangri-La Jakarta Segera Beroperasi". Majalah SWA No. 3/IX, Juni 1993, hal. 120

Lokasi

Perubahan

  • Pertama ditulis 25 Desember 2019
  • 27 Agustus 2020: Penambahan tanggal topping off alias tutup atap

Comments

Penyawer Minggu Ini: N/A.