Hotel Grand Sahid Jaya Jakarta (terbaru 16 Mei 2020)

Hotel Grand Sahid Jaya & Sudirman Centre
Hotel legendaris di Jakarta. Foto pribadi, Creative Commons License

Hotel Grand Sahid Jaya di Jalan Jenderal Sudirman adalah satu dari sedikit bangunan di Jalan Jenderal Sudirman yang dibangun pada dekade 1970an, yang tetap bertahan hingga kini. Dirancang oleh tim arsitek PRW Architects, gedung ini dibangun mulai 8 Juli 1970 (1) dan selesai pada awal 1974 oleh Waskita Karya (19). Hotelnya sendiri diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 23 Maret 1974 (6).

Sejarah

1970-1986

Proyek Hotel Sahid Jaya didasari oleh kurangnya hotel bertaraf internasional di Indonesia, spesifiknya Jakarta saat itu (19); di tahun 1969, KOMPAS mewartakan bahwa hanya ada 2000 kamar hotel berstandar internasional yang beroperasi di Indonesia (20). Penunjukan Indonesia sebagai tuan rumah konferensi PATA (Pacific Asia Tourism Association) 1974 turut mendorong pembangunan lebih banyak ruang hotel (19).

Tetapi, awal dari proyek ini diwarnai masalah sengketa tanah. Akhir Mei 1970, tanah yang awalnya merupakan rumah-rumah, tempat usaha dan dua toko batik digusur untuk pembangunan Hotel Sahid (1). Kedua pemilik pabrik tersebut melancarkan gugatan terhadap PT Sahid tidak lama berselang setelah penggusuran, menuntut ganti rugi masing-masing 40 dan 50 juta rupiah, nilai 1970 (2). Penggusuran lain yang dialami masyarakat dan pengusaha lain di atas lahan tanah Sahid sudah diberikan kompensasi (3). Tidak diketahui apa yang terjadi kemudian dengan tuntutan pengusaha batik yang toko dan pabriknya digaruk Sahid.

Peletakan batu pertama dilakukan pada 8 Juli 1970 oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin (2). Dalam pidato peletakan batu pertama, Gubernur Ali memperingatkan masyarakat di sekitar Jalan Jenderal Sudirman untuk bersiap pindah ke lokasi lain, karena lahan mereka sejatinya direncanakan dalam rancangan Pemerintah DKI Jakarta sebagai kawasan untuk gedung minimal berlantai 4 (2). Potongan sejarah yang akhirnya membentuk Jakarta dewasa ini khususnya Hotel Sahid sendiri. Tetapi pembangunan Hotel Sahid Jaya belum dimulai sampai setahun kemudian, 8 Juli 1971, bahkan pondasinya baru dipancang pada tanggal 15 November 1971 (9).

Konferensi PATA 1974 memberi sentuhan keajaiban bagi Hotel Sahid Jaya. Walaupun finishing interior hotel keseluruhan belum selesai, bahkan perancahnya sempat runtuh karena amuk angin kencang pada pagi 9 Januari 1974 (4), Hotel Sahid dipercaya menjadi salah satu hotel yang menampung delegasi PATA dari beberapa negara (5). Pada tanggal 23 Maret 1974, Presiden Soeharto meresmikan hotel berlantai 17 tersebut hanya dengan 284 kamar (6)(9). Keseluruhan 514 kamar hotel baru bisa digunakan sejak 1976 (9).

Peristiwa Penutupan Kantor Aeroflot (1982)

Hotel Sahid Jaya menjadi kantor dari beberapa instansi niaga dan juga beberapa maskapai penerbangan. Tetapi bagi Aeroflot, maskapai penerbangan Rusia, punya pengalaman tak enak di Hotel Sahid Jaya. Pada 13 Februari 1982, kantor Aeroflot di Hotel Sahid Jaya tiba-tiba disegel dan papan kantornya langsung diturunkan pihak hotel (8). Belakangan diketahui penutupan kantor Aeroflot dilatari oleh terbongkarnya lingkaran spionase di Indonesia yang dilakukan oleh pejabat-pejabat Kedubes Soviet, pegawai Aeroflot dan informan-informan lokal pada awal Februari 1982 (7).

Aeroflot kembali berkantor di Indonesia dari Hotel Sahid Jaya sejak Juli 1990 (12). Tidak diketahui kapan Aeroflot menutup kantornya di Hotel Sahid; kini penjualan tiket maskapai berlogo palu arit bersayap ini diserahkan ke Bayu Buana Express yang berkantor di Mayapada Tower I.

Ekspansi dan renovasi (1986-sekarang)

Pada tanggal 22 Desember 1986, Hotel Sahid Jaya membangun perluasan kawasan hotel dengan kapasitas kamar lebih banyak, yaitu 316 kamar, sehingga menggenapkan jumlah kamar Hotel Sahid Jaya menjadi 830 unit. Dalam proyek pembangunan ekspansi ini, PRW Architects kembali ditunjuk untuk merancang desain arsitekturnya sementara pemborong diserahkan kepada Total Bangun Persada (10).

Ekspansi Hotel Sahid Jaya yang terdiri dari hotel berlantai 20 dan balai sidang dimulai pada akhir Desember 1986 (13) dan selesai dibangun pada akhir 1989; perluasan Hotel Sahid diresmikan pada bulan Maret 1990, menghabiskan biaya Rp 50 milyar (nilai 1990, setara Rp 624 milyar nilai 2019) (12).

Selain 316 kamar hotel, perluasan Hotel Sahid Jaya juga menyediakan balai sidang yang menampung paling banyak 3000 orang dan beberapa ruang rapat yang lebih kecil, keseluruhan penamaan ruang rapat terinspirasi dari candi-candi di Jawa (10)(14).

Sejak perluasan pada tahun 1989, penulis menemukan sudah empat kali Hotel Sahid Jaya mengalami renovasi baik secara interior maupun eksterior, walaupun masih mempertahankan desain eksterior gedung. Renovasi pertama dilakukan untuk keseluruhan gedung lama dan lobi pada tahun 1992-1994 (15)(18) dan tahun 2008-10, 2012-14 dan 2018 untuk merenovasi kamar hotel, fasilitas penunjang dan eksterior secara keseluruhan (14).

Ditengah renovasi, ruang kabel hotel di lantai 6 mengalami kebakaran minor karena korsleting listrik, tidak ada korban jiwa dalam kebakaran tersebut (16)(17).

Arsitektur dan Deskripsi Umum

Baik gedung awal maupun perluasannya dirancang oleh tim arsitek dari PRW Architects, sebuah tim arsitek kebanggaan bangsa. Untuk mengakomodasi kalkulasi kebutuhan kamar saat itu sebanyak 500 buah, pihak PRW merancang tiga blok bangunan, terdiri dari gedung utama setinggi (estimasi) 70 meter dan 17 lantai, blok hotel berbentuk Y dan gedung perkantoran di depan gedung utama. Desainnya bergaya internasional, dengan dominasi geometris dengan beberapa sentuhan lengkung sebagai pengimbang (19).

Hal yang berbeda ditemukan pada gedung perluasannya yang selesai dibangun 1989. Desain gedung perluasan cenderung lebih kaku dan sederhana dibanding gedung awalnya (10). Kontras dengan balai sidangnya yang menonjolkan nuansa Jawa pada eksterior dan interior balai sidang berkapasitas 3000 orang tersebut (10)(14).

Renovasi-renovasi terakhir yang dilakukan Grand Sahid Jaya membuat jumlah kamar yang tersedia di hotel berbintang empat tersebut menyusut menjadi 560 kamar, terdiri dari empat jenis kamar dan tiga rumah makan (14).

Data dan fakta

  • Nama lama: Hotel Sahid Jaya
  • Alamat: Jalan Jenderal Sudirman No. 86 Jakarta
  • Arsitek:
    • PRW Architects (baik gedung "1974" dan "1989")
  • Pemborong:
    • Waskita Karya (gedung "1974")
    • Total Bangun Persada (gedung "1989")
  • Lama pembangunan:
    • Juli 1970 - Maret 1974 (gedung "1974")
    • Desember 1986 - Maret 1990 (gedung "1989")
  • Diresmikan:
    • 23 Maret 1974 ("1974")
    • Maret 1990 ("1989")
  • Jumlah lantai:
    • 17 ("1974")
    • 20 ("1989")
  • Signifikasi: Tidak ada

Referensi

  1. Wr (1970). "Hotel diatas tanah "Sengketa". KOMPAS, 8 Juli 1970.
  2. "Sepandjang Djl. Djend. Soedirman hanja untuk bangunan2 bertingkat 4 atau lebih - Gubernur serukan agar penduduk siapkan diri". KOMPAS, 9 Juli 1970.
  3. "Masalah Ganti Rugi Untuk Penduduk Kapling 15 Djl. Djendral Sudirman". KOMPAS, 29 September 1970.
  4. KOMPAS, 10 Januari 1974 (keterangan foto)
  5. rb (1974). "Sejumlah Hotel dan Bangsal Konvensi untuk PATA Seperti "Disulap". KOMPAS, 25 Maret 1974
  6. KOMPAS, 29 Maret 1974 (Iklan peresmian Hotel Sahid Jaya)
  7. UPI (1982). "Indonesia expels Soviet for spying, closes Aeroflot". United Press International, 15 Februari 1982. Sumber online diakses 10 September 2019.
  8. KOMPAS, 18 Februari 1982 (keterangan foto)
  9. Rama Slamet; Angelina Lim; Andrew YC Loh (editor) (1985). "The Sahid Jaya: Built for Lasting Service". Southeast Asia Building, April 1985
  10. Urip Yustono; Dwi Ratih (1989). "Perluasan Sahid Jaya Hotel Jakarta: Menyatu dengan karakter bangunan lama". Majalah Konstruksi No. 139, November 1989.
  11. Website resmi PT Hotel Sahid Jaya Internasional, diakses 10 September 2019. (arsip)
  12. KOMPAS, 24 Maret 1990 (keterangan foto)
  13. dp/di (1986). "Sahid Memperluas Hotelnya". KOMPAS, 24 Desember 1986.
  14. Website resmi Hotel Grand Sahid Jaya Jakarta, diakses 13 September 2019. (arsip, pdf)
  15. ee (1992). "Lobi Sahid Jaya Hotel Direnovasi". KOMPAS, 8 Mei 1992.
  16. Martin Sihombing (2014). "Ruang Kabel Hotel Grand Sahid Jaya Terbakar". Bisnis Indonesia, 10 Maret 2014. Diakses 25 November 2019. (arsip)
  17. "Api Berasal dari Ruang Kabel Listrik Hotel Sahid". Warta Kota, 10 Maret 2014. Diakses 25 November 2019. (arsip)
  18. Prass (1994). "Properti Spot: Wajah Baru Sahid Jaya". Majalah Properti Indonesia, No. 6, Juli 1994, hal 45-46
  19. Ikatan Arsitek Indonesia (1984). "Buku Ke-2 Karya Arsitektur Arsitek Indonesia." Jakarta: Ikatan Arsitek Indonesia. Halaman 110-111.
  20. RT (1969). "Masalah Perhotelan di Indonesia: Djumlah Maupun Fasilitas Belum Memadai". KOMPAS, 25 Maret 1969, hal. 2

Lokasi


View Larger Map

Perubahan

  • Pertama ditulis 29 November 2019
  • 14 Maret 2020: Penambahan detail renovasi pertama pada tahun 1992-1994 dari majalah Properti Indonesia
  • 4 Mei 2020: Detil pemborong gedung 1974 ditemukan. Detil arsitektur menyusul.
  • 16 Mei 2020: Latar belakang dan detail arsitektur sudah ditambah.

Komentar

Yang banyak dibaca seminggu terakhir

Sinarmas Land Plaza Surabaya (terbaru 13 Juli 2020)

Mal Ciputra Jakarta (terbaru 17 Maret 2020)

Hotel Sari Pacific (terbaru 17 Oktober 2019)

Sejarah Pusat Perbelanjaan Jakarta - Bab II: Lintas Melawai

Ratu Plaza (terbaru 6 Juli 2020)