Di Balik Tag GOP - Gedung Oplasan

Gedung Kementerian BUMNGedung Kementerian BUMN

Gedung Kementerian BUMN, sebelum (kiri) dan sesudah. Foto pribadi penulis.

Sebelum memulai tulisan blog ini, penulis memulainya dengan kritikan kepada arsitek dan pengelola gedung. Sebelum anda merenovasi bangunannya, ketahui dulu sejarah bangunannya, tahun berapa dibangun dan sebaiknya bagaimana anda memperlakukan bangunan. Jangan hanya mengejar kerennya saja, atau mengejar agar "harus sesuai dengan citra korporat" blah blah blah, blathering blatherskite ala Fenton Crackshell-Cabrera yang justru menghilangkan keberagaman citra dan jejak sejarah arsitektur itu sendiri.

Bila anda membaca beberapa tulisan yang sudah dimuat di blog ini, anda pasti mendapati adanya tag GOP - Gedung Oplasan. Ya, tag tersebut dimunculkan sebagai bentuk keprihatinan atas ketidakpedulian, atau kemunafikan, orang-orang Indonesia dalam memandang sebuah arsitektur atau gedung.

Gedung lama yang memiliki gaya arsitektur tertentu diubah oleh pemilik baru atau pemilik yang sudah ada dan ingin menggantinya ke gaya arsitektur yang lebih "segar", "hip" dan "menarik" masyarakat masa kini, "dan sesuai dengan citra perusahaan". Penulis amati, umumnya yang marak mengubah gaya arsitektur saat ini adalah instansi pemerintah dan BUMN (walau saat ini swasta juga sedang giat dalam mengoplas gedungnya).

"Laboratorium fasade terbesar"

Salah satu dari sedikit orang yang keras mengritik tradisi 'pengoplasan' gedung-gedung tinggi baik lowrise hingga pencakar langit adalah Solichin Gunawan, salah satu anggota Himpunan Desainer Interior Indonesia, yang menganalogikan komposit di Indonesia ibarat senjata api di Amerika Serikat, melindungi tetapi sebaliknya membunuh masyarakat. Kritiknya cukup tajam mulai dari ketidakpedulian wawasan pengambil kebijakan (seperti usia minimum cagar budaya yang wajib berusia minimum 50 tahun dan harus berupa "warisan sejarah") hingga dianggap sebagai tren latah.

Bogotá edificio de Ecopetrol
Bayangkan bila gedung ini dipegang
oleh orang Indonesia, mungkin gedung
Ecopetrol di Bogota ini disarung dengan kaca.
Mayoritas bangunan tinggi di Kolombia berlanggam
modernisme era 1950an-1980an yang masih asri.
Foto oleh Felipe Restrepo Acosta
dari Wikimedia Commons (Creative Commons License)
Kritikan lainnya adalah bagaimana Jakarta diistilahkan sebagai laboratorium fasade bangunan terbesar di Indonesia dan bahkan di dunia. Istilah ini cukup dibenarkan jikalau anda bisa membaca daftar tentatif penulis tentang gedung yang terenovasi di Indonesia, yang sudah mencapai lusinan, itupun belum termasuk gedung yang lebih kecil yang akhirnya dihancurkan atau dioplas walau secara arsitektural layak diperhitungkan. Solichin juga memperingatkan pemilik bangunan dan proyek soal mulianya pekerjaan arsitek, terutama etika soal peremajaan bangunan. Ia memperingatkan, bila dibiarkan, bisa saja gedung-gedung di luar negeri yang memiliki perlindungan hak moral rendah juga kena imbasnya.

Dalam hemat penulis, penulis 99% setuju dengan opini Solichin Gunawan, bahkan penulis merasa sangat bagus bila dibagikan ke masyarakat biasa soal bagaimana arsitektur berkomunikasi ke orang biasa seperti penulis sendiri.

Dari segi pandangan penulis, maraknya oplas menandakan bahwa arsitektur Indonesia seperti kehilangan jati dirinya, sudah malu kalau melihat kota di negara lain berbangga dengan supertall mereka, atau bangunan karya arsitek megabintang yang memanjakan mata sedang di Indonesia hanya ada bangunan rancangan arsitek lokal yang media pun malas bahas. Atau dianggap tak selaras citra perusahaan/instansi yang harus segar dan baru dan gedung pun harus segar, melupakan noda masa lalu yang terlanjur mengotori gedung tersebut, menjurus pada repetisi.

Padahal, kalau dikelola dengan benar, gedung bergaya modern, dari kapanpun zamannya, tidak akan kalah modern dibanding gedung baru baik dari segi eksterior maupun interior dan fasilitas-fasilitasnya. Evergreen.

Kemunafikan dalam memandang arsitektur

Benar kata Mochtar Lubis, orang Indonesia itu munafik. Penulis melihat, Indonesia adalah bangsa yang secara arsitektur adalah yang paling munafik diantara bangsa-bangsa di Asia Tenggara. Alasannya jelas, nyaris tiada respek pada gedung-gedung "youngtimers" yang kurang beken, gedung bergaya modern yang tidak dianggap berusia tua tetapi sudah mulai berumur. Semisal gedung-gedung era 1970an di Thamrin, penulis merasakan kesulitan dalam menggalang data-data gedung tersebut sebelum penulis mulai menggalang pencarian majalah-majalah dan harian terkait sejak 2017 lalu.

Tetapi mereka tetap berbicara panjang lebar terhadap obyek arsitektur modern yang dianggap monumental. Semisal Masjid Istiqlal dan Gelora Bung Karno - sama sama monumen arsitektur modern rancangan Fred(erich) Silaban, atau Intiland Tower rancangan Paul Rudolph yang unik ataupun Sequis Centre rancangan tim arsitek Intaren dari Thailand. Hal ini cukup dijelaskan sangat detail di beberapa blog dan website.

Mereka berteriak keras dan menggalang ribuan komentar bernada sinis terkait pembongkaran Hotel des Indes yang sudah terjadi sekian lama tetapi tidak peduli bahkan tertawa dan bertanya apa itu kala gedung Kedubes Perancis rancangan Soejoedi digaruk oleh bulldozer.

Permasalahan lain yang penulis dapatkan adalah dari segi korporasi, mereka cukup bermuka dua soal memperlakukan bagian luar gedung. Seperti yang penulis katakan sebelumnya, citra korporat yang "kebaruan" dan "kekinian" justru melahirkan ide ekstrim untuk menyarung desain bangunan lama yang "tidak kekinian lagi" dan "tak selaras dengan citra perusahaan". Kalau ini terus terjadi, bagaimana mengenalkan masyarakat akan arsitektur modern yang mendapat penilaian sangat miring di Indonesia? Sebaliknya, gedung era Belanda justru direstorasi sebaik-baiknya. Itulah yang membuat penulis seperti gregetan dengan opini mereka dan memperkuat keyakinan penulis bahwa Indonesia luar biasa munafik soal arsitektur.

Apa yang membuat gedung itu oplasan?

Itulah latar belakang adanya GOP - Gedung Oplasan ini. Tapi ada beberapa regulasi soal Gedung Oplasan, apa yang membuat gedung itu dianggap oplasan:
  1. Merubah secara signifikan bentuk eksterior bangunan. Bahkan orang biasa tahu bahwa gedung ini disarung secara signifikan. 
  2. Bila tidak terlalu banyak berubah, kemungkinan penambahan desainnya tidak memperhatikan estetika atau dianggap janggal.
Pemilihan labelisasi GOP ini rawan subyektifitas penulis dan pemerhati arsitektur lain. Pertama, terkait dari cara merenovasi gedung. Renovasi gedung yang tepat dan tidak sampai melakukan perubahan signifikan pada desain dan makna arsitektur akan menyelamatkan gedung dari label GOP. Pengecatan ulang gedung dengan mengubah warna juga menurut penulis diperdebatkan terutama dari segi perubahan warna awal, sehingga label Gedung Oplas, cukup dibatasi ke perombakan wajah gedung secara radikal atau yang disebut oleh Solichin Gunawan sebagai "penyarungan gedung".

Dengan label GOP pada blog ini, penulis berharap lebih pada calon arsitek masa depan, sejarawan, geeky arsitektur atau bahkan masyarakat biasa, agar mengetahui sejarah evolusi bangunan di kota-kota besar di Indonesia di masa modern.

Setiap Gedung Punya Cerita

Comments

Yang banyak dibaca seminggu terakhir

Gedung Sekretariat ASEAN (terbaru 5 Juni 2020)

Wisma Bumiputera Bandung (terbaru 25 Mei 2020)

Sejarah Pusat Perbelanjaan Jakarta - Bab III: Internasionalisasi

Aldiron Plaza (terbaru 31 Januari 2020)

City Plaza Klender