Hotel Sari Pacific (terbaru 17 Oktober 2019)

Sari Pan Pacific
Strategis, mewah, klasik, timeless. Foto pribadi, Creative Commons License

Hotel berlantai 18 ini sering mewarnai cakrawala ibukota Indonesia sejak akhir 1970an namun menurut penulis, banyak yang belum mengetahui sejarah awal dari hotel berbintang lima ini baik dari segi pembangunan hingga pembukaannya.

Sejarah Hotel Sari Pacific bermula dari awal 1972, dimana KOMPAS, pada 29 Januari 1972, mengabarkan Ohbayashi Gumi dan Pembangunan Jaya membentuk sebuah KSO modal bernama Jaya Ohbayashi (2), dengan proyek pertama sebuah hotel milik PT Sarini Tokyu berkapasitas 500 kamar di sebelah Djakarta Theatre (2). PT Sarini Tokyu adalah patungan dari Sarinah (BUMN ritel), PT Konsultasi Pembangunan, Tokyu Hotels dan Nissho Iwai (1)(3). Ketika disebutkan di Januari 1972 bahwa megaproyek senilai USD 3 juta ini akan mulai dibangun pada Juni 1972 (2), laporan KOMPAS pada 26 Agustus 1976, menyebutkan proyek dimulai sedikit terlambat pada akhir 1972 dengan biaya investasi 80 juta dolar AS atau Rp 33,2 milyar, setara Rp 1,6 triliun per 2020 (3).

Hotel Sari Pacific, dengan gedungnya yang dirancang oleh Wimberly, Whisenand, Allison, Tong and Goo (sekarang cukup bernama Wimberly Allison Tong & Goo) dari Honolulu, Amerika Serikat (1), selesai dibangun di pertengahan tahun 1976.

Soft opening atau pembukaan pra-peresmian dilakukan pada 1 September 1976 oleh Nani Sadikin (istri Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta) dengan menanam bunga melati, dan grand openingnya dilakukan dua tahap pada bulan November 1976 - 6 November 1976 dibuka dengan sambutan dari Dirjen Pariwisata Departemen Parpostel M.J. Prajogo dan Presdir Sarini Tokyu Noboru Gotoh, dan 7 November 1976 merupakan grand opening Hotel Sari Pacific yang dibuka oleh Wakil Presiden RI Sri Sultan Hamengkubuwono IX (1).

Pidato Gotoh dan M.J. Prajogo tersebut, beserta informasi detil hotel, naik cetak melalui iklan Hotel Sari Pacific di harian petang Sinar Harapan edisi 6 November 1976.

Hotel berlantai 18 ini, menurut Gotoh, "lahir dari hasil perkawinan Internasional antara Indonesia dengan Jepang" (1), menekankan hotel ini sebagai salah satu contoh mesranya hubungan diplomatik dan bisnis Jepang dengan Indonesia, masuk akal bila dilihat dari patungan pemilik hotel pada awalnya, beserta pemborongnya yang patungan.

Dekade 1990an, 2000an dan 2010an, hotel ini beken dengan nama Hotel Sari Pan Pacific dan menjadi hotel paling top dan legendaris di pusat kota Jakarta, bahkan Indonesia. Nama 1976 dari hotel ini muncul kembali sejak Maret 2018, setelah Hotel Sari Pacific merdeka dari Grup Pan Pacific yang ironisnya mengawali brand tersebut dari gedung ini (4).

Desain arsitektur dan profil hotel

Hotel Sari Pan Pacific
Pada tahun 1976. Sumber: pindaian kartu pos Hotel Sari Pacific.
Penulis masih ragu apakah Hotel Sari Pacific naik tayang di majalah Konstruksi atau Cipta, mengingat Konstruksi konon baru beredar sejak Oktober 1976, yang artinya Konstruksi diduga sudah meliput hotel ini saat grand openingnya pada November 1976. Majalah Cipta juga sepertinya menganggap tidak begitu penting melihat desain gedung rancangan Wimberly Allison Tong & Goo ini. Tetapi, sudut pandang subyektif advertorial Sari Pacific di harian Sinar Harapan memberi beberapa selentingan soal desain arsitekturnya.

Rubrik "Pertamanan Teras" misal, menonjolkan nuansa keindonesiaan dan cinta lingkungan pada hotel yang dibangun, mulai dari lobi yang dirancang lebih tinggi dari permukaan Jalan M.H. Thamrin dan adanya teras taman di dekat jalan masuk lobi, membawa nuansa arsitektur kuno Indonesia ke dalam hotel bergaya modernisme pertengahan tersebut (1). Interior saat pertama dibangun dilakukan oleh Dale Keller & Associates cabang Hong Kong (1). Kanopi raksasa tersebut disebut sebagai pionir "dalam memperlakukan pintu masuk secara berlebihan" oleh Marco Kusumawijaya (7) dalam sebuah opini di harian KOMPAS.

Komentar mengenai gedung ini juga disinggung dalam pidato Dirjen Pariwisata dan Presdir Sarini Tokyu pada 6 November 1976. MJ Prajogo menyebut Hotel Sari Pacific memiliki "ciri-cirinya yang khas dan menonjol dengan konstruksi bangunannya yang lain dari pada yang lain" dan kamarnya "yang besar dan nyaman". Dengan bahasa senada, Presdir Sarini Tokyu Gotoh menyebut Hotel Sari Pacific "indah" (1).

Hotel Sari Pacific memiliki 418 kamar yang terbagi menjadi 7 jenis kamar; yang tertinggi adalah jenis Presidential Suite (5)(6). Selain itu, untuk memanjakan tamu dan pengunjung, terdapat rumah makan seperti Fiesta, The Japanese at Sari Pacific (dulu Furusato), Sari Delicatessen, Lobby Lounge (eks Melati Bar) hingga Pool Bar.

Hotel milik BUMN ritel Sarinah ini juga memiliki enam jenis ruang rapat dan balai sidang; terdiri dari Mitra Room, Jaya Room, Private Room, Jayakarta Room dan Istana Ballroom - barangkali nama ruang rapat ini tak pernah berubah sejak dibuka pada bulan November 1976 (1)(5). Fasilitas lainnya yang dapat digunakan di hotel bintang 5 ini adalah Lounge Pacific, Business Centre, kolam renang hingga jasa shuttle ke beberapa gedung perkantoran prestisius dan pusat perbelanjaan ternama (5).

Data dan fakta

  • Alamat: Jalan M.H. Thamrin No. 6 Jakarta
  • Arsitek:
    • Wimberly, Whisenand, Allison, Tong & Goo (eksterior)
    • Dale Keller & Associates (interior, aslinya)
  • Pemborong: Jaya Ohbayashi
  • Lama pembangunan: 1972 - 1976
  • Jumlah lantai: 18
  • Biaya pembangunan: Rp 33,2 milyar/USD 80 juta (1976, setara Rp 1,6 triliun nilai 2020)
  • Signifikasi: Pariwisata (hotel lintas zaman dengan reputasi terbaik)

Referensi

  1. Iklan Hotel Sari Pan Pacific, hal. 9, 10 dan 11. Sinar Harapan, 6 November 1976.
  2. WT (1972). "Joint "Pembangunan Jaya" - "Ohbayashi" 50-50". KOMPAS, 29 Januari 1972.
  3. MK (1976). "Hingga akhir 1976, Jakarta Tambah Lagi 500 Kamar Hotel Baru". KOMPAS, 26 Agustus 1976.
  4. Web arsip Hotel Sari Pacific Jakarta, 10 Maret 2018. "Formerly Known as Sari Pan Pacific Jakarta".
  5. Website resmi Hotel Sari Pacific - halaman utama, kamar, prasmanan, rapat, fasilitas. Diakses 20 September 2019. (Arsip: halaman utama, kamar, prasmanan, rapat, fasilitas)
  6. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta (2018). "Sari Pan Pacific, Hotel". Ensiklopedia Jakarta, 1 Agustus 2018. Diakses 20 September 2019. (arsip)
  7. Marco Kusumawijaya (2000). "Gedung Jangkung di Poros Jakarta". KOMPAS, 19 Maret 2000.

Lokasi


View Larger Map

Perubahan

  • Pertama ditulis 20 September 2019
  • 17 Oktober 2019: Menambah kritik dari Marco Kusumawijaya yang dimuat di harian KOMPAS tahun 2000.

Komentar

Yang banyak dibaca seminggu terakhir

Sinarmas Land Plaza Surabaya (terbaru 13 Juli 2020)

Mal Ciputra Jakarta (terbaru 17 Maret 2020)

Sejarah Pusat Perbelanjaan Jakarta - Bab II: Lintas Melawai

Ratu Plaza (terbaru 6 Juli 2020)