Wisma Mandiri

Kompleks Bank Dagang Negara
Banyak gebrakan
Foto pribadi, Creative Commons License
Kompleks Wisma Mandiri, yang awalnya adalah kantor pusat Bank Dagang Negara, dimiliki oleh PT Usaha Gedung Mandiri dan berlokasi di Jalan M.H. Thamrin. Gedung Wisma Mandiri bisa dikatakan merupakan pionir pembangunan gedung bertingkat banyak lainnya di Jakarta atau bahkan Indonesia, selain Sarinah, Hotel Indonesia dan Wisma Nusantara, dan secara teknologi cukup menggebrak, terutama di gedung barunya yang dibangun 1986. Keduanya beralamat di Jalan M.H. Thamrin Nomor 5 di Jakarta

Dalam blog Setiap Gedung Punya Cerita akan dibahas kedua gedung tersebut dari sumber yang tidak akan didapat dari Internet sebelumnya.

Wisma Mandiri I d/h Gedung Bank Dagang Negara

Gedung ini merupakan gedung tinggi keempat di Jalan M.H. Thamrin yang dibangun dan diresmikan, setelah Hotel Indonesia (1958-1962), Hotel Asoka (1960-1962) dan Pusat Perbelanjaan Sarinah (1962-1966). Gedung BDN, begitu nama asli gedung setinggi 56,5 meter ini (4), dirancang oleh tim arsitek Perentjana Djaja dengan struktur ditangani oleh baginda teknik sipil Indonesia, Ir. Roosseno (2), dan mulai dibangun tanggal 25 Maret 1964 melalui upacara pemancangan perdana oleh Presiden Soekarno (6).

Proyek Gedung Bank Dagang Negara memang tersendat-sendat karena iklim ekonomi dan politik Indonesia yang panas - inflasi tinggi hingga 600 persen, peristiwa G30S/PKI dan lahirnya Supersemar - membuat proyek yang awalnya memiliki 17 lantai ini nyaris mangkrak. Andaikata pemodal asing dari AMCO Asia Corporation tidak membentuk kerja sama modal dengan Bank Dagang Negara (4), sudah pasti gedung ini tidak akan selesai dibangun hingga 1970an. Ketika pembangunan dilanjutkan kembali, malam tanggal 26 Desember 1966 proyek BDN terbakar karena korsleting listrik. Regu damkar dari Sarinah dan Gambir dengan sigap mencegah kebakaran proyek BDN membesar (3).

gedung bank dagang negara, wisma mandiri
Gedung BDN sebelum renovasi. Sumber foto:
Majalah Konstruksi edisi khusus, Jan-Feb 1981

Struktur bangunan seluas 17.778 meter persegi ini sudah jadi per 1967 (4), tetapi mekanik dan listriknya belum dipasang sampai 1969 (6). Baru pada 30 Agustus 1969, Presiden Soeharto meresmikan Gedung Bank Dagang Negara (4)(6). Salah satu kolumnis di harian KOMPAS, Drs. R.J. Kaptin Adisumarta, dalam tulisannya mengenai layanan perbankan, mengucapkan rasa bangganya dengan kehadiran Gedung BDN, tetapi ia mengingatkan bank-bank di Indonesia untuk memperbaiki kualitas layanan perbankan mereka (5).

Renovasi (2)

Kosong
Hasil renovasinya seirama dengan
adiknya dari 1986. Foto pribadi,
Creative Commons License
Perentjana Djaja yang merancang gedung ini kembali datang ke Gedung BDN untuk merancang oplasan gedung karya mereka sendiri, mengacu pada gedung baru yaitu Menara BDN, yang baru saja pembangunannya kelar.

Direncanakan sejak 1987, proses renovasi gedung yang saat itu baru berusia 18 tahun ini dimulai awal 1988 dan selesai sekitar 1991, karena renovasi interior dan kelistrikan memakan waktu lebih lama. Perubahan total eksterior dan interior Gedung BDN ini dipimpin oleh Raysoeli Moeloek - tokoh yang sama dibalik Wisma Kosgoro dan Duta Merlin yang sangat kontroversial - dan Irsal Said dari Perentjana Djaja. Bank Dagang Negara menggelontorkan Rp. 5 milyar, nilai 1990 (setara Rp. 62 milyar nilai 2019), untuk renovasi total seisi gedung. Langkah ini diambil karena BDN menganggap renovasi gedung menghemat biaya ketimbang membangun baru, dan khusus kelistrikan, gedung ini memerlukan perbaikan besar-besaran.

Pascarenovasi, Gedung BDN sempat berganti nama menjadi Gedung Bank Syariah Mandiri pasca-peleburan hingga 2009, dan sekarang bernama Wisma Mandiri I.

Data dan fakta

  • Nama lama: Gedung Bank Dagang Negara, Gedung Bank Syariah Mandiri
  • Arsitek: Perentjana Djaja
  • Lama pembangunan: Maret 1964 - 1969
  • Diresmikan: 30 Agustus 1969
  • Jumlah lantai: 11
  • Tinggi gedung: 57 meter
  • Signifikasi: Struktural (struktur bangunan ditangani Roosseno)

Wisma Mandiri II d/h Menara Bank Dagang Negara (1)

Menara Bank Dagang Negara
Tidak kalah gagah dan kokoh. Foto pribadi, Creative Commons License

Gedung berlantai 27 ini, bagi dunia teknik sipil Indonesia, adalah sebuah gebrakan. Pertama, curtain wall struktural yang memberi ruang kantor yang lebih lega, kedua adalah panel komposit dengan lapis cat florokarbon dan yang paling menonjol, adalah gedung ini betonnya dicetak (prefab) (1). Menara BDN dirancang oleh tim arsitek Encona Engineering bersama dengan sebuah tim proyek yang dipimpin oleh Raysoeli Moeloek (1). Tercatat pembangunan dimulai 11 April 1984 dan selesai dibangun kira-kira Oktober 1986, menghabiskan 2,5 tahun pekerjaan. Pekerjaan dilakukan oleh pemborong negara Wijaya Karya (1)(6).

Gedung seluas 38 ribu meter persegi ini memiliki desain arsitektur yang banyak bermain vertikal, tetapi bergaya modernisme akhir; pertama bentuknya tidak sampai terlalu mengotak, gagah dan berbeda dari sekitarnya. Lapis luarnya adalah aluminium berlapis cat floropolimer diimpor dari PPG Industries, Pittsburgh, AS, lapis kaca struktural tanpa terhalang aluminium struktur. Keduanya adalah pionir penggunaan material tersebut pada bangunan di Indonesia (1).

Secara struktural, Menara BDN ini bukan yang pertama yang memanfaatkan precast dan prefabrication, Wisma Hayam Wuruk yang pertama menggunakannya, tetapi bagi Wijaya Karya, ini merupakan sebuah kebanggaan, karena penggunaan precast telah mempercepat lama pembangunan dan irit biaya, sekaligus membuktikan bahwa WIKA sudah mampu dalam membangun gedung di atas 50 meter (1). WIKA kini membangun cukup banyak gedung tinggi di Indonesia. Struktur yang merupakan precast dari gedung ini adalah pelat, balok dan tangga, sementara core/inti dan kolom dan balok lantai induk pratekan dicor di tempat (1).

Gedung berketinggian 113 meter ini menghabiskan biaya sebanyak Rp. 24,5 milyar rupiah (1986) (1). Menara BDN diresmikan pada minggu kedua Januari 1987 (7).

Data dan fakta

  • Nama lama: Menara BDN
  • Arsitek:
    • Encona Engineering
  • Pemborong:
    • Wijaya Karya
  • Lama pembangunan: April 1984 - Oktober 1986
  • Jumlah lantai: 28 + 2 basement
  • Tinggi gedung: 113 meter
  • Biaya pembangunan: Rp. 24,5 milyar (1986, setara Rp. 405 milyar nilai 2019)
  • Signifikasi: Arsitektural (gedung pertama di Indonesia dengan panel aluminium)

Referensi

  1. Muhammad Zaki; Urip Yustono; Ir. Komajaya et al (1986). "Pembangunan proyek perluasan Kantor Pusat BDN: Tepat waktu dan hemat biaya, sekitar 13,5 persen". Majalah Konstruksi No. 102, September 1986.
  2. Rahmi Hidayat (1990). "Renovasi BDN: Hemat dan berkarakter, sama dengan lingkungan". Majalah Konstruksi No. 147, Juli 1990.
  3. tp (1966). "Bank Dagang Negara njaris terbakar habis". KOMPAS, 27 Desember 1966.
  4. thn (1969). "Presiden pada peresian gedung BDN: Kelambanan Tata-kerdja Bank2 Dapat Mengatjaukan Pelita". KOMPAS, 1 September 1969.
  5. Drs. R.J. Kaptin Adisumarta (1969). "Komentar Peristiwa Ekonomi: Membangun Bank Untuk Membangun Rakjat". KOMPAS, 6 September 1969.
  6. Web resmi PT Usaha Gedung Mandiri d/h Usaha Gedung BDN, diakses 16 Agustus 2019. (arsip)
  7. Max Wangkar; Tempo Biro Jakarta (1987). "Mengukur Efisiensi". Tempo, 24 Januari 1987.

Lokasi

Comments

Yang banyak dibaca seminggu terakhir

Intiland Tower Jakarta (update 17 Oktober 2019)

Grha BNI

Gedung Sapta Pesona (update 19 September 2019)

Gedung Sekretariat ASEAN

Intiland Tower Surabaya