World Trade Centre Surabaya

WTC Surabaya
5 Maret 2017. Foto pribadi, Creative Commons License

WTC Surabaya merupakan gedung pusat perbelanjaan telepon seluler, dulunya gedung perkantoran dan balai pamer (1), yang berada tempat di samping Plaza Delta Surabaya, memiliki enam lantai dan luas bangunan sebesar grand total sekitar 27 ribu meter persegi (1)(2), dihitung manual oleh penulis. Kompleks WTC Surabaya dimiliki oleh PT Puri Pariwara, bentukan Grup Dharmala dan Yayasan Dana Pensiun Bank Exim, dan dibangun dalam dua tahap: tahap pertama dibangun dari Mei 1989 sampai Juli 1991 oleh PT Pembangunan Perumahan (1), dan tahap keduanya, perluasan, dibangun di atas bekas balai pamer, dibangun mulai Maret 2016 sampai Februari 2017, dilakukan oleh anak perusahaan PT PP, PP Precast (2). World Trade Centre Surabaya dibuka oleh Gubernur Jawa Timur Soelarso pada 11 April 1991 (3).

Ketika pertama dibangun, World Trade Centre Surabaya dirancang sebagai pusat perdagangan dan promosi pariwisata dan penanaman modal Indonesia bagian timur. Tak hanya itu, WTC Surabaya juga awalnya ingin difungsikan sebagai ruang pamer UMKM di Jawa Timur dan Indonesia bagian timur secara umum (1)(3).

Interior lobi WTC Surabaya saat ini, gambaran bagaimana gadget merajai bekas pusat perdagangan UKM Jatim.
Sumber: Ronniecoln
Namun sejak krisis moneter menghajar Indonesia pada 1997, fungsi perdagangan dan ruang pamer UMKM itu sudah bergeser jauh menjadi pusat penjualan ponsel dan gadget, seperti yang bisa kita lihat sekarang ini. Perubahan tersebut muncul karena tenant-tenant gedung yang kebanyakan adalah perusahaan dagang kecil dan menengah mundur atau bangkrut (4) sehingga pengelola WTC Surabaya, agar setidaknya bisa menutupi biaya operasional properti, membuka ruang sewa bagi pengusaha penjualan ponsel (per 1994, hanya ada secuil outlet ponsel (4)), sehingga mengembalikan tingkat okupansi, walau akhirnya harus menghadapi konsekuensi negatif, termasuk istilah "World Telephone Centre" yang muncul di kalangan masyarakat Surabaya (4).

gedung besar berwarna putih dan berlantai 6 di surabaya
WTC Surabaya sebelum ekspansi pada 2016.
Sumber: Majalah Konstruksi, Juli 1991
Secara arsitektural, gaya arsitektur yang diusung oleh Ir. Tonny Kindangen, salah satu arsitek dari Paramitra Mardhika yang menggarap desain gedung berlantai 6 ini, masih digolongkan bergaya modernisme akhir dengan sedikit nuansa lokal. Untuk alasan spasial, agak tidak seperti menghimpit jalan (lorong), gedung pamernya (beserta ekspansinya) diputar 45 derajat (1).

Arsitektural ekspansi ternyata jauh lebih menyimpang dari desain lama. Parametr Architects, penggarap desain ekspansinya, memilih memberi sentuhan "living belt" dengan penggunaan finishing yang berbeda dengan gedung aslinya (2). Ditambah dengan lift panorama yang memberi suguhan suasana Jalan Pemuda bagi penggunanya; dan food court yang membawa suasana mall semakin hidup (2).

Data dan fakta

  • Alamat: Jalan Pemuda No. 27-31 Surabaya
  • Arsitek:
    • Tonny Kindangen (Paramitra Mardhika, gedung lama)
    • Ario Andito, Harun Wisaksono dan Joffi Febriando (Parametr, ekspansi)
  • Pemborong:
    • Pembangunan Perumahan (gedung lama)
    • PP Precast (ekspansi)
  • Lama pembangunan:
    • Mei 1989 - September 1990 (gedung utama)
    • Mei 1990 - Juli 1991 (pendukung)
  • Jumlah lantai: 6
  • Biaya pembangunan:
    • Rp 16,4 milyar (1991, setara Rp 191 milyar nilai 2020)
  • Signifikasi: Tidak ada

Referensi

  1. Dwi Ratih; Hidayat, Rahmi. "World Trade Centre Surabaya: Dengan memperhatikan faktor fleksibilitas". Majalah Konstruksi No. 159, Juli 1991.
  2. "WTC E-Mall Surabaya". Construction+ Asia. (arsip)
  3. mba (1991). "Surabaya Bangun WTC". KOMPAS, 15 April 1991.
  4. Tri Widuri, Rachma (2002). "Pemanfaatan WTC Surabaya Tidak Sesuai Dengan Rencana Awal." KOMPAS, 5 September 2002.

Lokasi

Comments