Gedung Danareksa & Gedung Kementerian BUMN

Satu kompleks, dua bangunan. Setiap Gedung Punya Cerita kini kembali membahas dua gedung dalam satu artikel, dan kini adalah gedung Bursa Efek lama dan perluasannya yang sekarang, masing-masing, merupakan kantor pusat Danareksa dan Kementerian BUMN.

Catatan penulis: Setelah 9 bulan memikirkan artikel untuk kedua gedung ini sebagai awal dari dicetuskannya blog Setiap Gedung Punya Cerita, akhirnya Gedung Kementerian BUMN dan Gedung Danareksa memiliki artikel sendiri. Selamat membaca.

Agar tidak ambigu, Gedung Danareksa yang sebelumnya bernama Gedung Bursa menggunakan nama lama, dan nama Gedung Kementerian BUMN, nama terkini Gedung Danareksa berlantai 22 sejak 2007, tidak berubah.

Gedung Danareksa, dh Gedung Bursa

Sangat anggun dan modern. Sumber foto: Majalah Konstruksi ed. November 1980.

Kisahnya dimulai dari 15 Juli 1972. Menteri Keuangan RI Radius Prawiro di hari itu membuka Gedung Bursa dan Pasar Uang dan Modal sebagai bagian dari persiapan pembentukan Badan Pembina Pasar Uang dan Modal atau BAPEPAM (A2). Namun ini baru babak awal dari penyelenggaraan kembali perdagangan pasar modal yang layu sejak 1958. Baru pada 10 Agustus 1977 (A3), Danareksa diresmikan operasionalnya oleh Presiden Soeharto sekaligus memulai perdagangan di pasar modal Indonesia.

Di balik layar, pemerintah pada 1973 (A1) sudah berancang-ancang mengadakan pembangunan sarana perdagangan bursa saham di Jakarta, berlokasi di samping gedung bursa saham yang pada medio 1977 digunakan Danareksa untuk menyelenggarakan perdagangan pasar modal.

Perentjana Djaja ditunjuk untuk merancang desain Gedung Bursa yang mengusung gaya arsitektur internasional ini, didamping dan diawasi oleh tim dari Encona Engineering dan pemborongnya keseluruhan dilakukan BUMN, yaitu Nindya Karya untuk pondasi, Adhi Karya untuk struktur atas dan finishing, dan subkontraktor swasta lokal (A1). Pembangunan diselenggarakan dari 1 Oktober 1978 sampai Oktober 1980, dan diresmikan penggunaannya oleh Menteri Keuangan pada 30 Oktober 1980 (A1)(A4).

Bagian samping gedung. Sumber foto: Majalah Konstruksi ed. November 1980

Danareksa merogoh kocek Rp. 2,75 milyar rupiah nilai 1980 (Rp. 78,4 milyar nilai 2019), 80 persennya dari laba Danareksa selama 1977 sampai 1980, untuk mengadakan pembangunan Gedung Bursa (A1). Bursa Efek Jakarta mengadakan program perdagangan modal dari gedung ini sampai pindah ke gedung baru di Sudirman Central Business District sejak 19 Mei 1995, yang merupakan akhir dari masa perdagangan saham dengan kertas, papan spidol dan pialang teriak-teriak (A5).

Yang amat disayangkan adalah Danareksa, tenant suksesor, merombak wajah depan gedung ini di tahun 2000an secara dramatis, mengubah desain gedungnya menjadi neoklasik.

Arsitektur dan struktur

Rangkuman dari sumber (A1)
Ketika gedung ini dirancang, tim arsitek konon mengadakan kunjungan kerja ke Seoul dan London untuk melihat contoh desain bangunan yang diterapkan pada gedung Korea Exchange dan London Stock Exchange. Alhasil rancangan yang didapat adalah interiornya yang mirip dengan kantor bursa London, dan eksteriornya mirip gedung bursa Seoul. Tak hanya itu, Danareksa mendapat dukungan seorang pejabat Pacific Exchange (Gabungan Pasar Modal San Francisco dan Los Angeles) dalam perencanaan interior.

Dilihat dari luar, Gedung Bursa pra-renovasi seperti kurang memiliki makna, tetapi sebenarnya makna itu ada, yaitu empat garis horisontal pada sudut kiri dan kanan bangunan melambangkan kestabilan keuangan, dan diperkokoh oleh empat silinder yang berfungsi fungsional sebagai penahan gaya lateral, selain juga membawa citra gedung bursa sebagai pusat perdagangan efek. Makna yang ditarik dari gedung ini, berdasarkan artikel Majalah Konstruksi yang penulis tangkap, adalah sistem moneter dan pasar modal Indonesia yang kokoh dan teguh menembus kerasnya terpaan sentimen ekonomi global

Finishing Gedung Bursa menggunakan lapis kaca hitam dan lapis keramik putih, lapis yang jamak di masa Orde Baru. Secara struktural Gedung Bursa menerapkan pondasi tiang pancang sebanyak 233 buah, serta tembok geser/shear wall untuk empat silinder.

Pasca-renovasi Gedung Bursa dipaksa mengemban langgam arsitektur neo-klasik, dan hal ini memunculkan persepsi yang berpotensi menyesatkan karena penulis sempat menemukan sebuah blog yang menyebut Gedung Bursa sebagai bangunan cagar budaya, ketika penulis mencari blog tersebut, diduga sudah tertutup berita soal pembangunan pengganti gedung ini.

Data dan fakta

  • Nama lama: Gedung Bursa
  • Alamat: Jalan Medan Merdeka Selatan No. 14 Jakarta
  • Arsitek: Ir. Sukandar Argadinata (Perentjana Djaja)
  • Pemborong:
    • Nindya Karya (pondasi)
    • Adhi Karya (struktur utama)
  • Lama pembangunan: Oktober 1978 - Oktober 1980
  • Diresmikan: 30 Oktober 1980
  • Jumlah lantai: 5
  • Tinggi: 23 meter
  • Biaya pembangunan: Rp. 2,75 milyar (1980, setara Rp. 78,4 milyar nilai 2019)
  • Signifikasi: Tidak ada

Gedung Kementerian BUMN

Gedung Kementerian BUMN
Ketika gedung tersebut belum berubah wajah. Foto pribadi, Creative Commons License

Kala pembangunan Gedung Bursa selesai dilaksanakan, pihak perancang sudah memberi isyarat kepada wartawan Majalah Konstruksi bahwa pembangunan kompleks Bursa Efek di Jalan Medan Merdeka Selatan ini belum usai, dan telah direncanakan pembangunan gedung berlantai 22 (A1). Gedung tersebut bernama Gedung Danareksa, dan pembangunannya dimulai sejak awal 1983 - estimasi penulis ini dipilih karena kaver majalah Konstruksi edisi Mei 1983 menampilkan pemancangan pondasi gedung Danareksa. Penjelasan pondasinya bisa dibaca di subbagian Arsitektur dan Struktur untuk gedung ini.

Gedung Danareksa, begitu nama awal gedung dengan ketinggian 89 meter (B1) ini, memang awalnya dirancang untuk menjadi perkantoran para pialang saham seperti yang disinggung pihak perancang kepada pewarta Majalah Konstruksi (A1), harapan yang sama juga diutarkan pewarta majalah Uang & Efek pada Mei 1986 yang mewartakan penyewaan Gedung Danareksa (B2).

Rencana itu meleset, karena saat Gedung Danareksa masih berusia satu tahun, Garuda Indonesia boyongan ke Gedung Danareksa mulai Juli hingga Agustus 1987 (B12) dan menempati 10 lantai dengan tagihan sewa istimewa USD 13,5/meter persegi, diikuti beberapa BUMN lain. Pewarta Majalah Tempo menemukan bahwa walau "Menara Dolar" (B3), begitu julukan yang diberi pewarta Majalah Tempo untuk Gedung Danareksa yang menjadikan gedung ini bahan berita, dengan tarif sewa bersahabat bagi kantong broker saham sekitar 15 USD/meter persegi, toh mereka ogah pindah ke Gedung Danareksa karena bakal menyedot laba bersih mereka (B3). Tiga tahun usai Garuda boyongan, maskapai penerbangan milik negara tersebut resmi membeli Gedung Danareksa dan berubah nama menjadi Kantor Pusat Garuda Indonesia atau Gedung Garuda Indonesia per 30 Juli 1990 dengan tebusan Rp 60 milyar (1990, setara Rp 749 milyar nilai 2019) (B4).

-----------------------------
Catatan penulis: Mayoritas media online dan eks Sekretaris Kementerian BUMN Said Didu memulai titik sejarah gedung ini dari masa Kantor Pusat Garuda Indonesia. Penulis tidak menemukan kapan Garuda Indonesia mulai berkantor dari gedung ini, tidak juga sejarah saat gedung tersebut masih bernama Gedung Danareksa dari sumber-sumber tersebut.
-----------------------------

Krisis keuangan yang menjerat Garuda Indonesia sejak krisis moneter dan restrukturisasi menjadi ironi, bila peristiwa tahun 1990 tersebut ikut direkam. Tahun 2007, gedung rancangan Perentjana Djaja ini dibeli balik Danareksa - pemilik awal Gedung Garuda Indonesia 1986-1990 - dari Garuda atas permintaan pemerintah dan diberikan cuma-cuma ke Kementerian Negara BUMN, dan Garuda mau tak mau harus meninggalkan gedung yang mereka tempati selama 20 tahun (B5). Sejak Kemneg BUMN masuk inilah nama gedung berubah lagi menjadi Gedung Kementerian BUMN. 7 tahun kemudian, Kementerian BUMN berencana menjual lagi gedung ini dengan alasan efisiensi, namun rencana ini memicu polemik (B6) yang akhirnya menjadi bahan empuk berita bohong dan disinformasi di media sosial beberapa tahun kemudian (B7). Gedung Kementerian BUMN akhirnya tak jadi dijual, beber pihak Kementerian BUMN pada 31 Desember 2014 (B8), karena alasan keamanan.

Setelah kontroversi tersebut, Gedung Kementerian BUMN akhirnya dipermak ulang pada akhir 2018 dengan rancangan dari Alien Design Consultant (B9) (tanpa pendampingan dari Perentjana Djaja, arsitek lama gedung ini) dan pemborong Wika Gedung, memakan waktu 6 bulan dan diresmikan 5 Mei 2019 (B10), mengakhiri 32 tahun tampang sederhana, simpel dan formal Gedung Danareksa/Garuda Indonesia/Kementerian BUMN rancangan Perentjana Djaja, dan diganti dengan nuansa tech penuh kitsch dari Alien Design.

Arsitektur dan struktur

Gedung Kementerian BUMN
Dari posisi ini bisa dilihat bahwa gedung Kementerian BUMN diangkat.
Foto pribadi, Creative Commons License

(Rangkuman dari A1 dan B1)
Gedung bergaya internasional ini awalnya dirancang memiliki 30 lantai atas kebutuhan Danareksa, tetapi pemerintah DKI menyarankan Gedung Kementerian BUMN dibangun 22 lantai, agar tidak menyaingi ketinggian Kantor Gubernur DKI Jakarta dan Monumen Nasional. Walaupun itu, bangunan dengan luas lantai sekitar 23 ribu meter persegi ini bukannya tidak punya fitur-fitur spesial dari perancangannya.

Dari segi perencanaan lanskap bangunan, Gedung Kementerian BUMN memiliki nilai plus berupa tamannya, alih-alih lapangan parkir, agar ada suasana hijau di dalam lokasi. Selain taman, Gedung Kementerian BUMN juga memiliki lantai dasar yang diangkat agar terlihat seperti di atas bukit, dan tapak bangunannya ditengahkan, menaikkan nilai jual gedung ini dari segi lanskap dan estetika. Gedung Kementerian BUMN dilengkapi dengan gedung annex sebanyak 4 lantai sebagai penghubung dengan Gedung Bursa. Sementara lapangan parkirnya disembunyikan di bawah taman.

Secara desain, Gedung Kementerian BUMN terlihat sangat kokoh, kekar, formal, sesuai dengan citra moneter yang harus kokoh, melanjutkan citra desain Gedung Bursa sebagai pusat pasar modal Indonesia. Finishing bangunan menggunakan keramik berwarna putih buatan Artistika Inkernas, jendela warna cokelat (smoked).

Wedge joint rancangan Johan H.
Simanjuntak untuk pondasi
Gedung Kementerian BUMN.
Foto: Majalah Konstruksi,
Mei 1983
Secara struktur, Gedung Kementerian BUMN menggunakan struktur atas konstruksi beton bertulang ditopang 4 struktur kolom silinder dan 1 core, bebas kolom dan tulangan lantai diberi pratekan. Pondasinya menggunakan tiang pancang pratekan dalam, mengingat lokasi lahan di sekitar Kebon Sirih didominasi tanah lembek, laporan Majalah Konstruksi edisi Juni 1986 menyebut kedalaman tanah keras mencapai 40 meter. Penyambung pondasi yang digunakan menggunakan sistem wedge joint JHS buatan Ir. Johan Hasiholan Simanjutak, yang dibuat untuk mengurangi kebutuhan impor sambungan pancang Hercules buatan Swedia, dan memiliki kelebihan tak diduga seperti lebih kaku dan sederhana dibandingkan pancang Hercules (no. paten Inggris GB8230628.3/GB2115467(B11).

Pasca-oplas pada Desember 2018 lalu, Gedung Kementerian BUMN akhirnya dipaksa "mengikuti zaman". Tidak lagi menggunakan lapis keramik Artistika, dan tak lagi berjendela cokelat yang menjadi simbol arsitektur era 1980an, Gedung Kementerian BUMN kini berlapis kaca berwarna biru, lapis aluminium dan crown-nya yang kental nuansa "kawaii" dengan nuansa arsitektur yang sangat murahan, mainstream dan membosankan, ciri umum dari aristektur Indonesia di zaman Dilanowcy.

Data dan fakta

1986-2018

  • Nama sebelumnya: Gedung Danareksa, Gedung Garuda Indonesia, Kantor Pusat Garuda Indonesia
  • Alamat: Jalan Medan Merdeka Selatan No. 13 Jakarta
  • Arsitek:
    • Perentjana Djaja
  • Pemborong:
    • Pembangunan Perumahan
  • Lama pembangunan: awal 1983 - Mei 1986
  • Jumlah lantai: 22
  • Tinggi gedung: 89 meter
  • Signifikasi: Peristiwa terkini (rencana penjualan gedung yang memicu kontroversi)

2019

Gedung Kementerian BUMN
Bener, renovannya jelek sekali.
Foto pribadi, Creative Commons License
  • Arsitek:
    • ALIEN Design Consultants
  • Pemborong:
    • WIKA Gedung dan Bangunan
  • Lama pembangunan: Juli - Desember 2018

Referensi

Gedung Danareksa (A)

  1. NN (1980). "Gedung Bursa akan dilengkapi bangunan 22 lantai". Majalah Konstruksi, November 1980.
  2. NN (1972). "Gedung Bursa dan PUM Diresmikan". KOMPAS, 17 Juli 1972.
  3. Website resmi Danareksa (arsip) + BSP/CH (1977). "Bursa Saham PT Danareksa diresmikan hari ini". KOMPAS, 10 Agustus 1977.
  4. Editorial (1980). "Tajuk rencana: Gedung Bursa". KOMPAS, 1 November 1980.
  5. NA (1995). "Perdagangan Secara Manual di BEJ Berakhir". Merdeka, 20 Mei 1995.

Gedung Kementerian BUMN (B)

  1. NN (1986). "Gedung Danareksa, seolah-olah berdiri di atas bukit". Majalah Konstruksi, Juni 1986.
  2. (1986). "Penyewaan Gedung Danareksa 22 Lantai". Uang & Efek, Juni 1986.
  3. Max Wangkar; Biro Tempo Jakarta (1987). "Menara Dolar". Tempo, 20 Juni 1987.
  4. DS (1990). "Gedung Danareksa Dibeli Garuda". KOMPAS, 1 Agustus 1990.
  5. "Kementerian BUMN Pindah ke Gedung Garuda Oktober". Tempo.co, 5 Juli 2007. (Arsip)
  6. Sumber-sumber berita untuk penjualan Gedung Kementerian BUMN sbb:
    1. Royke Sinaga; Ella Syafputri (editor) (2014). "Gedung BUMN Dijual Demi Efisiensi". ANTARA, 15 Desember 2014. (Arsip)
    2. Heru Andriyanto (2014). "Penjualan Gedung BUMN Adalah Ironi Sejarah". BeritaSatu, 17 Desember 2014. (Arsip)
    3. Christie Stephanie (2014). "DPR Protes Rencana Rini Soemarno Jual Gedung BUMN". CNN Indonesia, 16 Desember 2014. (Arsip)
  7. Aribowo Sasmito (2018). "[SALAH] Gedung Kementerian Pun Akan Dijual". Masyarakat Anti Fitnah Indonesia, 12 Mei 2018. (Arsip)
  8. Septian Deny (2014). "Masuk Kawasan Ring I, Gedung Kementerian BUMN Tak Dijual". Liputan 6 SCTV, 31 Desember 2014. (Arsip)
  9. Instagram resmi perusahaan
  10. Yudho Winarto (2019). "Gedung Kementerian BUMN Kini Menjelma Jadi Perkantoran Modern". KONTAN, 5 Mei 2019. (Arsip)
  11. NN (1983). "Sistem sambungan tiang pancang beton dengan baji". Majalah Konstruksi, Mei 1983.
  12. DS (1987). "Garuda Pindah ke Gedung Baru". KOMPAS, 21 Juli 1987.

Lokasi


View Larger Map

Perubahan

Pertama ditulis 12 Juli 2019
19 Juli 2019: Judul diubah, nama "Kompleks Danareksa" sepertinya anda tidak kenal.

Komentar

Yang banyak dibaca seminggu terakhir

Mall Ciputra Jakarta

Intiland Tower Jakarta (update 17 Oktober 2019)

City Plaza Klender

Grha BNI

Gedung Sapta Pesona (update 19 September 2019)