Kantor Pusat PELNI

Gedung PELNI
Besar dan megah.
11 September 2016. Foto pribadi, Creative Commons License
Gedung berlantai 11 ini merupakan kantor pusat PELNI, BUMN pelayaran nasional Indonesia, sejak 1990, setelah menjalani 15 bulan masa pembangunan dari Mei 1988 hingga selesai pada September 1989, menghabiskan biaya 15,4 milyar rupiah dari anggaran PELNI 1987/88. Kantor Pusat PELNI diresmikan oleh Menteri Perhubungan Letjen Ir. Azwar Anas pada 24 Maret 1990.

Kantor Pusat PELNI dirancang oleh tim arsitek dari PRW Architects pimpinan Ir. Warman Anwar. Sebelum kantor pusat PELNI dibangun di lokasi sekarang, PELNI berkantor di beberapa tempat: Jalan Pintu Air, Jalan Angkasa dan Jalan Bungur. Lokasi di Jalan Angkasa yang dipersempit oleh pelebaran jalan kini menjadi kantor PELNI Kemayoran.

Arsitektur dan struktur

Pinisi Sunda Kelapa
Sumber inspirasi Warman Anwar untuk Kantor Pusat PELNI.
Pelabuhan Sunda Kelapa, 28 Juni 2008, foto oleh Danumurthi Mahendra, Creative Commons License

Gedung yang kasat mata terlihat menyatu ini, memiliki tiga blok. Blok A adalah kantor utama PELNI sendiri dengan 10 lantai, Blok B adalah kantor anak perusahaan PELNI dengan 5 lantai, dan Blok C yang terpendek dan terdalam adalah auditorium berkapasitas 1000 orang dan fasilitas umum.

Bangunan dengan luas lantai 15.200 meter persegi ini, kata Warman Anwar selaku arsitek Kantor Pusat PELNI kepada Majalah Konstruksi (terbit Januari 1990), terilhami dari bentuk kapal yang ia pernah lihat di Pasar Ikan, dan direkam dalam bentuk lukisan pribadinya. Pilar vertikal dan elemen vertikal yang mendominasi muka bangunan blok A inilah yang merepresentasikan tiang kapal, mengusung filosofi kepemimpinan. Filosofi itu diperkuat dengan penempatan kantor badan direksi PELNI di blok A. Di blok yang sama bagian pucuknya terinspirasi oleh sekur bangunan klasik. Secara sederhana, kata Warman, "bisa dikatakan menganut langgam Post Modern".

Secara finishing, gedung ini menggunakan lapis aluminium cokelat, curtain wall berwarna gelap, memberi harmoni dengan Gajah Mada Plaza.

Secara struktur, pondasi yang digunakan adalah frankipile berkedalaman 18-20 meter. Berbeda dengan gedung-gedung dengan luas tanah memanjang dan sempit, pelat lantai Kantor Pusat PELNI tidak diprestres, karena berat bangunan yang terlanjur berat oleh elemen pilar arsitektural gedung. Untuk mengakali berat struktur yang besar, 3 balok anak disertakan di pelat lantai, dengan jarak 2,4 meter setiap bagian.

Data dan fakta

  • Alamat: Jalan Gajah Mada No. 14 Jakarta
  • Arsitek: Warman Anwar (PRW Architects)
  • Pemborong:
    • Multi Kontrindo Perkasa (utama dan arsitektur)
    • Total Bangun Persada (struktur)
  • Lama pembangunan: Mei 1988 - September 1989
  • Tinggi gedung: 43 meter
  • Jumlah lantai: 11 + 1 basement
  • Biaya pembangunan: Rp 15,4 milyar (1989, setara Rp 208,8 milyar nilai 2020)
  • Signifikasi: Tidak ada

Referensi

  1. Zaki, Mohammad; Hidayat, Rahmi. "Gedung Kantor Pusat PT PELNI: Bentuknya diilhami suasana pelabuhan." Majalah Konstruksi No. 141, Januari 1990.
  2. Plakat gedung.

Lokasi

Comments