Hotel Le Méridien Jakarta (terbaru 1 Agustus 2020)

Hotel Le Méridien Jakarta
Mahakarya William B. Tabler di Indonesia
28 Desember 2014. Foto pribadi, Creative Commons License

Hotel Le Méridien Jakarta merupakan hotel rancangan William B. Tabler, salah satu arsitek asal Amerika yang merancang sekitar 400 hotel, kurang lebih, bekerjasama dengan firma arsitek kebanggaan bangsa, Atelier 6 (1). Hotel dengan warna tembok putih dan beratap biru ini merupakan hotel milik kelompok bisnis Mercu Buana bentukan Probosutedjo, dibawah tampuk PT. Wisata Triloka Buana (1).

Hotel berlantai 12 dan 21 ini adalah hotel Le Méridien pertama yang beroperasi di Indonesia; hotel Le Méridien kedua dibangun di dekat Tanah Lot, kab. Tabanan, Bali.

Pada 1987, Mercu Buana ingin memanfaatkan lahan mereka, seluas hampir 13 ribu meter persegi, di bilangan Jenderal Sudirman, yang saat itu hanya ditempati sebuah gedung kantor Grup Mercu Buana dan sisanya adalah lahan kosong (1). Lahan tersebut awalnya adalah milik perusahaan bernama PT Kiagoos, yang dibeli oleh Mercu Buana pada tahun 1980. Gedungnya sendiri sebenarnya sudah ada sejak 1960an akhir (8).

Keputusan Mercu Buana untuk membangun hotel di atas lahan kosong dan kantor Mercu Buana dipilih karena saran dari Horwath & Horwath (sekarang Horwath HTL), konsultan hotel asal AS (8), yang diminta oleh Mercu Buana untuk membuat studi perencanaan rencana hotel. (Aries Firman, managing director Wisata Triloka Buana saat itu kepada wartawan Majalah Konstruksi, terbit Desember 1991) (1).

lahan yang kini menjadi hotel le meridien pada 1985, dengan rumah kecil dan gedung berwarna putih berlantai lima sebagai kantor mercu buana.
Atas: Lahan calon Le Meridien pada 1985. Kantor pusat Mercu Buana diberi anak panah
Bawah: Gedung Mercu Buana, 1985
Sumber foto atas: Indonesia from the Air, Times Editions & Humpuss, 1986
Sumber foto bawah: Southeast Asia Building, April 1985

Pembangunan hotel yang manajemennya saat itu dimiliki maskapai penerbangan Air France dimulai pada akhir 1987 (5)(6), digarap bersama oleh Mercu Buana Raya Contractors dan pemborong asal Perancis, Dumez (sekarang bagian dari Vinci Construction), yang saat itu juga memegang saham di hotel ini (1)(7). Saat pembangunan dilangsungkan, kontrak antara Wisata Triloka Buana dengan jaringan hotel Le Méridien diteken pada medio Oktober 1989 (5)

Foto udara Jakarta era Dilan (1990). Pembangunan gedung tinggi di Jalan Sudirman
Dalam masa pembangunan.
Foto oleh Dahlan Rebo Paing/Majalah Prospek

Proyek tersebut awalnya diselesaikan sebelum akhir 1990 dan dibuka pada Januari 1991 (6); kebijakan uang ketat dan molornya pemasangan listrik oleh PLN membuat hotel ini baru menyelesaikan pembangunannya sekitar tahun 1991 (1), mulai operasional pada pertengahan 1991 (7) dan dibuka oleh Ibu Negara Tien Soeharto bersama Menparpostel Soesilo Soedarman pada tanggal 17 Februari 1992 (2)(7), menjadikannya Le Méridien ke-55 di dunia (1). Pembangunan Hotel Le Méridien sendiri menghabiskan biaya sekitar 70 dolar Amerika Serikat nilai 1992 (2).

Pada 1998, Hotel Le Méridien memperluas hotelnya dengan membangun gedung berlantai 21 lantai (4). Belum diketahui siapa pemborong dan arsiteknya, hipotesis penulis adalah William Tabler dan Atelier 6 kembali bekerja dalam penggarapan wing tower ini, dan Mercu Buana sebagai pemborongnya (hipotesis ini digunakan karena pada Hotel Horison Ancol, pemborong dan arsiteknya gedung awal dan perluasannya adalah perusahaan/firma yang sama).

Deskripsi hotel

Le Meridien Jakarta
28 Desember 2014. Foto pribadi, Creative Commons License

Hotel Le Méridien Jakarta memiliki 2 gedung, yaitu Tower dan Main. Gedung main, adalah gedung utama dari hotel ini dengan 12 lantai, dibangun 1987-1991 (5)(6), dan Gedung tower adalah ekstensinya yang berlantai 21, dibangun 1998 (4). Keseluruhan, Hotel Le Méridien Jakarta memiliki 396 kamar (3)(4), terbagi ke dalam sembilan kategori kamar (3). Dari 9 kategori kamar, kamar Kudus Suite di blok Tower (3) adalah yang paling mewah, termahal dan paling Indonesia dari keseluruhan kamar hotel Le Méridien ini.

Selain itu, Hotel Le Méridien Jakarta memiliki fasilitas spa dan pijat, enam rumah makan dan lounge dengan hidangan khas Perancis, Timteng dan internasional, fasilitas kebugaran, kolam renang, ballroom dan arena pernikahan berkapasitas 1200 orang (bernama Sasono Mulyo) dan 5 ruang rapat (Antasena dan Puri Asri) (3).

Arsitektur yang diusung oleh William B. Tabler selaku arsitek mengusung nuansa resort di dalam hotel yang menyasar kalangan eksekutif ini (1). Mengutip N. Sidharta, Direktur Atelier 6 yang ikut merancang hotel ini, kepada wartawan Majalah Konstruksi Dwi Ratih, "tamu-tamu pun perlu suasana santai". Maka, bentuk gedungnya lebih meng-trap seperti gunung yang melindungi kolam renang dan taman (1), dari kebisingan mobil dan motor di Jalan Jenderal Sudirman, dan semakin didukung oleh keberadaan lapis luarnya yang membuat kamar tamu kedap udara (1). Secara interior, lobi hotelnya menekankan suasana Jawa dengan paduan Eropa (1)(7).

Data dan fakta

  • Alamat: Jalan Jenderal Sudirman Kav. 18-20 Jakarta
  • Arsitek:
    • William B. Tabler & Associates (arsitek utama)
    • Atelier 6 (architect of record)
  • Pemborong
    • Dumez S.A.
    • Mercu Buana Raya Contractors
  • Lama pembangunan:
    • 1987 - 1991 (blok utama)
    • selesai dibangun 1998 (blok tower)
  • Jumlah lantai: 12 (utama), 21 (tower)
  • Jumlah kamar: 396
  • Biaya pembangunan: USD 70 juta (Rp 140 milyar rupiah, 1992, setara Rp 1,5 triliun nilai 2020)
  • Signifikasi: Tidak ada

Referensi

  1. Dwi Ratih (1991). "Hotel Le Meridien, Jakarta: Hotel Bisnis dengan Suasana Resort". Majalah Konstruksi No. 164, Desember 1991.
  2. KOMPAS, 18 Februari 1992 (caption foto).
  3. Website resmi Hotel Le Méridien, part of Marriott International
  4. NN (2013). "Interview with Robert Hogenstijn, General Manager of Le Meridien Jakarta". PharmBoardroom, 2 Mei 2013. (arsip)
  5. "Kilas Ekonomi". KOMPAS, 20 Oktober 1989.
  6. "Kilas Ekonomi". KOMPAS, 23 Oktober 1989.
  7. is (1992). "Ibu Tien: Fasilitas kepariwisataan masih perlu diperbanyak". Bisnis Indonesia, 18 Februari 1992.
  8. Kemal Effendi Gani et. al. (1989). "Ada Pertarungan Seru di Pentas Bisnis Hotel". Majalah SWA, Juni 1989, hal. 8-13.

    Lokasi


    View Larger Map

    Perubahan

    • Pertama kali ditulis 12 Juli 2019
    • 2 Mei 2020: Data tambahan dari Bisnis Indonesia.
    • 1 Agustus 2020: Data tambahan kembali dari majalah SWA

    Comments