Gedung Ibnu Sutowo Kementerian ESDM (terbaru 7 Juni 2020)

Plaza Centris
29 Desember 2014. Foto pribadi, Creative Commons License

Plaza Centris, nama terbeken dari gedung Dirjen Migas ESDM, awalnya merupakan proyek bersama PT Pembangunan Perumahan dan Perum Otorita Jatiluhur (sekarang bernama Perum Jasa Tirta II sejak 1999) di kawasan Jalan HR Rasuna Said, Jakarta. Kerjasama PP-POJ direalisasikan pada Januari 1991 dan katanya akan berjalan sampai tahun 2011. (1)

Gedung berlantai 16 ini pada rencananya mulai dibangun pada 1991 dan selesai 1992 (2), tetapi karena overstok ruang kantor yang menyebabkan bank memilih mengurangi kucuran dana kepada pengembang, (1) baru bisa memulai pelaksanaan pembangunannya pada Maret 1994, dengan menggempur terlebih dahulu kantor lama POJ, dan selesai pada September 1995. (1) Hal yang juga berubah dari gedung ini selain terlambatnya pembangunan adalah nama gedung yang awalnya bernama Plaza Kunitha berganti menjadi Plaza Centris. Plaza Centris diresmikan oleh Menteri Pekerjaan Umum Radinal Moochtar pada 2 November 1995 (6). PP-POJ menghabiskan biaya Rp. 33,5 milyar (setara Rp. 278,7 milyar rupiah nilai 2020) untuk membangun Plaza Centris (6).

Pada 14-18 Juli 1994, PP-POJ memasarkan Plaza Kunitha/Centris di Balai Sidang Jakarta (3).

Belum diketahui kapan Perum Jasa Tirta II meninggalkan Plaza Centris. Sementara itu, gedung Plaza Centris menjadi kantor sementara Mahkamah Konstitusi pada 2003-04 dengan menyulap lapangan parkir menjadi kantoran, dan selanjutnya menjadi kantor Dirjen Migas ESDM. Di masa Dirjen Migas inilah nama Plaza Centris berubah menjadi Gedung Migas sejak 2015, bila merujuk pada Google Street View.

Sayangnya, nama Gedung Migas tak bertahan lama, per 15 Oktober 2019, nama Gedung Migas dipensiunkan dan diresmikan kembali sebagai Gedung Ibnu Sutowo. Pemberian nama gedung tersebut diberikan karena jasa Ibnu Sutowo dalam mengembangkan sistem bagi hasil yang bernama Production Sharing Contract (7).

Mobil jatuh dan urusan hukum dengan KPK

Dua kali Gedung Ibnu Sutowo menjadi pusat perhatian media massa karena dua kasus yang berbeda: mobil yang jatuh dari parkiran dan penggerebekan kantor oleh Komisi Pemberantasan Korupsi.

Pada 5 April 2016, sebuah mobil karyawan terjatuh dari parkiran Plaza Centris lantai 3 setelah menabrak pembatas (41), tidak ada korban tewas maupun luka. Polisi mengatakan bahwa penyebab jatuhnya mobil adalah kehilangan kemudi. (42)

Sebelumnya, pada 6 Februari 2014, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggerebek kantor beberapa perusahaan komersil di Plaza Centris terkait korupsi kegiatan sosialisasi, sepeda sehat dan perawatan gedung Sekjen ESDM yang melibatkan ex-Sekjen ESDM Waryono Karyo. (51)(52)

Tiga tahun kemudian, pada April 2017, Manajer Teknik Plaza Centris, Dirganeka Haryono, ikut terseret kasus yang sama, terutama terkait keterlibatan ex-Kabid Pemindahtanganan, Penghapusan, dan Pemanfaatan Barang Milik Negara Kementerian ESDM Sri Utami dalam kasus itu. (52)

Arsitektur dan teknis (1)

Gedung berlantai 16 ini dirancang oleh arsitek dari Jepang Nihon Sekkei (tidak ada kaitan dengan Nikken Sekkei yang merancang gedung Sonna Topas dan Summitmas, dan Nihon Architects yang merancang Atrium Mulia, Plaza Kuningan dan Apartemen Park Royale) dan dibantu oleh arsitek dari Patroon Arsindo untuk desainnya, dan Davy Sukamta & Partners untuk strukturnya.

Gedung Ibnu Sutowo memiliki dua bagian: lantai 2-5 adalah ruang parkir dan 7-16 adalah ruang perkantoran. Lantai 6 yang awalnya dialokasikan sebagai kantor, berubah menjadi ruang makan (kini sudah kembali menjadi kantor), lantai 1 adalah lobi dan basement adalah ruang mekanik dan parkir. Lantai 1 diangkat agar sejajar dengan ketinggian lantai 1 Gedung Kodel dan memerlukan sedikit penggalian. Interior Gedung Ibnu Sutowo memiliki atrium 16 lantai, dan atrium tersebut memiliki air mancur, dan didesain sedemikian rupa untuk memaksimalkan ruang kantor dan memanjakan tenant kantor.

Struktur utama gedung menggunakan beton bertulang, rangka terbuka dengan dinding geser/shear wall pada core gedung. Balok pada bagian tengah gedung diberi prategang untuk menyesuaikan dengan bentuk arsitekturnya. Pondasi menggunakan tiang bor karena keadaan tanahnya banyak berlensa (lapis berbeda-beda di setiap kedalaman meter)

Pembangunan dilakukan dalam tiga tahap. Pertama, menggempur bekas kantor POJ berlantai 5 pada Maret hingga April 1994, dilanjutkan dengan penggalian dan pekerjaan tiang bor pada Juni 1994 hingga Oktober 1994, dan konstruksi dimulai pada November 1994. Konstruksi utama selesai April 1995, dan finishing diselenggarakan mulai Februari 1995 dan selesai September 1995, tiga bulan meleset dari janji di iklan Kompas (3) dan rencana manajemen konstruksi karena faktor penyesuaian struktur.

Data dan fakta

  • Nama sebelumnya: Plaza Kunitha, Plaza Centris, Gedung Migas
  • Alamat: Jalan Rasuna Said Kavling B5 Jakarta
  • Arsitek:
    • Nihon Sekkei (utama)
    • Patroon Arsindo (architect of record)
    • Davy Sukamta & Partners (struktur)
  • Pemborong:
    • Pembangunan Perumahan (struktur dan arsitektur)
    • Ciriajasa (manajemen konstruksi)
  • Lama pembangunan: Juni 1994-September 1995
  • Jumlah lantai: 16 + 1 basement
  • Biaya pembangunan: Rp. 33,5 milyar (1995, setara Rp. 278 milyar nilai 2020)
  • Signifikasi: Tidak ada

Referensi

  1. Ratih, Dwi; Retnowati, Saptiwi Djati. "Plaza Centris, Atrium dan Gemerciknya Suara Air Terjun." Majalah Konstruksi No. 212, Oktober 1995
  2. Retnowati, Saptiwi Djati. "Kunitha Plaza, Dengan Atrium Setinggi 16 Lantai". Majalah Konstruksi No. 161, September 1991.
  3. Kompas, 13 Juli 1994 (iklan)
  4. Mobil terjatuh
    1. Aditya Fajar Indrawan. "Mobil Tabrak Pembatas Sebelum Terjun dari Lantai 3 Gedung Plaza Centris". Detikcom, 5 April 2016
    2. Jabbar Ramdhani. "Polisi: Mobil Jatuh dari Lantai 3 Plaza Centris karena Hilang Kendali". Detikcom, 5 April 2016
  5. Komisi Pemberantasan Korupsi
    1. "Penyidik KPK Foto Ruangan di Lantai 9 Plaza Centris Kuningan". Detikcom, 6 Februari 2014
    2. ANTARA. "KPK Periksa Empat Saksi Kasus Korupsi di Setjen ESDM". Republika, 26 April 2017
  6. fir (1995). "PP-POJ Bangun Gedung Perkantoran". Republika, 1 November 1995.
  7. Dirjen Migas ESDM (2019). "Plt. Dirjen Migas Resmikan Gedung Ibnu Sutowo: “Kita Banyak Belajar Dari Beliau”. Kementerian ESDM, 15 Oktober 2019. Diakses 8 November 2019. (Arsip)

Lokasi


View Larger Map

Perubahan

  • Pertama ditulis 12 April 2019
  • 7 Juni 2020: Penekanan pada nama arsitek. Nikken Sekkei? Nihon Architects? Nihon Sekkei? Bingung? Sedikit penelitian membuktikan bahwa Nihon Sekkei (Ni-Kei), Nihon Architects (Nih-Arch) dan Nikken Sekkei (Ken-Kei) tidak punya kaitan (Ni-Kei dan Nih-Arch dikabarkan juga berbarengan membuat Keio Plaza Hotel di Tokyo pada 1971).

Komentar

Yang banyak dibaca seminggu terakhir

Sinarmas Land Plaza Surabaya (terbaru 13 Juli 2020)

Mal Ciputra Jakarta (terbaru 17 Maret 2020)

Hotel Sari Pacific (terbaru 17 Oktober 2019)

Sejarah Pusat Perbelanjaan Jakarta - Bab II: Lintas Melawai

Menara Imperium