Wisma Tugu (update 30 Juli 2019)

Wisma Tugu dan Budi
Kawasan Wisma Tugu - Foto pribadi, Creative Commons License

Tidak banyak yang bisa dijelaskan dari blok kedua gedung ini selain gedung pertamanya dibangun selama 9 bulan oleh pemborong milik negara PT Pembangunan Perumahan pada 1987 (1) dan dibuka oleh Presiden Soeharto pada 26 Maret 1988 (2), dan digunakan sebagai kantor Asuransi Tugu Pratama dan anak-anak perusahaannya; saat pembangunan gedung dilaksanakan, Asuransi Tugu Pratama adalah asuransi tertutup yang khusus melayani nasabah dari Pertamina. Sekarang Tugu Pratama sudah menjadi asuransi umum terdiversifikasi.

Diversifikasi mendorong Asuransi Tugu Pratama untuk membangun gedung kantor keduanya bernama Wisma Tugu II, dibangun oleh PT Pembangunan Perumahan mulai April 1989 dan selesai 10 Maret 1990 (3).

Diketahui gedung ini terancam dibongkar bersama dengan Wisma Tugu II dan digantikan dengan bangunan yang merupakan bagian dari Pertamina Energy Tower rancangan Skidmore, Owings & Merrill (gedung karya SOM ketiga di Indonesia setelah Hotel Hyatt Surabaya yang dibangun pada 1979 dan Hotel Regent Jakarta yang pembangunannya berlangsung 1989-1995).

Arsitektur dan Teknis

Wisma Tugu I

Wisma Tugu
Dilihat dari depan, menampilkan nusansa monumental gedung.
Foto pribadi, Creative Commons License

Gedung berlantai lima dengan tinggi 26,5 meter dan luas gedung total 13.400 meter persegi ini (1) sebenarnya hanya rancangan arsitek lokal Parama Matra Widya (yang kini juga terjun ke dunia perborongan) (1), dengan pemaknaan yang sarat dengan nuansa simbolisme Orde Baru. Desain gedung ini dibuat monumental dan kokoh; saat dibangun kedua core melambangkan angka 11 dan tiga strip di sampingnya menandakan angka 3 (Maret), tanggal lahirnya Surat Perintah 11 Maret yang mengawali pemerintahan Orde Baru. Kedua core tersebut juga disimpulkan merupakan gerbang menuju Orde Baru (1). Atap pintu masuk gedung menandakan simbolisasi dari Asuransi Tugu dan percampuran desain vernacular Jawa dengan desain postmodernisme yang dianut gedung ini, walau gedung ini lapis luarnya memakai GRC yang memberi kesan terekspos (1).

Dengan dibangunnya Wisma Tugu II, makna kedua core pada Wisma Tugu 1 pun bergeser menjadi bulan Maret saja, walau masih mempertahankan kesan masif dan monumental.

Interior gedung ini memiliki atrium dan hanya memiliki escalator bak pusat perbelanjaan, maklum tim arsitek Parama Matra Widya ingin menyuguhkan suasana luar ruangan di dalam gedung. Makna atrium dan escalator ini juga sarat simbolisme-simbolisme Orde Baru, karena menurut tim PMW yang diwawancara Majalah Konstruksi, memberikan simbol menuju Orde Baru yang lebih cerah. Layout kantor yang open space, bermakna keterbukaan (1).

Problem yang ditemukan gedung ini adalah “dead end” atau potongan buntu pada wajah gedung, walau itu akhirnya bisa digunakan sebagai ornamen. Hal ini merupakan konsekuensi dari pemakaian struktur balok pratekan pra-tegang (1).

Struktur gedung memiliki kolom miring 25 derajat, seperti yang terlihat di gambar, sehingga menggunakan pre-stressing tie beam untuk menahan kolom-kolom miring ini. Gedung ini juga menggunakan anchor (angker) sebagai penopang tie beamnya, dimana angker juga berfungsi sebagai ornamen gedung (1).

Wisma Tugu II

Wisma Tugu
Terlihat sisi miring pada WIsma Tugu II. Foto pribadi, Creative Commons License

Mengikuti gedung pertamanya, Wisma Tugu II yang juga dirancang oleh Parama Matra Widya, kembali membawa panji Supersemar dalam perancangan desain bangunannya, terutama kedua bidang berbentuk angka 1 yang menghadap Jalan H.R. Rasuna Said. Untuk memperkokoh penampilan angka 1 tersebut lapis luarnya hanya menggunakan beton ekspos (elemen brutalist), tetapi langgam yang digunakan pada gedung Wisma Tugu II tergolong modernisme akhir. Penampilan angka 11 inilah yang menggeser makna arsitektural Wisma Tugu 1 ke huruf M (Maret) (3).

Sisi utara gedung, sebagai penghormatan pada Wisma Tugu I, dibuat bidang miring, sisanya, di bidang selatan, hanya terdiri dari tembok kaca, sebagai reflektor terhadap Wisma Tugu I. Tak hanya itu, di bagian selatan terdapat skybridge yang menghubungkan Wisma Tugu I dengan Wisma Tugu II. Luas bangunan Wisma Tugu II adalah 13.500 meter persegi (3).

Struktur bangunan Wisma Tugu II menggunakan pondasi Frankipile kedalaman 12-15 meter, dengan struktur utama beton bertulang berpratekanan, selain bidang miring di lantai 6-8 yang diberi vierendeel. Penulangan lantai didukung oleh lima core, empat core diantaranya adalah monumen berangka 1 tersebut (3).

Data dan fakta

  • Alamat: Jalan H.R. Rasuna Said Kav. C8-C9 Jakarta
  • Arsitek: Parama Matra Widya (Wisma Tugu I dan II)
  • Pemborong:
    • Pembangunan Perumahan (kontraktor utama, Wisma Tugu I dan II)
  • Lama pembangunan:
    • 1987 – 1988 (I)
    • 1989 – 1990 (II)
  • Tinggi gedung:
    • 26,5 meter (I)
  • Jumlah lantai:
    • 5 (I)
    • 8 (II)
  • Biaya pembangunan:
    • Rp 14,3 milyar (1988, setara dengan Rp 170 milyar nilai 2018 - I)
  • Signifikasi: Tidak ada

Referensi

  1. Urip Yustono; Vera Trisnawati (1988). “Wisma Tugu: Gedung Miring Yang Sarat Simbol dan Sarat Makna.” Majalah Konstruksi, edisi Mei 1988.
  2. Bambang Sukartiono (1988). “Wisma Tugu” (gambar). KOMPAS, 27 Maret 1988.
  3. Urip Yustono; Vera Trisnawati (1990). "Pengembangan Wisma Tugu: Menterjemahkan Semangat Supersemar". Majalah Konstruksi No. 144, April 1990

Lokasi


View Larger Map

Perubahan

Pertama ditulis 11 Maret 2019.
30 Juli 2019: Penulisan ulang total, ditambah Wisma Tugu II

Yang banyak dibaca seminggu terakhir

Mall Ciputra Jakarta

Intiland Tower Jakarta (update 17 Oktober 2019)

City Plaza Klender

Grha BNI

Gedung Sapta Pesona (update 19 September 2019)