Gedung Sapta Pesona (update 19 September 2019)

Gedung Sapta Pesona
Gedung yang jadi bahan olok-olokan sejak era Depparpostel.
26 Juni 2009, Creative Commons License

Gedung Sapta Pesona, berdesain candi bentar, memulai masa pembangunannya dengan pencanangan batu pertama oleh Menteri Pariwisata Pos dan Telekomunikasi Soesilo Soedarman pada 20 November 1991 (rencana awal peletakan batu pertama pada 20 Mei 1991 batal), sementara pradesainnya sudah ditandatangani sejak 20 Mei 1991. Sebelum gedung ini dibangun, berdiri sebuah gedung berlantai 1 yang diduga sudah dibongkar jauh sebelum Gedung Sapta Pesona dibangun.

Gedung ini dibangun dalam empat tahap, pondasinya digarap pemborong negara Waskita Karya dan strukturnya ditangani oleh juga pemborong negara Pembangunan Perumahan, secara bertahap dari Agustus 1992 dan selesai pada Juni 1995 (lihat tabel tahap konstruksi di bagian Arsitektur). Gedung ini sempat mengalami perubahan desain hingga kurang sesuai dengan desain aslinya. Masih belum diketahui desain asli gedung tersebut.

Gedung Sapta Pesona, yang menggabungkan kantor-kantor kedirjenan di Departemen Pariwisata dan Postel, diresmikan penggunaannya oleh Presiden Soeharto pada 6 Desember 1995. Tetapi desain candi bentar tersebut memicu kontroversi, karena desainnya sendiri dinilai sebagian orang mirip alat kelamin pria, terkait dengan desas-desus Joop Ave adalah seorang penyuka sesama jenis. Bahkan rumor yang tidak berdasar adalah desainnya merupakan saran dari Joop Ave sendiri yang berdasar pada lingga yoni. Di subbab Arsitektur akan dijelaskan bagaimana sebenarnya makna arsitektur gedung ini – yang menurut penulis blog ini berbeda.

Perlu diketahui bahwa Gedung Sapta Pesona ini bukan warisan Joop Ave, seperti yang didesas-desuskan banyak orang, melainkan warisan Soesilo Soedarman, karena di masanya Gedung Sapta Pesona ini dirancang dan dicanangkan hingga desain arsitekturalnya, sementara seluruh pelaksanaannya dilakukan di era Joop Ave pada masa anggaran mulai 1992/93.

Perkembangan pasca pembangunan gedung ini adalah fungsi gedung ini, justru lebih identik kepada pariwisata. Pasca Depparpostel dan tumbangnya Orde Baru, gedung ini menjadi gedung Depbudpar, Kemenparenkaf, dan sekarang Kementerian Pariwisata. Bahkan ada wacana gedung ini akan menjadi obyek wisata.

Arsitektural

Desain gedung “kontroversial” ini dirancang oleh tim arsitek dari Atelier 6. Tetapi dalam penerapan makna gedung tersebut, muncul dua versi. Versi Robi Sularto adalah yang paling diterima mayoritas netizen dan masyarakat biasa, sementara versi Panogu Silaban (atau yang penulis sebut sebagai "versi alternatif") baru dimuat online melalui blog ini setelah penjabarannya terbit di Majalah Konstruksi Edisi 213 pada Oktober 1995, atau 24 tahun dibiarkan tak tersentuh di luar imaji masyarakat online-sentris Indonesia.

Versi Panogu Silaban (Konstruksi)

Ir. Panogu Silaban (anak dari arsitek legendaris Frederich Silaban), salah satu arsitek yang menggarap Gedung Sapta Pesona, menekankan perpaduan wawasan nusantara dengan teknologi tinggi. Penuturan Silaban kepada Majalah Konstruksi menjelaskan bahwa gedung tersebut didesain berdasarkan konsep candi bentar melalui undakan di 6 lantai terbawah (awalnya undakannya setinggi 9 lantai, dan undakan digambarkan di permainan bidang jendela kaca namun berubah karena kebutuhan ruang kantor dianggap berlebih, sehingga undakan dipindah ke desain utama gedung itu). Candi bentar, menurutnya, adalah bentuk mula komunikasi.

Arsitektur nusantara juga ingin diwujudkan oleh tim arsitek dengan menerapkan ciri khas panggung di pilar-pilar kolom besar di lobi gedung, tetapi khas panggung tersebut dilapisi lembaran metal untuk memberi kesan teknologi tinggi (canggih). Sementara puncak dari gedung, alias kepalanya (mengingat gedung ini dipersonifikasi dengan undaknya sebagai kaki) melambangkan kerumitan sebuah satelit komunikasi.

Penerapan implementasi desain gedung tersebut terganjal estetika daerah sekitar yang banyak menggunakan panel putih dan berkaca hitam gelap di kawasan Jalan Medan Merdeka Barat. Tim arsitek Gedung Sapta Pesona, memang menginginkan bagian atas gedung berwarna perak metalik dan kaca berwarna biru langit, agar kacanya menyatu dengan langit, dan menegaskan teknologi tinggi satelit komunikasi yang melayang di atas langit. Sementara panel di bagian puncak alias satelitnya terpaksa dibuat frame karena bila dipaksakan penerapannya akan menjadi sangat berat.

Lanskap dan desain keseluruhan dijabarkan oleh Silaban mengundang komunikasi, hormat pada Monumen Nasional (karena hadapannya mengarah ke arah Monas), dan memiliki halaman depan yang terbuka, bebas dari pagar, sehingga memiliki kesan menyatu dengan Monas (belakangan Kemenpar sudah membangun pagar di Gedung Sapta Pesona).

Versi Yuswadi Saliya & Robi Sularto (Gatra)

Tetapi terdapat intrepretasi lain yang didapat penulis terkait gedung ini. Merujuk Gatra edisi 5 Juni 2004, dibalik nama Atelier 6 terdapat nama Robi Sularto, arsitek legendaris yang kurang bergaung namanya karena firma Atelier 6 pimpinannya keburu menggaung lebih nyaring. Tebak-tebakan penulis blog ini, Sularto tidak bersedia diwawancara Majalah Konstruksi (Sularto pernah diwawancara Majalah Konstruksi beberapa kali, namun penulis malah tidak menemukan nama Sularto disebutkan di Majalah Konstruksi edisi 213 yang meliput pembangunan Gedung Sapta Pesona) sehingga Silaban-lah yang menjabarkan “alternatif” makna desain Sapta Pesona, yang penjabarannya lebih kompleks dan detil dibanding versi Sularto; atau pewarta Majalah Konstruksi kala itu lebih kenal Silaban ketimbang Sularto – jika anda mengetahui alasan sesungguhnya, silahkan e-mail penulis.

Versi Yuswadi Saliya, rekan kerja Sularto di AT6, desain gedungnya berdesain sebuah lingga, imajinasi dari pahat batu. Tumpuannya adalah undakan 6 lantai tersebut, yang disebut sebagai seni pahat batu. Makna desain versi Sularto inilah yang besar kemungkinan menjadi penyebab rumor-rumor miring tentang Joop Ave dan desain Gedung Sapta Pesona. Bahkan versi Sularto inilah yang paling banyak diterima masyarakat umum.

Walaupun terdapat perbedaan makna yang sangat kontras diantara kedua profesional di Atelier 6, gedung ini tetap memegang wawasan keindonesiaan di balik selimut modernisme.

Rangkuman

Desain
Versi Majalah Konstruksi
(Ir. Panogu Silaban)
Versi GATRA
(Ir. Robi Sularto)
Undakan 6 lantai terbawah
Candi bentar, simbol komunikasi, kaki gedung
Tumpuan lingga, representasi seni pahat batu
Bagian tengah
“Langit”, badan gedung
Lingga, representasi dari pahat batu
4 lantai teratas
Satelit komunikasi, kepala gedung

Struktur

Konstruksi gedung dilakukan oleh PT Pembangunan Perumahan dalam empat tahap, seperti yang dijabarkan pada tabel ini.
I
Pondasi, basement – lantai 9
Agustus 1992 – Maret 1993
II
Lantai 10 – 22, tembok eksterior kaca
September 1993 – Maret 1994
III
Interior tahap 1
Juli 1994 – Maret 1995
IV
Interior tahap 2
September 1994 – September 1995
V
Lanskap
Juni 1995 – September 1995

Pondasi yang digunakan pada gedung berlantai 25 ini menggunakan tiang pancang precast berkedalaman 36-40 meter, ditanam di tanah lembek dan berlensa. Struktur atas gedung menggunakan gabungan shear wall (tembok geser) dan core wall (tembok core), ditambah dengan frame besi perimeter yang membantu menahan gaya lateral pada gedung. Puncak gedung alias "satelit" Sapta Pesona diberikan cap beam untuk mempersatukan seluruh penahan gaya lateral tersebut.

Data dan fakta

  • Nama sebelumnya: Gedung Depparpostel
  • Nama lain: Gedung Kementerian Pariwisata
  • Alamat: Jalan Medan Merdeka Barat No. 17 Jakarta
  • Arsitek: Atelier 6 (lihat subbab Arsitektur untuk penjelasan)
  • Pemborong:
    • Waskita Karya (pondasi)
    • Pembangunan Perumahan (struktur utama)
  • Lama pembangunan: 20 November 1991 – Juni 1995
  • Jumlah lantai: 25
  • Biaya pembangunan: Rp 95 milyar (1995, senilai Rp 763 milyar pada 2019)
  • Signifikasi: Pop culture (sering dikaitkan dengan rumor tentang Joop Ave)

Referensi

  1. Dwi Ratih; Saptiwi Djati Retnowati (1995). “Gedung Sapta Pesona, Berpadunya ekspreksi teknologi dan arsitektur nusantara.” Majalah Konstruksi No. 213, Oktober 1995. (Sejarah pembangunan, fitur arsitektural dan konstruksi, sumber utama)
  2. Scott Merrillees (2015). “Jakarta: Portraits of a Capital 1950-1980.”  Jakarta: Equinox Publishing. (Peta Gunther 1979 dan referensi visual kartu pos berfoto daerah sekitar BI)
  3. Asmayani Kusrini (2004). “Dinding Keriting Sang Maestro”. GATRA, 5 Juni 2004. (Terkait Keterlibatan Robi Sularto Dalam Gedung Sapta Pesona dan Maknanya)
  4. AA (1991). “Ditandatangani, Pradesain Gedung Depparpostel”. KOMPAS, 21 Mei 1991. (Pradesain gedung)
  5. Ira Lathief (2017). “Keteladanan Silaban, Arsitek Istiqlal yang Beragama Kristen Katholik”. Kompasiana, 21 Juni 2017 (status kemargaan Silaban)
  6. Erika Kurnia (2017). “Gedung Sapta Pesona akan Jadi Destinasi Festival di Jakarta”. Okezone, 27 Januari 2017
  7. Sumber-sumber terkait rumor tentang Joop Ave dan Gedung Sapta Pesona:
    1. Ricky Wiraguna (2012). “Gedung Sapta Pesona – Saksi Skandal Warisan Orde Baru”. Kompasiana, 10 September 2012.
    2. Afif Farhan (2014). “Joop Ave Dikenang Sebagai Bapaknya Pariwisata Indonesia”. Detik Travel, 6 Februari 2014.
    3. Twitter masyarakat yang menebarkan rumor tersebut yang dikumpulkan via chirpstory
  8. ahd (1995). "Presiden Resmikan Gedung Baru Depparpostel". Republika, 7 Desember 1995. (peresmian gedung)

Lokasi


View Larger Map

Perubahan

Pertama ditulis 8 Maret 2019
23 April 2019: penjelasan tentang pradesain gedung.

19 September 2019: informasi tanggal peresmian sudah ditemukan dan ditambahkan.

Comments

Yang banyak dibaca seminggu terakhir

Intiland Tower Jakarta (update 17 Oktober 2019)

Grha BNI

Gedung Sekretariat ASEAN

Intiland Tower Surabaya