Gedung Nusantara I DPR-RI

Nusantara 1
22 Desember 2011.
Foto pribadi, Creative Commons License
Gedung berlantai 23 ini merupakan lanjutan dari pengembangan kompleks DPR-RI di Senayan, Jakarta. Gedung ini dibangun mulai dari tahun anggaran 1993/94 dan selesai pada tahun anggaran 1996/97, menghabiskan biaya sebesar 116 milyar rupiah, ekuivalen dengan Rp 836 milyar nilai rupiah tahun 2020 (1). Gedung yang awalnya diberi nama Lokawirasabha Tama ini dibangun oleh BUMN perborongan Adhi Karya bersama dengan Citra Lamtorogung Persada. (1)(2) Perencanaannya sudah dilakukan sejak 1991 melalui lokakarya dan seminar yang melibatkan pihak perancang terkait dan DPR-RI (1).

Gedung Nusantara I akhirnya dibuka oleh Ketua DPR kala itu Wahono pada 11 Maret 1997. (2) Baru usia setahun lebih pada Mei 1998, gedung ini ikut menjadi saksi di balik pendudukan gedung utama DPR oleh mahasiswa yang menuntut mundur Presiden Soeharto pada 18 Mei 1998.

Miring? Sempit? (4)(5)

Sejarah diputar ke tahun 2009. Kala itu, Dewan Perwakilan Rakyat menggodok pembangunan gedung baru berlantai 36 lantai di belakang Gedung Nusantara I. Sontak rencana tersebut memicu keributan di media massa, baik elektronik maupun cetak, karena fasilitas yang diberikan. Klaim lain yang muncul adalah Gedung Nusantara I dianggap miring 7 derajat. Tidak dispesifikasikan arah kemiringannya, namun gedung tersebut, menurut Kementerian PU dalam sebuah pengecekan visual pada September 2009, secara struktur masih tegak. Belum juga keadaan lift yang diklaim tidak beres dan ruang kantor yang sempit (baca arsitektur dan struktur). Namun pihak DPR memang ingin gedung baru karena alasan-alasan ini.

Akibat dari rencana ini, DPR tak hanya dicemooh publik di media massa dan media sosial, rencana membangun gedung baru gagal sejak Mei 2011, dan kembali digagalkan pada Agustus 2015 saat Presiden Joko Widodo menolak menandatangani prasasti pembangunan gedung baru DPR-RI.

Serangan peluru (6)

Pada 15 Oktober 2018 beberapa peluru milik penembak yang sedang melakukan latihan tembak terdekat di Senayan mendarat di beberapa kantor anggota DPR di Gedung Nusantara I. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Kedua penembak, sama-sama PNS Kementerian Perhubungan, ditangkap Polda Metro Jaya esok harinya, karena dianggap lalai dalam kejadian tersebut. Pasca kejadian penembakan ini, DPR merencanakan memasang film kaca anti-peluru, selain itu Pemerintah Daerah DKI Jakarta berencana menutup Lapangan Tembak Senayan yang legendaris itu, karena alasan keselamatan dan keamanan.

Arsitektur dan struktur

Gedung Nusantara 1 ini memang tidak memiliki penjelasan khusus dari segi arsitektural luar, selain dari kasat mata menggunakan komposit dan kaca berwarna hijau yang cukup elegan dibanding tetangganya yang modern khas gaya internasional. Interior gedung juga lebih menonjol segi penggunaan marmernya yang mencapai 15 ribu meter persegi (1), dan dengan luas keseluruhan 56 ribu meter persegi, sudah termasuk sekat dan ruang untuk toilet dan service lainnya (1), 16 ribu meter persegi ruang bersih sudah digunakan oleh keseluruhan 500 anggota DPR-RI kala itu (3). Asumsi 2019 dengan 560 anggota, total ruang yang digunakan secara teoritis seharusnya sudah mencapai 17.920 meter persegi, bila merujuk luas gedung yang digunakan untuk ruang anggota DPR-RI sebesar 32 meter persegi/anggota per laporan majalah Konstruksi edisi Juli 1997. Kenyataan yang didapat media online Detik, per anggota DPR dan staf-stafnya hanya 20 meter persegi/anggota, dengan grand total 11.200 meter persegi. (4)

Fasilitas tambahan yang ada dalam Gedung Nusantara 1 kala itu adalah kantor sekretariat fraksi, perpustakaan (kini pindah ke Gedung Nusantara 2) dan ruang sidang komisi-komisi DPR-RI. (1)

Struktur pada gedung ini tidak dijelaskan secara rinci, pondasi bored pile dengan struktur gedung utama tidak dijelaskan. Saat instalasi sarana listrik dan mekanik gedung, salah satu helikopter ditugaskan untuk mengangkat sentral pendingin udara. (1)

Data dan fakta (1)(2)

  • Nama sebelumnya: Lokawirasabha Tama
  • Alamat: Kompleks MPR/DPR/DPD Republik Indonesia, Jakarta
  • Arsitek: Gubah Laras
  • Pemborong: 
    • Citra Lamtorogung Persada-Adhi Karya J.O.
  • Lama pembangunan: Tahun anggaran 1993/94-1996/97
  • Jumlah lantai: 24
  • Biaya pembangunan: Rp 116 milyar (1997, setara Rp 836 milyar nilai 2020)
  • Signifikasi:
    • Sospol (kantor resmi anggota dewan DPR-RI)

Sumber

Komentar

Yang banyak dibaca seminggu terakhir

Sinarmas Land Plaza Surabaya (terbaru 13 Juli 2020)

Mal Ciputra Jakarta (terbaru 17 Maret 2020)

Hotel Sari Pacific (terbaru 17 Oktober 2019)

Sejarah Pusat Perbelanjaan Jakarta - Bab II: Lintas Melawai

Ratu Plaza (terbaru 6 Juli 2020)