Wisma Hayam Wuruk (update 30 Desember 2019)

Wisma Hayam Wuruk
30 Desember 2014, foto pribadi, Creative Commons License
Gedung berlantai 15 ini merupakan gedung tinggi pertama di kawasan Jalan Hayam Wuruk dan Jalan Gajah Mada yang didominasi rukan-rukan berlantai 3. Merupakan sebuah penanaman modal asing, gedung ini dirancang oleh tim arsitek dari Alfred A. Yee & Associates asal Honolulu, Amerika Serikat (1)(7)(9)(10), dan dibangun oleh perusahaan E.E. Black Construction Indonesia (1). Wisma Hayam Wuruk dibangun di bekas lahan percetakan Daya Upaya atau Drukkerij de Unie (10)(11).

Potongan menyamping dan elevasi
lantai Wisma Hayam Wuruk.
Diubah secara digital karena versi aslinya
elevasinya tidak runut.
Sumber: Cipta, 03-04/1976
Desain gedungnya yang melebar ke atas, menurut laporan majalah Cipta terbitan Maret-April 1976, terilhami oleh gaya rumah tradisional Batak dan Minangkabau yang menonjol keatas. Tak hanya itu, hal ini dilakukan juga untuk memperbesar luas sewa gedung (1).

Struktur gedung bergaya brutalist ini material pembangunannya menggunakan beton pratekan dan pracetak yang dicetak di Pulogadung. (1) Selain itu, lapis luar gedung mengalami bushhammering (menggosok) dan sandblasting untuk menciptakan permukaan kasar pada tembok gedung. (1) Seperti gedung Deptamben yang dibangun 7 tahun kemudian, tembok gedung yang terekspos juga diberi pencegah jamur (1)

Wisma Hayam Wuruk, menurut harian Progress terbitan September 1975, adalah gedung tinggi pertama di Indonesia yang menggunakan sistem pratekan dan precast (11), yang pratekannya dilakukan oleh Pacific Prestress Indonesia (11).

Gedung ini juga dilengkapi dengan parkir 4 lantai untuk 370 mobil (1). Desain luarnya juga dibuat serasi dengan gedung perkantorannya (1).

Kala dibuka pada Agustus 1976, klaim iklan Wisma Hayam Wuruk di koran-koran dan majalah (2), gedung dengan luas lantai 27 ribu persegi (11) ini menjadi kantor Hongkong & Shanghai Bank, di dua lantai terbawah. Belum diketahui kapan HSBC minggat dari gedung ini ke lokasinya sekarang di WTC Jakarta. Dari 1984 sampai 1998, Wisma Hayam Wuruk menjadi kantor pusat Bank Dagang Nasional Indonesia (3) (bukan Bank Dagang Negara, BUMN bank) hingga dileburkan bersama bank-bank lain ke Bank Internasional Indonesia. Sementara itu sejak 2016 (5), Bank Ganesha resmi berkantor pusat di gedung ini, begitupun juga perusahaan ban Gajah Tunggal yang sudah berkantor sejak lama di gedung ini (4).

Kapsul waktu

Saat pembangunan gedung selesai, pada 1 Juni 1976, sebuah kapsul waktu dikubur di salah satu bagian struktur gedung, sebagai batu terakhir konstruksi gedung tersebut, berisi foto polaroid upacara penanaman kapsul waktu, sejumlah uang koin dan harian-harian pagi Jakarta terbitan 1 Juni 1976 (6). Awalnya ditanam foto Presiden Republik Indonesia Soeharto, Gubernur DKI Ali Sadikin dan Ratu Elizabeth II dari Inggris Raya, karena dianggap tidak lazim saat itu, penanaman foto tersebut dibatalkan dan diganti dengan benda yang disebutkan pertama (10).

Hal ini cukup menarik, karena kapsul waktu Wisma Hayam Wuruk adalah yang terlama ditanam di Indonesia sejauh yang tercatat saat ini, jauh sebelum konsep kapsul waktu menjadi buah bibir di internet-sentris Indonesia saat Presiden Joko Widodo mencetuskan konsep ini pada HUT Republik Indonesia ke-70 tahun 2015 (8) - atau dalam kata lain, ide Jokowi sudah keduluan insinyur Wisma Hayam Wuruk 39 tahun.

Sejak 2016 gedung ini dicat cokelat, menghilangkan konteks brutalist gedung ini.

Data dan fakta (1)

  • Alamat: Jalan Hayam Wuruk No. 8 Jakarta
  • Arsitek:
    • Alfred A. Yee & Associates
  • Pemborong:
    • E.E. Black (kontraktor utama)
  • Lama Pembangunan: selesai dibangun 1976
  • Tinggi Gedung: 64 meter
  • Jumlah Lantai: 15
  • Signifikasi: Arsitektur (gedung pertama di Indonesia yang berlanggam brutalist)

Referensi

  1. NN (1976). “Wisma Hayam Wuruk”. Majalah Cipta, No. 3-4, 1976.
  2. Majalah Tempo, 13 Maret 1976 (iklan)
  3. Kantor Pusat BDNI, 24 April 1997 dan 16 April 1998
  4. Kantor Pusat Gajah Tunggal, 11 Desember 2018
  5. Kantor Pusat Bank Ganesha, 11 Desember 2018
  6. J (1976). "Ibukota selintas: melebar ke atas". KOMPAS, 2 Juni 1976.
  7. Alfred A. Yee & Associates (1976). "Surat Pembaca: Wisma Hayam Wuruk". KOMPAS, 12 Juni 1976.
  8. Irene Agustine (2018). "Monumen Kapsul Waktu Merauke Rampung Oktober 2018, Begini Bentuknya". Bisnis Indonesia, 24 Juli 2018. Diakses 22 Agustus 2019. (arsip)
  9. "Bangunan Unik di Jakarta: Wisma Hayam Wuruk". Majalah Konstruksi, Januari-Februari 1977.
  10. "Wisma Gajah Mada: Cari Penyewa". Majalah Progress No. 97, Juni 1976.
  11. "Indonesia Memasuki Tahun Konstruksi Pratekan Bangunan Tinggi". Majalah Progress No. 79, September 1975.

Lokasi


View Larger Map

Perubahan

  • Pertama ditulis pada 22 Februari 2019
  • 27 April 2019: Perubahan pada durasi BDNI berkantor di Wisma Hayam Wuruk
  • 22 Agustus 2019: Penambahan paragraf baru terkait keberadaan kapsul waktu di Wisma Hayam Wuruk.
  • 5 November 2019: Penulis mengutip majalah Konstruksi edisi Jan-Feb 1977 untuk arsitek, dikutip oleh majalah tersebut sebagai rancangan Alfred A. Yee & Associates.
  • 30 Desember 2019: Menambah kutipan dari majalah Progress mengenai Wisma Hayam Wuruk.

Komentar

Yang banyak dibaca seminggu terakhir

City Plaza Klender

Mal Ciputra Jakarta

Gedung Sekretariat ASEAN

Gedung Sapta Pesona (update 19 September 2019)

Grha BNI