Widya Graha LIPI (terbaru 20 Mei 2020)

23 Desember 2011, sebelum ganti wajah.
Foto pribadi, Creative Commons License
Gedung berbentuk elips ini mulai dibangun oleh pemborong milik negara Wijaya Karya dalam empat tahap mulai awal 1980 dan selesai dibangun pada 1982 [lihat arsitektural dan teknis], dan dibuka resmi oleh Presiden Soeharto pada 23 Agustus 1982 (1). Nama gedung ini, Widya Graha, berarti “rumah ilmu pengetahuan” - Widya = ilmu, Graha = rumah, griya. (1)(2)

Sesuai kebutuhannya, gedung ini menjadi kantor dan pusat penelitian dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, lembaga pemerintah untuk penelitian ilmiah dan teknologi. Lantai 1 sampai 7 merupakan ruang kantor dan pembinaan sementara 4 lantai teratasnya murni merupakan pusat penelitian (1). Belum diketahui apakah layout ini masih dipertahankan atau sudah berubah.

Gedung ini, setelah 32 tahun penggunaan, mulai mengalami masalah seperti atap jebol, kerusakan elektrik dan kebocoran. Akibatnya gedung itu direnovasi dalam, dan luar, diwarnai penggantian wajah gedung.(3)

Arsitektural dan Teknis

Arsitektur

Widya Graha LIPI didesain oleh tim arsitek dari Atelier 6, dan bahasa desain gedung ini menegaskan citra LIPI yang mencerdaskan dan membangun masyarakat, selain itu desain yang tidak konvensional diharapkan menjadi bentuk inspirasi (1). Hal lain yang didapat dari desain gedung tersebut adalah keinginan pihak pemborong dan arsitek untuk mencapai efisiensi energi dan kemudahan dalam perawatan gedung (1) (walau pada 2014 perubahan wajah gedung dan masalah pada listrik membuktikan bahwa keinginan arsitek gagal terpenuhi (3)). Selain itu, rancangan elipstik melambangkan kemanunggalan manusia beserta alam semesta yang terus digali oleh ilmuwan, dipadu dengan pilar-pilar yang melambangkan pembinaan dan penelitian dalam sebuah unsur kesatuan (4).

Dalam bahasa sederhananya terkait desain Widya Graha, kata Ketua LIPI Tb. Bachtiar Rivai, seperti dikutip Tempo tertanggal 4 September 1982, “bermakna fungsional dan simbolis” (2).

Udo Kultermann dalam artikelnya mengenai arsitektur modern di Indonesia di majalah arsitektur Mimar, mengatakan bahwa Widya Graha LIPI "mempromosikan pemecahan masalah dalam bentuk kontemporer." (5) Kultermann menegaskan bahwa Widya Graha tidak mengambil ciri khas tradisional Indonesia dalam perancangannya (5).

Gedung ini sudah bisa dibilang sebagai gedung ramah lingkungan, dimana bagian tengah gedung yang didesain terbuka untuk menyediakan cahaya alami masuk ke ruang-ruang gedung, dan menerapkan cross ventilation pada jendela (1). Hal ini untuk mengurangi biaya listrik dan menyediakan sirkulasi cahaya dan udara alternatif bila sewaktu-waktu listrik mengalami gangguan (1). Tanaman diberikan di bagian tengah gedung yang terbuka untuk mengupayakan keserasian lingkungan dan memberikan rasa nyaman bagi penghuni gedung (1)

Finishing, struktur dan tahap pembangunan

Lapis luar gedung alias fasad gedung awalnya dibuat keseluruhan dengan beton terekspos (brutalist) (1), tetapi mengingat biaya pembangunan yang ketat dan persyaratan-persyaratan khusus dalam pelaksanaan beton terekspos, diputuskan menggunakan gabungan lapis keramik, kaca dan beton terekspos. (1)

Akibat renovasi, lapis luar berupa keramik kini telah diganti lapisan komposit yang nyaris menutupi kaca gedung.

Widya Graha LIPI menggunakan konstruksi beton bertulang dan rangka strukturnya berupa dinding geser (shear wall), penulangannya (frame) tidak diprestress dan pondasinya adalah pondasi dasar dengan kedalaman rata-rata 8 meter (1). Semua demi alasan efisiensi biaya. Gedung ini didesain tahan gempa hingga 9 skala Richter. (1)

Dalam pembangunannya, pelaksanaan pembangunan terpecah menjadi empat tahap. (1)

Tahap 1
Pondasi dan struktur hingga lantai 3
Tahap 2
Struktur dari lantai 3 sampai 11 dan atap, dan sekat instalasi listrik
Tahap 3
Finishing gedung
Tahap 4
Pemasangan fasilitas gedung

Data dan fakta

  • Alamat: Jalan Jenderal Gatot Subroto No. 10 Jakarta
  • Arsitek: Ir. Darmawan Prawirohardjo (Atelier 6)
  • Pemborong:
    • Wijaya Karya (pemborong utama)
  • Lama pembangunan: 1980-1982
  • Tinggi Gedung: 50 meter
  • Jumlah lantai: 11
  • Biaya pembangunan: Rp 5,3 milyar (1982, setara Rp 126 milyar nilai 2020)
  • Signifikasi: Tidak ada

Referensi

  1. NN (1982). “Gedung LIPI Pusat dibangun dengan tepat guna dan sedikit genit”. Majalah Konstruksi, Agustus 1982.
  2. NN (1982). “Widya Graha, Satu Harapan”. Majalah Tempo, 4 September 1982.
  3. Angga Yudha Pratomo (2014). “Gedung bundar LIPI direnovasi, ratusan peneliti mengungsi”. Merdeka.com, 28 Januari 2014. (arsip)
  4. Ikatan Arsitek Indonesia (1983). "Buku Ke-1 Karya Arsitektur Arsitek Indonesia." Jakarta: Ikatan Arsitek Indonesia. Halaman 71-72.
  5. Udo Kultermann (1986). "Architecture in South-East Asia 2: Indonesia". MIMAR: Architecture in Development No. 21, Juli-September 1986, hal. 45-52. Kutipan di hal. 51 (arsip)

Lokasi

Perubahan

  • Pertama ditulis 1 Februari 2019
  • 20 Mei 2020: Detail arsitektur ditambah dari sumber baru. Nama arsitek ditambah

Komentar

Yang banyak dibaca seminggu terakhir

Intiland Tower Jakarta (terbaru 20 Mei 2020)

Mal Ciputra Jakarta (terbaru 17 Maret 2020)

Sinarmas Land Plaza Surabaya (terbaru 25 November 2019)

Gedung Sapta Pesona (terbaru 19 September 2019)

Sejarah Pusat Perbelanjaan Jakarta - Bab II: Lintas Melawai