Menara Thamrin (terbaru 19 Juli 2020)

Kosong
28 Desember 2014. Foto pribadi, Creative Commons License

Kompleks perkantoran yang terletak di Jalan M.H. Thamrin ini (bukan satu gedung, karena memiliki tiga gedung terpisah) merupakan salah satu dari lima proyek perkantoran di jalan protokol paling ternama di Indonesia yang dibangun di dekade 1990an (selain Plaza Indonesia (1990), kompleks BII/Sinarmas Land Plaza II dan III (1997), Menara Topas/Wisma Bank Industri (1990) dan Plaza Permata (1992)). Konstruksi dilakukan oleh Kajima bersama Waskita melalui JO PT Waskita Kajima (1) mulai April 1989 dan selesai pada Agustus 1991, dan kala itu bernama ATD Plaza (2). ATD adalah singkatan dari Aditya Toa Development, pengembang kompleks perkantoran tiga bangunan ini. Sebenarnya kompleks perkantoran ini sudah direncanakan sejak 1970an, merujuk pada peta yang tampil di iklan Gedung Jaya yang terbit di Majalah Tempo pada 3 Juli 1976. (3)

ATD Plaza berganti nama menjadi Menara Thamrin pada 10 Agustus 1995, dalam rangka indonesianisasi instalasi real-estate swasta (4). Tetapi nama lama ATD Plaza masih beredar di media massa sampai sekiranya tahun 2002.

Pada 21 Juli 2002, sebuah tempat hiburan karaoke bernama Karaoke Jean, yang berada di lantai tertinggi gedung parkir Menara Thamrin, terbakar saat direnovasi. Diduga kebakaran dipicu oleh arus pendek listrik. Kini ruang tempat hiburan tersebut diisi Zen Jakarta, juga tempat karaoke dan lounge. (5)

Beberapa tenant-tenant ternama yang berkantor di Menara Thamrin didominasi oleh perwakilan Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang pindah dari kantor mereka sendiri yang dibangun di medio 1971-an (kini bernama Gedung Bawaslu) (6).

Arsitektur dan teknis (1 kecuali bila disebut lain)

Arsitektur dan perencanaan

Menara Thamrin, dirancang oleh tim perancang dari Wiratman & Associates bersama dengan departemen desain Kajima Corporation, terpecah menjadi tiga bagian, yaitu bagian podium, tower dan gedung parkir. Gedung podium, yang terpendek, hanya memiliki 5 lantai, tower berlantai 27 dan gedung parkir berlantai 8.

Menara Thamrin Fasad
Berpola kotak-kotak.
29 Juni 2018, foto pribadi, Creative Commons License

Desain tower dan gedung podium memang dirancang dengan gaya pascamodernisme, karena diharapkan memberi perbedaan pada cakrawala Jalan M.H. Thamrin (sekarang sudah tersaingi gedung neo-gothic gedung kembar Bank Indonesia). Podium berlantai 5 didesain sedemikian rupa untuk memperkuat ruang terbuka antara Jalan Thamrin dengan Hotel Sari Pan Pacific. Gedung towernya, walau membawa langgam pascamodernisme, tergolong sederhana, dengan atap trapesium dan fasad berpola kotak-kotak. Finishing gedung keseluruhan menggunakan lapis granit. Interior, karena bentuknya mengotak, untuk memaksimalkan ruang kantor dan struktur gedung, core ditempatkan di tengah.

Perencanaan Menara Thamrin ini dikenal unik karena tidak terkavling, karena pihak arsitek dan Pemerintah DKI Jakarta ingin mendemonstrasikan keserasian antar-lingkungan di Jalan M.H. Thamrin yang dianggap terlalu individualis di kavlingnya masing-masing. Hal ini didemonstrasikan dengan tiadanya sekat (pagar) di kompleks ini. Toh kenyataannya, ide ini tidak terealisasikan, karena Menara Thamrin sudah dipagar tanaman berupa shrub, pagar dan portal keamanan.

Struktur

Struktur utama gedung tower menggunakan beton bertulang biasa dengan lapis lantai menggunakan hollow core slab, disebut merupakan yang pertama di Indonesia, dan sudah teruji tahan gempa dan menahan beban yang mumpuni. Struktur beton bertulangnya bersifat tube-in-tube - maksudnya adalah struktur core dan kolomnya bisa menahan gaya geser pada bangunan. Sistem tube-in-tube ini diklaim lebih efisien dibanding metode konstruksi lainnya, kata Ir. Wiratman Wangsadinata, perancang struktur gedung berlantai 27 ini, kepada Majalah Konstruksi (terbit September 1991). Ditambahkan melalui website resmi Wiratman, struktur tersebut dihitung menggunakan pendekatan dua dimensi, sehingga perhitungannya lebih sederhana dan lebih kuat dalam segi ketahanan pada gempa (7).

Berbeda dengan hollow core slab yang mendominasi rangka tower, gedung podium dan parkir hanya memanfaatkan beton bertulang biasa dengan lapis lantai dari pengecoran. Tetapi kedua gedung tersebut dibangun belakangan untuk mencegah adanya penurunan tanah karena beban gedung.

Pondasi yang digunakan adalah tiang pancang beton mengambang (floating foundation) karena kondisi tanahnya yang lunak sampai kedalaman 50 meter, dan berlaku untuk seluruh bangunan, baik podium, tower dan gedung parkir. Penghitungan beban pondasi gedung dilakukan secara terkomputerisasi.

Data dan fakta (1)(2)

  • Nama sebelumnya: ATD Plaza
  • Alamat: Jalan M.H. Thamrin No. 3 Jakarta
  • Arsitek:
    • Kajima Design
    • Wiratman & Associates
  • Pemborong:
    • Waskita Kajima
  • Lama pembangunan: April 1989-Agustus 1991
  • Jumlah lantai:
    • 5 lantai gedung bank
    • 27 lantai gedung perkantoran
  • Signifikasi:
    • Struktural (inovasi hollow core slab dan pondasi mengambang)

Referensi

  1. Urip Yustono; Dwi Ratih. "ATD Plaza: Menghadirkan karakter khas dengan konsep postmodern". Majalah Konstruksi No. 161, September 1991.
  2. Website resmi Kajima Indonesia (arsip)
  3. Tempo, 3 Juli 1976 (iklan Gedung Jaya)
  4. "Penggunaan Nama Baru Proyek REI Jakarta, 10 Agustus 1995". Majalah Properti Indonesia No. 20, September 1995. Halaman 89-90
  5. RTS (2002). "Karaoke Jean di Menara Thamrin Terbakar". KOMPAS, 22 Juli 2002.
  6. Website Perserikatan Bangsa-Bangsa (arsip)
  7. Website resmi Wiratman & Associates (arsip)

Lokasi


View Larger Map

Perubahan

  • Pertama ditulis 28 Februari 2019
  • 9 Maret 2019: Tambahan dari web Wiratman & Associates
  • 19 Juli 2020: Sudah ditemukan, tanggal penggantian nama Menara Thamrin

Comments