Hotel Asoka dan Plaza Indonesia (Update 24 Agustus 2019)

Mengingat kedua gedung ini berada dalam satu lahan, penulis akan membuatnya dalam satu post. Klik judul atau "baca selengkapnya" untuk isi lengkapnya.

Hotel Asoka

Indonesie, Djakarta, moderne verkeersweg
Bundaran HI, 20 Agustus 1971. Di kiri foto adalah Hotel Asoka.
Foto: Joost Evers/ANEFO/Arsip Nasional Belanda. CC-Zero.

Deskripsi gedung

Sebelum Plaza Indonesia dibangun di lokasi ini, berdiri sebuah hotel berlantai 8 yang awalnya merupakan pusat pewartaan Asian Games 1962 dan berlantai 6 (2). Gedung itu bernama Wisma Warta - alias Press House saat Asian Games berlangsung (1)(2). Wisma Warta menjadi tempat kerja bagi 200 wartawan dan peliput asing yang melaporkan perhelatan olahraga terbesar di Asia tersebut, dilengkapi dengan fasilitas vital seperti hubungan teleks dan telepon langsung ke Stadion Gelora Bung Karno, kantor PTT (pos, telegram dan telepon), ruang peliputan dan konferensi pers, beserta layanan bioskop dan rumah makan dan rekreasi (1)(2). Gedung ini diperkirakan mulai digunakan pada Juni 1962 (2).

Manajemen Wisma Warta dikelola oleh Yayasan Gelora Senayan (13)(15). Pada tanggal 14 Februari 1968 Hotel Indonesia Internasional, pengelola Hotel Indonesia, menandatangani kontrak persetujuan dengan Yayasan Gelora Senayan (13). Diduga kesepakatan ini mengawali renovasi vertikal Hotel Asoka, yang selesai per 1969. Potongan renovasi vertikal ini dinyatakan milik negara sejak 29 Januari 1969 (14). Tetapi pengelolaan, berubah lagi ke pihak asing per September 1969 (15).

Wisma Warta berganti nama menjadi Hotel Asoka sejak 26 September 1969 (15). Pada 1984, hotel Asoka ditutup, dan dihancurkan mulai 1985.

Data dan fakta (1)(2)

  • Nama sebelumnya: Press House Asian Games 1962, Wisma Warta
  • Alamat: Jalan M.H. Thamrin No. 28-30 Jakarta
  • Lama pembangunan: Q4 1960-Juni 1962
  • Dibongkar: 1985-87
  • Jumlah lantai: 5, diperluas menjadi 8
  • Signifikasi:
    • Sejarah (peran hotel dalam Asian Games 1962)

Plaza Indonesia

Grand Hyatt Plaza Indonesia
28 Desember 2014. Foto pribadi, Creative Commons License

Sejarah

Usai menggempur Hotel Asoka alias Press House Asian Games 1962 hingga rata dengan tanah, pada 4 Maret 1987 pembangunan Proyek Plaza Indonesia resmi dimulai. Proyek milik PT Bimantara Eka Santosa (bernama PT Plaza Indonesia Realty sejak 1992) ini dirancang oleh arsitek kenamaan internasional Hellmuth, Obata & Kassabaum dari Amerika Serikat, perancang beberapa gedung termasuk Menara Bakrie 19 tahun kemudian (3). Pemborongnya adalah kerjasama Cipta Mandala Sakti dan Ssangyong Construction - pemborong Stamford Swissotel di Singapura - dengan kontrak mencapai 121 juta dolar AS, senilai dengan 200 milyar rupiah kala itu (3) (267 juta dolar AS dan 2,94 triliun rupiah nilai tukar 2018), untuk ukuran 1987, nilai kontrak yang fantastis di masanya.

Walau pembangunan gedung ini belum selesai pada 1990, pusat perbelanjaannya dibuka pada Maret 1990 (4), dengan Sogo sebagai tenant perdananya, di tengah kontroversi izin prinsip yang belum seratus persen lengkap dan penilaian keberadaan Sogo yang mengancam prospek ritel lokal, dan diresmikan Ibu Negara Tien Soeharto pada 24 November 1990 (7). Sogo Plaza Indonesia tutup sejak 28 Februari 2007 (10). Tenant awal lainnya termasuk KLM (6).

Proyek Plaza Indonesia rampung secara bertahap - podium selesai pada Februari 1990, tower hotel selesai pada Maret 1991 dan rampung keseluruhan pada Juli 1991 (7). Hotel Grand Hyatt resmi dibuka oleh Kadirjen Pariwisata Joop Ave pada 5 April 1991, setelah melakukan operasional pra-pembukaan pada 28 Maret 1991, melengkapi kompleks mall mewah yang berdiri tegak di kawasan Bundaran HI ini (5). Secara penuh, Presiden Soeharto meresmikan Plaza Indonesia pada 23 Juli 1991 (7).

Deskripsi bangunan

Plaza Indonesia memiliki 6 lantai dan 3 basement pusat perbelanjaan (8) dengan luas total 62.747 meter persegi, dengan ruang yang disewakan mencapai 40.591 meter persegi (9), lebih luas dari perkiraan awal yang diberikan sebesar 39 ribu meter persegi oleh Plaza Indonesia Realty, pengelola mall, kepada Majalah Konstruksi (7). Jumlah lantai juga mengalami kenaikan.

Citra yang diusung Plaza Indonesia saat ini adalah sebagai mall kelas atas, dengan etalase kelas atas yang sekelas dengannya (7)(8). Lantai pertama diisi oleh brand-brand fashion ternama dan parfum mewah, serta brand jam eksklusif yang setara dengan mall di Singapura. Lantai dua juga sama, hanya yang membedakan adalah lantai ini berisi balai multiguna. Lantai tiga didominasi oleh penjual perhiasan mewah, mainan dan produk-produk asli Indonesia, sementara lantai keempat adalah lantainya gerai kecantikan. Dua lantai tambahan yang tidak merupakan bagian dari Plaza Indonesia saat dibangun pada 1987-1991 adalah lantai 5 dan 6, masing-masing didominasi oleh gerai restoran dan bioskop XXI, sekompleks dengan Plaza dan Keraton. Lantai basement 1 diisi oleh dominan The Foodhall Gourmet (8), sementara basement 2 dan 3 digunakan untuk parkiran, gudang penyimpanan dan prasarana utilitas.

Dari lantai 4-28 adalah Hotel Grand Hyatt Jakarta, dengan lobbynya yang megah dan eksklusif, dirancang oleh Hirsch & Bedner (11). Hotel setinggi 110 meter ini memiliki 427 kamar, terdiri dari 271 kamar Grand, 119 Grand Club dan 37 suite. Grand Hyatt Jakarta memiliki fasilitas seperti sarana kebugaran 24 jam, pusat bisnis, kolam renang di atap hotel bersama fasilitas jogging dan lapangan tenis, balai multiguna yang menyatu dengan mall Plaza Indonesia hingga rumah makan Grand Cafe, Seafood Terrace dan Sumire (12).

Penulis pernah mengunjungi Plaza Indonesia pada 1 Januari 2015 untuk menyempatkan diri membeli komik Mr. Peabody & Sherman di Periplus. Bagian dalam mall, walau saat itu sudah berusia 24 tahun, masih mempertahankan suasana mewahnya dengan banyak penggunaan granit pada lorongnya, selain adanya brand bergengsi tinggi yang menghuni mall ini. Sangat mewah sehingga penulis merasa, mall ini mungkin bukan kelasnya penulis. Dan komik Mr. Peabody & Sherman yang penulis beli, mungkin juga bukan kelasnya penulis, dengan harganya setara 20 komik Donal Bebek. 

Arsitektur dan Teknis

Menurut tim arsitek Parama Loka yang menjadi architect of record bagi HOK, desain perencanaan Plaza Indonesia sengaja dibuat serasi dengan Monumen Selamat Datang karena sisi historis monumen tersebut, terutama pada towernya yang berbentuk L yang bersiku. Bentuk tower inilah yang menjadikan Plaza Indonesia menjadi akrab dan bersahabat dengan monumen karya Henk Ngantung tersebut - bukan menjadikan monumen itu pesaing. Tinggi Hotel Grand Hyatt, 110 meter, serasi dengan Wisma Nusantara, 117 meter menurut CTBUH, memberikan kesan sebagai pintu masuk dari utara (3)(7).

Tim arsitek juga memisahkan lobi hotel dengan lobi mall, untuk mencegah kerancuan antara pengunjung mall dengan tamu hotel. Selain urusan lobi, kelancaran akses dan minimalisasi kemacetan juga diperlihatkan di Plaza Indonesia dengan pintu Jalan Thamrin untuk pejalan kaki dan penumpang bus, pintu Jalan Kebon Kacang untuk pengguna mobil pribadi atau taksi (3)(7).

Secara struktur, Plaza Indonesia menggunakan pondasi rakit untuk podium dan bored pile untuk bagian tower, dengan pondasi frankipile sebagai tiang tarik untuk podium tenggara dan tower (7). Sementara untuk struktur atas, podium menggunakan konstruksi beton dan Grand Hyatt menggunakan komposit beton (7).

Data dan fakta (3)(7)

  • Alamat: Jalan M.H. Thamrin No. 28-30 Jakarta
  • Arsitek:
    • Hellmuth, Obata & Kassabaum Inc. (arsitek desain)
    • Parama Loka Consultant (architect of record)
  • Pemborong:
    • J.O. Ssangyong Construction - Cipta Mandala Sakti
  • Lama pembangunan: Maret 1987 - Juli 1991
  • Tinggi gedung:
    • 110 meter (hotel)
    • 24 meter (podium)
  • Jumlah lantai: 28 + 3 basement keseluruhan
  • Biaya pembangunan: USD 300 juta (Rp 582,3 milyar tahun 1991) (USD 551 juta/Rp 7,8 triliun rupiah nilai 2018)
  • Signifikasi:
    • Pariwisata (landmark Bundaran HI)

Referensi

  1. Panitia Peneyelnggara Asian Games IV (1960). "Second Progress Report, Asian Games IV 1962." Penerbit tidak diketahui, halaman 5.
  2. Panitia Penyelenggara Asian Games IV (1962). "Third Progress Report, Asian Games IV 1962." Penerbit tidak diketahui, halaman 6.
  3. Urip Yustono (1988). "Plaza Indonesia: Pusat Perbelanjaan Terbesar di Asia dan Hotel Bertaraf Internasional". Majalah Konstruksi, April 1988. Halaman 68-74.
  4. "GST" (1990). "Sogo Tetap Beroperasi". Kompas, 26 Januari 1990.
  5. "MH" (1991). "Grand Hyatt Hotel Dibuka". Kompas, 5 April 1991.
  6. "Apa Siapa: KLM". Kompas, 13 Mei 1990.
  7. Urip Yustono; Dwi Ratih (1991). "Plaza Indonesia: Landmark baru di Jakarta". Majalah Konstruksi No. 162, Oktober 1991.
  8. Website resmi Plaza Indonesia
  9. Website resmi Plaza Indonesia Realty
  10. ir/qom (2007). "Sogo Tutup, Karyawan Resah". Detikcom, 13 Februari 2007.
  11. Sorita (1991). "Yang Grand di tengah Jakarta". Majalah Konstruksi No. 162, Oktober 1991.
  12. Website resmi Hotel Grand Hyatt Jakarta
  13. KOMPAS (1968). "Wisma Warta Diupgrade Mendjadi Hotel Pariwisata". KOMPAS, 14 Februari 1968.
  14. pab (1969). "Keputusan Presiden: Ruang Baru Jang Dibangun Diatas Wisma Warta Milik Negara". KOMPAS, 29 Januari 1969.
  15. ANTARA (1969). "Hotel Asoka" dan "Hotel Asri" di Djakarta". KOMPAS, 27 September 1969.

Lokasi


View Larger Map

Perubahan

Pertama kali terbit pada 28 Februari 2019
10 Maret 2019: menambah detail dari web Plaza Indonesia dan Majalah Konstruksi Oktober 1991.
11 Maret 2019: koreksi pada basement + deskripsi hotel
5 April 2019: penambahan foto
6 April 2019: Pemilik foto Hotel Asoka ditambah
24 Agustus 2019: penambahan informasi soal Hotel Asoka

Komentar

Yang banyak dibaca seminggu terakhir

Mall Ciputra Jakarta

Intiland Tower Jakarta (update 17 Oktober 2019)

City Plaza Klender

Grha BNI

Gedung Sapta Pesona (update 19 September 2019)