Gedung Putera

Gedung Putera
1 Januari 2015 - foto pribadi, Creative Commons License

Satu-satunya berita atau potongan artikel yang memberikan informasi yang cukup terperinci tentang Gedung Putera adalah berita Kompas tertanggal 21 Juni 1975, dimana pemilik gedung kala itu, Grup Putera, membuka kantor mereka pada hari itu. Kepala KADIN DKI Jakarta hadir untuk menggunting pita pembukaan gedung tersebut.

Tidak ada informasi yang didapat mengenai siapa pemborong gedung bahkan arsitek desain gedung. Tidak jelas apakah gedung ini, pernah berubah penampilan gedung, mengingat gedung ini kini berlapis kaca hitam, identik dengan era 1980an.

Gedung ini memiliki luas bersih 4.000 meter persegi, setiap lantai memiliki 500 meter persegi ruang untuk disewakan dengan banderol 5 dolar atau 2.060 rupiah per meter persegi, sesuai dengan pematokan nilai tukar rupiah di Rp 415/USD 1 oleh pemerintah.

Awalnya gedung ini merupakan kantor dari Grup Putera. Tidak jelas bidang utama dari perusahaan ini, dan nasib terkini grup tersebut. Saat terakhir kali dilihat oleh penulis pada 2017 lalu, gedung ini ditempati oleh beberapa perusahaan kecil, pengacara, notaris, Bank Permata dan bahkan gereja.

Pada 5 September 2018 tengah malam, lantai 5 gedung ini disatroni beberapa pencuri, mengeksploitasi kelemahan keamanan di gedung berusia 45 tahun ini.

Gedung Putera
Gedung Putera, kanan, 10 September 2016 - foto pribadi, Creative Commons License

Data dan fakta

  • Alamat: Jalan Gunung Sahari No. 39 Jakarta
  • Lama pembangunan: Agustus 1973 – 1975
  • Jumlah lantai: 8
  • Biaya pembangunan: Ditaksir 400-500 juta rupiah (1975, setara Rp 24-30 milyar nilai 2020)
  • Signifikasi: Tidak ada

Referensi

Lokasi


View Larger Map

Perubahan

10 Februari 2019: Kejadian terkini ditambah

Komentar

Yang banyak dibaca seminggu terakhir

Intiland Tower Jakarta (terbaru 20 Mei 2020)

Mal Ciputra Jakarta (terbaru 17 Maret 2020)

Sinarmas Land Plaza Surabaya (terbaru 25 November 2019)

Gedung Sapta Pesona (terbaru 19 September 2019)

Sejarah Pusat Perbelanjaan Jakarta - Bab II: Lintas Melawai