Gedung Slamet Bratanata Kementerian ESDM (terbaru 8 November 2019)

EBTKE ESDM
Karena foto sisi depan cukup susah dibidik. 25 Desember 2017, Creative Commons License
Gedung berlantai 8 ini awalnya merupakan aset Intiland untuk induk perusahaannya, Grup Dharmala, yang memiliki kongsi asuransi dengan asuransi asal Kanada, Manulife, sebagai kantor pusatnya, dan di bekas lahan ini sebelumnya juga berdiri kantor asuransi Dharmala Manulife yang sepertinya terlalu sempit sebagai kantor asuransi. Desain konsep gedung dirancang oleh salah satu firma asal Singapura bernama DPC Development, dan disempurnakan oleh PT Jatimmakmur Ekabuana, mulai akhir 1992 dan selesai September 1993 (1). Pembangunan dilakukan oleh Frankipile Indonesia untuk pondasi dan pemborong negara Pembangunan Perumahan selama setahun penuh pada 1994, buntut dari terlambatnya mobilisasi alat pondasi oleh Frankipile Indonesia (1).

Walau dalam perjalanan hidup gedung ini diwarnai cerainya Dharmala dengan Manulife sejak 2002 (2), dan Intiland berganti dari bayang-bayang Dharmala pada 2007 (3), hubungan gedung ini dengan Manulife tetap erat, hingga pada Agustus 2008, Manulife Indonesia memutuskan keluar dari gedung berusia 13 tahun kala itu (4). Akibat kosongnya Wisma Manulife, Intiland menjual gedung tersebut (4), dan pada 2010 gedung itu ditebus dengan mahar Rp 104,5 milyar (setara Rp 165,3 milyar pada 2020) (5). Tidak diketahui siapa pembelinya, dan belum diketahui sejarah bagaimana Dirjen Energi Baru Terbarukan & Konservasi Energi Kementerian ESDM akhirnya berkantor di bekas Wisma Manulife.

Sejak 22 Oktober 2019, Gedung Ditjen EBTKE berganti nama menjadi Gedung Slamet Bratanata. Nama barunya diambil dari nama Menteri ESDM di era Kabinet Ampera Presiden Soeharto, Slamet Bratanata (6). Empat tahun sebelumnya, pada tahun 2015, Kementerian ESDM memasang panel surya berkapasitas 40 kilowatt peak di atap gedung EBTKE (7).

Arsitektur dan teknis (1)

Melihat lahannya yang berbentuk segitiga, dan keberadaan rel elevated di sebelahnya, maka tidaklah mengejutkan bila footprint gedungnya berupa konsolidasi kotak bangunan dan berorientasi diagonal. Alasan yang disampaikan oleh insinyur PT Jatimmakmur, Ir. Hans Rusli IAI, adalah untuk mencegah segala bentuk gangguan kebisingan di Jalan Pegangsaan Timur dan lalu lalang kereta api. Selain itu, keuntungan tambahan gedung berorientasi diagonal adalah posisinya yang tidak langsung menghadap sinar matahari.



Desain footprint gedung yang asimetris disebabkan oleh masalah fungsional yaitu sulitnya akses. Rencana arsitek untuk memasukkan jalan masuk utara dan jalan masuk Gang Ampium tidak bisa dilaksanakan karena sulitnya lahan, sehingga pintu masuk hanya melalui Jalan Pegangsaan Timur. Secara arsitektural fasad, desainnya berciri postmodernisme, diwujudkan oleh permainan jendela kaca dan curtain wall, dan setback (bok-bok bangunan). Teras setback konon akan dihijaukan, dalam praktiknya menjadi tempat memasang unit luar AC.

Secara struktur gedung, pondasi menggunakan kombinasi steel sheet pile dan bored pile dengan struktur utama pemasangan temboknya berupa precast.

Data dan fakta

  • Nama sebelumnya: Wisma Dharmala Manulife, Wisma Manulife Indonesia
  • Alamat: Jalan Pegangsaan Timur No. 1 Jakarta
  • Arsitek:
    • DPC Development Singapura (konsep)
    • Jatimmakmur Ekabuana (architect of record)
  • Pemborong:
    • Pembangunan Perumahan (struktur dan finishing)
    • Frankipile Indonesia (piling)
  • Lama pembangunan: Januari 1994 - Desember 1994
  • Jumlah lantai: 8 dan 1 mezzanin
  • Signifikasi: Tidak ada

Sumber

  1. Aria/M. Ridwan (1995). "Wisma Dharmala Manulife: Mengatasi lingkungan dengan permainan bentuk dan letak massa". Majalah Konstruksi No. 210, September 1995.
  2. Wall Street Journal, 19 Juni 2002. "Indonesia Declines to Intervene In Manulife Bankruptcy Dispute".
  3. Ragil Nugroho/Adisti Dini I. (2013). "Garis Tangan Gondokusumo di Properti". Kontan, 19 Januari 2013.
  4. Annual Report Intiland 2008
  5. Annual Report Intiland 2010
  6. Humas Ditjen EBTKE (2019). "Gedung Ditjen EBTKE Kini Bernama Gedung Slamet Bratanata". Kementerian ESDM, 28 Oktober 2019. Diakses 8 November 2019. (arsip)
  7. Humas Ditjen EBTKE (2019). "Narasi Tunggal: Pasang PLTS Atap, Tagihan Listrik Lebih Hemat". Kementerian ESDM, 8 Agustus 2019. Diakses 8 November 2019. (arsip)

Lokasi


View Larger Map

Perubahan

  • Pertama ditulis 15 Februari 2019
  • 8 November 2019: perubahan nama gedung dan informasi tambahan terkait penambahan panel surya pada gedung

Comments