Kedutaan Besar Arab Saudi

29 Desember 2014, foto pribadi, Creative Commons License

Gedung berlantai 8 ini sebelumnya merupakan aset dari perusahaan PT Tigaraksa Satria sejak 1982 hingga mereka memutuskan menjual gedung ini. Awalnya, seperti halnya aset gedung lain di Jalan HR Rasuna Said, besar kemungkinan sebelum dibangun adalah sawah, tanah kosong atau perkampungan liar. Gedung tersebut dibangun mulai Maret 1980 (1) oleh Cipta Mustika (segrup dengan Tigaraksa), dan sempat tertunda gara-gara renegosiasi biaya pembangunan akibat kenaikan harga bensin pada 1 Mei 1980 (2), dan juga kemauan klien untuk menambah jumlah lantai menjadi 7 lantai (1). Gedung bergaya modernis internasional ini selesai dibangun pada Febuari 1982, sebulan terlambat dari rencana karena lift terlambat datang. (1)

PT Tigaraksa membangun gedung ini sebagai gedung sewa, semenjak gedung ini dibangun, Gedung TIRA ramai dengan penyewa. (1)

Hingga pada 27 Maret 2008 detikcom mewartakan bahwa PT Tigaraksa Satria, dengan dalih usia gedung, berencana menjual gedung tersebut dengan banderol 65,88 milyar rupiah (2018 ekuivalen 112,8 milyar rupiah) kepada PT Inti Sarana Proteksi, milik Codefin Group (3). Penjualan berhasil dan gedung tersebut berganti nama menjadi Graha Codefin. Belum diketahui kapan penjualan dilakukan dan berapa nilai aktualnya, hal yang sama terjadi untuk penjualan Graha Codefin oleh Codefin Group ke Pemerintah Arab Saudi.

Sejak 2015, Gedung TIRA kini menjadi kantor Kedutaan Besar Arab Saudi.

Arsitektur dan teknis (1)

29 Desember 2014.
Foto pribadi, Creative Commons License
Awal ide dari gedung ini adalah gedung berbentuk lingkaran, dan memiliki 3 gedung sesuai dengan logo pemilik gedung PT Tigaraksa, tetapi ide tersebut tidak jadi dilaksanakan sehingga digunakanlah dua gedung berbentuk segi delapan berlantai 5 dan 8 (awalnya berlantai 3 dan 5, tetapi diperluas atas permintaan pihak pemilik gedung). Rencana tower ketiga tidak dilanjutkan karena keadaan lahan yang tidak memungkinkan. Pemilihan gedung berbentuk segi delapan, kata Jeanne Dipotontro kepada pewarta Majalah Konstruksi, yang wawancaranya terbit pada Maret 1982, "memaksimalkan luas lantai", dan "membantu cahaya natural masuk gedung".

Konstruksi gedung ini menggunakan baja ringan dan campuran beton. Lapis luar gedung TIRA yang berwarna putih dicat menggunakan produk Warna Agung bernama Decolith. Produk ini masih beredar luas. Belum jelas kapan gedung ini dicat kuning dan jingga, sebelum Kedubes Arab Saudi mengembalikan warna putih khas gedung ini.
26 Juni 2009 - foto pribadi, Creative Commons License

Data dan fakta

  • Nama sebelumnya: Gedung TIRA, Graha Codefin
  • Alamat: Jalan H.R. Rasuna Said Kavling B2 Jakarta
  • Arsitek:
    • Ir. Raysoeli Moeloek IAI (perencana)
    • Ir. Jeanne Dipotontro (pelaksana)
  • Pemborong:
    • PT. Cipta Mustika (kontraktor utama dan atap)
    • Frankiepile (pondasi)
    • PT VSL Indonesia (beton pratekan)
    • PT Swadaya Agung Perkasa (konstruksi baja)
    • PT Warna Agung (cat)
  • Lama pembangunan: Maret 1980 – Februari 1982
    • Tinggi gedung: 34 meter
    • Jumlah lantai: 8
    • Signifikasi: Tidak ada

    Referensi

    1. NN (1982). “Gedung TIRA Hemat Energi”. Majalah Konstruksi, Maret 1982.
    2. NN (1980). “Keppres No. 30/1980: Mulai 1 Mei, semua harga BBM disesuaikan”. KOMPAS, 1 Mei 1980.
    3. “ir/qom” (2008). “Tigaraksa Lepas Gedung Tira”. Detikcom, 27 Maret 2008. (arsip)
    4. Bukti bahwa Tigaraksa dan Mustika segrup (arsip)

    Lokasi

    Komentar

    Yang banyak dibaca seminggu terakhir

    Gedung Sapta Pesona (update 19 September 2019)

    Mall Ciputra Jakarta

    Intiland Tower Jakarta (update 17 Oktober 2019)

    City Plaza Klender

    Grha BNI