Gedung Chairul Saleh Kementerian ESDM (Update 9 September 2019)

Gedung Kementerian ESDM
28 Juni 2018 - foto pribadi, Creative Commons License
Gedung Deptamben ekstensi ini dibangun tepat di belakang gedung era kolonial Belanda yang dimiliki oleh Deptamben, kini Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Pembangunan gedung yang dimulai sejak 1978 ini sering terhambat oleh urusan birokrasi dan lapangan. Selain urusan birokrasi, kebijakan devaluasi Kenop ’78 juga memaksa pihak pemborong menghitung ulang biaya pembangunan karena kenaikan harga-harga sebagai dampak langsung Kenop ‘78. Penerbitan IMB yang terlambat dan kenaikan harga BBM pada 1 Mei 1980 juga menghambat pembangunan gedung ini. Baru pada Mei 1981 pihak pemborong mengatakan pada Majalah “Konstruksi”, terbit September 1981, “sudah dinyatakan rampung”.

Pascapembangunan, gedung bergaya brutalist ini kehilangan sentuhan brutalistnya pada akhir 1990an, dimana pihak kementerian mengubah wajah gedungnya menjadi komposit, dan kembali lagi direnovasi pada 2016 sehingga desainnya serasi dengan gedung era Belanda di depannya.

Bagi Total Bangun Persada, gedung ini adalah sejarah tersendiri, karena dua bulan usai gedung ini dirampungkan, sejak 24 Juli 1981 perusahaan ini berganti nama dari Tjahja Rimba Kentjana, menjadi Total Bangun Persada, seperti yang kita kenal saat ini.

Mesin waktu diputar ke 26 Juni 2019. Pada hari itu, Kementerian ESDM meresmikan nama baru gedung berusia 38 tahun ini sebagai Gedung Chairul Saleh (2). Chairul Saleh adalah Menteri Perindustrian dan Pertambangan dari Januari 1960 sampai Maret 1965 dan tokoh kemerdekaan Republik Indonesia.

Arsitektur dan teknis

gedung deptamben kementerian esdm pra renovasi total bangun persada
Sebelum mengalami renovasi dua kali.
COURTESY Total Bangun Persada (arsip)
Desain gedung ini sudah digodok sejak 1976 oleh tim dari Encona Engineering, yang sekaligus melakukan pengawasan dalam pembangunan gedung Deptamben.

Gedung Deptamben kala itu, dengan wajah exposed concrete (beton terekspos), adalah satu dari sedikit gedung yang memanfaatkan finishing tersebut, salah satu gedung yang juga memanfaatkan finishing tersebut saat Gedung Deptamben dibangun adalah Wisma Hayam Wuruk (selesai dibangun Agustus 1976). Hal ini diklaim untuk mengurangi ongkos pengecatan, tetapi perlu ditambah material anti-jamur mengingat suhu tropis ibukota Jakarta yang mendukung suburnya jamur pada tembok.

Fitur lainnya adalah penggunaan dua core yang berfungsi ganda sebagai penyimpan fasilitas gedung dan lift, dan juga berperan sebagai struktur. Kata pejabat Encona Engineering yang diwawancara Majalah “Konstruksi”, “gedung akan terlihat kokoh karena didukung dua core”.

Data dan fakta

  • Nama sebelumnya: Departemen Pertambangan dan Energi; Departemen ESDM; Gedung Kementerian ESDM
  • Alamat: Jalan Medan Merdeka Selatan No. 18 Jakarta
  • Arsitek:  PT. Encona Engineering
  • Pemborong:
    • Total Bangun Persada (kontraktor utama)
    • Encona Engineering (pelaksana dan pengawas lapangan)
  • Lama pembangunan: 1978 – Mei 1981
  • Tinggi gedung: 49 meter
  • Jumlah lantai: 11 termasuk penthouse
  • Signifikasi: tidak ada

Referensi

  1. NN (1981). “Memiliki 2 Core Dengan Fungsi Ganda”. Majalah Konstruksi, September 1981.
  2. Pusat Pewartaan (Media Centre) Kementerian ESDM (2019). "Gedung Sekretariat Jenderal Kementerian ESDM Kini Memiliki Nama Gedung Chairul Saleh". Kementerian ESDM, 26 Juni 2019. Diakses 9 September 2019. (Arsip)

Lokasi


View Larger Map

Perubahan

  • Pertama ditulis 1 Januari 2019
  • 9 September 2019: Perubahan nama gedung. Penulis rupanya tidak tahu ada perubahan nama di gedung Kementerian ESDM.

Komentar

Yang banyak dibaca seminggu terakhir

Mall Ciputra Jakarta

Intiland Tower Jakarta (update 17 Oktober 2019)

City Plaza Klender

Grha BNI

Gedung Sapta Pesona (update 19 September 2019)