Wisma Kosgoro (terbaru 6 Oktober 2019)

Wisma Kosgoro
28 Desember 2014 - tiga bulan sebelum terbakar
Foto pribadi, Creative Commons License
Awal dari pembangunan Wisma Kosgoro ini berliku mengingat keadaan politik Indonesia yang saat itu tidak kondusif. Pada 1964 (A1), gedung yang awalnya direncanakan berlantai 15 (A1) ini sudah dicanangkan oleh Wakil Perdana Menteri Dr. Chaerul Saleh (A2), tetapi mandeg dan baru memulai tiang pancangnya pada 1971 (A1). Pemancangan tidak berlanjut hingga dimulai kembali pada 7 Desember 1973 dengan pemancangan ulang oleh Gubernur DKI kala itu Ali Sadikin. Ali Sadikin, dalam pemancangan ulang gedung berlapis kaca ini, menyinggung banyak soal rumah-rumah yang beralih guna menjadi kantor, industri real estate dan investasi jalan raya di Jakarta. (A2)

Gedung ini dibangun atas kerjasama Kosgoro Business Group dengan Cornwallis Estates Limited dari Inggris (A1), sebuah PMA yang dibentuk pada 1974 (A6), setahun usai pembangunan Wisma Kosgoro dimulai kembali. Pembangunan gedung ini sudah jadi pada Juli 1976, bertepatan dengan dibukanya operasional gedung tersebut (A3). Biaya pembangunannya adalah sekitar 7,4 juta dolar AS atau ekuivalen Rp. 3,075 milyar rupiah (A11), dengan nilai tetap saat itu Rp 415 per USD. Dengan memperhitungkan nilai tukar dan inflasi saat ini, pembangunan Wisma Kosgoro menghabiskan biaya 30,5 juta dolar AS setara dengan 442 milyar rupiah.

pengumuman pindahnya Deutsche Bank ke Wisma Kosgoro, 1994
Iklan Deutsche Bank pindah ke Wisma
Kosgoro. Kompas, 19 Desember 1994.
Saat gedung yang (konon) berdiri di atas tanah sumbangan Presiden Soekarno ini jadi, Wisma Kosgoro menjadi kantor dari Standard Chartered Bank dari Desember 1976 hingga pindah ke gedung yang kini Menara ANZ pada tanggal yang belum diketahui (A9) dan sayap Golkar, KOSGORO (Kesatuan Organisasi Serbaguna Gotong Royong) (A2). Pasca Stanchart minggat dari Wisma Kosgoro, Deutsche Bank masuk ke gedung ini mulai Desember 1994, saat mereka mengeksekusi penghancuran gedung European Asian Bank, hingga 1997 (A5).

Kebakaran Wisma Kosgoro, 9 Maret 2015

Wisma Kosgoro is Dead
11 September 2016
Foto pribadi, Creative Commons License
Kebakaran hebat menerjang gedung ini pada 9 Maret 2015 mulai jam 18.45 sore, saat jam kantor akan menjelang selesai. Kebakaran dimulai dari sebuah kantor di lantai 16 dan menjalar ke atas gedung yaitu lantai 20 (B1). 23 mobil pemadam kebakaran dikerahkan untuk memadamkan kebakaran gedung berusia 39 tahun tersebut dan memerlukan waktu 14 jam untuk memadamkan api. Beruntung tidak dilaporkan ada korban tewas atau luka dalam kejadian ini.

Kebakaran gedung ini kembali memicu kontroversi soal keamanan gedung tinggi di Jakarta. Wisma Kosgoro terkena label sebagai gedung yang tidak aman karena sistem anti kebakarannya tidak berfungsi sempurna (B1). Pasca-kebakaran, salah satu pejabat Colliers International menyebutkan rencana bahwa gedung ini bakal dibongkar untuk dibangun gedung baru (B2). Per 2020, pernyataan pejabat Colliers International memang terbukti, gedung ini telah dilucuti total untuk dibangun gedung barunya.

Arsitektur dan teknis

Wisma Kosgoro menggebrak dunia arsitektural Indonesia karena menjadi gedung pertama yang menggunakan lapis kaca sebagai lapis luar gedung (A4), jauh sebelum gedung kaca angkatan kedua menyerbu cakrawala Jakarta seperti Wisma BCA, Atrium Mulia dan Plaza Bumi Daya.

Untuk penggunaan lapis curtain wall dan makna desainnya disinggung cukup mendetil dalam Majalah Konstruksi terbitan Desember 1985, atau tepatnya 9 tahun setelah pembangunan Wisma Kosgoro kelar.

Adalah Ir. Raysoeli Moeloek, yang mendesain gedung berketinggian 80 meter ini, yang menjelaskan aspek penggunaan lapis kaca dan desain gedung tersebut (A4). Beliau menjabarkan alasan penggunaan kaca curtain wall untuk Wisma Kosgoro, adalah sebagai simbol bahwa teknologi kontemporer bisa dimanfaatkan di Indonesia (A4). Kaca yang digunakan dalam gedung ini bersifat reflektif, sehingga memantulkan sinar panas dari matahari sehingga mengurangi biaya AC. Hal senada dijabarkan kepala pelaksana proyek Ir. M. Yusuf, kepada Kompas yang terbit pada 4 Februari 1976 (A3).

Efek sampingnya, kata Moeloek, cahaya memantul ke jalan dan membuat jalanan sekitar panas (A4). Kasus 20 Fenchurch Street di London, Inggris, dimana panas di daerah sekitar salah satu sisi gedung mencapai 50 derajat celcius karena konsentrasi cahaya yang berkumpul di satu titik secara sempurna, adalah gambaran terkini bahaya salah perancangan lapis kaca pada gedung. Beruntung, dalam kasus Wisma Kosgoro, tim perancang meninggikan gedung parkir sehingga pantulan sinar tidak jatuh ke rumah-rumah penduduk (atau sekarang sudah menjadi rumah makan) di belakangnya.

Selain itu, Moeloek mencoba mematahkan label egoistis Wisma Kosgoro dengan menjabarkan pemanfaatan ruang urban, dengan menghilangkan pagar dan menjadikan lobi gedung sebuah fasilitas umum kota, yang berarti gedung ini terbuka pada masyarakat umum (A4).

Secara struktural, gedung ini menggunakan konstruksi beton pracetak yang amat dibangga-banggakan oleh pemborong Waskita Karya dalam paparannya di DPR-RI sekitar akhir 1976 (A11).

"Tidak tropis"

Tetapi argumen Moeloek dan M. Yusuf sebagai tim perancangan arsitektur Wisma Kosgoro masih mendapatkan tantangan. Kuspramono dari International Design Consultants, salah satu perancang S. Widjojo Centre, menyebut Wisma Kosgoro "ekstrim" dimana panas matahari dilawan dengan teknologi lapis kaca, sehingga meningkatkan biaya perawatan bangunan dan AC (A10). Bahkan Kuspramono menyebut pola tersebut tidak cocok dengan pola tropis Indonesia dan menyindir "itulah yang dianut oleh Dunia Barat, di mana mereka serba ingin menaklukkan dan menguasai alam" (A10).

Data dan fakta

  • Alamat: Jalan M.H. Thamrin No. 53 Jakarta
  • Arsitek:
    • Ir. Raysoeli Moeloek IAI (Jasa Ferrie & Partners) (desain bangunan) (A4)(A8)(A11)
    • KT Philcox & Associates (struktur) (A11)
  • Pemborong:
    • Waskita Karya (pemborong utama) (A7)(A11)
  • Lama pembangunan: 1971 – 1976
  • Terancam dibongkar per 2017
  • Tinggi Gedung: 80 meter (A1)
  • Jumlah lantai: 23 
  • Biaya pembangunan: USD 7,4 juta/Rp. 3,075 milyar (1977, senilai dengan Rp 152 milyar nilai 2020) (A2)
  • Signifikasi:
    • Arsitektural (gedung tinggi pertama di Indonesia yang menggunakan lapis kaca)

Referensi

Pembangunan dan fitur gedung (A)

  1. WR (1973). “Akhirnya Wisma Kosgoro Berdiri Juga di Jl. Thamrin”. KOMPAS, 7 Desember 1973.
  2. WR (1973). “Ada Kecenderungan Pengusaha Tak Mengikuti Tertib Planologi Kota”. KOMPAS, 8 Desember 1973.
  3. PUR (1976). “Wisma Kosgoro”. KOMPAS, 4 Februari 1976.
  4. NN (1985). “Berbagai tanggapan tentang dinding kaca untuk bangunan tinggi”. Majalah Konstruksi, Desember 1985.
  5. Iklan Deutsche Bank, KOMPAS, 19 Desember 1994
  6. Web resmi Wisma Kosgoro
  7. Web Waskita Karya (ps. tahun pembangunan salah)
  8. NN (1988). Indonesia Membangun, Bab I. Jakarta: Dumas Sari Warna. Halaman 492.
  9. Iklan Selamat bagi The Chartered Bank dari 10 perusahaan. Sinar Harapan, 20 Desember 1976.
  10. NN (1980). "S. Widjojo Centre, Gedung perkantoran yang "Berswasembada". Majalah Konstruksi, Februari 1980.
  11. NN (1977). "Proyek Singkat: Gedung Perkantoran Baru di Jl. Thamrin Jakarta." Majalah Konstruksi, Januari-Februari 1977.

Kebakaran Wisma Kosgoro, 9 Maret 2015 (B)


View Larger Map

Perubahan

  • Pertama ditulis 7 Desember 2018
  • 9 Desember 2018: Penulis menambahkan sumber lain terkait Wisma Kosgoro.
  • 18 Juli 2019: Penambahan penanggalan Standard Chartered d/h The Chartered Bank mulai berkantor di Wisma Kosgoro
  • 21 Agustus 2019: Penambahan kolom kritik dari sumber Majalah Konstruksi Feb. 1980
  • 6 Oktober 2019: Koreksi biaya pembangunan gedung. Versi lama (estimasi dari pihak Kosgoro pada 1973) digantikan dengan data baru yang didapat penulis dari majalah Konstruksi edisi 1977.

Comments

  1. Menarik mempelajari sejarah gedung. Kalau lewat jadi lebih memperhatikan gedungnya. Biasanya kalau lewat terlihat biasa saja.hahaha...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepakat. Tak harus gedung kuno dan bersejarah aja, gedung semodern ini juga bisa dipelajari kisahnya. Syukur dapat sumber di luar internet, karena mustahil nyari sumber sejenis di internet.

      Delete

Post a Comment

Ingat bahwa blog ini tidak menolerir segala komentar provokatif berbau politik dan menyerang personal orang. Komentarlah sesuai faedah UU No. 19/2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.